LOGINUjung mata Theresia memerah. Dia tersenyum sembari mengangguk. “Tolong bantu aku sampaikan kepada Kakek juga.”“Aku akan membatalkan tiket pesawatnya. Kami akan menunggumu di rumah. Kita baru akan pergi setelah kamu kembali,” kata Julia, “Aku sudah bilang sama Vans. Dia sangat memahamiku dan juga memahamimu.”Theresia berkata, “Aku usahakan akan segera kembali.”“Tidak usah buru-buru. Aku akan suruh Vans untuk pergi dulu. Kami juga tidak buru-buru,” kata Julia dengan tersenyum, “Kebahagiaanmu dan Morgan yang paling penting.”Saat ini, Theresia benar-benar merasa sangat gembira. Dia merasa gembira karena dirinya memiliki keluarga, sementara keluarganya juga begitu mencintainya dan toleransi terhadapnya.Setelah selesai berbicara dengan Julia, Theresia meletakkan ponselnya, lalu pergi membasuh tubuhnya di kamar mandi.Saat melewati rak buku, sebuah laci di bagian kiri sedikit terbuka. Sesuatu di dalam sana seolah-olah pernah terlihat sebelumnya. Theresia sudah berjalan ke pergi, tetapi d
“Iya, gadis itu bilang, kamu baru saja pergi.”“Sekarang, kita mau ke mana?”“Sudah terlalu malam. Kita tidak pulang ke rumah, ke vila sebelumnya saja.”Theresia melirik waktu sekilas. Sekarang sudah pukul sembilan malam, memang sudah terlalu malam ….…Setelah kembali ke vila, Morgan memeluk Theresia menciumnya sembari berjalan ke lantai atas. Lampu pintar di kamar lantai atas menyala, lalu refleks ditutup oleh Theresia.Ruang kamar yang luas terpancar pantulan cahaya lampu dari halaman. Bayangan gelap saling bertumpang tindih. Suhu di dalam ruangan tidak berhenti meningkat seiring dengan ciuman penuh kasmaran itu.Kancing pakaian Theresia dibuka. Tulang selangkanya kelihatan indah. Kulit putih bersihnya membuat Morgan tidak ingin melepaskannya.Sepasang kaki Theresia mengapit pinggang bertenaga dan kurus di pria. Suaranya terdengar suram. “Aku mau mandi!”“Emm,” balas si pria dengan nada rendah.Setelah memasuki kamar mandi, Morgan mengangkat tangannya untuk melepaskan kancing kemeja
Cahaya rembulan yang lembut jatuh di wajah dan alis pria itu, membuatnya tampak begitu elegan, mulia, dan sulit dijangkau. Dia berkata dengan suara perlahan, “Masalah Benua Delta sudah aku serahkan kepada Solmi dan yang lain. Aku memang sudah kembali dari luar negeri, tapi tentu saja aku juga tidak mungkin lepas tangan sepenuhnya. Kalau ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh mereka, aku akan kembali untuk mengatasinya.”Theresia menatap Morgan dengan terbengong. Dia tidak berbicara dalam waktu lama. Sepasang matanya tidak berhenti berputar. Rasa gembira mulai terasa, tetapi dia masih saja tidak berani untuk memercayai semua ini. “Serius?”“Tentu saja serius. Aku tidak akan membohongimu!”Rasa terkejut mulai meluap di dalam hati Theresia. Mata indahnya berkilauan. Bibir merahnya kelihatan delima. Dia menatap Morgan dengan tatapan membara.Morgan mengusap wajah Theresia, lalu menunduk untuk menciumnya.Akhirnya akal sehat Theresia kembali. Dia mencondongkan tubuhnya ke belakang, l
Lagu cinta dari kejauhan terdengar penuh perasaan sekaligus sendu. Suara gitar yang mengalun terbawa angin, membuat malam terasa semakin sunyi dan tenang.Setelah melalui begitu banyak lika-liku, tetap hanya ada dirinya di dalam mata Theresia. Pria itu pun selalu berada di dalam pandangannya.Theresia memeluk pria itu erat-erat. Dia mulai berbicara dengan suara serak dan sedikit terisak-isak, “Aku mencintaimu. Aku benar-benar sangat mencintaimu!”Akhirnya Theresia menemukan kesempatan untuk mengutarakan perasaan yang disembunyikan selama bertahun-tahun. Semua bagaikan aliran air gemericik, setelah berputar-putar dan berliku begitu lama, akhirnya meluap deras dari lubuk hati.“Dulu aku nggak berani memiliki harapan apa pun. Sampai saat Hari Raya waktu itu, kamu memberiku secercah harapan dan aku mulai menjadi serakah.”“Aku tahu nggak seharusnya aku serakah, makanya aku sudah berusaha untuk memulai hubungan baru dan juga sudah memiliki keluarga. Aku sungguh menantikan hidupku yang bebas
Morgan menunggu sampai jam empat sore, tetapi dia masih belum melihat batang hidung Theresia. Dia pun menghubungi Julia. Julia memberitahunya bahwa Theresia memang sudah berangkat ke Kota Atria.Morgan pun menghubungi Theresia, tetapi panggilan terus tidak diangkat. Bahkan Jemmy yang bersikap tenang juga mulai merasa cemas. “Perjalanan juga tidak mungkin selama ini. Apa sudah terjadi sesuatu?”Raut wajah Morgan terlihat datar. Setelah merenung sejenak, dia pun berdiri dan berjalan ke luar.Jemmy berpesan, “Kalau sudah ketemu Theresia, jangan lupa beri tahu aku.”Morgan membalas dengan datar, “Iya.”Selesai berbicara, Morgan pun sudah berdiri di luar pintu.Indra memasuki ruangan untuk menyuguhkan segelas teh untuk Jemmy. Dia melihat pion di atas papan catur, kemudian berkata dengan tersenyum, “Permainan catur Tuan Morgan kacau sekali.”Jemmy berucap, “Namanya hatinya sedang kacau, apa mungkin caturnya tidak kacau?”Indra bertanya, “Apa semuanya masih bisa diselamatkan?”Jemmy menatap p
Saat Theresia sampai di Kota Atria, waktu sudah siang hari. Saat semakin dekat dengan Kediaman Keluarga Bina, dia pun merasa semakin ragu.Mobil berhenti sejenak di pinggir jalan. Theresia mengendarai mobilnya untuk memutar arah, melaju ke kota kuno.Sekitar dua jam perjalanan, Theresia tiba di kota kecil. Theresia menghentikan mobilnya, lalu berjalan kaki ke dalam.Hari ini bukan hari libur, tetapi kota kuno tetap ramai diserbu wisatawan. Kebanyakan dari mereka adalah anak muda. Ada yang memikul tas ransel atau tas selempang. Semuanya sedang berkeliling kota kuno.Kota tua itu bersampingan dengan pegunungan dan aliran sungai. Bahkan di musim panas yang terik pun, suasananya tetap terasa sejuk dan nyaman. Theresia menemukan sebuah rumah makan kecil yang bersih, lalu masuk untuk makan siang.Setelah itu, Theresia menyusuri jalan berbatu hijau menuju gang kecil yang terasa familier baginya. Gang di sore hari itu terasa dalam dan sunyi. Di tengah bayangan cahaya yang berkelebat, entah kuc
Celine malah memperhatikan Reza dan Sonia. Pada acara seperti ini, Reza malah memilih untuk berdiri di samping Sonia. Apa hubungan mereka berdua sudah diresmikan?Hati Celine terasa panik. Dia merasa waktu yang tersisa sangatlah sedikit. Namun, dengan sikap arogan Celine, dia tidak bisa menjilat pri
Semua orang spontan tertawa. Ranty pun berkata, “Apa yang kamu katakan sebelumnya? Jujur atau tantangan? Kak Jason, silakan hukum mereka!”Jason bertanya pada Tiffany, “Jujur atau tantangan?”Tiffany hanya kenal dengan Sonia. Dia tidak ingin membocorkan masalah pribadinya di hadapan orang banyak. Se
Begitu pintu lift terbuka, Sonia melangkah keluar. Di hadapannya, terbentang lorong panjang dengan lampu neon putih yang dingin dan suram menggantung di atas kepala.Sonia keluar dari lift dan melangkah ke koridor. Di kedua sisi koridor, terdapat laboratorium dan ruang penyimpanan. Melalui pintu-pin
Di luar gerbang, ketika mereka bertiga tahu kabar Jemmy bersedia menemui mereka, mereka merasa sangat syok dan juga gembira. Mereka bertiga bergegas mengikuti pelayan berjalan ke dalam rumah.Mereka juga tidak fokus dengan pemandangan di sekitar taman bunga, hanya terus mengikuti langkah si pelayan







