MasukKelly menarik napas dalam-dalam. Dia melirik sekilas burung yang terbang di luar jendela, lalu membalikkan kepalanya untuk melihat mereka berdua. “Kalian juga bisa tanya ibuku dengan jelas mengenai masalah keluarga kami. Tanya saja kenapa aku bisa menjadi seperti ini? Aku tahu ibuku sangat bersusah payah. Semua yang seharusnya kubalas juga sudah aku balas. Aku nggak merasa berutang lagi sama dia. Aku lagi sibuk. Aku nggak antar Paman dan Bibi lagi!”Selesai berbicara, Kelly berdiri hendak berjalan keluar.“Kelly!” panggil Fandy, “Tidak ada orang tua yang tidak pernah melakukan kesalahan di dunia ini. Tidak peduli apa pun yang dilakukan ibumu, semuanya juga demi kebaikanmu! Meskipun dia sedikit pilih kasih dan melakukan kesalahan, apa kamu sebagai seorang putri boleh dendam dengan ibumu sendiri? Kalau kamu benar-benar berbuat seperti ini, itu namanya kamu tidak berbakti!”Wina juga membujuk, “Kelly, sebenarnya ibumu sangat mencintaimu. Gara-gara tidak bisa menghadiri acara pertunanganmu
Staf dari dua departemen segera mengiakan.Tadinya Kelly mengira dirinya sudah menjelaskannya kepada Sandora dengan jelas. Sandora dan Wilona memiliki pertimbangannya sendiri, mereka juga tidak berani membuat masalah lagi.Saat Kelly melihat keberadaan pamannya, Fandy, dan bibinya, Wina, di perusahaannya sendiri, dia baru menyadari bahwa dia sudah memandang tinggi batasan mereka.Fandy dan Wina sedang duduk sembari minum teh di ruang tunggu. Ketika melihat kedatangan Kelly, mereka segera berdiri. Senyuman ramah dan sungkan di wajah mereka tidak pernah dilihat Kelly sebelumnya. “Kelly!” Wina pergi menarik tangan Kelly dengan ramah. “Coba Bibi lihat, apa kata Bibi, setelah besar nanti, kamu pasti bakal jadi wanita cantik!”Fandy segera menimpali, “Kelly bukan hanya cantik, tapi juga pintar!”Di antara beberapa keluarga kerabat itu, hanya Keluarga Samosir saja yang hidupnya kurang berkecukupan. Dulu, setiap kali Kelly berkunjung ke rumah pamannya, Fandy selalu bersikap sok hebat. Cara bi
Kelly berjalan dengan semakin cepat, langsung berlari kecil ke sana. Di bawah tatapan kaget Jason, Kelly pun langsung berlari ke dalam pelukannya.Kelly memeluk erat Jason. Tubuhnya sedikit gemetar. Dia berkata dengan nada bicara rendah, “Aku bisa selesaikan sendiri!” Kemudian, Kelly mengangkat kepalanya dengan tersenyum, “Tapi, aku menggunakan namamu untuk menakuti mereka!”Jason menatap senyuman yang bahkan lebih jelek daripada ketika Kelly menangis. Dia pun merasa sakit hati langsung mencondongkan tubuhnya untuk mencium atas kepala Kelly. Suara magnetisnya terdengar begitu menenangkan. “Kamu melakukannya dengan sangat bagus!”Jason mengulurkan salah satu tangannya untuk memeluk Kelly. Dia mengusap wajah Kelly dengan satu tangannya. Suaranya pun terdengar semakin lembut lagi. “Nggak apa-apa. Bukan setiap orang tua akan memberikan kasih sayang yang utuh. Sekarang, kamu punya aku dan Yana, ada juga calon mertua yang sudah lama menantikan kamu resmi menjadi bagian dari keluarga mereka.
Wilona menyadari sepertinya Kelly tidak bermaksud untuk mengubah pemikirannya, dia pun duluan mengalah. “Kelly, Ibu cuma ingin menghadiri acara pertunanganmu saja. Kelak kita baru bahas lagi soal uang seserahan.”Sikap Kelly kelihatan tegas. “Maaf, kartu undangan sudah selesai dibagikan!”Sandora tidak bisa bersabar lagi. “Ternyata Ibu kandung juga butuh kartu undangan untuk menghadiri acara pertunangan putri sendiri. Aku tidak pernah mendengar peraturan seperti ini! Asal kamu tahu, aku tidak setuju dengan pertunangan ini. Jangan harap kamu bisa bertunangan.”Wilona segera membujuk Kelly, “Kelly, kenapa kamu malah memancing emosi Ibu? Kita itu sekeluarga, jangan persoalkan masalah dulu lagi. Kalau sampai Ibu benar-benar nggak setuju, Ibu pasti akan mengacaukan acara pertunanganmu ….”Wilona berbicara sembari memberi isyarat mata kepada Sandora. Dia berkata dengan tersenyum, “Nantinya gimana kamu mengadakan acara pertunanganmu lagi? Semua tamu undangan Keluarga Gunawan adalah tokoh-toko
Sandora langsung tidak bisa berkata-kata sembari menatap Kelly. Sepertinya mereka baru setengah tahun tidak bertemu, perubahan Kelly boleh dikatakan cukup drastis. Sandora bahkan merasa agak asing dengannya.Tatapan Sandora berkilauan. Dia berkata dengan penuh waspada, “Kelly, bukan begitu juga cara hitungnya. Bagaimanapun, perbedaan ekonomi keluarga kita dengan Keluarga Gunawan tergolong jauh. Uang seserahan tidak mesti setara dengan harta bawaan pengantin wanita. Ibu pasti juga akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk membantumu soal mas kawin.”Wilona segera menimpali, “Benar, benar!”“Apa Ibu sudah mempersiapkannya?” Kelly seolah-olah telah mendengar sebuah lelucon saja. “Kenapa mesti Ibu mempersiapkannya untukku? Sebelumnya bukannya kita sudah menandatangani perjanjian pembagian tanggung jawab nafkah orang tua?”“Ibu ditanggung oleh Kak Kenzo, sedangkan Ayah ditanggung olehku. Kalaupun aku menikah, harusnya Ayah yang mengurusku. Kalian juga sudah lihat sendiri, sekarang Ayah cum
“Ayah, serahkan masalah ini kepadaku. Bukannya Ayah mau ikut lomba? Ayah main catur sana!” Kelly memberi isyarat mata kepada perawat. Perawat memahaminya. Tanpa mengindahkan penolakan Iwan, dia mendorong Iwan keluar kamar. “Paman, yang lain sudah mencarimu dari tadi. Kita pergi main catur dulu. Nanti aku akan bawa kamu kembali.”Pintu kamar ditutup. Suasana di dalam kamar kembali hening. Kelly duduk di atas sofa sembari mengambil gelas jus. Sepertinya Kelly sedang haus. Dia pun meneguk setengah gelas jus.Sandora segera mengambil tisu untuk diberikan kepada Kelly. “Minumnya yang pelan. Apa di luar panas sekali?”“Aku pergi ambilkan jus lagi buat Kelly!” Wilona segera mengambil jus lagi.Mereka berdua sedang sibuk melayani Kelly. Kelly duduk di sofa dan tidak bergerak. Dia hanya bertanya dengan suara lembut, “Gimana kabar Kak Kenzo?”Wilona mengeluh, “Kakakmu masih seperti biasanya, selalu lembur setiap hari, tapi juga nggak dapat uang banyak, pokoknya jauh kalau dibandingkan sama kamu!
Sonia mendengar ucapan pria itu sembari mengangkat alisnya. “Ujung-ujungnya, semuanya mengandalkan cinta untuk bersikap semena-mena.”Reza menatapnya dengan tersenyum. “Tentu saja, tidak mungkin bertarung tanpa keyakinan!”Morgan bersandar di sofa sembari melihat mereka berdua. Dia pun berkata denga
Theresia mengikuti ucapan Roger untuk melambaikan kedua tangannya bersama yang lain. Dia juga ikut bernyanyi bersama mereka. Saat ini, dia mulai merasa rileks. Dia mendengar suara nyanyi orang-orang semakin kuat saja dan juga melihat senyuman yang sudah lama tidak dilihat dari wajah Ashley. Ketika m
Keesokan harinya.Setibanya di perusahaan, Ashley sudah menunggu di kantor Theresia. Begitu melihat Theresia memasuki ruangan, dia segera berdiri dan berkata dengan tidak berdaya, “Tony telepon aku lagi. Aku nggak angkat, kemudian dia kirim pesan kepadaku. Dia suruh aku pulang. Kalau nggak, dia akan
Theresia membawakan dua buket bunga segar pembelian Roger ke dalam rumah. Hestia pun datang dengan membawa vas bunga. “Aku lagi kupas kulit udang. Selesai nanti, aku baru akan pasang bunga ke dalam vas bunga.”“Kamu sibuk sana, biar aku saja!”Hestia juga tidak bersikap terlalu sungkan lagi. Dia ter







