로그인Setelah kembali ke vila sendiri, ruang tamu yang begitu besar kelihatan gelap dan kosong, hanya ada cahaya dari luar yang memancar ke dalam jendela besar, memantulkan bayangan gelap di dalam kamar.Morgan menyalakan lampu. Dia membuka kancing kemejanya, lalu mengambil rokok berjalan ke sisi balkon. Morgan duduk di atas bangku rotan di balkon dengan menyilangkan kedua kakinya dan tangannya disandarkan di atas pegangan. Dia sedang memandang langit malam di luar sana.Ujung rokoknya tidak berhenti berkilauan. Pria itu dikelilingi oleh cahaya gelap. Aura dinginnya juga terasa semakin dingin lagi.Beberapa saat kemudian, masuk sebuah notifikasi di ponselnya. Dia membuka laptop untuk memulai rapat.Sirla melaporkan kondisi Hondura kepada Morgan. Raut wajah pria itu kelihatan datar, dia pun hanya mengiakan saja.Alhasil, Sirla yang berada di ujung telepon merasa bingung. Dia berhasil menangkap bawahan Darvin yang tidak berhenti membuat keonaran, lalu menghancurkan markas bawah tanah mereka. T
Marcus langsung duduk di samping Theresia. Matanya kelihatan polos dan energik. “Apa Kakak sudah tamat kuliah?”Theresia tersenyum tipis. “Apa aku kelihatannya seperti anak sekolah?”Marcus tersenyum lebar. “Aku tidak tahu, hanya saja kelihatannya sangat istimewa!”Mata gadis itu sangat indah, keindahannya begitu memikat hati, dalam dan luas seperti langit berbintang, seakan menyimpan kejernihan setelah mengalami begitu banyak hal. Namun, fitur wajahnya justru memancarkan aura yang murni dan lembut. Di antara kepolosan dan daya pikat, tanpa sadar membuat orang tertarik padanya.Theresia berkata dengan tersenyum, “Aku nggak kuliah. Aku langsung bekerja.”Marcus merasa sedikit kaget dan merasa sedikit disayangkan. “Sayang sekali.” Marcus mengira sebelum Theresia kembali ke Keluarga Angsara, kondisi ekonominya tidak begitu bagus, makanya dia tidak bisa bersekolah. Dia pun segera berkata, “Sekarang kamu sudah pulang, kamu boleh melanjutkan studimu.”Theresia mulai tertarik. “Aku memang pun
Setelah kedua pasang mata saling bertatapan, Theresia mengalihkan tatapannya, lalu berkata dengan tersenyum, “Mengenai masalah marga, nggak perlu diganti dengan buru-buru. Bagaimanapun hal itu bersangkutan dengan banyak hal, seperti kartu identitas, dokumen-dokumen penanggung jawab perusahaanku, stempel, dan yang lain. Terlalu merepotkan.”Aska berkata, “Cepat atau lambat juga mesti diganti. Kamu tidak usah urus. Kakek akan suruh orang untuk membantumu mengurus semuanya.”Jemmy berkata dengan tersenyum, “Morgan, bagaimana menurutmu?”Morgan masih saja menunjukkan ekspresi dingin dan datarnya seperti biasa. “Ini masalah Theresia sendiri. Pemikiranku tidaklah penting.”Bulu mata Theresia sedikit gemetar. Dia memalingkan kepalanya melihat bunga di dalam halaman. Cahaya senja yang mulai gelap, bunga magnolia yang siang tadi begitu mekar indah kini tampak sedikit sendu.Julia melirik keduanya, lalu tersenyum. “Kalau tidak ganti marga, kita tetap bisa memindahkan data kependudukannya ke sini
“Kakek sih gembira, tapi Kakek takut kamu tidak gembira!” Nada bicara Aska terdengar lembut. “Kegembiraanmu lebih penting daripada apa pun!”Tiba-tiba hati Theresia mulai terasa pilu. Dia merasa ada sesuatu yang tersendat di tenggorokannya, membuat suaranya terdengar sedikit serak. “Terima kasih, Kakek.”“Kalau begitu, jangan berpikir terlalu banyak. Kamu baru saja pulang, kita sekeluarga bisa berkumpul dengan gembira. Sisanya pelan-pelan saja. Kalau Morgan berani menindasmu, Kakek pasti akan tegakkan keadilan buat kamu. Kakek memang sudah tua, tapi Kakek juga akan melindungimu!” Aska kelihatan tegas. “Kalau ada yang berani menindas cucu perempuanku, aku akan mencarinya sampai ke rumah.”Tiba-tiba Theresia teringat dengan gambaran Morgan dipukul Jemmy dengan kemoceng saat Hari Raya waktu itu, lalu membayangkan kakeknya sendiri mengajaknya mendatangi Keluarga Bina, Theresia pun tidak bisa menahan tawanya. Dia tersenyum cerah hingga matanya berbinar.Julia berjalan mendekat di atas jalan
Ketika Roger melihat Hallie seperti ini, dia pun merasa tidak tega. Pada akhirnya, Roger berkata, “Rasa suka itu sejenis perasaan. Mungkin karena aku duluan bertemu dengan Theresia, makanya aku lebih memprioritaskannya.”Hallie mengangguk. Air mata pun ikut menetes. Dia mengangkat tangannya untuk menyeka air mata, lalu berdiri dan berkata, “Kalau begitu, Tuan Roger istirahat dengan baik. Aku pergi dulu.”Roger berkata, “Aku akan tepati ucapanku. Asalkan kamu memerlukanku, aku akan berusaha untuk menebus kesalahanku.”Hallie tersenyum getir. “Aku nggak kekurangan apa-apa dan juga nggak menginginkan apa-apa. Anggap saja nggak terjadi apa-apa waktu itu!”Selesai berbicara, Hallie pun membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.Roger sedang merasa pusing. Setelah mengatakan ucapan panjang lebar, kepalanya semakin kliyengan lagi. Hanya saja, dia merasa lebih lega setelah menjelaskan kepada Hallie.Hallie meninggalkan kamar pasien. Dia menyeka air mata di wajah dengan ekspresi muram. Dia tidak
Suara Roger terdengar agak lemas. “Saat bangun tadi pagi, aku sudah merasa baikan. Tapi sekarang masih sedikit pusing. Aku tidak kenapa-napa.”Theresia berkata dengan suara berat, “Tadi aku baru saja menerima telepon dari pihak kepolisian. Katanya, orang yang menabrakmu itu karena mabuk, tapi aku merasa masalah nggak sesederhana ini. Kamu mesti lebih hati-hati, jaga keselamatanmu.”Roger terdiam sejenak, baru berkata, “Oke, aku sudah tahu. Terima kasih, There. Terima kasih sudah mengantarku ke rumah sakit semalam. Kata suster, kamu yang mengurus semua prosedurnya.”Theresia tersenyum datar. “Sebelumnya, kamu juga pernah membantuku. Kita itu teman, jadi nggak perlu terlalu perhitungan.”Roger bertanya, “Semalam ibuku kemari. Dia tidak persulit kamu, ‘kan?”Theresia membalas, “Nggak.”“Baguslah kalau begitu!”“Kamu rawat lukamu dengan baik. Kamu tidak usah berpikir kebanyakan.”“Oke.”…Baru saja Roger mengakhiri panggilan, Hallie pun berjalan ke dalam dengan memeluk sebuket bunga segar.
Istri dari pemilik toko sedang memukul lalat. Wanita itu berkulit putih dengan rambut keriting. Sonia memasukkan beberapa kue, biskuit, dan sebotol air soda ke dalam keranjang.Saat Sonia sedang memilih barang, para pria yang berada di luar mulai mengerumuni wanita itu.“Hai, wanita cantik!”“Cantik
Kase tertegun sejenak. Namun, Sonia sudah berbalik dan naik ke lantai atas. Sambil minum isi gelasnya, pria itu merasa sedikit kesal. Dalam pikirannya, adakah orang di dunia ini yang lebih hebat darinya?Kase meremehkan pernyataan Sonia. Dia meyakini bahwa gadis itu sebenarnya hanya bucin. Hanya ora
Tak lama kemudian, pelayan mengantar makanan. Hallie mengikuti pelayan itu. Hallie bertanya dengan ekspresi terkejut, "Sonia, kamu tidak apa-apa, 'kan?"Sonia bangkit, lalu menggeleng. Namun, dia merasa pusing. Sonia pun memejamkan mata untuk menenangkan dirinya.Hallie yang khawatir berucap, "Apa k
Nelson mengangkat-angkat alisnya. “Ternyata kamu sudah mengundurkan diri. Apa karena kamu bertengkar sama Bos Yandi?”Ketika melihat sikap mereka berdua tadi, sepertinya mereka sedang tidak akur.Tasya menunduk, lalu membalas dengan suara pelan, “Nggak ada yang perlu dipertengkarkan. Aku … semua sal







