LOGIN“Aska ada undangan. Dia bersikeras untuk bawa Theresia ke acara. Aku rasa dia sengaja mau memamerkan Jeje!” Jemmy mendengus dingin. “Temperamen Theresia terlalu bagus. Dia selalu menuruti kemauan Aska!”Julia tersenyum. “Ngapain bawa Jeje segala?”“Katanya, dia mau Theresia mengenal lebih banyak pemuda tampan dan berbakat!” balas Jemmy dengan kesal, “Menurutmu, apa dia sengaja pancing emosiku?”Julia langsung tertawa. “Pemikiran ayahku memang semakin banyak saja.”Tiba-tiba Julia teringat dengan Helward. Senyumannya kelihatan datar. “Hari ini, aku pergi bertemu dengan ayahnya Jeje.”Jemmy tersenyum lembut. “Kamu pergi menemuinya?”Julia menurunkan kelopak matanya, lalu mengangguk dengan perlahan. “Aku takut dia menginginkan Jeje, jadi ada bagusnya untuk jelasin langsung sama dia. Lagi pula, hari ini aku baru tahu ternyata biaya sekolah ke luar negerinya itu pemberian ayahku.”Kening Jemmy berkerut. Dia melihat hujan rintik-rintik, lalu berkata dengan perlahan, “Sebenarnya aku tahu masa
Helward terbengong. Dia menatap Julia dengan syok. Melihat sorot matanya yang tenang dan dingin, hatinya tak bisa menahan rasa gelisah. Gadis yang dulu seluruh dunianya hanya berisi dirinya, pada akhirnya benar-benar telah dia hilangkan.Rasa menyesal dan menderita telah memenuhi isi hatinya. Helward kembali merasa curiga dengan pilihan waktu itu. Dia berusaha menenangkan dirinya, baru bertanya, “Dengar-dengar putri kita sudah ditemukan, ya?”Selesai berbicara, Helward menyadari ada rasa waspada di wajah Julia. Dia segera berkata, “Kamu tenang saja. Aku pasti tidak akan merebut putrimu. Aku memang sangat penasaran sama dia, tapi aku tahu aku tidak menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang ayah dengan baik. Mana mungkin aku bisa membawanya pergi dari sisimu?”Julia mengangguk dengan perlahan. “Dia tidak pernah bertanya soal kamu. Dia juga tidak penasaran dengan ayahnya. Jadi, aku tidak atur kalian untuk ketemuan.”Tadinya Helward masih merasa sedikit berharap. Sekarang, dia malah sud
Helward berkata, “Dua hari lalu, aku lewat Jembara University. Aku lihat kedai makanan di seberang universitas yang sering kita kunjungi dulu sudah tidak ada, sudah diganti menjadi kedai teh, tapi aku masih sangat merindukannya! Aku sudah memesan meja di sana. Aku akan tunggu kamu sampai kamu menampakkan diri!”Julia tidak memberinya jawaban pasti.Selesai sarapan, Julia mempertimbangkannya sebentar, pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi menemui Helward.Waktu itu, Helward pergi dengan buru-buru, hubungan mereka pun berakhir begitu saja. Jadi setelah 20 tahun kemudian, Julia ingin pergi untuk memberi tanda titik pada masa lalu itu.Saat Julia keluar rumah, Vans menyusul dari belakang, membawa sebuah payung di tangannya. Terpancar kelembutan dari bola mata cokelatnya. “Aku dengar dari Paman Aska, semut-semut di halaman sedang pindah sarang. Mungkin akan hujan hari ini, jadi dibawa payungnya.”Julia tidak bisa menahan tawa. “Ayahku itu lagi menghibur Jejel. Sekarang juga bisa langsung
Theresia merasa sedikit canggung. Dia tahu masalah ini tidak bisa dirahasiakan dari Julia. Dia pun tersenyum ringan. “Cuma salah paham saja!”…Theresia dan Julia mengobrol hingga sangat larut. Setelah itu, Theresia kembali ke kamarnya untuk mandi dan mengeringkan rambutnya. Saat dia berbaring di atas ranjang, dia malah tidak merasa mengantuk sama sekali.Theresia mengambil buku untuk membaca, tetapi dia tidak tertarik. Dia melempar bukunya di samping, lalu membalikkan tubuhnya untuk bersandar di atas ranjang.Saat menjelang dini hari, ponsel Theresia bergetar. Theresia segera membuka ponselnya. Dia melihat ada orang yang membagikan musik kepadanya, matanya seketika memerah. Theresia mengambil headset dan mulai mendengarkan lagu. Alunan musik yang ringan dan pelan terdengar. Hatinya seketika bergejolak, tidak tenang sama sekali.Setelah satu lagi selesai diputar, Theresia baru mengambil ponselnya untuk mengirim pesan. [ Apa kamu masih marah? ]Pria itu segera membalas. [ Bukan ini yang
Setelah kembali ke vila sendiri, ruang tamu yang begitu besar kelihatan gelap dan kosong, hanya ada cahaya dari luar yang memancar ke dalam jendela besar, memantulkan bayangan gelap di dalam kamar.Morgan menyalakan lampu. Dia membuka kancing kemejanya, lalu mengambil rokok berjalan ke sisi balkon. Morgan duduk di atas bangku rotan di balkon dengan menyilangkan kedua kakinya dan tangannya disandarkan di atas pegangan. Dia sedang memandang langit malam di luar sana.Ujung rokoknya tidak berhenti berkilauan. Pria itu dikelilingi oleh cahaya gelap. Aura dinginnya juga terasa semakin dingin lagi.Beberapa saat kemudian, masuk sebuah notifikasi di ponselnya. Dia membuka laptop untuk memulai rapat.Sirla melaporkan kondisi Hondura kepada Morgan. Raut wajah pria itu kelihatan datar, dia pun hanya mengiakan saja.Alhasil, Sirla yang berada di ujung telepon merasa bingung. Dia berhasil menangkap bawahan Darvin yang tidak berhenti membuat keonaran, lalu menghancurkan markas bawah tanah mereka. T
Marcus langsung duduk di samping Theresia. Matanya kelihatan polos dan energik. “Apa Kakak sudah tamat kuliah?”Theresia tersenyum tipis. “Apa aku kelihatannya seperti anak sekolah?”Marcus tersenyum lebar. “Aku tidak tahu, hanya saja kelihatannya sangat istimewa!”Mata gadis itu sangat indah, keindahannya begitu memikat hati, dalam dan luas seperti langit berbintang, seakan menyimpan kejernihan setelah mengalami begitu banyak hal. Namun, fitur wajahnya justru memancarkan aura yang murni dan lembut. Di antara kepolosan dan daya pikat, tanpa sadar membuat orang tertarik padanya.Theresia berkata dengan tersenyum, “Aku nggak kuliah. Aku langsung bekerja.”Marcus merasa sedikit kaget dan merasa sedikit disayangkan. “Sayang sekali.” Marcus mengira sebelum Theresia kembali ke Keluarga Angsara, kondisi ekonominya tidak begitu bagus, makanya dia tidak bisa bersekolah. Dia pun segera berkata, “Sekarang kamu sudah pulang, kamu boleh melanjutkan studimu.”Theresia mulai tertarik. “Aku memang pun
“Emm, kita datang juga demi bertemu dengan Morgan. Sekarang kita juga sudah ketemu, semua yang perlu dikatakan juga sudah dikatakan. Apalagi kamu sudah mengatakan ucapan seperti itu tadi. Sepertinya tidak ada artinya untuk terus tinggal di sini,” ucap Edgo, “Aku pamitan dulu sama Morgan. Kamu siap-s
Mereka makan dan minum sambil mengobrol dan tertawa. Mungkin karena mereka berasal dari daerah yang sama dan sedang merayakan Hari Raya di perantauan, rasa akrab di antara mereka terasa lebih kuat dari biasanya. Tidak lama kemudian, mereka pun menghabiskan sebotol alkohol.Devin berdiri. “Aku pergi
Rambut si wanita telah diembus hingga berantakan. Matanya memerah dan dipenuhi dengan ekspresi lara. Dia sedang menatap Morgan dengan tatapan memelas.Mereka juga tahu Theresia telah memberanikan dirinya untuk buka suara. Namun, hanya terlihat sedikit gejolak di dalam tatapan tajam si pria. Dia pun
Sarima dan Pamela sedang duduk sembari mengobrol di samping. Ketika melihat anak-anak yang sedang menonton acara TV, mereka pun tersenyum sembari menggigit bibirnya.Ponsel Rose tidak berhenti menyala. Semuanya adalah pesan singkat ucapan selamat Hari Raya atau pesan Devin mengakui kesalahannya. Han







