LOGINAska meminum teh dengan tenang. “Meskipun aku pernah mengatakannya, sepertinya waktu itu kamu juga tidak setuju. Kamu bilang, anak muda bebas dalam masalah asmara, sebagai senior tidak seharusnya ikut campur, sekarang sudah tidak tren masalah perjodohan lagi! Kenapa? Setelah Jeje ditemukan, kamu tidak mendukung kebebasannya dalam asmara lagi?”Jemmy menatap Morgan. “Kata siapa tidak tren untuk melakukan perjodohan?”Morgan menggeleng dengan tenang. “Aku tidak ingat!”Aska tersenyum sinis. “Kalian berdua tidak perlu bersandiwara. Kamu pernah mengatakannya. Aku ingat dengan jelas!”Jemmy tersenyum, lalu bertanya pada Morgan, “Bagaimana menurutmu?”Morgan terlihat santai. “Kalau begitu, bebas saja, aku juga tidak masalah.”Jemmy langsung tersenyum. Sepertinya Morgan yakin bisa mendapatkan Theresia!Aska malah berkata, “Tidak, tidak boleh. Intinya, jangan menargetkan Jeje-ku. Aku dan Julia tidak mungkin membiarkannya menikah dengan begitu cepat. Setidaknya, dia mesti tinggal beberapa tahun
Julia bertanya pada Morgan, “Apa kamu punya foto masa kecil Theresia dulu?”Morgan melirik Theresia sekilas, lalu berkata dengan mengangguk, “Seharusnya ada. Nanti aku akan suruh orang untuk mencarinya.”“Oke, kamu mesti mencarinya untukku.” Terlihat tatapan penuh penantian di dalam mata Julia.Julia sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai Theresia. Dia sudah tidak sabar untuk memahami putrinya.Meja makan itu terbuat dari kayu yang sudah berumur tua. Kebetulan Theresia sedang duduk menghadap jendela. Pohon magnolia di luar jendela sana sudah berbunga. Ketika mendengar ucapan Aska dan Julia, dia tiba-tiba merasakan sesuatu yang pernah dirasakannya dulu.Theresia melihat ke sisi jendela, lalu bertanya, “Dulu ada sebuah rak bunga di sana. Di atasnya dipajang sebuah vas bunga berwarna-warni. Benar, ‘kan?”Aska dan Julia pun terbengong. Aska menatap Theresia dengan kaget. Matanya mulai basah. “Apa kamu masih ingat?”Theresia mengangguk. “Aku merasa seperti pernah melihatnya saja.”Julia me
“Kalau begitu, kamu makan dulu, makan!” Aska menatap Theresia. Sepertinya karena terlalu gembira, suaranya pun terdengar sedikit gemetar.Pelayan sudah mempersiapkan makan siang. Semua orang bersama-sama berjalan menuju ruang makan. Dari tadi Julia menggenggam tangan Theresia. Dia masih tidak bisa menenangkan dirinya.“Jadi, di dunia ini tidak mungkin bisa muncul kesan baik terhadap seseorang tanpa alasan. Saat pertama kali kita bertemu, kita bagai sudah kenal lama, ternyata karena punya hubungan darah.”Theresia berkata dengan tersenyum, “Setelah dipikir-pikir saat ini, semuanya terasa sangat ajaib.”Julia menyuruh Theresia untuk duduk. “Kamu makan dulu. Kita ngobrol setelah selesai makan.”Semua orang duduk mengelilingi meja makan. Aska bertanya pada pelayan, “Di mana Hallie? Seharian aku tidak melihatnya.”Pelayan membalas, “Kata Nona, ada sedikit urusan di perusahaan, dia pun sudah pergi bekerja pagi-pagi.”Morgan kepikiran dirinya bertemu dengan Jovita di lembaga forensik. Tatapan
Terlihat senyuman di atas wajah tampan Reza. “Hasil ini sangat menggembirakan!”Setidaknya sejak awal, siapa pun tidak akan menyangka hasil ini.Juno mengambil tisu untuk Rose dan Aska. Dia menepuk-nepuk pundak Rose. “Jangan menangis lagi. Kalau kamu menangis lagi, Pak Guru juga tidak bisa merasa tenang.”Rose mengambil tisu untuk menyeka air mata Aska. "Pak Guru jangan menangis lagi. Jangan menangis lagi!”Jemmy juga mengambil tisu yang diberikan Sonia, lalu menyeka matanya. Saat melihat Morgan, dia memberikan tatapan penuh rasa kagum. Cucunya ini memang hebat!Bibir tipis Morgan sedikit melengkung ke atas. Dia mengangkat bola matanya untuk melihat Theresia.Theresia tidak menangis. Tatapan yang diperlihatkan bahkan terasa tidak berdaya. Dia sudah lama tidak memiliki perasaan seperti ini. Hal yang paling berkesan di benaknya adalah masa Morgan membawanya pergi dari Hondura. Theresia duduk di dalam mobil. Dia tidak tahu pria itu hendak membawanya ke mana. Dia tidak tahu apa yang akan d
Morgan membawa Theresia kembali ke rumah Aska. Saat melewati halaman, Theresia melihat pemandangan di dalam halaman. Rasa familier yang tak bisa dideskripsikan menyerang hatinya. Sepertinya semua terasa begitu lama. Saking lamanya, semua terasa bagai di kehidupan lampau saja. Sepertinya dia memang pernah datang kemari.“Ada apa?” Morgan menoleh dan bertanya ketika melihat Theresia berhenti.Theresia melihat matanya dan menggeleng dengan perlahan.“Apa kamu merasa takut? Kamu itu Theresia yang tidak takut dengan apa pun, tapi kamu malah takut dengan hal seperti ini?” sindir Morgan, tetapi malah membalikkan tubuhnya dan pergi menggandeng tangan Theresia untuk melanjutkan langkahnya.Mereka berdua memasuki rumah. Semua orang sedang menunggu di dalam ruang tamu. Ketika melihat mereka berdua masuk secara bersamaan, Aska duluan berdiri, lalu bertanya dengan antusias, “Apa hasilnya sudah keluar?”“Sudah keluar!”Morgan menyerahkan tiga set hasil tes DNA kepada Aska, Julia, dan Jemmy.Aska men
“Apa kamu merasa gembira?” tanya Morgan.Theresia menggeleng. “Aku nggak tahu.”“Jadi bengong?” Morgan tersenyum.Theresia hanya menatap Morgan tanpa berbicara.Morgan meringankan suaranya. “Tidak apa-apa. Kamu akan mulai terbiasa. Semuanya ada aku, kok!”Theresia mengangguk dengan bingung.“Sekarang, aku bawa kamu pergi cari Bibi Julia untuk beri tahu dia kabar bagus ini.” Morgan tersenyum. Dia melepaskan Theresia, lalu menyalakan mesin mobil.Theresia menurunkan kelopak matanya sembari merenung. Dia bertanya, “Seandainya Bibi Julia itu ibuku, jadi siapa ayahku?”Morgan membantu Theresia untuk menjelaskan, “Ayahku adalah teman kuliah Bibi Julia. Dia tidak kembali lagi setelah kuliah di luar negeri. Seharusnya dia sudah punya keluarganya sendiri. Orang yang memiliki hubungan darah denganmu sekarang cuma Bibi Julia dan … Kakek Aska saja.”Theresia mengangguk dengan datar, lalu bergumam dengan nada ringan, “Jadi, aku juga bukan dicampakkan.”“Tentu saja bukan!” Tatapan Morgan terlihat mu
“Oke!”Si Bibi membawa ember keluar kamar mandi dengan kegirangan.“Apa yang terjadi? Kenapa jadi ngobrol sama dia?” tanya Tasya.Yandi berkata, “Aku beli pisau cukur.”“Hah?” Tasya merasa kaget. “Pisau cukur apa?”Yandi mengangkat-angkat tangannya, lalu berkata dengan bercanda, “Pisau cukur merek makcom
Sonia tersenyum ringan. “Kalau begitu, aku jadi kepercik rezeki!”Mereka berdua duduk bersama. Kelly menuangkan segelas anggur merah untuk Sonia dan untuk dirinya sendiri. “Minum sedikit harusnya nggak apa-apa. Sonia ….”“Kalau kamu ingin ucapkan terima kasih, nggak usah katakan lagi.” Sonia menyela,
“Apa tahun ini Morgan kembali?” tanya Juno dengan suara datar.Tatapan Sonia menjadi tajam. “Nggak, Kak Morgan menerima misi baru. Jadi, dia nggak bisa pulang untuk rayain hari raya.”Juno terlihat sangat serius. Beberapa saat kemudian, dia baru berkata, “Morgan itu pahlawan tanpa jasa. Pak Jemmy dan
Sonia terlihat canggung. “Kenapa malah bahas masalah anak?”Reza menatapnya. “Setelah menikah nanti, kita akan memiliki anak kita sendiri. Aku rasa setidaknya mesti ada tiga ….”Kedua mata Sonia terbelalak!Reza pun tersenyum sembari membelai rambut Sonia. “Jangan takut, aku akan membesarkan mereka!”So







