FAZER LOGINCasa mengerutkan keningnya. “Apa bagus seperti ini? Apa dia bakalan percaya?”“Terserah dia percaya atau nggak. Yang penting kita kacaukan perjodohannya saja!” Cindel tersenyum licik. “Aku bukan hanya ingin mencemarkan namanya di kalangan atas. Aku juga ingin menghancurkan Gunawan Group, demi balas dendam kepada keluarga kami!”Seandainya reputasi dari wakil direktur perusahaan tercemar, Gunawan Group pasti akan terkena imbasnya. Bisa jadi akan ada pergerakan dengan harga saham di bursa pasar besok.Ketika kepikiran dirinya bisa balas dendam kepada Howard sekaligus Gunawan Group, Cindel pun merasa semakin gembira saja.Mereka berbisik-bisik sejenak, seolah-olah sedang membahas detailnya. Setelah itu, mereka pun sama-sama meninggalkan tempat.Kali ini, Cindy baru mengangkat kepalanya. Dia sedang mengemut kue tar rasa yoghurt. Ketika melihat kepergian mereka, tiba-tiba muncul pemikiran menjadi “pahlawan" di benaknya.Cindy menelan kue tar, lalu minum segelas jus buah. Dia pun berdiri un
“Tadi Kak Leon saja nggak mengenaliku!”“Tapi, aku mengenalimu dalam sekali tatap!”Tiba-tiba mata Tasya berkilauan. Dia membalas dengan lantang, “Itu karena hanya ada kamu di mataku. Kamu melihatnya, makanya kamu bisa mengenaliku!”Jantung Yandi berdegup kencang.“Ayo, kemari!” Tasya menggenggam tangan Yandi yang satu lagi, kemudian meletakkannya di atas pinggangnya sendiri. “Cuma berdansa saja, nggak akan lebih sulit daripada menembak. Kalau kamu nggak turuti kemauanku, kita berdua akan bertengkar di sini, nantinya malah menarik perhatian orang lain.”Terkadang Yandi benar-benar kehabisan akal terhadap gadis ini. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa.”“Aku sudah bilang, aku akan ajari kamu. Aku akan lebih lambat. Kamu cukup ikuti aku saja!” Jari tangan kiri Tasya saling bertautan dengan jari tangan Yandi. Dia mengangkat kelopak matanya menatap si pria dengan tatapan membara. “Apa kamu sudah siap sedia? Apa sudah bisa dimulai?”Mungkin karena tertular oleh suasana gembira hari ini, sa
Dania bertemu dengan beberapa orang yang dia kenal. Dia pun sudah meminum 4-5 gelas alkohol. Sepertinya karena minumnya terlalu buru-buru, kepalanya mulai terasa kliyengan. Dia mencari sebuah tempat yang tenang untuk menghirup angin segar.Sesosok bayangan tubuh berjalan kemari menyerahkan segelas jus segar untuknya, lalu berkata dengan nada datar, “Nona Dania sungguh bekerja keras. Kamu bukan hanya jadi pendamping pengantin wanita saja, juga mesti menjamu klien.”Dania mengambil gelas jus, lalu tersenyum datar. “Nggak tergolong menjamu klien, mereka itu teman-temanku. Apalagi bos kami menikah, semuanya pun merasa sangat gembira. Wajar kalau minum banyak.”Chandra berkata, “Mohon maaf kalau aku sudah lancang hari ini.”Dania tersenyum sembari menggeleng dengan perlahan. “Nggak, kok. Dengan kondisi seperti tadi, Tuan Chandra sudah tergolong sangat gentleman.”“Apa ini pertama kalinya kamu jadi pendamping pengantin?”“Apa ini pertama kalinya kamu jadi pendamping pengantin?”Mereka berdua
Sonia telah mengganti set gaun terakhir. Bagian atasnya adalah gaun satin berkilau warna emas muda dengan model setengah bahu. Roknya berlapis-lapis dengan tampilan mewah, membuat tubuhnya terlihat tinggi dan anggun, tetapi juga membawa sedikit kesan lembut dan manja.Reza sangat menyukai gaun yang dikenakannya. Lantaran tahu Sonia tidak nyaman berjalan dengan sepatu hak tinggi, dia langsung menggendong Sonia untuk turun ke lantai bawah.Setibanya di lantai bawah, Reza menurunkan Sonia. Dia menggandeng tangan Sonia untuk masuk ke lantai dansa, lalu berdansa mengikuti alunan musik.Orang lain perlahan-lahan mundur dari sekeliling. Mereka semua mempersilakan tempat di tengah untuk mereka berdua.Semakin banyak orang yang mulai berkerumun. Mereka semua menyaksikan mempelai pria dan wanita yang sedang berdansa dengan tatapan iri.Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari atas langit. Ada beberapa pesawat melintas. Semua orang serempak menengadah kepala mereka.Pesawat melintas pergi, teta
Jemmy merenung sejenak, lalu berkata dengan tersenyum, “Kalau begitu, jangan beri tahu dia dulu, biar dia juga tahu betapa tidak enaknya perasaan gelisah!”Theresia menurunkan kelopak matanya. “Kakek Jemmy, aku nggak ingin mengecewakanmu, makanya aku mesti beri tahu kamu. Kemungkinan aku nggak akan bersama Morgan.”Inilah alasannya kenapa Theresia tidak memberi tahu Morgan masalah putusnya dia dengan Roger. Mereka tidak akan bersama. Jadi, tidak ada bedanya untuk mengatakannya.“Kenapa?” Jemmy tidak paham.Theresia melihat ke kejauhan. Terlihat cahaya penuh harapan kebebasan di dalam matanya. “Aku cuma ingin … ganti hidup yang lain saja.”Theresia tidak ingin hidup dalam rasa penantian dan kekecewaan, kemudian terjerat dalam perasaan Morgan.Jemmy tidak berkomentar, melainkan hanya mengatakan, “Kalian para anak muda punya pemikiran sendiri. Yang penting kalian gembira saja.”“Maaf, Kakek Jemmy!” Theresia selalu merasa dirinya telah bersalah terhadap pria tua itu.“Kamu tidak sedikit pu
Tiba-tiba Jemmy berdiri. Dia berkata pada Theresia dengan ramah, “Theresia, ruangan ini pengap. Kamu ikut aku jalan-jalan di luar saja.”“Oke!” balas Theresia.Mereka berdua sama-sama berjalan ke luar. Morgan juga ikut berdiri. “Kakek Aska, kamu ngobrol dulu sama Bibi Julia. Aku ada urusan, aku keluar dulu.”“Oke!” balas Aska.Setelah Morgan pergi, Hallie baru berkata dengan tidak tenang, “Kakek, apa aku salah bicara?”Aska tidak berbicara. Namun, terdengar suara dingin Julia. “Nona Hallie, sepertinya kamu terlalu terburu-buru?”Raut wajah Hallie menjadi pucat. Dia berkata dengan terbata-bata, “Aku … aku nggak tahu apa maksud Ibu … Bibi Julia?”Julia berkata dengan dingin, “Kamu yang sok pintar hanya akan membuktikan kebodohanmu.”“Julia!” Aska menghentikan ucapan Julia.Julia menatap ayahnya dengan tersenyum dingin. “Setelah bertahun-tahun, kamu masih saja bersikap egois, tidak membedakan mana yang benar dan mana yang salah!”Aska berkata, “Apa Hallie salah bicara? Theresia itu memang
Sonia mengerutkan keningnya. “Sebentar lagi aku sudah bisa jadi koki restoran bintang lima!”Reza sangat menyukai rasa percaya diri Sonia. Dia mengelus kepala Sonia, lalu berkata, “Jangan bangga dulu! Ini hanya pengetahuan umum saja!”“Mendingan daripada kamu nggak bisa apa-apa!” ucap Sonia, lalu mend
Kedua mata Sonia bergerak. Dia lalu menjawab dengan perlahan, “Kita bekerja sama-sama. Yandi juga adalah teman kakakku. Dia yang ajari aku teknik memanah.”Reza masih ingin bertanya lagi. Tiba-tiba Sonia menjinjit kakinya, lalu mengecup bibir Reza. Dia menyipitkan matanya sambil bergumam, “Sudah mala
Siska tahu asisten direktur sengaja meremehkan dirinya untuk menyanjung Gina. Dia merasa sangat kesal dalam hati, tapi ekspresinya tetap rendah hati dan lembut. “Iya, aku berharap Kak Gina bisa mengajariku banyak hal saat bekerja bersama nanti!”Asisten direktur itu berkata, “Kalaupun kamu hanya mend
Waktu sehari berlalu dengan cepat. Setelah Sonia pulang kerja, dia pun pergi ke swalayan di seberang Imperial Garden untuk belanja bahan makanan. Sonia berencana untuk masak malam ini.Begitu Sonia memasuki rumah, tampak lampu di dapur dalam keadaan menyala. Setelah berjalan mendekat, Sonia baru meny







