MasukSaat perjalanan pulang ke perusahaan, semakin dipikir-pikir, Ingga pun merasa semakin marah saja. Dia menelepon Roger untuk memberi tahu semua yang terjadi di perusahaannya tadi.Roger berkata dengan kaget, “Aku tidak suruh orang untuk cari There!”Ingga berucap dengan gusar, “Jadi, ada orang yang sengaja ingin menjebak bos kami? Untung saja, hari ini bos kami ada urusan mendadak, makanya aku gantiin dia kemari. Kalau nggak, mereka pasti akan kesampaian!”Roger terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada dingin, “Aku akan selidiki masalah ini, lalu beri penjelasan kepada There.”Roger berpesan lagi, “Beberapa hari ini, kamu suruh There lebih hati-hati. Beri tahu There, kalau ada urusan, aku akan langsung telepon dia, tidak akan melewati asisten mana pun.”“Oke!”…Setelah panggilan diakhiri, Roger segera menghubungi Jovita, “Ibu, kamu lagi di mana?”Jovita sedang bermain kartu. Dia sedang merasa sangat gembira karena menang banyak hari ini. “Aku lagi main kartu sama temanku. Ada apa?”Ro
“Lho, kenapa Nona Theresia malah marah?” kata Ethan dengan tersenyum sinis, “Semalam kamu bersulang kepadaku. Kamu sangat lembut ketika nyanyi bareng aku semalam!”Brevi yang berada di samping tertawa terbahak-bahak.Seseorang membuka pintu ruang tamu. Tidak lama kemudian, orang-orang berkumpul untuk menyaksikan keramaian, bahkan ada yang memotret dan merekam.Raut wajah Ingga sungguh kelihatan gusar. “Kalau kalian sembarangan bicara lagi, nanti aku akan lapor polisi buat tuntut kalian sudah melakukan pemfitnahan!”“Kamu bilang siapa yang memfitnah?” Ethan tersenyum dingin sembari menunjukkan ekspresi tidak takutnya. “Lebih baik Nona Theresia segera lapor polisi saja. Bisa jadi, kelak reputasimu di Kota Jembara akan semakin besar lagi. Kamu itu hanya seorang humas. Kamu berbisnis dengan mengandalkan kecantikanmu untuk menggoda pria. Jangan kira kita semua tidak tahu!”Orang di luar ruangan sana mengirim video kepada Agnes. Agnes pun dengan puas mengirimnya kepada Jovita. Setelah membuk
Pada hari Kamis, Theresia menerima sebuah panggilan dari asistennya Roger. Nada bicaranya terdengar sungkan. “Nona Theresia, aku asistennya Tuan Roger. Kata Tuan Roger, kontrak kerja sama kedua perusahaan kita sudah hampir jatuh tempo, jadi butuh tanda tangan lagi untuk melanjutkan kontrak.”Theresia mengira Roger sedang sibuk, itulah sebabnya asisten Roger yang menghubunginya. Setelah memeriksa tanggal kontrak, memang sudah hampir berakhir.“Oke, apa ada yang perlu ditambahkan lagi dalam kontrak baru?” tanya Theresia.Asistennya Roger membalas, “Ada. Apa Nona Theresia bisa ke perusahaan sekarang? Kita bahas secara langsung!”“Boleh.” Theresia melihat jam sekilas. “Aku bisa sampai perusahaan kalian sebelum jam sebelas.”“Oke. Kamu bisa telepon aku setelah sampai nanti,” kata asisten dengan ramah.Theresia mengakhiri panggilan, lalu mencari keluar kontrak kerja sama Perusahaan Manthana. Setelah membaca dengan saksama, dia pun berdiri berencana pergi ke perusahaan Roger.Saat keluar ruan
Setengah badan Theresia merinding. Dia merasa arwahnya sudah bukan miliknya saja.…Di area ruangan bawah tanah vila ini, efek kedap suara di bioskop pribadi ini paling bagus. Mereka pun bisa bersikap semena-mena, tanpa perlu berpikir terlalu banyak.…Saat kembali ke Kediaman Keluarga Angsara, langit sudah gelap. Theresia memberikan hadiah yang dia beli tadi kepada Aska dan yang lain.Jemmy tersenyum cerah. “Kamu juga beli untuk aku?”Aska mengambil pakaiannya dengan ekspresi bangga. “Kamu bisa dapat juga berkat aku!”Jemmy tidak perhitungan dengannya. Lagi pula, dia tahu dia bisa mendapatkan hadiah berkat siapa.Julia melihat Theresia membeli hadiah untuk dirinya. Dia pun merasa sangat gembira. “Morgan, sudah merepotkanmu.”Morgan melirik Theresia sekilas. Dia berkata dengan tersenyum, “Nggak, sudah seharusnya.”Theresia berjalan ke sana, lalu membantu Julia untuk memakaikan gelangnya. Morgan berinisiatif untuk berkata, “Cocok sekali dengan Bibi Julia.”Julia mengangkat pergelangan
Theresia bertanya, “Ada urusan?”Roger membalas dengan pengertian, “Kita bicara lagi setelah makan.”Theresia melirik raut wajah pria di hadapannya. Dia takut tidak bisa melanjutkan makannya dengan tenang. Dia pun berkata dengan tersenyum, “Katakan saja sekarang!”Roger berkata, “Aku ingin diskusi masalah wasiat Nenek sama kamu. Kalau kamu ada waktu pada hari Senin nanti, kita pergi ke notaris untuk lakukan pembagian warisan sesuai dengan wasiat mendiang.”Theresia mengangguk. “Oke!”“Kalau begitu, kamu makan dulu. Nanti kita baru bahas detailnya.”Theresia memutuskan panggilan. Dia mengangkat kelopak matanya menatap tatapan dingin si pria.Morgan bertanya, “Kenapa masih ikut campur dengan masalah Keluarga Manthana?”Theresia menceritakan kembali masalah Roger memohonnya. “Dia nggak ingin mahar yang disimpan Nenek Riana seumur hidup malah dihambur-hamburkan oleh ayah dan pamannya. Jadi, kami sudah berdiskusi. Aku akan mewarisi mahar Nenek Riana. Kemudian, aku akan membuka harga secara
Di bawah tekanan mengerikan, pria berkaus hitam menyerahkan ponselnya dengan tangan gemetar.Saat Morgan mengambil ponsel, jari tangan pria segera menempel di atas layar. Ponsel pun langsung terbuka.Kali ini, pria berkaus hitam benar-benar terbengong. Ada banyak rahasia di dalam ponselnya, biasanya dia membuka kunci dengan sidik jari manisnya. Tadi, dia sama sekali tidak membuka ponselnya di depan pria itu, tetapi pria itu justru tahu jari mana yang dia gunakan untuk membuka kunci. Selain itu, gerakannya sangat cepat dan tepat, jelas bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang biasa.Morgan membuka ponsel itu. Dia dengan cepat menemukan ada fotonya dan Theresia yang dipotret oleh pria berkaus hitam.Morgan mendengus dingin. “Siapa yang suruh kamu foto?”Pria berkaus hitam hanya menatap Morgan tanpa berbicara. Mengkhianati klien sama dengan menghancurkan kariernya di kemudian hari. Dia telah menandatangani perjanjian kerahasiaan. Dia juga adalah seseorang yang memiliki etika profesional!M
Di lantai satu adalah perjamuan dengan gaya barat. Tamu yang berada di sana, rata-rata masih berusia muda. Di dalam aula utama di lantai satu, telah dipasang musik klasik. Ada tamu yang sibuk mengobrol, juga ada yang menari di tengah aula. Beberapa tamu yang sempat melihat ke arah pintu masuk, langs
Ranty dan Sonia berjalan di belakang, Ranty pun menjelaskan, “Theresia adalah temanku. Dia sangat hebat, punya perusahaan public relations sendiri. Hari ini dia bantu kita untuk minum semua alkohol kita!”Sonia akhirnya mengerti. Theresia yang berjalan di depan sana, memiliki tubuh yang bahenol denga
Sonia tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak menyangkal, juga tidak mengakuinya. Terserah Melvin mau berpikir apa.Melvin tersenyum santai, “Ikutlah denganku. Berapa pun yang dia kasih, aku akan beri dua lipat. Selain itu, aku akan memanjakanmu, setidaknya lebih baik dari Reza!”Raut muka Sonia agak ding
Sonia memejamkan matanya tanpa sadar. Bulu mata perempuan itu bergetar. Reza mendaratkan kecupan demi kecupan dari sudut mata hingga ke bibir perempuan itu. Dia menguasai seluruh bibir milik Sonia dan kemudian menggendongnya ke dalam pangkuan lelaki itu untuk semakin memperdalam ciumannya.Reza meras







