LOGINPria itu memegang erat gelas teh di tangannya. Alhasil, teh di dalam gelas sedikit bergerak. Dia meletakkan gelas, lalu memalingkan kepalanya. Sepasang tatapan mendalam melihat ke sisi wanita di dalam pelukan Morgan.Satu tangan Theresia menahan pundak Morgan, lalu saling bertatapan dengannya. “Tuan Morgan yang bijaksana jangan sampai masuk ke dalam jebakan provokasi orang lain, ya.”Tatapan Morgan semakin tajam. “Aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat.”“Apa yang kamu lihat?” Theresia memiringkan kepalanya bersandar di atas pundak Morgan sembari berbicara. Napasnya diembuskan ke atas dagu Morgan. Mata indahnya kelihatan sedikit berkilauan. “Lebih penting yang kamu lihat atau yang kamu rasakan?”Morgan tidak berbicara.Theresia mendengus dingin. Terdengar sedikit rasa tidak berdaya dan kesal di dalam nada bicaranya. “Kalau nggak, aku akan korek hatiku untuk diperlihatkan kepadamu. Biar kamu lihat ada orang lain atau nggak?”Morgan memiringkan sedikit tubuhnya, menindih Theresia di
Di kejauhan, Theresia menggigit pelan bibir merahnya. Dia melihat Dias sedang berusaha untuk menjilat Morgan. Jelas-jelas Theresia tahu Morgan bukanlah tipe orang yang gampang terpengaruh, hanya saja dia tetap tidak bisa meredam api di dalam hatinya.Theresia menuangkan segelas teh dan juga segelas alkohol, lalu berjalan ke sisi Morgan. Dia bertanya dengan tersenyum tipis, “Tuan Morgan, mau teh atau alkohol?”Morgan mengangkat kelopak matanya. Dia menatap dua gelas di tangan Theresia, lalu langsung mengambil gelas alkohol. “Aku minum alkohol. Kamu minum teh saja!”Rasa iri seketika tumbuh di dalam hati Dias. Padahal dia sudah berbicara panjang lebar dan juga sudah meneguk 3-4 gelas alkohol, Morgan tetap saja tidak menyentuh setetes pun alkohol. Sekarang, Theresia datang dan mengatakan kata-kata yang begitu singkat, Morgan malah langsung menghabiskan segelas alkohol.“Terima kasih Tuan Morgan sudah berkenan untuk minum!” Theresia meminum gelas teh. Dia membalikkan tubuhnya hendak berjal
Selanjutnya, Morgan, Vino, Lutan, dan yang lainnya sedang mengobrol. Mengenai yang lain, mereka juga berlagak sedang berbasa-basi dengan sungkan.Entah semua ini firasat Arvan saja atau bukan, setiap kali ada yang bersulang kepada Theresia, Morgan yang tadinya sedang mengobrol dengan Vino selalu melihat kemari dengan mendadak, lalu ingin bertanya beberapa hal dengan orang yang bersulang.Masalah bersulang pun jadi diabaikan.Setelah selesai makan, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul sembilan. Kelvin segera mengatakan bahwa dia sudah mereservasi ruangan VIP di lantai atas. Dia mengundang semuanya untuk lanjut minum di lantai atas.Morgan tidak menolak. Vino tahu ada apa di atas sana. Dia khawatir semua orang tidak akan leluasa jika dirinya berada di tempat, dia pun menggunakan alasan masih ada pekerjaan malam ini untuk pamit lebih dulu.Dengan ekspresi ramah, Vino berpamitan kepada Morgan, “Lain hari kalau ada waktu, aku akan mengundang Tuan Morgan lagi. Aku dengar-dengar Tuan Jemmy j
Dias melihat kemari dengan tersenyum. “Nona Theresia lulusan sastra, ya? Bahkan untuk bersulang saja begitu puitis. Untung Tuan Morgan sangat berbakat. Kalau nggak, mungkin dia nggak akan berhasil minum teh dari kamu!”Theresia membalas dengan tenang, “Bukankah Tuan Morgan yang memulai lebih dulu? Nona Dias lagi menyindirku atau Tuan Morgan?”Semua orang tertegun, bahkan Arvan ikut menoleh ke sisi Theresia. Ucapan itu jelas menyentil Dias, tapi juga sangat memungkinkan menyinggung Morgan!Ini sama sekali bukan gaya Theresia!Dias juga tidak menyangka Theresia akan begitu terang-terangan. Dia pun tersenyum. “Aku memang iri dengan bakat Tuan Morgan dan Nona Theresia. Tadi aku cuma bercanda saja. Nona Theresia nggak perlu seserius ini, jadinya malah bikin jantungku berdetak kencang!”Theresia mengeluarkan nada bicara yang lebih serius lagi. “Sesuai dengan usia Nona Dias, jantungmu bisa berdetak kencang kemungkinan karena masalah peredaran darahmu. Jangan disepelekan!”Dias terdiam. Dia ya
Pria yang disapa Tuan Lutan memperkenalkannya kepada Morgan dengan tersenyum. “Dia adalah Arvan dari Perusahaan Thosom yang pernah aku bicarakan kepadamu sebelumnya.”Morgan hanya mengangguk dengan perlahan.Kelvin juga bersalaman dengan Charlie dan Vino, lalu berbasa-basi dengan hangat. Kelihatannya hubungan mereka memang sangat bagus.Produk perusahaan Kelvin sama dengan milik Arvan. Mereka berdua barulah saingan bisnis yang sebenarnya, sedangkan Kelvin memiliki hubungan dekat dengan Vino. Dia pun lebih memungkinkan untuk menang. Alhasil, senyuman puas mulai kelihatan di atas wajahnya.Semua orang berangsur-angsur duduk di tempat. Berhubung jamuan ini diatur oleh Vino, yang bisa hadir juga bisa dianggap sebagai orang kepercayaannya, jadi jumlah orang di pertemuan makan malam ini tidak terlalu banyak.Saat duduk, Arvan, Kelvin, dan yang lainnya memperhatikan bahwa Vino tidak duduk di kursi utama, melainkan dengan hormat mempersilakan posisi utama kepada Morgan.Sinyal ini sangat penti
Theresia duduk di samping. Dia tahu Dias sengaja telepon agar dia bisa mendengarnya. Klien yang kerap dipanggil Tuan Yumin itu awalnya memang duluan menghubungi Perusahaan Kuma untuk bekerja sama. Mereka sudah bernegosiasi selama setengah bulan, semua syarat kerja sama sudah disepakati, bahkan sudah sampai tahap penandatanganan kontrak.Namun, karena urusan pengakuan keluarga, Theresia tidak masuk kantor selama dua hari, Dias pun langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut kliennya.Klien juga memiliki hak dalam memilih. Dia bebas ingin bekerja sama dengan siapa saja. Tadinya Theresia tidak mempermasalahkannya. Siapa sangka begitu bertemu dengan Dias, Dias malah memberinya ancaman secara tersirat.Theresia merasa lucu. Dia juga berarti Dias benar-benar telah menganggapnya sebagai lawan tangguh!Arvan dan Kelvin juga hanya sekadar teman yang kelihatannya akrab di depan saja. Setelah mengobrol beberapa saat, mereka pun mencari alasan untuk duduk terpisah.Dias kembali duduk di sis
Mereka berdua berjalan ke depan dengan tersenyum. Ketika Jemmy menyadari Morgan mengikutinya, dia pun segera berhenti untuk berpesan, “Ngapain kamu ikut aku, pergi jamu tamu sana!”Morgan spontan menoleh untuk menatap Theresia. Theresia mengangkat kelopak matanya. Matanya kelihatan berbinar-binar.T
“Oke!”Edgo sudah menghabiskan hampir setengah hidupnya dalam tim, hanya saja di hadapan Morgan yang merupakan juniornya, dia tetap refleks menunjukkan sikap hormatnya.Beberapa orang berjalan masuk bersama-sama. Terdapat para pelayan yang bertugas membersihkan halaman. Saat ini, vila dihiasi dengan
Ada sebuah sungai kecil di bawah jalan gunung. Sonia dan Reza sedang menangkap ikan di pinggir sungai. Reza mengambil sebatang ranting pohon. Dia melepaskan jaketnya dan menggulung lengan kemejanya ke atas. Dia kelihatan cukup berwibawa.Sonia sudah menangkap empat sampai lima ekor ikan. Dia memalin
Orang di ruang ganti memang sedikit, hanya saja orang di luar sana lalu lalang di belakang sekat, Sonia pun tidak fokus dalam berciuman. Saat digigit oleh si pria, Sonia mengulurkan tangannya untuk mendorong Reza.Reza mengangkat tangannya dan mengulum ujung bibir Sonia. Dia berkata dengan tersenyum







