MasukApakah Elise akan benar-benar bercerai dari Theo?
Felix Davies.Nama seorang pria yang cukup membuat Elise terkejut. Ia turun dari atas tubuh Theo, lalu mendaratkan bokongnya di sofa. Elise diam cukup lama. Sementara Theo hanya diam memperhatikannya, tidak berusaha mendesak."Ya," Elise mengangguk. "Aku kenal dengan pria itu." gumamnya masih sambil berusaha mengingat. "Tapi aku tak benar-benar dekat dengannya. Kami hanya sebatas rekan praktek di klinik yang sama. Dia itu senior di kampus.""Kau sama sekali tak dekat dengannya?" ulang Theo lagi.Elise mengangguk. "Dia orang yang cukup ramah pada siapa pun. Dia juga sangat baik padaku. Tapi..."Tatapan Theo menjadi lebih dalam dan serius. "Tapi apa?""Menurutku dia agak aneh dan sedikit mengerikan." gumam Elise meringis. "Saat praktek bersamanya di sebuah klinik, ada seekor kucing yang memberontak saat hendak ditanganinya. Kupikir dia akan tetap bersabar dan berusaha membujuk. Tapi ternyata tidak."Alis Theo terangkat. Ia cukup penasaran dengan kelanjutan cerita Elise. "Lalu? Apa yang
"Apa kalian sudah menemukan orang itu?" tanya Theo pada asisten pribadinya yang baru saja menelepon.Elise tengah berbincang di taman dengan Dion dan istrinya yang datang mengunjungi mereka di vila pagi itu. Sambil mengusap pelipisnya, ia memperhatikan sosok istrinya yang tampak ceria dari kejauhan. Wanita itu tampaknya sangat senang dengan tamu mereka.Sekitar setengah jam setelah mereka merapikan pakaian dan sarapan sehabis melakukan 'pemanasan' di dapur, terdengar suara bel berbunyi. Dari layar interkom Theo dapat melihat bahwa yang datang pagi itu adalah Dion dan istrinya. Mereka membawa buah-buahan segar sebagai buah tangan. Selanjutnya, mereka lanjut berbincang di taman belakang vila.Theo akhirnya menutup telepon setelah mendengar jawaban yang kurang memuaskan dari asisten pribadinya. Mereka belum menemukan orang itu, pria yang sudah membuat kekacauan dengan membakar halaman belakang rumahnya, juga yang dikatakannya sebagai masa lalu Elise.Terbersit di benaknya untuk bertanya
Cahaya matahari yang menembus masuk ke dalam kelopak matanya membuat Elise terjaga dari tidurnya. Langit di luar sudah terang saat Elise membuka mata. Ketika ia membalikkan badan, pria berwajah tampan di sebelahnya masih terlelap pulas. Theo tidak mengenakan pakaian. Bentuk tubuhnya yang atletis membuat wanita mana pun yang melihatnya pasti akan langsung jatuh cinta.Dengan punggung tangannya, Elise mengelus wajah suaminya yang tampak bersih tak bernoda. Dengkuran halus Theo membuatnya tersenyum. Sebuah pemandangan pagi yang sudah sejak lama didambakannya.Tak ingin mengganggu, Elise pun menyibakkan selimut yang sudah menutupi tubuh polosnya semalaman dan turun dari kasur. Ia mengambil celana dalamnya yang tercecer di atas lantai dan memakainya, lalu berjalan ke arah lemari pakaian. Ada beberapa helai pakaian Theo yang tergantung di sana. Ia kemudian mengambil asal salah satu kemeja putih milik pria itu, lalu mengenakannya. Ukurannya agak kebesaran, namun cukup untuk menutupi tubuhnya
Seluruh lampu ruangan dipadamkan. Hanya dengan mengandalkan cahaya bulan yang masuk dari jendela kaca besar yang tidak ditutup tirai itu, sepasang suami istri itu kembali bercumbu di ranjang berukuran besar di ruangan itu. Cahaya remang membuat suasana begitu intim.Theo duduk menyandar di sandaran ranjang. Kedua tangan kekarnya bergerak leluasa meraba kulit indah dan mulus istrinya yang kini duduk di atas pangkuannya tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Elise tampak liar, dan Theo menyukainya. Sangat.Wanita itu melumat bibirnya dengan lembut, juga posesif, seolah tak ingin ada seorang pun yang merebut Theo darinya. Kedua dadanya yang padat menempel di atas dada Theo yang bidang, sampai-sampai Theo dapat merasakan betapa kenyalnya kedua gundukan itu.Tanpa diminta, Elise mengambil inisiatif untuk mendominasi permainan panas mereka malam itu. Di tengah ciuman panas saat baru memasuki kamar, tangan Elise bergerak gemulai melepas pakaian yang masih dikenakan Theo. Lalu ia me
Alih-alih melanjutkan permainan panas, Theo justru beralih menyibukkan diri di dapur. "Aku tak ingin membiarkanmu pingsan karena kehabisan tenaga." begitu katanya setelah menyelesaikan permainan 'kedua' mereka tadi.Elise yang baru siap membersihkan diri di kamar mandi turun ke dapur dan menghampiri Theo yang tengah menyiapkan makan malam. Pria itu tak mengenakan baju, hanya celana selutut yang dikenakannya tadi. Dari belakang, punggungnya yang kekar dan tegap terlihat begitu seksi. Elise tak dapat menahan diri untuk tidak menyentuhnya.Theo terkesiap dan seketika menoleh ke belakang saat merasakan sentuhan tangan Elise yang hangat di punggungnya. Seulas senyum tersungging di wajahnya, lalu ia kembali melihat ke arah masakannya. "Kau sudah siap mandi?""Hm-mm," gumam Elise sambil mengintip ke arah panci yang berada di atas kompor. Saat masih berjalan menuruni anak tangga, aroma lezat sudah tercium olehnya. "Ternyata kau bisa memasak." puji Elise."Aku tak pernah bilang kalau aku tak b
Nafas Elise tersengal-sengal. Sekujur tubuhnya bergetar hebat saat mencapai puncak kenikmatan. Theo menepuk pelan sebelah paha Elise, lalu berkata, "Turunlah, kita belum selesai."Elise menegakkan tubuh dan terduduk di tepi bak. Alisnya terangkat menatap Theo yang masih terlihat bersemangat. Elise pun menurut dengan suka rela. Entah kenapa ia merasa ikut bersemangat. Ia kembali masuk ke dalam bak dan kembali disambut oleh air hangat yang menenangkan.Setelah telapak kakinya tiba di atas permukaan, Theo memutar tubuh Elise perlahan namun pasti. Theo menyandarkan tubuhnya di atas dada bidangnya. Kini punggung Elise bersentuhan langsung dengan dada bidang yang terasa keras dan kokoh itu. Di balik semua itu, Elise dapat merasakan sesuatu di bawah sana yang menegang dan tanpa sengaja menyentuh punggungnya. Apa lagi jika bukan pusaka besar milik Theodore Blake. Tubuh Theo yang jauh lebih tinggi darinya itu bahkan harus sedikit menekuk jika Theo ingin memasukkannya ke tubuh Elise dari belaka
Ucapan Theo kemarin masih mengiang jelas di telinga Kelly. Ia melampiaskan rasa marahnya pada puntung rokok yang terselip di jemari lentiknya. Setelah mengembuskan asap putih dari mulutnya, ia menekan ujung puntung rokoknya dengan penuh penekanan hingga padam.Kelly tak bisa menerima semuanya begit
Dering ponselnya membuat Kelly seketika tersentak dari tidurnya. Saat membuka mata, ia berada di sebuah ruangan yang agak tua dan bercat gelap. Jelas itu bukan ruang tamunya. Ia segera menegakkan badan dan selimut tipis yang menutupi tubuh telanjangnya jatuh. Rambut pirangnya berantakan.Kelly mera
Panggilan berakhir setelah Kelly mengiyakan ajakan Jessica untuk bertemu besok. Ia mendengus sambil mencari nomor telepon lain di layar ponsel. "Sial, semuanya jadi berantakan!" gerutunya. Dan setelah menemukan nomor yang dicarinya, ia kembali menempelkan ponsel di telinga."Ada apa?" tanya pria di
Elise dapat melihat perubahan sikap Theo malam itu. Selama perjalanan pulang, mereka tidak berbicara sama sekali. Suasana di mobil hening, sampai-sampai membuat Elise mengantuk.Sepertinya dia marah setelah ucapanku tadi, batin Elise sedih. Maafkan aku, Theo. Aku tak punya pilihan lain. Aku tak ing







