Share

Bab 6 - He

Author: Author Lee
last update Last Updated: 2024-07-04 19:07:47

"Aku mencoba menghubungi ponselmu berkali-kali, tapi tak ada jawaban." sahut Nathan yang saat ini duduk di samping Elise.

Mereka berpindah ke sebuah kursi kayu yang ada di taman. Suasana taman begitu sunyi malam itu, sampai-sampai mereka bisa mendengarkan nafasnya masing-masing.

"Aku mengkhawatirkanmu. Jadi kuputuskan untuk datang ke rumahmu." jelas Nathan lagi. Lalu ia tergelak kecil. "Tapi petugas keamanan di rumah bilang padaku bahwa kau baru saja pergi. Sendirian."

Elise menoleh dan menatap Nathan dengan mata disipitkan. "Lalu bagaimana bisa kau tahu aku berada di sini?"

Nathan tersenyum bangga. "Aku punya firasat bahwa kau tidak akan pergi jauh dari sekitar rumahmu. Kebetulan aku melihat taman ini saat perjalanan pulang tadi. Jadi kupikir sebaiknya aku mencarimu di sini."

Elise mendengus sambil tergelak. "Kau tidak berubah. Masih saja pintar seperti dulu."

Nathan tak menyahut. Ia justru tersenyum lega melihat Elise yang semula bermuram durja, akhirnya tersenyum kembali. Setelah beberapa saat, ia bertanya dengan hati-hati pada wanita itu. "Kau baik-baik saja?"

Pertanyaan Nathan barusan membuat senyuman di wajah Elise sirna. Ia menelan ludah, lalu berkata dengan pasrah, "Kurasa tidak ada gunanya kalau kukatakan bahwa aku baik-baik saja. Kau sudah melihat semuanya, kan? Aku tidak bisa berbohong lagi."

Suasana kembali hening. Elise dapat mendengar helaan nafas panjang Nathan yang saat itu sedang menengadahkan kepala, menatap langit malam yang kelam.

"Elise," Nathan memanggilnya dengan suara pelan. "Aku sungguh menyesal."

Alis Elise tertekuk menatap pria itu. "Aku tidak mengerti."

"Seharusnya," Nathan menoleh dan menatapnya dengan seulas senyuman pahit. "Seharusnya aku dulu tidak pergi begitu saja. Seharusnya aku tetap berada di sini, bersamamu."

Akhirnya Elise paham dengan maksud ucapan Nathan. Ia tergelak hambar dan berkata, "Apa yang kaubicarakan? Kau tidak perlu mengasihaniku seperti ini. Ini semua tidak ada hubungannya denganmu, kau tidak melakukan kesalahan apa pun, dulu maupun sekarang."

"Aku tidak sedang mengasihanimu, Elise." ucap Nathan bersungguh-sungguh. Ia menatap Elise lekat. Namun wanita itu justru memalingkan wajah darinya.

"Kalau aku masih di sini, kau tidak akan bersama pria itu." gumamnya lagi. "Kau tidak akan menikah dengannya, bukan begitu?"

"Kata siapa?" gurau Elise sambil tergelak, dipaksakan. Ia berusaha untuk terlihat tetap santai agar suasana di antara mereka tidak semakin tegang. Tapi sepertinya ia salah langkah.

"Elise,"

Tiba-tiba Nathan mendaratkan tangannya di atas tangan Elise dan menggenggamnya, membuat Elise terkesiap. Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, Nathan sudah membuka mulut lebih dulu.

"Tolong beri aku kesempatan, hanya kali ini. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik." ucapnya tulus. "Jauh lebih baik daripada yang dilakukan pria itu padamu."

Tanpa pikir panjang, Elise langsung menarik tangannya. "Nathan, apa yang kaubicarakan?" Nada bicaranya berubah, juga raut wajahnya. Kali ini ia bersikap serius.

Nathan berusaha meraih kembali tangannya. Tapi Elise buru-buru bangkit dari duduknya dan merapatkan mantelnya. "Maaf, aku harus pulang sekarang. Sampai jumpa."

Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Elise langsung membalikkan badan dan berjalan pergi dengan langkah lebar. Nathan hanya bisa terduduk menatap sosok bayangan Elise yang perlahan menghilang dari pandangannya, masih dengan rasa penyesalan yang berkecamuk dalam dirinya.

***

Mobil sedan mewah milik Theo sudah berdiri di pekarangan rumah ketika Elise tiba. Ia menghela nafas berat, lalu melanjutkan langkah menuju ke dalam bangunan mewah yang sudah tiga tahun ditempatinya. Tempat yang disebutnya sebagai 'rumah', setelah ia sempat kehilangan tempat tinggal karena harus menanggung beban hutang yang ditinggalkan oleh mendiang ibunya.

Sekarang, Elise tidak punya siapa-siapa yang bisa disebutnya sebagai 'keluarga', selain Theodore Blake. Ibunya bunuh diri dan meninggalkan setumpuk hutang yang harus ditanggungnya. Sementara kakak laki-lakinya, orang itu pergi entah ke mana meninggalkan Elise yang tunggang langgang menanggung beban yang tak seharusnya menjadi tanggungjawabnya.

Jika bukan karena Theodore Blake, mungkin Elise sudah dijual ke pria hidung belang untuk melunasi hutang mendiang ibunya. Ia juga tidak akan punya kehidupan yang baik, seperti sekarang. Ia juga tidak akan punya kesempatan untuk menjalani profesi yang sudah diimpikannya sejak kecil. Bahkan untuk memiliki klinik hewan sendiri.

Ya, secara materi hidupnya memang berubah drastis. Tapi secara batin, Elise tersiksa. Kehidupan pernikahan yang tak didasari oleh cinta ini membuatnya tersiksa. Hatinya sungguh terluka.

Dengan langkah berat Elise membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Sepi, ia tidak melihat siapa pun di sana. Buru-buru ia segera berjalan menuju kamar tamu. Namun langkahnya tercegat ketika sosok Theodore Blake muncul dari samping. Jantungnya nyaris meloncat keluar.

"Gelagatmu seperti seorang pencuri yang mengendap-endap." sergah Theo dengan tatapan dingin. "Dari mana saja kau?"

Elise mundur selangkah. Jujur saja, ia masih merasa marah dengan apa yang telah dilakukan Theo padanya. Tapi rasa cintanya terhadap pria itu terlalu besar, sampai-sampai ia tak punya kekuatan untuk membalas. "Aku hanya pergi mencari udara segar sebentar." gumamnya lirih.

Theo langsung menarik lengan Elise dan menyeretnya ke kamar. Sikapnya kali ini sangat brutal.

"Lepaskan aku!" Elise menjerit kesakitan. Perlu diakuinya bahwa tubuh kecilnya tak punya kemampuan cukup untuk melawan tenaga Theo yang cukup besar.

Theo akhirnya melepas cengkeramannya setelah mereka berada di kamar. Raut wajahnya memperlihatkan kemarahan yang besar. "Beraninya kau pergi dari rumah tanpa sepengetahuanku!"

Elise menatap Theo tak percaya. "Bagaimana aku harus memberitahumu sedangkan kau pergi dengan cinta pertamamu?"

Sekali lagi Theo menariknya mendekat ke arahnya. Amarahnya semakin menjadi-jadi. "Kau bisa menelepon atau meninggalkan pesan!"

Jarak antara wajah mereka sangat dekat. Elise bahkan bisa mendengarkan nafas Theo yang menderu seperti binatang buas. Perasaannya bercampur aduk sekarang. Elise mencintai pria itu. Tapi bukan pernikahan seperti ini yang diinginkannya. Ini semua membuatnya tersiksa.

Andai saja pria itu juga mencintainya... Andai saja Theo memperlakukannya dengan baik...

"Tolong hentikan." pinta Elise kesakitan. "Aku benar-benar minta maaf. Aku..."

Tanpa pikir panjang, Theo langsung mendekatkan wajah Elise dan menempelkan bibirnya di bibir Elise. Ia melumatnya dengan paksa, seolah membalas amarahnya pada Elise.

Namun apa yang dilakukan Elise justru diluar dugaan. Dengan air mata yang bercucuran, Elise menolaknya menjauh dan mendaratkan sekali tamparan keras di wajahnya.

PLAKK!

Bayangan Cellina Rose, cinta pertama Theo yang sudah menginjakkan kaki di rumah mereka sore tadi sudah cukup membuat hatinya hancur. Dan sekarang, apa yang dilakukan Theo justru seperti mencoreng harga dirinya. Ia bukan boneka pelampiasan nafsu. Ia ingin dicintai, sepenuhnya, oleh suaminya. Bukan diperlakukan seperti ini.

"Cukup," ujar Elise dengan suara bergetar. Kedua matanya basah berlinang air mata. "Sebaiknya kita sudahi saja pernikahan ini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 40

    "Jadi, wanita tadi bukan kekasihmu?" tanya wanita berambut gelap sebahu itu sebelum meneguk minumannya.Nathan menggelengkap kepala. "Tentu saja bukan. Dia hanya seorang teman." sahutnya. Tapi tidak menjelaskan secara mendetail. Ia tidak mungkin mengatakan yang sesungguhnya pada wanita itu, bahwa Kelly Dempsey adalah teman seperjuangannya untuk memisahkan sepasang suami istri, juga bahwa Kelly Dempsey adalah teman tidurnya.Wanita itu tergelak ringan. "Dari caramu berbicara, kau sepertinya sangat yakin bahwa hubungan kalian tidak akan lebih dari sebatas teman." ujarnya sambil melemparkan tatapan curiga ke arah Nathan."Ya," Nathan mengedikkan bahu. "Karena itu memang tidak akan mungkin terjadi."Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke depan, kali ini menatap Nathan penasaran. "Kenapa? Bukankah dia sangat cantik dan menggoda?"Kali ini giliran Nathan-lah yang tergelak. "Dia bukan tipeku." jawabnya singkat dan jelas.Sekali lagi wanita itu menatap Nathan dalam-dalam, seolah mencari celah d

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 39

    Elise terduduk di tepi ranjang kamar tamu. Setelah perdebatannya dengan Theo tadi di ruang tamu, ia memutuskan untuk kembali tidur di sana. Sementara Theo, ia langsung meninggalkan rumah tanpa sepatah kata pun.Jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam. Hingga saat ini ia tak melihat tanda-tanda bahwa Theo pulang ke rumah. Ke mana dia? Apa dia baik-baik saja? Elise merasa khawatir dalam hati. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang disimpannya di dalam laci nakas saat masih tidur di sana. Ia beringsut mendekat ke arah laci, lalu membukanya.Sebuah amplop coklat berisikan lembaran foto Theo bersama seorang wanita. Tak hanya di e-mail, ia juga mendapatkan foto cetak yang dikirim ke klinik. Entah siapa yang mengiriminya. Saat menanyakannya pada Amy, gadis itu juga kebingungan. Amy sudah bertanya kepada si kurir, tapi hasilnya nihil. Si kurir hanya diminta untuk mengantarkan amplop itu ke klinik.Elise menahan nafas melihat setiap lembaran foto itu. Tak satu pun dari foto-foto terseb

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 38

    Rahangnya mengeras saat membaca kalimat teratas yang tertera di kertas itu. Surat perceraian. Ditambah lagi ucapan Elise di waktu bersamaan, membuat Theo nyaris kehilangan kendali atas dirinya. Nafasnya menderu cepat. Ia tak menyangka jika hal semacam ini yang akan menyambutnya saat pulang."Aku ingin bercerai darimu." ujar Elise datar. Tatapannya kosong.Theo setengah mendengus setengah tergelak. "Apa katamu? Bercerai?"Elise menganggukkan kepalanya pelan, tanpa sedikit pun membalas tatapan Theo.Detik itu juga, tanpa pikir panjang, Theo langsung merobek kertas tersebut. Elise yang melihat hal itu langsung tersentak dan menatapnya tak percaya."Tidak ada kata perceraian di antara kita." gumam Theo dengan nada rendah, namun penuh penekanan."Apa yang kau lakukan? Kenapa kau merobeknya?""Apa ucapanku barusan tak cukup jelas?" Theo melangkah mendekati istrinya yang tampak ketakutan, seperti melihat monster yang hendak menerkamnya.Elise spontan melangkah mundur. Langkah demi langkah, a

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 37

    "Sebaiknya dia dipisahkan dulu dari saudaranya yang lain, supaya proses penyembuhan lukanya lebih maksimal." kata Elise pada wanita si pemilik kucing Persia yang sejak tadi tampak cemas melihat kondisi salah satu kucing kesayangannya yang sempat terluka, namun tidak parah.Wanita itu mengangguk paham. "Baik, dok. Terima kasih banyak."Elise tersenyum sekaligus melambaikan tangan ke arah si kucing yang sejak tadi menatapnya dengan tenang. Setelah mereka meninggalkan ruangan, Elise akhirnya bisa duduk kembali di bangkunya. Ia meneguk segelas air di atas meja sebelum menyandarkan tubuh di sandaran kursi.Sejak hamil, ia merasa jadi lebih mudah lelah. Tapi untung saja sejauh ini ia belum pernah merasa mual saat sedang menangani pasien. Jika sampai itu terjadi, kehamilannya pasti akan diketahui oleh Nathan dan Amy. Hingga saat ini, Elise masih memilih untuk merahasiakannya dari mereka. Tidak ada yang tahu soal kehamilannya, selain dirinya dan dokter Moris.Suara ketukan pintu membuyarkan l

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 36

    "Sudah dua minggu ini Theo tidak menjawab teleponku."Kelly Dempsey berpura-pura menunjukkan raut prihatin saat mendengar keluhan Jessica Blake. "Dia pasti sangat marah karena Anda bersikap kasar pada Elise."Jessica menyeruput teh hangatnya dengan sebal. "Aku ibunya. Seharusnya dia lebih menuruti perkataan ibunya, bukannya wanita itu!" gerutunya.Suasana kafe pagi itu belum terlalu ramai. Ruangan luas bernuansa klasik itu sering menjadi tempat pertemuan para konglomerat kota. Entah itu untuk membicarakan bisnis atau sekadar duduk-duduk menikmati pagi yang cerah. Aroma kopi yang semerbak membuat tempat itu terasa nyaman. Awalnya Kelly berniat mengajak Jessica untuk bertemu demi menarik perhatian dan mendapatkan hatinya. Tapi siapa sangka ternyata pagi itu ia justru mendapat telepon dari Jessica yang mengajaknya untuk bertemu di sana."Aku tidak yakin jika Theo akan datang kemari." ujar Jessica lagi sambil menyesap tehnya."Dia pasti datang. Percayalah padaku." sahut Kelly menenangkan

  • Jatuh Cinta Setelah Permintaan Cerai   Bab 35

    "... Nyonya,"Suara Bibi Bernadeth yang semula terdengar sayup, kini terdengar jelas di telinga Elise. Wanita itu membuka mata dan mendapati Bibi Bernadeth sedang berdiri di hadapannya, menatapnya cemas.Elise lekas menegakkan badan dan seketika ia teringat bahwa saat itu ia berada di ruang tengah, terbaring di atas sofa yang cukup empuk dengan balutan selimut.Tunggu. Selimut?Elise menatap benda itu sejenak dengan heran. Rasanya ia tidak membawa keluar selimut saat terakhir kali meninggalkan kamar. Siapa yang menutupi tubuhnya dengan selimut?Pikirannya buyar ketika mendengar suara Bibi Bernadeth yang berbicara padanya. "Nyonya, apa Anda baik-baik saja? Kenapa Anda tidur di sini?""O-oh, ini..." Elise mendadak gagap. Tapi ia segera menemukan jawaban yang masuk akal, setidaknya untuk Bibi Bernadeth. "Kemarin malam aku terbangun dan sulit tidur kembali. Jadi aku keluar kamar untuk duduk sebentar. Tapi ternyata aku ketiduran." sahutnya dengan seulas senyum kecil.Bibi Bernadeth mengang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status