LOGINTheo menyeret Elise ke kamar dan menutup pintu dengan sekali bantingan keras. Elise hampir terhuyung ketika Theo melepaskannya dengan kasar seperti sebuah benda tak berguna.
"Dia tamuku. Kau tak punya hak untuk mengusirnya!" desis Theo tajam.
Elise melipat tangan di depan dada, berusaha meredam emosinya yang sebenarnya juga meledak-ledak. Ia tak menyangka suaminya akan membawa wanita lain ke rumah mereka. Dan mirisnya, wanita itu adalah cinta pertama Theo.
Elise menolak berjabat tangan dengan wanita bernama Cellina Rose itu. Ia juga meminta Nathan untuk pulang dengan alasan jam tutup klinik. Jujur saja, ia malu karena Nathan harus melihat kondisi rumah tangganya yang menyedihkan. Elise tak pernah ingin membiarkan orang lain tahu seperti apa hubungannya selama ini dengan Theodore Blake.
"Tapi aku istrimu!" balas Elise kemudian. Ia tidak bisa menahan suara yang sejak tadi ditahannya.
Theo langsung menarik lengan Elise. Cengkeraman Theo berhasil membuatnya meringis kesakitan. "Apa kau lupa? Ini rumahku!" sahutnya seraya melepas cengkeramannya dan mendorong Elise ke kasur. "Aku berhak melakukan apa pun yang kuinginkan di rumahku sendiri."
Elise segera bangkit meskipun tak ada jawaban yang bisa dilontarkannya untuk melawan ucapan Theo. Namun baru saja ia menapakkan kaki di lantai, Theo sudah membalikkan badan dan berjalan pergi.
"Tunggu, kau mau ke mana?"
Theo memiringkan badan sedikit dan bergumam, "Bukan urusanmu." sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.
Dadanya sesak. Air matanya tumpah membasahi wajah mungilnya. Elise tak dapat menahan tangisnya yang pecah karena perlakuan Theodore Blake.
***
"Kenapa kau menarikku pergi? Kita baru saja tiba di rumahmu." protes Cellina setelah mereka berada di dalam mobil.
Theo menyalakan mesin dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan pekarangan rumahnya yang luas bak istana. Ia tak memberi jawaban apa pun pada wanita yang duduk di sampingnya itu. Pikirannya benar-benar kacau sekarang.
"Padahal aku ingin mengobrol dengannya." gerutu Cellina lagi dengan wajah cemberut.
"Dia tak akan mau berbicara denganmu. Dia ingin aku mengusirmu." sahut Theo dingin.
Cellina menoleh ke samping dan melemparkan tatapan sinis ke arahnya. "Tentu saja. Perempuan mana yang mau bicara dengan orang yang mengaku sebagai cinta pertama suaminya!"
Theo mendengus dengan sebelah tangan menopang kepala dan pandangan lurus ke depan. Ia benar-benar sudah salah langkah. Ia pikir dengan membuat Elise cemburu, istrinya itu akan cemas dan merasa takut untuk kehilangan dirinya. Dengan begitu, Elise akan lebih berusaha untuk memperhatikannya. Tapi kenyataannya? Ia justru membuat Elise menangis, lagi dan lagi.
"Kurasa aku harus memberitahunya bahwa sebenarnya aku..."
"Tidak perlu," sela Theo cepat. "Kau tidak perlu memberitahunya."
Kali ini Cellina yang mendengus sambil memutar bola mata. "Terserah kau saja. Yang jelas kau harus bertanggungjawab karena dia jadi membenciku sekarang."
Theo tidak berkata apa-apa lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Sepertinya tidak ada gunanya juga kalau ia memberitahu Elise yang sebenarnya tentang Cellina. Lagipula itu hanya akan menjatuhkan harga dirinya. Bagaimana kalau Elise sampai tahu kalau Theo sengaja memancingnya agar lebih perhatian padanya?
Astaga, Theodore Blake! Hal konyol apa yang sudah kaulakukan? Kau tidak butuh perhatian dari perempuan itu! Ini sungguh memalukan!
Theo mengerang dalam hati. Kenapa ia jadi seperti ini?
***
Elise menatap kosong roti selai di tangannya di bangku sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya. Sebenarnya ia sama sekali tak merasa lapar. Tapi karena cemas jika dirinya sakit dan klinik malah terbengkalai, ia memutuskan untuk membeli roti selai di minimarket dan berakhir menatapnya tanpa ada sedikit pun keinginan untuk menyantapnya.
Bayangan sosok wanita yang datang bersama Theo tadi masih mengiang-ngiang di kepalanya. Selama ini Theo tak pernah menceritakan tentang seorang wanita pun yang dicintainya. Sampai-sampai Elise pernah berpikir kalau dirinya punya kesempatan untuk meluluhkan hati suaminya, meskipun harus bersabar menunggu hingga waktu yang ia tak tahu kapan.
Tapi ternyata ia salah. Theo memang menyimpan seorang wanita di dalam hatinya. Dan sore ini, Theo membawanya pulang ke rumah untuk ditunjukkan pada Elise. Sungguh menyedihkan.
"Kenapa aku harus sedih?" gumam Elise pada diri sendiri. "Bagaimana pun, pada akhirnya pernikahan ini memang akan berakhir."
Elise mengangkat wajah menatap langit malam yang kelam. Tak ada bintang maupun bulan. Benar-benar kelam, seperti suasana hatinya sekarang.
Seharusnya Elise tidak berharap pada Theo karena pernikahan mereka akan berakhir setelah Theo berhasil mendapatkan rumah sakit milik keluarganya. Dan sepertinya, Theo akan segera mendapatkan apa yang diinginkannya itu.
"Mungkin karena itu dia akhirnya membawa wanita itu ke rumah." gumam Elise lagi sambil menyepak kakinya di atas tanah.
Sial, kau benar-benar bodoh! Kau tak seharusnya jatuh hati padanya, Elise Bowman! Elise mengutuk dirinya sendiri dalam hati.
"Akhirnya aku menemukanmu,"
Suara seorang pria yang muncul dari belakangnya membuat pikiran Elise seketika buyar. Ia membalikkan badan dan melihat sosok Nathan yang sudah berdiri di belakangnya entah sejak kapan.
"Nathan?" ujar Elise agak terkejut. "Apa yang kaulakukan di sini?"
Ucapan Theo kemarin masih mengiang jelas di telinga Kelly. Ia melampiaskan rasa marahnya pada puntung rokok yang terselip di jemari lentiknya. Setelah mengembuskan asap putih dari mulutnya, ia menekan ujung puntung rokoknya dengan penuh penekanan hingga padam.Kelly tak bisa menerima semuanya begitu saja. Kenyataan sekaligus penolakan terang-terangan dari Theo.Theodore Blake tidak mencintainya lagi. Theodore Blake sudah punya seorang istri dan dia sangat mencintai istrinya itu. Theodore Blake tidak akan pernah kembali ke pelukannya lagi."Argh!!" Kelly mengerang kencang di ruang duduk apartemennya. Seorang diri. "Jika aku tak bisa bersamamu, maka tak ada seorang pun perempuan lain yang akan bersamamu, Theodore Blake!"Kelly meraih ponsel yang tergeletak di sampingnya. Ia mencari nomor telepon seseorang di kontaknya, dan setelah menemukannya, ia menyambungkan panggilan ke orang tersebut."Dokter Moris," sapanya ramah. Suaranya yang semula terdengar penuh amarah kini berubah menjadi sa
Pagi-pagi sekali Theo sudah berada di rumah sakit. Subuh tadi, sekitar pukul 5, ia mendapat telepon dari rumah sakit karena ada salah seorang pasien yang butuh penanganan segera. Sekarang, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan. Ia sudah duduk di ruangannya dengan segelas kopi panas yang sudah disiapkan untuknya.Theo menempel ponsel di telinga. Punggungnya menyandar ke sandaran kursi dengan pandangan tertuju ke arah jendela. Hari ini langit di luar sana tampak cerah."Bibi Bernadeth," sapanya setelah teleponnya dijawab. Terdengar suara seorang wanita tua di seberang sana. "Apa Elise sudah bangun?" Theo diam sejenak mendengar jawaban Bibi Bernadeth. Lalu kepalanya mengangguk. "Oke, terus perhatikan dia. Jika dia terlihat kurang sehat, segera hubungi aku." Dan setelah mengucapkan pesan pentingnya itu, Theo menutup telepon.Theo baru saja akan meletakkan ponselnya kembali di atas meja ketika terdengar suara denting pelan. Sebuah pesan masuk. Ia membatalkan niat. Sebuah pesan dari
Dering ponselnya membuat Kelly seketika tersentak dari tidurnya. Saat membuka mata, ia berada di sebuah ruangan yang agak tua dan bercat gelap. Jelas itu bukan ruang tamunya. Ia segera menegakkan badan dan selimut tipis yang menutupi tubuh telanjangnya jatuh. Rambut pirangnya berantakan.Kelly meraih ponsel di atas meja kayu rendah dan ketika melihat nama yang tertera di layar, ia buru-buru menjawab. "Ya, tante?" sapanya, berusaha membuat suaranya terdengar sesegar mungkin."Kelly, bisa kita bertemu sekarang? Aku sudah membatalkan jadwal meeting pagi ini. Mungkin sekitar 20 menit lagi aku tiba di tempat kita biasa bertemu." Terdengar suara Jessica yang berbicara padanya di seberang sana. Sama sekali tidak menaruh rasa curiga.Kelly mulai panik. Jika dipikir-pikir, jarak apartemen Nathan cukup jauh dari tempat yang dijanjikannya dengan Jessica. Dan lagi, ia belum mandi sama sekali. Apalagi tadi malam ia baru saja bercinta dengan Nathan yang menjilati hampir setiap bagian tubuhnya. Ia t
Panggilan berakhir setelah Kelly mengiyakan ajakan Jessica untuk bertemu besok. Ia mendengus sambil mencari nomor telepon lain di layar ponsel. "Sial, semuanya jadi berantakan!" gerutunya. Dan setelah menemukan nomor yang dicarinya, ia kembali menempelkan ponsel di telinga."Ada apa?" tanya pria di seberang sana tanpa basa-basi setelah panggilan tersambung. Ya, siapa lagi kalau bukan Nathan."Kita harus segera bertemu. Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu. Sekarang juga!" sahut Kelly ketus."Apa tidak bisa dibicarakan melalui telepon saja? Aku sedang malas keluar apartemen!"Kelly memutar bola mata dengan jengkel. "Tidak bisa. Otakku benar-benar kewalahan sekarang. Aku butuh hiburan."Nathan tergelak tanpa berkata apa-apa, membuat Kelly semakin kesal. "Aku akan ke tempatmu sekarang. Kau harus menghiburku!"Kelly langsung bangkit dari kasur dan menyambar kunci mobilnya. Butuh waktu sekitar dua puluh menit sebelum akhirnya ia tiba di sebuah bangunan tiga lantai. Bangunan itu
Elise dapat melihat perubahan sikap Theo malam itu. Selama perjalanan pulang, mereka tidak berbicara sama sekali. Suasana di mobil hening, sampai-sampai membuat Elise mengantuk.Sepertinya dia marah setelah ucapanku tadi, batin Elise sedih. Maafkan aku, Theo. Aku tak punya pilihan lain. Aku tak ingin kau kehilangan segalanya yang telah kau perjuangkan karena bertahan denganku. Aku tak bisa...Elise tak tahu sejak kapan ia mulai terlelap. Niat awalnya ia hanya ingin memejamkan mata sejenak agar tidak terbawa suasana tegang yang terjadi di antara dirinya dan Theo. Tapi siapa sangka ia justru terlelap pulas hingga akhirnya tersadar ketika merasa dirinya melayang di udara.Ya, tubuhnya dibopong oleh Theodore Blake. Kedua tangan besar itu mengangkatnya keluar dari mobil dan detik itu pula Elise terperanjak kaget."T-Theo!"Theo seolah tak mendengarnya. Dari gelagatnya ia sama sekali tak berniat menurunkan Elise."Tolong turunkan aku!" bisik Elise mendesak ketika hal itu menjadi tontonan pa
"Tuan, ada telepon dari Tuan Smith untuk Anda."Asisten pribadi Dalton masuk ke ruang tengah tepat ketika Theo kembali. Dalton langsung berdiri dan berkata pada para cucunya, "Aku tinggal dulu." katanya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.Kini hanya ada Theo dan Mia di ruangan itu. Mia yang melihat kesempatan itu langsung memanggil Theo untuk duduk di sampingnya. "Kak, ada hal yang perlu kukatakan padamu."Alis Theo terangkat. Wajah Mia terlihat sangat serius. Sepertinya hal yang benar-benar penting. Ia kemudian duduk di samping adiknya. "Ada apa?"Mia memutar badan, lalu berbicara dengan suara yang sangat pelan. "Kelly Dempsey, mantan kekasihmu itu, sepertinya dia punya rencana buruk.""Wanita itu?" Theo agak kaget ketika mendengar Mia menyebut nama Kelly Dempsey. Dan tentu saja ia tak terlalu menyukainya kalau seandainya Mia berteman dengan wanita jalang itu. "Kau kenal padanya? Dengar, sebaiknya kau jauhi dia. Wanita itu bukan wanita baik-baik."Mia menggelengkan kepala, lay







