Share

Sandiwara yang sempurna

last update publish date: 2026-03-19 23:59:48
Kilatan lampu blitz menyambutku bahkan sebelum kakiku benar-benar menginjak aspal di luar gerbang. Edward menggenggam jemariku erat, terlalu erat seolah ia sedang memamerkan trofi kemenangan yang baru saja ia poles. Aku menarik napas panjang, mengaktifkan sakelar di dalam kepalaku. Seketika, bahuku tegak, daguku terangkat, dan senyum yang telah melambungkan namaku di layar lebar terkembang sempurna.

​"Selena! Selena! Lihat ke sini!"

​Teriakan para pemburu berita itu memekakkan telinga. Puluh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jatuh dalam Pesona Ayah Tiri Berengsekku   Singgasana penuh luka

    Pintu kamar dibanting menutup, mengunci dunia luar dan menyisakan kegelapan yang pekat di antara kami. Edward tidak menyalakan lampu, hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah gorden, menyinari wajahnya yang kini tampak seperti monster yang haus akan pembalasan.​"Edward, kumohon... kau menyakitiku," isakku saat ia merenggut lengan gaun pengantin yang baru saja kupamerkan di depan Nickollas. Kain sutra itu robek dengan suara yang menyayat hati, persis seperti martabatku yang tercabik-cabik malam ini.​Ia tidak menjawab. Napasnya memburu, bau wiski dari mulutnya terasa menyesakkan saat ia mendorongku ke atas ranjang besar yang terasa seperti altar pengorbanan.​"Kau sangat menikmati tatapannya tadi, bukan?" desis Edward, menindih tubuhku dengan seluruh berat badannya yang kaku karena amarah. "Kau ingin dia melihatmu sebagai bidadari yang suci, padahal kau hanyalah wanita penghianat yang merangkak ke tempat tidur ayah tirimu sendiri!"​Tangannya mencengkeram rahangku begitu kuat hingg

  • Jatuh dalam Pesona Ayah Tiri Berengsekku   Kain kafan putih

    Suara dentuman gelas yang diletakkan Edward di ruang kerja terdengar sampai ke kamarku, seperti bunyi palu hakim yang mengetuk vonis matiku. Aku tersentak, jemariku yang sedang menghapus sisa maskara yang luntur mendadak kaku. ​Langkah kaki itu kembali. Irama pantofelnya yang tegas di atas lantai kayu koridor selalu berhasil membuat bulu kudukku berdiri. Itu bukan langkah kaki seorang kekasih yang datang untuk menghibur, itu adalah langkah kaki seorang pemilik yang datang untuk memeriksa inventarisnya. ​Pintu kamarku terbuka tanpa ketukan. Edward berdiri di sana, siluetnya membingkai kegelapan koridor di belakangnya. Dia tidak lagi memakai jas, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat tangannya yang kuat—tangan yang sama yang tadi meremas bahuku hingga memar. ​"Anna sudah pergi," ucapnya datar, matanya menyapu wajahku yang sembab. "Dia wanita yang cerdas, Selena. Sayangnya, kecerdasan sering kali berbanding lurus dengan rasa ingin tahu yang

  • Jatuh dalam Pesona Ayah Tiri Berengsekku   Sisi kelam Edward

    Edward Collins berdiri di depan jendela besar ruang kerja rumah itu, menyesap wiski yang terasa membakar tenggorokan. Dari lantai dua, ia bisa melihat mobil Anna yang perlahan meninggalkan pekarangan rumah yang luas. Senyum miring yang penuh penghinaan tersungging di bibirnya. ​Ia teringat Edward yang dulu, mahasiswa hukum tingkat akhir yang rela menunggu berjam-jam di depan gedung teater kampus hanya untuk membawakan Selena sebotol air mineral dan setangkai bunga. Saat itu, ia adalah pria yang memuja Selena seolah wanita itu adalah pusat gravitasinya. Ia percaya pada cinta yang murni, pada perjuangan yang akan membuahkan hasil, dan pada kesetiaan yang ia jaga selama bertahun-tahun demi mengejar bayang-bayang Selena. ​Namun, pengkhianatan adalah guru yang paling kejam. ​Gelas di tangannya bergetar saat ingatan tentang malam itu kembali muncul—ketika ia tahu bahwa Selena, wanita yang ia jaga dengan segala kehormatannya, ternyata telah menyerahkan hati dan tubuhnya kepada Nickollas S

  • Jatuh dalam Pesona Ayah Tiri Berengsekku   Kebohongan yang retak

    Tiga hari sebelum hari yang mereka sebut sebagai "Pernikahan Abad Ini," Anna muncul di ambang pintu kamarku tanpa peringatan. Sebagai manajer sekaligus sahabat yang telah menemaniku sejak bangku sekolah hingga karpet merah Cannes, Anna adalah orang yang paling tahu kapan aku sedang berakting dan kapan aku sedang hancur. ​"Selena," suaranya parau, matanya memindai seluruh ruangan yang dipenuhi gaun-gaun rancangan desainer ternama sebelum berakhir pada wajahku. ​Aku segera memulas senyum profesional, jenis senyum yang biasanya kuberi pada produser besar. "Anna! Kenapa tidak bilang kalau mau datang? Aku sedang mencoba perhiasan untuk resepsi nanti. Edward memilihkan berlian yang sangat cantik, bukan?" ​Anna tidak membalas senyumku. Ia menutup pintu rapat-rapat, lalu berjalan mendekat dan menyambar tanganku. Ia memperhatikan jemariku yang gemetar, lalu matanya beralih ke pergelangan tanganku yang tertutup rapat oleh lengan panjang sutra. ​"Berhenti, Sel," desisnya. "Jangan pakai topen

  • Jatuh dalam Pesona Ayah Tiri Berengsekku   Sandiwara yang sempurna

    Kilatan lampu blitz menyambutku bahkan sebelum kakiku benar-benar menginjak aspal di luar gerbang. Edward menggenggam jemariku erat, terlalu erat seolah ia sedang memamerkan trofi kemenangan yang baru saja ia poles. Aku menarik napas panjang, mengaktifkan sakelar di dalam kepalaku. Seketika, bahuku tegak, daguku terangkat, dan senyum yang telah melambungkan namaku di layar lebar terkembang sempurna. ​"Selena! Selena! Lihat ke sini!" ​Teriakan para pemburu berita itu memekakkan telinga. Puluhan mikrofon terjulur ke arah kami seperti tombak. Edward tetap melangkah dengan tenang, memberikan perlindungan semu dengan lengannya yang posesif. ​Tiba-tiba, seorang wartawan senior dari sebuah majalah bisnis dan hiburan ternama berhasil merangsek maju, suaranya melengking mengatasi keributan. ​"Nona Selena! Bagaimana kabar Nickollas Stanley setelah kecelakaan tragis itu? Publik masih bertanya-tanya tentang kondisinya di dalam sana!" ​Langkahku goyah sesaat, namun Edward meremas pinggang

  • Jatuh dalam Pesona Ayah Tiri Berengsekku   Panggung sandiwara terakhir

    Hari-hari menjelang pernikahan terasa seperti hitungan mundur menuju eksekusi matiku sendiri. Rumah besar ini, yang sempat terasa hangat karena tawa Kimberley, kini berubah menjadi lorong-lorong dingin yang dipenuhi bayangan. Aku lebih banyak mengurung diri di kamar, menatap pantulan diriku di cermin—seorang wanita dengan mata yang telah mati, mengenakan gaun pengantin sutra putih yang dipesan Edward, yang bagiku lebih terasa seperti kain kafan. ​Pagi itu, saat aku mencoba menyesap teh hangat untuk meredakan rasa mual yang terus menyerang, pintu kamarku yang tidak terkunci berderit pelan. Sebuah kepala kecil dengan rambut ikal yang berantakan menyembul dari balik pintu. ​"Bibi Selena?" suara kecil itu memecah keheningan. ​Itu Kimberley. Jantungku berdenyut nyeri melihatnya. Dia adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di rumah ini, namun menatap wajahnya adalah siksaan tersendiri karena setiap lekuk wajahnya mengingatkanku pada Nickollas. ​"Kim... kemarilah, Sayang," bisikku, be

  • Jatuh dalam Pesona Ayah Tiri Berengsekku   Skenario pelarian

    Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menemui Anna di kafe favorit kami. Naskah biru itu tersimpan rapat di dalam tas, seolah membawa rahasia besar yang siap meledak. Anna adalah satu-satunya orang yang tahu betapa sesaknya hidup di bawah bayang-bayang nama besar Nickollas Stanley. ​"Kau bercanda

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Jatuh dalam Pesona Ayah Tiri Berengsekku   Ruang hampa yang sama

    Rumah megah itu terasa lebih sunyi dari biasanya, meski setiap sudutnya berkilauan tertimpa cahaya lampu kristal. Kami makan malam dalam keheningan yang mencekik. Denting garpu dan pisau di atas piring porselen menjadi satu-satunya musik latar yang mengiringi sandiwara kami. Nickollas duduk di kepal

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Jatuh dalam Pesona Ayah Tiri Berengsekku   Apex Management ( Sandiwara dingin )

    Gedung Apex Management berdiri angkuh di pusat kota, sebuah menara kaca yang seolah mencerminkan kemilau sekaligus dinginnya industri ini. Aku melangkah masuk di samping Nickollas. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sempurna, sementara aku memilih mengenakan setelan blazer putih tulang ya

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Jatuh dalam Pesona Ayah Tiri Berengsekku   Memulai dengan melupakan

    Dia tidak turun, tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat integritas yang baru saja kubangun terasa goyah. Orang-orang mulai berbisik. Aku menghampiri mobil itu dengan perasaan campur aduk. ​"Aku sudah bilang, jangan menjemputku lagi di kampus, Nick," desisku saat berdiri di samping pintunya.

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status