Share

Bab 9: Runtuh

Penulis: semangkukramen
last update Tanggal publikasi: 2026-11-03 20:38:10

Kirana berdiri kikuk di depan pintu yang baru saja tertutup. Keheningan melanda ketika ruangan besar itu hanya menyisakan dirinya dan Seno saja. Matanya bergerak liar, menelusuri seisi ruangan yang tampak megah dengan segala isinya.

Di samping pintu tempatnya berdiri, ada satu set meja dan kursi yang diatur sedemikian minimalis tapi tampak nyaman. Ia menduga jika itu adalah meja kerjanya.

“Letakkan laptop dan barang-barangmu yang lain, Kak Rana. Lalu ke mari. Saya akan memberitahu apa saja tuga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 12

    Pagi hari berhasil Kirana lewati tanpa hambatan. Meski beberapa kali ia bergerak tak nyaman karena tatapan yang Seno layangkan padanya, tapi laki-laki itu untungnya tidak melakukan kontak fisik apapun padanya, sehingga ia tak perlu terlalu defensif.Siang ini mereka akan rapat dengan seorang klien yang berusia lebih dari setengah abad. Namanya Pak Donny.Pak Donny adalah orang yang sangat ramah secara fisik. Ia sangat gemar memegang dengan nakal sekretaris perempuan yang dibawa oleh bos yang sedang rapat dengannya. Bahkan jika bosnya adalah perempuan, tak akan luput dari keramahan tangan Pak Donny.Bajingan.Berita ini sudah menjadi rahasia umum di perusahaan-perusahaan besar maupun kecil. Semua orang tahu siapa Donny. Perusahaannya merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia. Senjaya Medika membutuhkannya karena di negara ini, dia adalah satu-satunya yang berafiliasi secara resmi dengan pabrik alat kesehatan terbesar di Jerman.Sebab itulah, mau tidak mau Senjaya Medika harus be

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 11

    “Jadi? Sudah memutuskan?” tanya Seno di sela-sela sesi makannya.Kirana diam sebentar, lalu mengangguk. “Tadi sudah meminta izin ibu saya. Beliau mengizinkan. Tapi untuk weekend, saya boleh pulang ke rumah, kan, Pak?”Seno mengangguk. “Ya, jam kerja hanya Senin sampai dengan Jum’at. Kecuali ada pekerjaan mendadak yang harus saya hadiri bersama kamu. Tapi tenang saja, saya akan memberitahu kamu dan kamu bisa menerima atau menolaknya tanpa paksaan. Satu hal yang pasti, ketika kamu bekerja di luar jam kerja, akan masuk hitungan lembur dengan upah yang tidak sedikit.”Kirana tak menjawab, kepalanya mengangguk paham. “Saya mulai menginap besok, kan, Pak? Saya perlu berpamitan langsung dengan anak dan ibu saya. Dan lagi, saya perlu membawa baju-baju dan perlengkapan yang lain.”Seno menyetujui itu. Pelan tapi pasti ia akan membuat Kirana nyaman di sisinya. Tak akan ia biarkan celah sedikit saja merusak semua rencananya untuk mengikat Kirana di hidupnya—selamanya.…………Seno menepati ucapan

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 10

    “Bodoh bodoh bodoohhh!!!” Kirana memukul kepalanya pelan berulang-ulang.Selepas mengatakan hal memalukan tadi, ia langsung berlari keluar dari ruangan Seno dan menuju lantai satu dengan alibi ke kamar mandi.Sialan sekali.Dirinya kalah telak di hadapan uang yang menggiurkan itu!Lagipula, siapa yang akan menolak jika ditawari 15 juta perbulan di awal kerja? Ia awalnya hanya mengharap gaji sesuai UMR saja. Tak berharap lebih mengingat sudah sepuluh tahun ia tak berkutat di dunia korporasi seperti dulu.Ia akui masih bisa mengerjakan semuanya dengan baik, tapi tidak akan secepat dulu. Ada banyak hal yang perlu ia raba-raba di dunia yang baru ia masuki lagi ini.Tapi memikirkan bagaimana nanti kehidupan Arka, kesempatan ini tak akan ia sia-siakan begitu saja. Ia tak ingin membuat anaknya hidup susah dengan kekurangan uang.Ketika sedang berdiam diri, sayup-sayup terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan ada orang bercakap-cakap yang membawa-bawa nama Seno dan Andre.“Eh, tau nggak,

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 9: Runtuh

    Kirana berdiri kikuk di depan pintu yang baru saja tertutup. Keheningan melanda ketika ruangan besar itu hanya menyisakan dirinya dan Seno saja. Matanya bergerak liar, menelusuri seisi ruangan yang tampak megah dengan segala isinya.Di samping pintu tempatnya berdiri, ada satu set meja dan kursi yang diatur sedemikian minimalis tapi tampak nyaman. Ia menduga jika itu adalah meja kerjanya.“Letakkan laptop dan barang-barangmu yang lain, Kak Rana. Lalu ke mari. Saya akan memberitahu apa saja tugasmu di kantor ini,” suara bariton Seno membuyarkan pikiran Kirana.Wanita itu bergegas melakukan apa yang diperintahkan oleh Seno, lalu berjalan dengan cepat ke arah laki-laki yang masih sibuk dengan laptop di depannya.“Duduk saja,” ujar Seno yang kemudian menutup separuh layar laptopnya hanya agar bisa menatap Kirana tanpa penghalang apapun.Seno tersenyum miring.“Cantik seperti biasa,” ucapnya tiba-tiba yang membuat Kirana tak nyaman dalam duduknya.“Maaf, Pak. Jadi, tugas saya apa, ya?”Sen

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 8: Hari Pertama

    Hari ini adalah hari pertama Kirana bekerja di Senjaya Medika. Ada banyak keraguan yang menghantam otaknya—memikirkan harus bersikap bagaimana nanti di hadapan Seno yang selalu menatapnya seperti singa kelaparan.“Bocah itu…” gumam Kirana tanpa sadar sembari mengancingkan bagian teratas kemeja krem yang ia kenakan.Tok tok tok“Ibuu?” suara Arka yang lucu membuat senyum timbul di wajah Kirana.Ia bergerak cepat dan membuka pintu kamarnya, lantas mendapati anak kecil berusia hampir tujuh tahun itu berdiri dengan seragam sekolah barunya yang berwarna hijau terang.“Aduh anak ibu sudah ganteng sekali,” ujar Kirana sembari menciumi pipi Arka yang tercium aroma harum minyak telon dan parfum bayi.Semenjak tinggal bersama ibunya, keadaan Arka jauh lebih baik. Tak pernah lagi terlihat kucal. Bahkan kemarin Kirana timbang, berat badan anaknya itu sudah naik dua kilogram, padahal belum juga dua minggu mereka tinggal di sana.Kirana tersenyum lega. Arka dan dirinya jauh baik-baik saja di rumah i

  • Jatuh di Pelukan Bos Muda   Bab 7: Bayangan di Kegelapan

    Rana mendorong pintu samping rumah Bu Amel dengan napas yang masih menyisakan sisa-sisa keterkejutan luar biasa. Di ruang tengah, ia langsung menghambur memeluk ibunya, menceritakan bahwa ia tidak hanya diterima bekerja di Senjaya Medika, tetapi langsung ditarik menjadi sekretaris pribadi sang CEO tanpa harus melewati proses seleksi panjang.Namun, alih-alih langsung merayakan kemenangan kariernya, pikiran Rana sore itu justru melayang ke tempat lain.Ia berjalan pelan menuju kursi kayu di ruang taman terbuka yang membatasi antara rumah Bu Amel dan rumah Bu Rita—adik kandungnya. Dari tempatnya duduk, netra Rana menatap lurus ke halaman rumput, memerhatikan Arka yang sedang tertawa lepas berlari-lari mengejar bola bersama sepupunya, anak Bu Rita.Langkah kaki ringan mendekat. Bu Amel datang menghampiri sambil membawa piring kecil berisi tempe goreng hangat yang masih mengepulkan uap tipis, lalu duduk di sebelah putrinya. Melihat tatapan menerawang Rana, Bu Amel menyodorkan piring terseb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status