Home / Romansa / Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer / Bab 2 Kesepakatan Pak Dosen

Share

Bab 2 Kesepakatan Pak Dosen

Author: Aira Tsuraya
last update Last Updated: 2025-11-01 12:00:01

“Bapak sedang mengancam saya?” tanya Thea.

Alvan tersenyum dengan seringai licik laksana serigala. “Iya.”

Thea berdecak sambil membalas menatap Alvan tak kalah tajam.

“Ya sudah, saya juga akan laporkan ke kampus kalau Bapak suka memakai jasa seperti ini. Saya yakin citra Bapak di kampus akan buruk nantinya.”

Mata Alvan langsung meruncing mendengar ucapan Thea, wajahnya juga berubah masam dan itu membuat Thea tersenyum penuh kemenangan.

Perlahan Alvan melepas cekalannya dan membuat Thea bisa bebas bergerak. Ia tampak sibuk merapikan diri sambil sesekali melirik Alvan.

“Untuk hari ini, saya tidak memasang harga ke Bapak. Anggap saja ini konsultasi gratis.”

Thea berkata tanpa melihat Alvan. Alvan hanya diam melirik Thea dengan kedua alis yang terangkat.

“Saya anggap pertemuan hari ini tidak ada dan saya harap Bapak melakukan hal yang sama,” imbuh Thea.

Tidak ada jawaban dari Alvan, tapi pria tampan itu sudah berulang kali menggerakkan jakunnya menatap Thea dengan dingin.

Thea sudah bersiap pergi saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Belum sempat Thea menjawab, ia sudah mendengar lebih dulu suara di seberang sana.

“Nona, kami dari rumah sakit. Kami mau bertanya mengenai tagihan atas nama ibu Aminah. Kapan pelunasannya?”

Thea membisu, menelan ludah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah hampir setahun, ibunya keluar masuk rumah sakit karena mengalami gagal jantung. Itu juga salah satu alasan Thea mengambil profesi ini sebagai pekerjaannya.

“Iya, Mbak. Secepatnya saya lunasi.”

Akhirnya setelah terdiam lama, Thea menjawab pertanyaan itu. Ia sudah mengakhiri panggilan dan menyimpan ponsel, kemudian membalikkan badan.

Ia melihat Alvan sedang berdiri bersedekap sambil mengamatinya. Tidak ada kata yang terucap dari bibir Alvan, tapi Thea bisa melihat jika pria itu sedang mengintimidasinya.

“Saya … saya terima tawaran Bapak.”

Tidak ada reaksi signifikan dari Alvan. Ia masih bergeming di posisinya. Sementara Thea yang terlihat gelisah.

“Pak, saya bilang saya terima tawaran Bapak. Saya bersedia dibooking satu minggu ini. Asal ---”

Thea menggantung kalimatnya dan ternyata ulahnya itu membuat Alvan bereaksi.

“Asal apa?” Alvan mencondongkan tubuh ke Thea. Thea tampak gugup menundukkan kepala sambil memainkan jemari tangannya.

Kemudian perlahan ia mendongak dan beradu mata dengan Alvan.

“Tolong, jangan adukan ini ke kampus. Saya … saya tidak mau dikeluarkan dari sana. Saya juga janji tidak akan memberitahu tentang Bapak.”

“Deal!!”

Alvan langsung mengangguk sambil mengulurkan tangan. Dengan ragu, Thea menyambut uluran tangan Alvan.

Kemudian Alvan sudah membalikkan badan dan berjalan menjauh. Sementara Thea tampak bengong di posisinya.

“Eng … Pak, gak jadi transfer untuk pembayarannya?”

Alvan memutar tubuhnya kembali dan menatap Thea dengan bingung.

“Kamu belum kerja, mau minta dibayar sekarang?”

Thea tercengang mendengar ucapan Alvan.

“Loh, tadi ‘kan Bapak bilang akan mentransfer langsung ke saya. Kenapa sekarang ---”

“Saya berubah pikiran. Salah sendiri kamu tidak mau menerima tawaran pertama saya tadi.”

Mulut Thea terbuka dengan mata melebar usai mendengar ucapan Alvan. Padahal ia sudah berharap besar bisa membayar tagihan rumah sakit ibunya, tapi nyatanya pria sekaligus dosennya ini malah mempermainkannya.

Namun, Thea juga tidak menyalahkan Alvan sepenuhnya. Dalam situasi sekarang, mereka sedang transaksi bisnis. Ia belum melakukan kewajibannya mana mungkin mendapatkan haknya.

Thea menghela napas sambil menganggukkan kepala. Ia berjalan mendekat ke Alvan.

“Sekarang Bapak ingin layanan seperti apa?” tanyanya kemudian.

Alvan hanya diam, menatap Thea dengan datar. Thea sendiri tidak tahu apa arti tatapan pria di depannya. Namun, Thea tahu ini saatnya dia mulai bekerja.

Thea meletakkan tas dan blazernya ke lantai kemudian mendekat. Dengan rileks tangannya mengalung ke bahu Alvan. Alvan tampak canggung, tapi entah mengapa ia tidak menolak perlakuan Thea padanya.

“Jangan tegang, Pak. Saya sudah mahir, kok,” desis Thea di telinga Alvan.

Mata Alvan melotot apalagi saat Thea sudah mengecup cuping telinganya beberapa kali. Alvan memejamkan mata sejenak, kemudian dengan gerak cepat ia menepis tangan Thea dan mengubah keadaan.

Namun, karena kehilangan keseimbangan mereka akhirnya tumbang di atas kasur dengan Alvan menindih tubuh Thea.

Thea terperangah kaget. Matanya mengerjap beberapa kali menatap pria tampan di atas tubuhnya. Ia tidak menduga pria yang terkenal dingin di kampus ternyata seagresif ini.

“Bapak suka yang to the point, ya? Tanpa pemanasan?”

Alvan tersenyum, menatap Thea dengan dalam.

“Kamu pikir begitu?”

Thea tidak menjawab. Berulang ia menelan ludah sambil mengatur detak jantungnya yang semakin tak beraturan. Bagaimanapun sosok di depannya ini salah satu icon kampusnya yang membuat mahasiswi rajin ke kampus. Termasuk dirinya.

Deru napas memburu keluar bersamaan dari bibir mereka berdua. Hingga beberapa saat kemudian, Alvan mendekatkan wajahnya ke Thea.

Dengan lirih, ia bersuara, “Buka bajumu!!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Assassin Bimz
waduh, buru-buru amat, pak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Ekstra Bab

    “Sudahlah, nanti aku yang ngatur. Kamu gak usah mengembalikannya,” imbuh Alvan.Thea semakin terkejut dan menggelengkan kepala.“Babe, bagaimanapun yang aku lakukan salah. Aku sudah melanggar syarat dalam beasiswa itu dan sebagai konsekuensi aku harus menggantinya.”“Kalau kamu keberatan, aku pinjam uang Kakek saja.”Alvan berdecak sambil menggelengkan kepala menatap Thea dengan sendu.“Aku sama sekali gak keberatan membayarnya. Hanya saja untuk apa aku bayar uang ke yayasan milikku sendiri?”Thea terdiam. Ia duduk tegak sambil menatap Alvan dengan bingung. Bastian yang mengemudi di depan hanya mengulum senyum melihat interaksi mereka.Wajah Thea terlihat linglung, menatap Alvan sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Alvan gemas melihatnya.“Bas, jelaskan padanya!!!”Pada akhirnya Alvan malah menyuruh Bastian yang bersuara. Bastian mengangguk sambil melirik Thea melalui kaca spion.“Apa Nona ingat saat Anda memenangkan lomba melukis ketika SMA dulu?”Thea terdiam sejenak kemudian meng

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 220 Keputusan Final

    “PAK ALVAN!!!!”Semua orang di dalam ruangan itu sangat terkejut begitu melihat kedatangan Alvan. Leo yang sedari tadi terlihat berapi-api dan sok kuasa, langsung membeku di kursinya.Sementara Thea langsung tersenyum lega begitu melihat Alvan. Ia tidak menduga Alvan akan datang secepat ini.Perlahan Alvan mendekat kemudian berdiri di samping Thea dan merangkulnya.“Kamu baik-baik saja?” tanya Alvan.Thea tersenyum sambil mengangguk. Semua yang hadir di ruangan itu tercengang kaget melihat interaksi mereka.“Jadi benar, Pak Alvan dan Thea sudah menikah?” tanya Pak Hanafi memecah keheningan.Alvan mengangguk. “Iya, benar. Saya sudah menikah dengannya sejak semester yang lalu. Hanya saja peresmiannya baru saat liburan semester ini.”Semua langsung terkejut mendengar pengakuan Alvan. Kemudian tak lama terlihat Bastian masuk ke dalam ruangan. Atas perintah Alvan, Bastian menunjukkan s

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 219 Kebencian Leo

    Semua yang hadir terdiam, sementara Leo langsung kembali ke tempatnya. Ia kembali menunjukkan beberapa foto kemesraan Alvan dan Thea ke dalam slide yang sudah disiapkan.Tanpa Thea tahu, Leo telah memodifikasi foto aslinya dengan Alvan menggunakan aplikasi pintar. Entah mengapa fotonya terlihat asli sama seperti sebelumnya.“Bagaimana? Kamu mau menyangkal apa sekarang?” sergah Leo.Belum ada jawaban dari Thea. Ia hanya terdiam sambil menatap slide yang memutar fotonya dengan Alvan. Meski Thea mencurugai foto itu tidak asli, tapi ia harus mendapatkan bukti kebohongan Leo.“Kalau tidak salah, bukankah Anda salah satu mahasiswi penerima beasiswa?” tanya salah satu dosen dari perwakilan rektorat.“Iya, Pak.”“Nah, tunggu apa lagi, Pak? Dia ini tidak pantas menjadi contoh mahasiswa yang lain.” Leo langsung menyahut sebelum Thea meneruskan jawabannya.“Harusnya beasiswanya dicabut, kalau

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 218 Pengadilan untuk Thea

    Thea membeku di posisinya kemudian menganggukkan kepala berulang.“Iya, Bu. Saya akan ke kampus.”Tidak ada jawaban dari Bu Nirma, tapi panggilannya sudah berakhir.“Apa semuanya baik-baik saja, Thea?” Suara Widuri menyeruak dari belakangnya.Thea menoleh sambil mengangguk.“Iya, Bun. Cuman saya harus ke kampus hari ini. Apa gak masalah Ayah dan Bunda saya tinggal?”“Iya, gak papa. Biar kamu diantar Pak Udin saja.”Thea mengangguk kemudian sudah berpamitan ke Widuri dan Emran. Selang beberapa saat Thea sudah tiba di kampus. Ia langsung menuju fakultasnya, tapi baru saja turun dari mobil. Beberapa mata sudah mengawasinya dengan tatapan kebencian.“Bukannya itu Thea yang ayam kampus dan pacaran ama Pak Alvan.”“Iya, ngapain dia ke kampus? Gak punya malu banget.”“Kemarin aku juga lihat dia lagi berantem ama seseorang di mini market depan.&

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 217 Ujian dari Mertua

    Emran dan Widuri kembali tercengang, tapi reaksi mereka tidak berlebihan. Thea semakin gelisah dibuatnya. Bukankah biasanya para orang tua akan marah jika tahu kenyataan ini. Apalagi Thea adalah menantu mereka.“Namun, harap Ayah dan Bunda garis bawahi. Saya bukan wanita panggilan seperti pada umumnya.”“Saya hanya menemani mereka jalan, ngobrol, tanpa sentuhan fisik dan hubungan intim.”“Saya masih perawan saat menikah dengan Pak Alvan. Saya bersumpah atas nama Tuhan.”Thea berkata sambil mengangkat tangannya ke atas. Matanya menunjukkan kesungguhan dengan mata berkaca menatap Emran dan Widuri bergantian.Widuri hanya diam sambil menganggukkan kepala. Namun, berbanding terbalik dengan Emran.“Setahu Ayah, yang namanya wanita panggilan itu identik dengan konotasi. Apa kamu pikir kami akan langsung percaya dengan penjelasanmu?”Thea terdiam, menurunkan tangannya dan tertunduk lesu. Widuri

  • Jatuh di Pelukan Pak Dosen Killer   Bab 216 Kejujuran Thea

    “Gimana kabarmu, Sayang?” tanya Widuri begitu mereka di dalam mobil.“Alhamdulillah baik, Bu. Kenapa Bunda gak bilang kalau mau ke sini?”Widuri hanya tersenyum sambil menatap Thea dengan lembut.“Gak papa. Kebetulan Bunda dan Ayah ada keperluan di sini. Jadi sekalian mampir. Kamu juga sedang sendirian, kan?”Thea mengangguk. Sepertinya Alvan sudah memberitahu kedua orang tuanya jika ia sedang berada di luar negeri.“Eng … kalau gak salah tadi Bunda melihat Erika. Apa dia menemuimu?”Wajah Widuri telihat gelisah dan menatap Thea penuh cemas. Thea tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Iya, Bun. Bunda gak usah khawatir. Saya dan Erika gak ada masalah, kok.”Widuri hanya diam. Ekspresinya terlihat bingung, tapi perlahan kepalanya mengangguk. Selanjutnya mereka memilih berbincang hal random dan tak terasa mobil sudah membawa mereka ke rumah.Kali ini sengaj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status