LOGIN“HAH!! Beneran Bapak mau melakukannya sekarang?” ucap Thea.
Wajahnya tiba-tiba berubah tegang, rasa gugup juga terlihat dari gestur tubuhnya. Alvan tersenyum sambil perlahan menyelipkan rambut Thea di belakang telinga.
“Katanya sudah mahir. Kok, kaget gitu.”
Thea membisu, banyak saliva yang ditelan dan jantungnya seperti mengajak marathon kali ini.
Perlahan Alvan bangkit dan memberi ruang untuk Thea. Thea yang tadinya berbaring di kasur ikut bangkit. Ia duduk dengan gugup sambil sesekali melirik Alvan yang berdiri mengamati.
Tanpa berkata apa-apa, tatapan Alvan kembali memberi isyarat ke Thea agar ia menuruti perintahnya. Pelan tangan Thea menyingkap tanktopnya kemudian bersiap menarik ke atas.
Alvan hanya diam memperhatikan hingga saat perut mulus gadis itu terlihat, Alvan buru-buru berpaling.
“Aku gak menyuruhmu buka baju di sini, kan. Sana!! Ke kamar mandi dan ganti bajumu di sana!!”
Thea makin bingung, tapi ia tidak bertanya dan memilih menurut. Begitu masuk ke kamar mandi, Alvan mengikuti dan menyodorkan sebuah paper bag kepadanya.
“Ganti dengan yang ini!!!”
Thea menerima dengan heran. Selang beberapa saat, ia sudah keluar dari kamar mandi. Kini penampilannya berbeda dengan tadi. Sebuah gaun sudah membalut tubuhnya dengan indah.
Meski modelnya sederhana, tapi Thea tahu gaun ini salah satu keluaran dari branded ternama.
“Kamu tidak ada janji satu minggu ini, kan?” Suara Alvan membuyarkan lamunan Thea.
Thea menggeleng. “Enggak, Pak.”
“Bagus. Satu minggu ini kamu ikut aku. Kita cek out. Pesawatku berangkat dua jam lagi.”
Mata Thea melotot mendengar ucapan Alvan. “Pesawat? Kita … kita mau kemana, Pak?”
Alvan tidak menjawab malah ngeloyor keluar kamar lebih dulu. Tergesa Thea merapikan barangnya dan mengejar Alvan.
Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam pesawat yang baru saja take of.
“Kok Bapak gak bilang kalau kita mau keluar kota? Saya … saya gak bawa baju ganti,” gerutu Thea.
Alvan tidak menanggapi, hanya meliriknya sekilas kemudian menunjukkan ponselnya ke Thea.
“Aku sudah transfer ke rekeningmu. Jadi gak ada alasan kamu protes seperti ini.”
Thea terdiam sambil menganggukkan kepala.
“Terus satu lagi, berhenti memanggilku ‘Bapak’. Kita sedang tidak di kampus.”
Thea mengernyitkan alis sambil menatap Alvan dengan bingung. “Terus saya manggil apa, Pak?”
Alvan berdecak sambil menatapnya dengan kesal.
“Masa kamu gak pernah pacaran. Panggilan apa yang cocok buat orang pacaran?”
Mata Thea seketika membola mendengar ucapan Alvan.
“Apa maksud Bapak, meminta saya untuk pura-pura jadi pacar Bapak sekarang?”
Alvan mendengkus kasar sambil menatap jengkel.
“Paham juga akhirnya.”
Thea merengut sambil menatap kesal ke Alvan.
“Bapak kan gak ngomong apa tujuannya booking saya. Jadi, mana mungkin saya tahu.”
Alvan memilih tidak menggubris ucapan Thea. Ia sudah menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Sementara Thea hanya mengulum senyum melihat ulahnya. Padahal ia sudah berpikiran buruk tentang Alvan tadi.
Tiga jam kemudian, mereka sudah tiba di depan sebuah rumah. Alvan langsung turun lebih dulu. Sementara Thea tampak ragu. Wajahnya terlihat gugup, tapi Alvan sudah membayarnya dan dia harus memainkan perannya dengan baik.
“Jadi dia pacarmu?” tanya Emran.
Thea bersama Alvan sudah berada di dalam ruang tamu rumah tersebut. Kali ini ada Emran dan Widuri yang menyambut kedatangan mereka.
Mereka duduk saling berhadapan dan entah mengapa Thea merasa seperti berada di majelis persidangan saja.
Alvan mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Yah. Namanya Thea.”
Thea yang duduk di samping Alvan segera tersenyum sambil mengangguk memberi salam. Meskipun ini hanya akting, sebisa mungkin Thea harus menunjukkan dengan natural.
“Itu sebabnya kamu tidak mau menerima perjodohan dari Ayah.” Kini Widuri yang bicara dan langsung disambut anggukkan kepala Alvan.
“Iya, Bun. Bagiku pernikahan sangat sakral dan hanya bisa dilakukan oleh dua orang yang saling cinta. Mana mungkin aku menjalani seumur hidupku dengan wanita yang tidak aku cintai.”
Thea membisu saat mendengar ucapan Alvan. Ia pikir dosennya akan selamanya membujang. Di kampus, ia terlihat dingin. Matanya juga tidak pernah jelalatan apalagi senyumnya pelit banget.
Ia tidak menduga jika Alvan memiliki pemikiran seperti itu tentang sebuah pernikahan.
“Baik, Ayah menghargai pilihanmu. Ayah akan membatalkan perjodohanmu dengan Erika.”
Senyum lega terlihat di raut tampan Alvan. Ia menoleh sekilas ke Thea dan Thea juga membalas senyumannya.
“Apa ini artinya tugasku selesai? Aku bisa langsung pulang,” batin Thea.
Ia tersenyum kegirangan dan berharap setelah pertemuan ini, semuanya usai. Ia tidak mau berurusan dengan dosen killer itu lagi, apalagi sampai menerima orderannya seperti hari ini.
“Berapa lama kalian pacaran? Kenapa baru sekarang dikenalkan ke Ayah dan Bunda?” Kembali Emran bertanya dan itu membuat Alvan terkejut.
“Eng … sudah mau dua tahun, Yah.” Alvan lagi yang menjawab.
Emran hanya manggut-manggut sambil sesekali melirik Thea. Thea menunduk dan entah mengapa ia merasa jika orang tua dosennya ini sedang mengawasinya.
“Thea tinggal di mana? Apa orang tuamu masih ada?”
Thea mengangkat kepala dan tersenyum menatap Emran.
“Saya kost, Om. Ayah saya sudah meninggal, kalau ibu masih ada, tapi tidak tinggal serumah.”
Emran tampak terkejut, mengernyitkan alis sambil menatap mereka berdua dengan tajam.
“Jadi kalian sudah dua tahun pacaran dan hidup tanpa pengawasan orang tua, begitu?”
Alvan dan Thea tercengang mendengar pertanyaan Emran, tapi meski demikian kepala keduanya sudah mengangguk.
“Ini gak baik. Ayah tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa kalian.”
“Maksud Ayah apa? Aku dan Thea sudah dewasa dan bisa jaga diri,” sahut Alvan.
Emran terdiam, menghela napas sejenak kemudian melirik Widuri yang duduk di sampingnya. Wanita berhijab yang masih terlihat cantik itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Ayah akan menyetujui hubunganmu dengan Thea, tapi dengan satu syarat.”
Alvan mendengkus sambil menatap Emran dengan kesal. Padahal ia sudah mati-matian memikirkan cara untuk membatalkan perjodohannya. Kenapa ayahnya malah memberi syarat lagi?
“Syarat apa, Yah?”
Emran tersenyum samar kemudian dengan tegas, ia bersuara, “Kalian nikah sekarang juga!!”
“Sudahlah, nanti aku yang ngatur. Kamu gak usah mengembalikannya,” imbuh Alvan.Thea semakin terkejut dan menggelengkan kepala.“Babe, bagaimanapun yang aku lakukan salah. Aku sudah melanggar syarat dalam beasiswa itu dan sebagai konsekuensi aku harus menggantinya.”“Kalau kamu keberatan, aku pinjam uang Kakek saja.”Alvan berdecak sambil menggelengkan kepala menatap Thea dengan sendu.“Aku sama sekali gak keberatan membayarnya. Hanya saja untuk apa aku bayar uang ke yayasan milikku sendiri?”Thea terdiam. Ia duduk tegak sambil menatap Alvan dengan bingung. Bastian yang mengemudi di depan hanya mengulum senyum melihat interaksi mereka.Wajah Thea terlihat linglung, menatap Alvan sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Alvan gemas melihatnya.“Bas, jelaskan padanya!!!”Pada akhirnya Alvan malah menyuruh Bastian yang bersuara. Bastian mengangguk sambil melirik Thea melalui kaca spion.“Apa Nona ingat saat Anda memenangkan lomba melukis ketika SMA dulu?”Thea terdiam sejenak kemudian meng
“PAK ALVAN!!!!”Semua orang di dalam ruangan itu sangat terkejut begitu melihat kedatangan Alvan. Leo yang sedari tadi terlihat berapi-api dan sok kuasa, langsung membeku di kursinya.Sementara Thea langsung tersenyum lega begitu melihat Alvan. Ia tidak menduga Alvan akan datang secepat ini.Perlahan Alvan mendekat kemudian berdiri di samping Thea dan merangkulnya.“Kamu baik-baik saja?” tanya Alvan.Thea tersenyum sambil mengangguk. Semua yang hadir di ruangan itu tercengang kaget melihat interaksi mereka.“Jadi benar, Pak Alvan dan Thea sudah menikah?” tanya Pak Hanafi memecah keheningan.Alvan mengangguk. “Iya, benar. Saya sudah menikah dengannya sejak semester yang lalu. Hanya saja peresmiannya baru saat liburan semester ini.”Semua langsung terkejut mendengar pengakuan Alvan. Kemudian tak lama terlihat Bastian masuk ke dalam ruangan. Atas perintah Alvan, Bastian menunjukkan s
Semua yang hadir terdiam, sementara Leo langsung kembali ke tempatnya. Ia kembali menunjukkan beberapa foto kemesraan Alvan dan Thea ke dalam slide yang sudah disiapkan.Tanpa Thea tahu, Leo telah memodifikasi foto aslinya dengan Alvan menggunakan aplikasi pintar. Entah mengapa fotonya terlihat asli sama seperti sebelumnya.“Bagaimana? Kamu mau menyangkal apa sekarang?” sergah Leo.Belum ada jawaban dari Thea. Ia hanya terdiam sambil menatap slide yang memutar fotonya dengan Alvan. Meski Thea mencurugai foto itu tidak asli, tapi ia harus mendapatkan bukti kebohongan Leo.“Kalau tidak salah, bukankah Anda salah satu mahasiswi penerima beasiswa?” tanya salah satu dosen dari perwakilan rektorat.“Iya, Pak.”“Nah, tunggu apa lagi, Pak? Dia ini tidak pantas menjadi contoh mahasiswa yang lain.” Leo langsung menyahut sebelum Thea meneruskan jawabannya.“Harusnya beasiswanya dicabut, kalau
Thea membeku di posisinya kemudian menganggukkan kepala berulang.“Iya, Bu. Saya akan ke kampus.”Tidak ada jawaban dari Bu Nirma, tapi panggilannya sudah berakhir.“Apa semuanya baik-baik saja, Thea?” Suara Widuri menyeruak dari belakangnya.Thea menoleh sambil mengangguk.“Iya, Bun. Cuman saya harus ke kampus hari ini. Apa gak masalah Ayah dan Bunda saya tinggal?”“Iya, gak papa. Biar kamu diantar Pak Udin saja.”Thea mengangguk kemudian sudah berpamitan ke Widuri dan Emran. Selang beberapa saat Thea sudah tiba di kampus. Ia langsung menuju fakultasnya, tapi baru saja turun dari mobil. Beberapa mata sudah mengawasinya dengan tatapan kebencian.“Bukannya itu Thea yang ayam kampus dan pacaran ama Pak Alvan.”“Iya, ngapain dia ke kampus? Gak punya malu banget.”“Kemarin aku juga lihat dia lagi berantem ama seseorang di mini market depan.&
Emran dan Widuri kembali tercengang, tapi reaksi mereka tidak berlebihan. Thea semakin gelisah dibuatnya. Bukankah biasanya para orang tua akan marah jika tahu kenyataan ini. Apalagi Thea adalah menantu mereka.“Namun, harap Ayah dan Bunda garis bawahi. Saya bukan wanita panggilan seperti pada umumnya.”“Saya hanya menemani mereka jalan, ngobrol, tanpa sentuhan fisik dan hubungan intim.”“Saya masih perawan saat menikah dengan Pak Alvan. Saya bersumpah atas nama Tuhan.”Thea berkata sambil mengangkat tangannya ke atas. Matanya menunjukkan kesungguhan dengan mata berkaca menatap Emran dan Widuri bergantian.Widuri hanya diam sambil menganggukkan kepala. Namun, berbanding terbalik dengan Emran.“Setahu Ayah, yang namanya wanita panggilan itu identik dengan konotasi. Apa kamu pikir kami akan langsung percaya dengan penjelasanmu?”Thea terdiam, menurunkan tangannya dan tertunduk lesu. Widuri
“Gimana kabarmu, Sayang?” tanya Widuri begitu mereka di dalam mobil.“Alhamdulillah baik, Bu. Kenapa Bunda gak bilang kalau mau ke sini?”Widuri hanya tersenyum sambil menatap Thea dengan lembut.“Gak papa. Kebetulan Bunda dan Ayah ada keperluan di sini. Jadi sekalian mampir. Kamu juga sedang sendirian, kan?”Thea mengangguk. Sepertinya Alvan sudah memberitahu kedua orang tuanya jika ia sedang berada di luar negeri.“Eng … kalau gak salah tadi Bunda melihat Erika. Apa dia menemuimu?”Wajah Widuri telihat gelisah dan menatap Thea penuh cemas. Thea tersenyum sambil menganggukkan kepala.“Iya, Bun. Bunda gak usah khawatir. Saya dan Erika gak ada masalah, kok.”Widuri hanya diam. Ekspresinya terlihat bingung, tapi perlahan kepalanya mengangguk. Selanjutnya mereka memilih berbincang hal random dan tak terasa mobil sudah membawa mereka ke rumah.Kali ini sengaj







