Mag-log in
“Ivanka Katleya!!! Untuk apa kamu di sini?” seru seorang pria tampan.
Gadis cantik dengan rambut berombak itu membeku di tempat, mata bulatnya mengerjap sambil menatap bingung pria tampan yang berdiri tegak di depannya. Ia tahu dan sangat mengenal pria di depannya ini.
Pria tampan itu tak lain Alvan Abbiya. Dia adalah salah satu dosen di kampus tempatnya kuliah bahkan bisa dibilang termasuk dosen killer di sana.
“Pak Alvan. Kok Bapak di sini?” Alih-alih menjawab pertanyaan dosen ganteng itu, Thea malah balik bertanya.
“Harusnya kamu yang menjawab pertanyaanku, bukan balik bertanya.”
Thea mendengkus sambil menatapnya kesal. Dosen satu ini memang visualnya menawan. Tubuhnya tinggi tegap, dengan tampang seperti gege China, mata setajam elang dan rambut belah tengah yang selalu tampil rapi. Namun, bibirnya masih saja sama pedasnya ketika mengajar di kelas.
“Saya … saya hanya sedang menemui orang, Pak.”
Alvan mengernyitkan alis sambil melihatnya tajam. Sementara Thea terdiam menatap tanpa kedip makhluk indah di depannya.
Kalau dilihat sedekat ini Alvan sangat tampan. Kenapa dia tidak ikutan casting film saja, malah nyasar menjadi tenaga pengajar di kampus?
“Orang siapa yang kamu maksud? Kamu itu sudah salah masuk kamar!!”
Thea terdiam sambil membaca pesan di ponselnya. Ia tidak salah kamar dan membaca dengan jelas. Jika kamar hotel yang ia tuju kali ini adalah tempat kliennya minta bertemu.
Selain sebagai mahasiswi, Thea punya kerja sambilan. Memang profesinya sedikit bersifat konotatif, tapi sebenarnya tidak seburuk itu.
“Kalau begitu, saya telepon dulu untuk memastikan, Pak.”
Alvan berdecak. Mereka masih berdiri di depan pintu kamar hotel dan sepertinya Alvan enggan untuk mengajaknya masuk.
Sementara itu Thea sudah melakukan panggilan. Beberapa saat kemudian terdengar bunyi dering ponsel Alvan. Thea menoleh. Alvan segera melirik ponsel di sakunya.
Ia merogoh, mengambil ponsel kemudian terdiam lama. Sementara Thea meneruskan panggilannya hingga akhirnya ia sadar jika nomor yang ia hubungi adalah nomor ponsel Alvan.
“Jadi beneran Bapak yang pesan saya?”
Alvan tercengang kaget, kemudian dengan gerak cepat menarik tangan Thea mengajaknya masuk kamar.
Thea mengulum senyum sambil melirik Alvan. Sedangkan Alvan memilih memalingkan wajah dan berjalan menjauh menghindar dari Thea.
“Hmm … saya pikir Bapak gak tertarik sama perempuan, ternyata Bapak juga suka menggunakan jasa seperti ini.”
Alvan terkejut mendengar ucapan Thea. Ia menoleh cepat sambil memberikan tatapan sinis ke Thea. Thea pura-pura tak peduli.
Ia sudah melenggang santai, meletakkan tas, melepas blazer dan menyisakan tanktop hitam nan ketat dengan celana kain yang membalut tubuhnya. Dadanya terlihat penuh dan membentuk bulatan nan indah sangat serasi dengan pinggangnya yang ramping.
“Jadi, Bapak ingin apa?” Thea duduk dengan santai di atas kasur sambil menyilangkan kaki.
Alvan terdiam sambil mengamati. Matanya seolah menembus sampai ke tubuh Thea. Thea sudah biasa menghadapi tatapan pria seperti ini. Namun, entah mengapa ia jadi deg degan saat mata indah itu terus memandangnya.
“Jadi benar rumor di kampus. Kamu … wanita panggilan?”
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Alvan bersuara. Thea berdecak sambil menyugar rambut coklatnya.
“Iya, benar.”
Thea sudah lelah menghadapi rumor tentang dirinya di kampus. Untung saja sampai sekarang belum ada yang mempunyai bukti tentang kebenarannya. Padahal, ia punya alasan sendiri hingga melakukan hal ini.
“Layanan apa yang Bapak inginkan? Mau short time atau long time? Semua ada tarifnya, tapi karena saya kenal Bapak. Saya akan kasih spesial price, deh.”
Thea berkata sambil mengedipkan sebelah matanya ke Alvan.
Alvan berdecak, menggelengkan kepala lalu berjalan mendekat ke arahnya.
Thea tersenyum, menggeser duduknya saat pria itu sudah duduk di sampingnya.
“Kalau aku booking satu minggu berapa tarifnya?”
Mata Thea membola saat mendengar pertanyaan Alvan. Ia tersenyum, menggerakkan tubuhnya dengan gemulai sambil menatap penuh menggoda.
“Bapak beneran butuh banget, ya? Apa gak pengen dicoba dulu, Pak?”
Thea bertanya sambil mengelus paha Alvan yang berada dekat di sampingnya. Mata Alvan sontak turun melihat tangan Thea. Merasa ditatap dengan dingin, serta merta Thea menarik kembali tangannya.
“Eng … terserah Bapak, deh. Gak dicoba juga gak papa, yang penting Bapak suka.”
“Kalau satu minggu tinggal dikali saja, Pak. Bapak minta yang bagaimana?”
Alvan terdiam sejenak, kemudian kembali menatap Thea dengan tajam.
“Ya sudah, aku kasih 100 juta untuk satu minggu.”
Seketika Thea terperangah kaget. Mulutnya terbuka dengan mata melebar menatap Alvan tanpa kedip. Ia tidak pernah mendapat uang sebanyak itu untuk satu kali transaksi. Kenapa juga malah yang menjadi kliennya adalah dosennya sendiri?
“Berapa nomor rekeningmu? Aku transfer sekarang!!”
“Heh!! Be—beneran Bapak mau booking saya satu minggu?” Thea masih belum percaya. Ia yakin dosennya hanya sekedar bercanda.
Bisa jadi Alvan sedang menjebaknya untuk kemudian dilaporkan ke kampus. Lalu kalau sudah begitu, ia akan kehilangan beasiswa dan dikeluarkan dari kampus dengan mudah. Selama ini Thea kuliah di kampus ini melalui jalur prestasi untuk mahasiswa tidak mampu. Tanpa itu, mana mungkin ia bisa kuliah di kampus elit ini.
Alvan mendongak dan membuat mata mereka bertemu.
“Aku serius. Mana nomor rekeningmu?”
Thea tidak menjawab, hanya beberapa kali menelan saliva sambil menggelengkan kepala.
“Eng … gak usah deh, Pak. Saya … saya pulang saja. Kita cancel.”
Thea sudah bangkit, mengambil blazer dan tasnya sambil berjalan menuju pintu. Ia takut ini jebakan. Tanpa menunggu jawaban Alvan, Thea tergesa pergi.
Namun, tangan Alvan lebih cepat mencekal lengannya membuat tubuh Thea berputar dan mendarat di pelukan Alvan. Mereka berdiri saling berimpitan dengan tangan Thea menempel di dada bidang Alvan.
Mata mereka bertemu dan untuk beberapa detik terdiam. Hingga Alvan yang lebih dulu membuka suara.
“Kalau kamu menolakku, aku akan melaporkan aktivitasmu ini ke kampus dan aku rasa kamu tahu akibatnya.”
“Kamu tidak mau menemuinya?” tanya Thea.Alvan belum menjawab, tapi matanya sudah melirik Thea dengan jakun yang naik turun. Thea berjalan mendekat kemudian kembali duduk di samping Alvan sambil menggenggam tangannya.“Temui saja dan jelaskan lagi kalau kamu menolak perjodohan itu. Jangan menghindar terus. Itu membuat dia penasaran.”Alvan mendengkus, terdiam sesaat kemudian menganggukkan kepala.“Ya sudah. Aku turun dulu.”Thea tersenyum menganggukkan kepala. Sementara Alvan sudah berjalan turun ke lantai satu. Beberapa kali helaan napas panjang keluar masuk dari bibirnya. Kalau boleh jujur, dia malas bertemu Erika.Namun, apa yang dikatakan Thea ada benarnya. Tidak mungkin ia terus menghindar. Ia harus bersikap tegas ke Erika. Meski ia sudah menjelaskan sebelumnya, tapi sepertinya wanita satu ini butuh penjelasan berulang.Perlahan Alvan membuka pintu dan ia langsung terperangah melihat sosok yang
“Pak, buruan ikutin mobil di depan itu!!” perintah Evelyn.Ia sengaja memesan taxi online dan menunggu saat Alvan pulang baru diikuti. Tepat dugaannya jika Alvan akan berhenti di mini market untuk bertemu Thea. Sampai saat ini, Evelyn tidak tahu jika Thea juga mahasiswi di fakultas seni.Mungkin karena Evelyn tidak mengajar di kelas Thea, jadi dia tidak mengenalnya. Ditambah Evelyn merupakan dosen baru yang belum hapal satu persatu mahasiswanya.“Maaf, Non. Berdasarkan aplikasi, pemesanannya hanya sampai mini market ini saja. Jadi kalau ingin melanjutkan perjalanan harus melakukan pemesanan lagi,” jawab sopir taxi online tersebut.“APA!!! Kok bisa begitu?”“Ini sudah aturannya, Non. Masa gak tahu soal itu.”Evelyn berdecak kesal kemudian tampak mengeluarkan ponsel dan sibuk menggulir di aplikasi yang sama.“Nona lakukan pemesanan lagi saja, tapi pemesanan sebelumnya diselesaikan du
“Kita langsung ke kampus saja. Aku banyak proyek yang belum selesai hari ini,” pinta Thea.Gara-gara bertemu dengan Bi Mira, Thea terpaksa izin tidak mengikuti kuliah jam pertama. Alvan yang mengemudi di sampingnya tampak manggut-manggut mengiyakan permintaan Thea. Ia juga harus mengajar beberapa kelas hari ini.“Aku turun di mini market biasa saja.” Kembali Thea bersuara dan itu membuat Alvan menoleh menatapnya.“Kenapa tidak di area studio saja? Di sana kejauhan.”Thea menggeleng. “Enggak. Hari ini banyak yang kuliah di sana. Aku takut mereka melihat kita.”Alvan langsung terdiam, tidak berkomentar dan tampak fokus menatap lalu lintas di depan. Thea memperhatikan reaksinya. Perlahan ia sentuh tangan Alvan dan tak ayal membuat Alvan melihat ke arahnya.“Kamu kenapa? Marah?”Alvan mendengkus kemudian menggeleng.“Enggak. Aku capek saja terus sembunyi kayak gini. Suatu saat, aku juga pengen nunjukin kamu ke semua orang kalau kamu istriku.”Thea mengulum senyum sambil menatap Alvan deng
Beberapa hari kemudian …“Ini Rendy, Bi. Dia pengacara yang akan membantu Ina menjalani sidang,” ucap Thea.Bi Mira hanya tersenyum sambil menatap pria berpenampilan rapi yang berdiri di sebelah Thea. Kemudian pandangan Bi Mira teralihkan ke Alvan yang berdiri dekat di sisi lain Thea.“Dia siapa? Pacarmu?” tanya Bi Mira.Thea yakin Ina sudah bicara banyak soal Alvan ke ibunya. Wajar jika wanita paruh baya ini sangat penasaran dengan Alvan. Bahkan sejak pertama kali datang tadi, Bi Mira beberapa kali mencuri pandang ke suami ganteng Thea ini.Thea mengulum senyum kemudian mengangguk. Dalam hal ini, ia belum berani mengatakan siapa sebenarnya Alvan. Ia tidak mau mengambil resiko terlalu besar.“Iya. Namanya Alvan.”“Oh … dosen itu, ya?”Bi Mira langsung berkomentar. Tepat tebakan Thea, Ina pasti sudah bercerita banyak tentang Alvan.“Iya, saya memang dosen. Apa ada yang salah?” Alvan langsung menyahut dengan suara dingin dan tatapan yang sinis.Bi Mira langsung terdiam, mengatupkan rapa
“Bibi tahu siapa orang tua kandung saya?” tanya Thea. Ia sangat terkejut saat Bi Mira berkata seperti itu. Selama ini ternyata keluarganya telah menyembunyikan rahasia ini darinya. Terdengar hening sejenak di seberang sana. Hanya helaan napas yang berulang kali didengar Thea. “Iya, Bibi tahu.” Thea membisu lagi dan tak mampu bersuara. Ia masih terkejut dengan pernyataan bibinya tadi. Padahal Thea berharap surat yang ditulis Bu Aminah itu palsu. Thea berharap ia anak kandung Bu Aminah, tapi nyatanya … “Kamu bantu kami dulu, baru aku akan bantu mempertemukanmu dengan orang tua kandungmu. Bagaimana?” Belum ada jawaban dari Thea. Ia tidak tahu harus membantu dalam bentuk apa. Namun, kalau dari arah pembicaraan mereka tadi. Thea berasumsi, Bi Mira sedang kesulitan financial. Kalau harus membantu dalam hal itu, Thea juga kebingungan. Meski ia sudah bekerja sebagai asisten dosen, tapi tetap saja gajinya tidak akan cukup untuk menyewa pengacara. Bisa jadi Ina yang memberitahu ayah dan
“Aku tidak suka kamu dekat dengan wanita lain,” imbuh Thea.Alvan langsung tersenyum sambil menatap Thea dengan lembut. Biasanya wanita cantik ini tidak pernah mau mengakui cemburu. Kenapa kini tiba-tiba dengan spontan ia bersuara seperti itu?“Kenapa malah senyum-senyum? Aku serius. Aku gak suka kamu dekat dengan wanita lain.”Alvan menggeser tubuhnya kemudian memeluk Thea dan mendaratkan beberapa kecupan di pipinya.“Aku pikir kamu bakal menyangkal lagi kalau cemburu, ternyata tidak.”Thea melirik Alvan sekilas sambil memajukan bibirnya beberapa senti ke depan.“Kamu sudah berterus terang soal perasaanmu. Jadi, apa salahnya jika aku melakukan hal yang sama.”“Mulai saat ini, aku gak akan bohong soal perasaanku padamu. Kuharap kamu juga melakukan hal yang sama.”Alvan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kembali kecupan singgah di kening dan pipi Thea.“Iya, Sayang. Aku janji.”“Lalu … soal Evelyn tadi. Tidak semuanya benar. Aku dan dia memang satu SMA. Dia teman SMA-ku, tapi kita g







