Share

Bab 2

Author: Liam
Setelah mendapatkan persetujuannya, aku memanjat tempat tidur dengan penuh semangat dan berlutut di belakangnya.

Aku ingin menyentuhnya, tetapi rasa gugup tiba-tiba menyergap tanpa bisa kukendalikan.

Tante melihat kegugupanku. Dia terkekeh kecil lalu membalikkan tubuh, membuka kedua kakinya lebar-lebar untuk membimbingku.

Tepat pada saat itu, terdengar suara pintu depan yang dibuka.

Aku dan tante sama-sama terperanjat, jantung kami berdegup kencang. Selain kami berdua, siapa lagi yang punya kunci rumah ini?

Aku dan tante saling berpandangan, sadar bahwa situasi gawat.

Selain kami, hanya om yang punya kunci untuk masuk ke sini.

Otakku berpikir cepat mencari alasan, tetapi dengan tubuh bagian bawah yang telanjang bulat, kebohongan sebaik apa pun tidak akan ada gunanya.

Suara langkah kaki terdengar makin dekat, sepertinya sedang menuju ke lantai atas.

Aku pun panik mencari tempat persembunyian, sementara Tante dengan tenang menggenggam tanganku dan berbisik pelan, "Jangan panik, Om kamu kalau pulang biasanya bakal ganti baju dulu."

"Terus aku harus sembunyi di mana?" tanyaku.

Langkah kaki itu sudah sangat dekat, tante cepat-cepat menunjuk ke arah balkon kecil di dalam kamar.

Aku seketika paham. Tanpa memedulikan rasa malu, aku menarik pintu kaca balkon dan bergegas menyelinap masuk ke sana.

Tante mematikan lampu, seketika ruangan pun menjadi gelap gulita.

Aku meringkuk di balkon sambil menahan napas.

Saat itu juga, pintu kamar terbuka, secercah cahaya masuk dari celah pintu. Aku mengintip dengan hati-hati dan melihat sebuah bayangan menyelinap masuk ke kamar, berjalan menuju tempat tidur.

Tante yang berada di atas kasur berpura-pura tidur pulas, sementara sosok itu dengan mahir menanggalkan pakaiannya dan berbaring di samping tante.

Di tengah kegelapan, aku hanya bisa melihat siluet mereka berdua. Tapi, suara napas tante yang perlahan makin berat terdengar sangat jelas di telingaku.

Erangan menggoda tante bergema di dalam ruangan, membuat hatiku terasa gatal dan tidak bisa menahan diri untuk menggerutu dalam hati.

Seharusnya inilah saatnya aku menikmati gairah itu, tetapi om malah menyerobotnya lebih dulu.

Dia pasti sengaja, kenapa harus pulang di saat seperti ini dan mengacaukan momenku dengan tante ....

Aku menarik pandanganku kembali dengan perasaan kesal, mengutuk om di dalam hati. Namun, di saat yang sama tidak bisa menahan rasa penasaran untuk mengamati tindakan mereka.

Dua orang yang hampir bercerai masih bisa seintim itu, benar-benar tidak masuk akal bagiku.

Waktu berlalu menit demi menit, kemesraan mereka tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Aku menunggu dengan cemas di balkon, berniat menyelinap kembali ke kamar setelah mereka selesai. Tapi, karena terlalu lama menunggu, aku malah ketiduran di sana.

Begitu membuka mata keesokan harinya, aku segera melihat ke arah kamar dan mendapati om sudah tidak ada di tempat. Di sana Tante yang sedang merapikan pakaian di depan cermin.

Aku membuka pintu balkon dan masuk ke dalam kamar.

Tante terkejut dengan kemunculanku yang tiba-tiba, lalu dia teringat akan kejadian semalam.

Aku melangkah maju dan memeluk Tante, berniat melanjutkan keromantisan yang tertunda semalam tapi dia mendorongku.

Dia berkata dengan suara pelan, "Tante harus dinas ke Eropa, tunggu Tante pulang aja ya baru kita bahas lagi."

Aku tahu setiap kali tante pergi dinas pasti memakan waktu beberapa hari. Meskipun merasa agak berat hati, aku sadar itu adalah tuntutan pekerjaannya.

Lagi pula, aku sudah berhasil memikat hati Tante. Sekarang aku hanya perlu bersabar menunggu waktu yang tepat.

Tante menarik koper miliknya, lalu pergi setelah berpamitan denganku.

Tidak lama setelah dia pergi, om datang kembali ke rumah.

Hatiku tiba-tiba didera rasa bersalah, aku berkata dengan suara rendah, "Tante barusan banget berangkat, Om."

Om hanya mengangguk tanpa banyak bicara.

Dia menduga aku mungkin menyadari sesuatu, tetapi dia tidak bertanya lebih lanjut. Hanya saja, sorot matanya mengkhianati emosinya yang tampak rumit.

Om berjalan perlahan menuju lemari buku, seolah-olah sedang mencari sesuatu.

Aku mendekatinya karena penasaran, ingin tahu apa yang sedang dia lakukan.

"Om lagi cari apa? Ada barang yang ketinggalan semalam ya? Biar aku bantu cari, Om!" tanyaku penuh perhatian.

Namun, reaksi om benar-benar membuatku tidak siap.

Dia tiba-tiba menghentikan gerakannya lalu berkata, "Semalam? Om semalam nggak pulang kok."

Jantungku seketika mencelos, rasa tidak tenang mulai merayapi benakku.

Semalam aku jelas-jelas melihat sosoknya pulang, kenapa sekarang dia bilang tidak pulang? Apa aku yang salah lihat?

"Terus ... terus semalam siapa yang sama Tante di ... di tempat tidur?" tanyaku terbata-bata dengan hati penuh tanda tanya.

Ekspresi wajahnya berubah serius, dia balik bertanya, "Tempat tidur? Semalam ada orang yang datang ke rumah?"

Aku refleks menelan ludah, perasaanku sangat gelisah.

"Nggak ... nggak ada kok. Semalam ... semalam aku tidurnya setengah sadar gitu, kayaknya dengar suara berisik, aku pikir itu Om yang baru pulang."

Kilatan emosi yang sulit dijelaskan muncul di mata om. Dia menghela napas panjang, lalu berbalik dan melanjutkan kegiatannya menggeledah lemari buku.

Sebuah firasat buruk muncul di hatiku, berbagai spekulasi mulai bermunculan di otakku.

"Apa jangan-jangan tante ... selingkuh?" pikirku.

Mengingat betapa terbukanya dia saat mengobrol denganku semalam, sekarang semuanya terasa sangat tidak wajar.

Hubungan dia dan om memang tidak harmonis, tapi apa benar tante punya laki-laki lain di luar sana?

Aku ragu apakah harus memberi tahu Om tentang hal ini.

Jika mereka benar-benar bercerai, kepemilikan rumah ini mungkin akan menjadi masalah.

Aku berharap Om yang pergi atas kemauannya sendiri, supaya aku bisa terus tinggal bersama tante.

Hal yang membuatku terkejut adalah, kali ini Tante pulang hanya dalam waktu dua hari. Ini jauh lebih cepat dari perkiraan semula.

Begitu masuk ke rumah, dia berkata kepadaku dengan wajah penuh senyum, "Larry, Tante bawa kejutan buat kamu!"

Aku mengikutinya ke ruang tamu dengan rasa ingin tahu. Di sana, seorang wanita cantik sudah berdiri menunggu.

Dia mengenakan jas putih dokter, rambutnya yang sebahu tampak rapi dan bersih. Fitur wajahnya yang menawan dipadukan dengan mata yang cerah, terlebih lagi kaki jenjangnya yang dibalut stoking warna kulit, membuat jantungku berdegup kencang.

"Rena, ini Lerry yang pernah aku ceritakan, keponakannya Robi." Tante memperkenalkan kami.

Rena, nama itu terngiang di kepalaku.

Dia membetulkan letak kacamata bingkai hitamnya, matanya menatapku, lalu perlahan turun dan berhenti tepat di selangkanganku.

"Hmm ...." Dia tampak merenung, lalu berucap, "Buka celananya, saya mau lihat."

Aku tersentak mendengar ucapannya, lalu menoleh ke arah tante dengan wajah bingung.

"Tante, ini maksudnya apa?"

Tante menjelaskan sambil tersenyum, "Rena ini lulusan doktor medis luar negeri, dia punya banyak penelitian soal andrologi. Tante sudah cerita soal kondisi kamu, terus dia mau lihat langsung, siapa tahu bisa bantu pengobatan kamu."

Aku merasa agak konyol, tidak menyangka tante menceritakan masalah privasiku kepada orang lain.

Tapi dipikir-pikir lagi, dia melakukan ini demi kebaikanku. Apalagi Dokter Rena ini sangat cantik, jadi aku tidak terlalu keberatan.

Di bawah tatapan mereka berdua, aku melepas celanaku dengan canggung.

Pandangan Rena tertuju pada area pribadiku, raut wajahnya tampak terkejut.

Dia membetulkan kacamatanya sekali lagi, lalu mendekat untuk mengamati dengan teliti, seolah-olah baru saja menemukan barang langka.

"Astaga! Ukuran ini benar-benar langka!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jebakan Manis Stoking Tante   Bab 5

    Rena dan om sepertinya sudah merencanakan ini sejak awal. Apa jangan-jangan mereka berdua bekerja sama menyusun jebakan ini?"Bajingan ini berutang padaku, dia cuma tukang onar," ujar Rena sambil menggertakkan gigi karena geram. "Dia punya utang besar ke aku, bahkan sempat nyoba lecehin aku. Dia pantas mati!"Aku menatap pria paruh baya yang tergeletak di lantai itu. Wajahnya memang terasa agak familier, sepertinya dia adalah suami tidak tahu diri yang pernah Rena ceritakan sebelumnya. Amarah pun mulai menyulut hatiku. Ternyata aku terseret ke dalam dendam pribadi mereka dan hanya dijadikan bidak dalam rencana balas dendam ini.Atas pengaturan tante, aku akhirnya bertemu dengan Rena.Dia tidak hanya mengambil sampel spermaku secara langsung, juga membocorkan sebuah rahasia yang mengejutkan.Rena memberi tahu aku bahwa selama ini tante terus membohongiku. Tujuan aslinya adalah menjual organ milikku demi keuntungan pribadi.Namun, dia tidak mengungkapkan siapa pembelinya.Hatiku penuh de

  • Jebakan Manis Stoking Tante   Bab 4

    Di tengah lamunanku, tante tiba-tiba bersuara memecah keheningan, "Tapi, itu semua urusan orang dewasa, kamu nggak perlu terlalu khawatir. Fokus aja sama hidup dan kuliahmu. Oh iya, gimana hubunganmu sama teman-teman sekelas belakangan ini?"Perkataan Tante menarikku kembali ke realitas, aku pun tersenyum tipis. "Cukup baik, kami semua rukun kok. Baru-baru ini kelas kami adain darmawisata, seru banget."Senyum lega terpancar di wajah tante. "Baguslah kalau begitu, anak muda memang harus banyak jalan-jalan biar wawasannya luas."Begitulah, kami berjalan pulang sambil terus mengobrol.Hatiku sebenarnya masih dipenuhi rasa penasaran soal hubungan om dan tante, tapi aku paham bahwa ada beberapa masalah yang memang butuh waktu untuk diselesaikan.Sesampainya di rumah, aku memperhatikan tante masih mengenakan seragam pramugarinya dan terlihat agak kurang nyaman.Dia masuk ke dalam kamar dan mulai mengganti pakaian.Karena penasaran, aku mengikutinya masuk. Aku melihat kedua kakinya yang jenj

  • Jebakan Manis Stoking Tante   Bab 3

    Rena berdecak kagum. Dia merasa istilah makro-orkidisme pun bahkan tidak cukup untuk menggambarkan ukurannya.Dia mengenakan sarung tangan medis, menyentuh dan meremasnya perlahan, lalu mendongak menatapku sambil bertanya, "Sakit nggak?"Aku menunduk menatap wajah cantik Rena, sentuhannya mau tidak mau memicu reaksi normal sebagai seorang pria. Wajahku memerah karena malu saat menjawab, "Nggak ... nggak sakit."Rena mengangguk, tatapannya terfokus pada bagian bawah tubuhku yang mulai menegang."Biasanya volume ejakulasi pasien makro-orkidisme beberapa kali lipat lebih banyak dari orang normal, kondisimu juga pasti nggak terkecuali."Aku merasa agak bingung, tidak tahu apa yang ingin dia lakukan.Dia mengeluarkan sebuah tabung sampel, menyerahkannya kepadaku, dan berkata, "Kamu ambil sampel sperma kamu dulu, kita perlu lakuin pemeriksaan awal."Aku menerima tabung itu dengan ragu dan malu.Tidak pernah terpikir olehku akan merasa terganggu karena masalah ini, apalagi tidak menyangka aka

  • Jebakan Manis Stoking Tante   Bab 2

    Setelah mendapatkan persetujuannya, aku memanjat tempat tidur dengan penuh semangat dan berlutut di belakangnya.Aku ingin menyentuhnya, tetapi rasa gugup tiba-tiba menyergap tanpa bisa kukendalikan.Tante melihat kegugupanku. Dia terkekeh kecil lalu membalikkan tubuh, membuka kedua kakinya lebar-lebar untuk membimbingku.Tepat pada saat itu, terdengar suara pintu depan yang dibuka.Aku dan tante sama-sama terperanjat, jantung kami berdegup kencang. Selain kami berdua, siapa lagi yang punya kunci rumah ini?Aku dan tante saling berpandangan, sadar bahwa situasi gawat.Selain kami, hanya om yang punya kunci untuk masuk ke sini.Otakku berpikir cepat mencari alasan, tetapi dengan tubuh bagian bawah yang telanjang bulat, kebohongan sebaik apa pun tidak akan ada gunanya.Suara langkah kaki terdengar makin dekat, sepertinya sedang menuju ke lantai atas.Aku pun panik mencari tempat persembunyian, sementara Tante dengan tenang menggenggam tanganku dan berbisik pelan, "Jangan panik, Om kamu k

  • Jebakan Manis Stoking Tante   Bab 1

    "Lerry, Tante hampir rusak kalau kamu mainnya begini ...." Tante menggodaku sambil mengenakan kaus kaki jaring favoritku. Aku tidak tahan lagi, lalu mengangkat tubuh tante dan tenggelam dalam kegilaan.Namaku Lerry, usiaku 23 tahun, dan aku seorang mahasiswa.Aku mengidap penyakit aneh yang disebut makro-orkidisme. Rasanya seperti ada dua buah granat tangan yang menggantung di selangkanganku. Seiring bertambahnya usia, aku pun merasa makin jantan.Omku biasanya sangat sibuk bekerja, sedangkan tanteku seorang pramugari yang sering bepergian mengikuti jadwal penerbangan. Lama-kelamaan, hubungan mereka pun mulai retak ....Hari itu, seperti biasa, aku di rumah menunggu tante pulang kerja.Kondisiku agak khusus. Karena keadaan di bagian bawah tubuhku itu, aku tidak bisa sering-sering memakai celana dalam.Terdengar ketukan pelan di pintu. Aku bergegas membukanya, lalu aroma parfum serta alkohol langsung menusuk hidung.Aku melihat tante berdiri dengan tubuh yang terhuyung-huyung. Rok span

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status