Share

Jebakan Manis Stoking Tante
Jebakan Manis Stoking Tante
Author: Liam

Bab 1

Author: Liam
"Lerry, Tante hampir rusak kalau kamu mainnya begini ...." Tante menggodaku sambil mengenakan kaus kaki jaring favoritku. Aku tidak tahan lagi, lalu mengangkat tubuh tante dan tenggelam dalam kegilaan.

Namaku Lerry, usiaku 23 tahun, dan aku seorang mahasiswa.

Aku mengidap penyakit aneh yang disebut makro-orkidisme. Rasanya seperti ada dua buah granat tangan yang menggantung di selangkanganku. Seiring bertambahnya usia, aku pun merasa makin jantan.

Omku biasanya sangat sibuk bekerja, sedangkan tanteku seorang pramugari yang sering bepergian mengikuti jadwal penerbangan. Lama-kelamaan, hubungan mereka pun mulai retak ....

Hari itu, seperti biasa, aku di rumah menunggu tante pulang kerja.

Kondisiku agak khusus. Karena keadaan di bagian bawah tubuhku itu, aku tidak bisa sering-sering memakai celana dalam.

Terdengar ketukan pelan di pintu. Aku bergegas membukanya, lalu aroma parfum serta alkohol langsung menusuk hidung.

Aku melihat tante berdiri dengan tubuh yang terhuyung-huyung. Rok span hitam yang dia kenakan mencetak jelas lekuk tubuhnya yang molek.

"Lerry, kamu belum tidur?" Suara Tante terdengar agak tidak jelas, wajahnya tampak merona merah.

Dia sepertinya tidak sadar kalau aku lupa memakai celana dalam dan membiarkan bagian bawah tubuhku terekspos.

"Tante, Tante mabuk. Sini aku bantuin papah."

Aku meletakkan tanganku di bawah ketiak tante dengan hati-hati, merasakan kelembutan tubuhnya.

Tanpa sengaja, tanganku menyentuh sepasang aset di dadanya yang montok. Jantungku berdegup kencang seolah tersengat listrik. Sebuah sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya merayapi hati.

"Makasih ya, Lerry. Tante kayaknya minum terlalu banyak sampai nggak bisa nemuin kunci."

Nada bicara Tante sangat lembut dengan rona merah di pipinya.

"Nggak apa-apa, Tante. Biar aku bantu."

Dalam hati aku merasa sangat bersemangat, ini adalah kesempatan emas.

Begitu sampai di kamar tante, aku merebahkannya di tempat tidur dengan perlahan, lalu berbalik untuk mengambilkan air hangat dengan harapan tante bisa merasa sedikit lebih baik.

Saat aku berbalik membawa air hangat, aku melihat tante sedang menatap bagian bawah tubuhku dengan tatapan penuh keterkejutan.

"Tante, aku ... aku bisa jelasin ...." Aku merasa sangat malu, wajahku terasa panas membara.

Tante tersenyum tipis, sorot matanya menunjukkan sedikit keliaran.

"Lerry, kamu nggak perlu jelasin apa-apa. Tante ngerti banget kondisi kamu. Anggap aja tempat ini rumahmu sendiri, jangan sungkan."

Jantungku berdegup makin kencang. Aku tidak menyangka tante bisa berpikiran seterbuka ini.

Menatap sorot mata Tante, aku memutuskan untuk benar-benar memanfaatkan kesempatan ini guna memuaskan hasratku pada lawan jenis.

Melihat Tante begitu pengertian, aku merasa lega dan mulai menceritakan keluhan yang aku alami.

Aku menjelaskan bahwa aku menderita makro-orkidisme bawaan. Selain kadar hormon pria yang lebih tinggi, semuanya sama seperti orang normal lainnya.

Aku mencoba memancing reaksinya dengan hati-hati. "Kira-kira cewek bakal merasa risih nggak ya karena hal ini?"

Tante tersenyum tipis, sudut bibirnya terangkat saat berkata, "Tante nggak tahu gimana pikiran cewek lain, tapi Tante bisa bilang kalau Tante suka cowok yang kekar dan perkasa."

Aku tidak yakin dia serius atau hanya asal bicara karena mabuk, jadi aku berniat kembali ke kamarku saja.

Tante malah menahan tanganku. Dia bilang karena sedang pengaruh alkohol, dia belum mau tidur dan ingin mengobrol denganku.

Aku duduk di sampingnya.

Malam ini tante tampak sangat rileks, topik pembicaraannya pun menjadi sangat terbuka.

Dia mulai membahas teknik berciuman, cara mencumbu, hingga topik yang lebih intim lainnya ....

Dia bahkan menanyakan pendapatku tentang hubungan terlarang, serta bagaimana cara melepaskan hasrat primitif dan hal-hal semacam itu.

Aku merasa, mungkin karena pernikahannya dengan om sedang mengalami krisis, makanya dia ingin mencari seseorang untuk mencurahkan isi hatinya.

Di tengah obrolan, Tante sesekali melakukan gerakan menggoda, bahkan menyingkap rok span hitamnya untuk memamerkan kakinya yang jenjang dan indah.

Aku tidak mampu memalingkan muka, tatapanku terus tertuju pada kaki indahnya yang terbalut stoking.

Tante sepertinya menyadari perhatianku, lalu tiba-tiba bertanya, "Menurut kamu, bagian mana dari diri Tante yang paling cantik?"

Aku ragu sejenak, lalu menunjuk ke arah kakinya yang indah dan berkata, "Di sini."

Tante berdiri lalu berputar sekali di depanku. Dia mengangkat pinggiran roknya perlahan, sama sekali tidak menutupi celana dalam thong yang terlihat.

Thong hitam kecil itu mencetak lekuk tubuh yang menggoda membuatku terpana.

"Kamu lebih suka kaki yang pakai stoking, atau yang nggak pakai?" tanya tante.

Aku sudah terpesona oleh keindahan kaki di depanku, hanya bisa menjawab dengan kaku, "Du ... dua ... dua-duanya aku suka."

Seolah bisa membaca pikiranku, dia mengangkat satu kaki dan menyandarkannya di pinggir tempat tidur, membiarkan rok spannya tergulung ke atas.

Dia melepas sabuk pengikat stoking dengan mahir, lalu perlahan melepas stoking itu mulai dari paha, betis, hingga ke pergelangan kaki, memamerkan jari-jari kakinya yang putih bersih.

Aku tidak bisa menahan diri untuk menelan ludah, pemandangan seperti ini hanya pernah aku lihat di film.

Tante meremas stoking yang sudah dilepas itu di tangannya, lalu membentangkannya dan melemparkannya begitu saja ke sela-sela pahaku.

Belum sempat aku sadar dari keterkejutanku, stoking satunya lagi mendarat di wajahku, membawa sisa hangat tubuhnya dan aroma wangi yang lembut.

Tante menatapku dengan pandangan sayu, lalu bertanya pelan, "Kamu suka stoking yang Tante pakai?"

Tante bertanya dengan lembut dan sorot mata yang menggoda.

Aku menjawab dengan terbata-bata, benar-benar terpikat olehnya hingga sempat tertegun.

Aku berusaha keras untuk mengutarakan apa yang aku pikirkan, tapi aku hanya bisa terus menatap sepasang kaki indahnya itu.

Tante sepertinya paham isi kepalaku, dia membuka lemari pakaian yang berisi berbagai macam stoking beraneka warna yang membuat mataku silau.

"Kamu suka kaki indah Tante kalau pakai stoking, 'kan?"

Tante berbaring miring di tempat tidur, berpose ala Marilyn Monroe yang ikonik.

Dia menekuk satu kakinya sedikit, memperlihatkan jari kaki yang putih mulus, lalu mulai menarik stoking ke atas secara perlahan. Tatapan matanya yang menggoda membuat api di dalam hatiku makin membara. Saat itu, aku merasa hampir hilang kendali.

"Tante, boleh nggak aku lihat Tante langsung pakai stoking tanpa pakai celana dalam?" Aku memberanikan diri mengajukan permintaan yang lancang.

Tangan tante terhenti di lekukan kakinya. Dengan wajah memerah dan tatapan mata sayu menatapku, seolah sedang memikirkan sesuatu.

"Ya sudah, bocah nakal, Tante turuti kemauanmu. Tapi kamu harus balik badan ya, jangan mengintip."

Dia mengatakannya dengan lembut, wajahnya tampak tersipu malu.

Aku mengangguk penuh semangat, lalu memalingkan kepala ke samping.

Tidak lama kemudian, aku merasakan selembar kain lembut mendarat di kepalaku. Itu adalah celana dalam thong milik tante.

Aku mengambilnya dengan hati-hati, menghirup aroma yang tertinggal di sana dengan rakus. Itu adalah aroma dari area pribadi Tante, yang membuatku merasa sangat bergairah.

Saat aku berbalik, tante sudah tengkurap di tempat tidur membelakangiku dengan bokong yang menungging tinggi, menunjukkan lekuk tubuh yang sempurna.

Dengan suara gemetar, aku hampir tidak bisa lagi menahan hasratku, "Tante, aku mau sekarang, Tante mau nggak?" Tante menjawab dengan wajah memerah, "Kalau mau, ambil saja sendiri," katanya dengan nada nakal.

Aku buru-buru menjawab, "Yang aku mau itu Tante!"

Tante menggigit bibir bawahnya perlahan, matanya penuh dengan pesona, "Ya sudah, 'kan Tante sudah bilang, kalau mau ya ambil aja sendiri."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jebakan Manis Stoking Tante   Bab 5

    Rena dan om sepertinya sudah merencanakan ini sejak awal. Apa jangan-jangan mereka berdua bekerja sama menyusun jebakan ini?"Bajingan ini berutang padaku, dia cuma tukang onar," ujar Rena sambil menggertakkan gigi karena geram. "Dia punya utang besar ke aku, bahkan sempat nyoba lecehin aku. Dia pantas mati!"Aku menatap pria paruh baya yang tergeletak di lantai itu. Wajahnya memang terasa agak familier, sepertinya dia adalah suami tidak tahu diri yang pernah Rena ceritakan sebelumnya. Amarah pun mulai menyulut hatiku. Ternyata aku terseret ke dalam dendam pribadi mereka dan hanya dijadikan bidak dalam rencana balas dendam ini.Atas pengaturan tante, aku akhirnya bertemu dengan Rena.Dia tidak hanya mengambil sampel spermaku secara langsung, juga membocorkan sebuah rahasia yang mengejutkan.Rena memberi tahu aku bahwa selama ini tante terus membohongiku. Tujuan aslinya adalah menjual organ milikku demi keuntungan pribadi.Namun, dia tidak mengungkapkan siapa pembelinya.Hatiku penuh de

  • Jebakan Manis Stoking Tante   Bab 4

    Di tengah lamunanku, tante tiba-tiba bersuara memecah keheningan, "Tapi, itu semua urusan orang dewasa, kamu nggak perlu terlalu khawatir. Fokus aja sama hidup dan kuliahmu. Oh iya, gimana hubunganmu sama teman-teman sekelas belakangan ini?"Perkataan Tante menarikku kembali ke realitas, aku pun tersenyum tipis. "Cukup baik, kami semua rukun kok. Baru-baru ini kelas kami adain darmawisata, seru banget."Senyum lega terpancar di wajah tante. "Baguslah kalau begitu, anak muda memang harus banyak jalan-jalan biar wawasannya luas."Begitulah, kami berjalan pulang sambil terus mengobrol.Hatiku sebenarnya masih dipenuhi rasa penasaran soal hubungan om dan tante, tapi aku paham bahwa ada beberapa masalah yang memang butuh waktu untuk diselesaikan.Sesampainya di rumah, aku memperhatikan tante masih mengenakan seragam pramugarinya dan terlihat agak kurang nyaman.Dia masuk ke dalam kamar dan mulai mengganti pakaian.Karena penasaran, aku mengikutinya masuk. Aku melihat kedua kakinya yang jenj

  • Jebakan Manis Stoking Tante   Bab 3

    Rena berdecak kagum. Dia merasa istilah makro-orkidisme pun bahkan tidak cukup untuk menggambarkan ukurannya.Dia mengenakan sarung tangan medis, menyentuh dan meremasnya perlahan, lalu mendongak menatapku sambil bertanya, "Sakit nggak?"Aku menunduk menatap wajah cantik Rena, sentuhannya mau tidak mau memicu reaksi normal sebagai seorang pria. Wajahku memerah karena malu saat menjawab, "Nggak ... nggak sakit."Rena mengangguk, tatapannya terfokus pada bagian bawah tubuhku yang mulai menegang."Biasanya volume ejakulasi pasien makro-orkidisme beberapa kali lipat lebih banyak dari orang normal, kondisimu juga pasti nggak terkecuali."Aku merasa agak bingung, tidak tahu apa yang ingin dia lakukan.Dia mengeluarkan sebuah tabung sampel, menyerahkannya kepadaku, dan berkata, "Kamu ambil sampel sperma kamu dulu, kita perlu lakuin pemeriksaan awal."Aku menerima tabung itu dengan ragu dan malu.Tidak pernah terpikir olehku akan merasa terganggu karena masalah ini, apalagi tidak menyangka aka

  • Jebakan Manis Stoking Tante   Bab 2

    Setelah mendapatkan persetujuannya, aku memanjat tempat tidur dengan penuh semangat dan berlutut di belakangnya.Aku ingin menyentuhnya, tetapi rasa gugup tiba-tiba menyergap tanpa bisa kukendalikan.Tante melihat kegugupanku. Dia terkekeh kecil lalu membalikkan tubuh, membuka kedua kakinya lebar-lebar untuk membimbingku.Tepat pada saat itu, terdengar suara pintu depan yang dibuka.Aku dan tante sama-sama terperanjat, jantung kami berdegup kencang. Selain kami berdua, siapa lagi yang punya kunci rumah ini?Aku dan tante saling berpandangan, sadar bahwa situasi gawat.Selain kami, hanya om yang punya kunci untuk masuk ke sini.Otakku berpikir cepat mencari alasan, tetapi dengan tubuh bagian bawah yang telanjang bulat, kebohongan sebaik apa pun tidak akan ada gunanya.Suara langkah kaki terdengar makin dekat, sepertinya sedang menuju ke lantai atas.Aku pun panik mencari tempat persembunyian, sementara Tante dengan tenang menggenggam tanganku dan berbisik pelan, "Jangan panik, Om kamu k

  • Jebakan Manis Stoking Tante   Bab 1

    "Lerry, Tante hampir rusak kalau kamu mainnya begini ...." Tante menggodaku sambil mengenakan kaus kaki jaring favoritku. Aku tidak tahan lagi, lalu mengangkat tubuh tante dan tenggelam dalam kegilaan.Namaku Lerry, usiaku 23 tahun, dan aku seorang mahasiswa.Aku mengidap penyakit aneh yang disebut makro-orkidisme. Rasanya seperti ada dua buah granat tangan yang menggantung di selangkanganku. Seiring bertambahnya usia, aku pun merasa makin jantan.Omku biasanya sangat sibuk bekerja, sedangkan tanteku seorang pramugari yang sering bepergian mengikuti jadwal penerbangan. Lama-kelamaan, hubungan mereka pun mulai retak ....Hari itu, seperti biasa, aku di rumah menunggu tante pulang kerja.Kondisiku agak khusus. Karena keadaan di bagian bawah tubuhku itu, aku tidak bisa sering-sering memakai celana dalam.Terdengar ketukan pelan di pintu. Aku bergegas membukanya, lalu aroma parfum serta alkohol langsung menusuk hidung.Aku melihat tante berdiri dengan tubuh yang terhuyung-huyung. Rok span

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status