Home / Romansa / Jejak Cinta di Pulau Serenova / Bab 13 — Api di Tengah Laut

Share

Bab 13 — Api di Tengah Laut

Author: kim sujin
last update Last Updated: 2025-10-10 11:28:38

Senja kian melabuhkan tirainya. Langit berwarna jingga perlahan berubah menjadi ungu keperakan, sebelum akhirnya tenggelam di balik ufuk laut. Di atas kapal layar yang berlabuh tenang di tengah perairan hijau, aroma daging panggang mulai tercium, bercampur dengan harum mentega cair dan rempah.

Ben berdiri di dapur kapal, mengenakan celemek hitam sederhana. Gerakannya cekatan dan tenang — seolah memasak bukan sekadar keperluan, tapi seni yang ia kuasai sepenuhnya. Pisau di tangannya menari di atas talenan, memotong sayuran dengan presisi sempurna.

Vennesa berdiri di pintu dapur, menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum kagum. “Kamu... pandai masak juga?” tanyanya heran, menatap gerakan tangan Ben yang begitu percaya diri.

Ben melirik sekilas, senyum kecil terbit di bibirnya. “Ya, bisa sedikit. Hanya masakan sederhana.”

“Kalau yang sederhana aja bisa semewah ini, aku nggak bisa bayangin gimana yang rumit,” sahut Vennesa sambil tertawa kecil.

Ben hanya mengangguk pelan, tidak banyak b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 113 — Senyum di Antara Ribuan Tatapan

    Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai apartemen, membangunkan Ben yang masih terbaring di sisi Venesa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membuka mata dengan tenang — tanpa rasa takut, tanpa mimpi buruk. Di sebelahnya, Venesa sudah duduk bersandar sambil mengusap perutnya yang besar dengan lembut. “Bangun, ayah dari dua calon malaikat kecil,” ujarnya manja. Ben tersenyum kecil, meraih tangannya lalu mengecupnya. “Sudah waktunya ke klinik, ya?” Venesa mengangguk. “Kita janji dengan dokter pukul sepuluh.” Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di ruang tunggu klinik bersalin terkenal di pusat kota Valmere. Ben mengenakan kemeja biru muda dan celana panjang hitam — sederhana, tapi cukup membuat beberapa orang di sekitar melirik. Sementara Venesa tampak anggun dengan gaun hamil berwarna pastel. Sambil menunggu nomor giliran, mereka duduk berdekatan. Ben tak berhenti menatap Venesa, seolah ingin mengabadikan setiap detik bersama wanita itu. Di

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 112 – Kebenaran yang Tersingkap

    Beberapa hari setelah operasi penangkapan besar-besaran yang dipimpin oleh Kapten Renz, media seluruh Valmere akhirnya menyiarkan berita yang menggemparkan. “Dua Suspek Sindiket Penipuan Hartanah Pulau Serenova Ditangkap – Kisah Ben Sanders Mengejutkan Negara.” Dalam siaran berita itu, terpampang jelas foto Jesica dan Grayson yang digiring keluar dari bangunan penyiasatan dengan tangan bergari. Lampu kamera berkelip-kelip, mikrofon diarahkan ke wajah mereka yang tertunduk tanpa sepatah kata. Para wartawan bersorak, menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Serenova. Laporan polis menyebutkan, kedua-duanya bukan hanya terlibat dalam penipuan hartanah bernilai jutaan dolar, tetapi juga dalam penyekapan terhadap Benjamin Addam, seorang warga awam yang turut membantu siasatan rahsia di pulau tersebut lima bulan lalu. Rakaman CCTV lama kini menjadi bukti utama: memperlihatkan Ben berlari menyeberangi dermaga malam itu, berusaha menyelamatkan fail penting sebel

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 111 — Operasi Senyap

    Malam itu kota Valmere tenang. Tapi di markas unit khusus di pinggir kota, Kapten Renz menatap layar besar dengan tatapan fokus. Di depan layar itu, peta digital terpampang — menandai titik merah di koordinat selatan, tepat di tepi kawasan gudang lama. “Target sudah berpindah ke lokasi cadangan,” ujar salah satu petugas. Kapten Renz berdiri, menarik napas perlahan. “Pastikan perimeter terkunci. Tak ada jalan keluar.” Beberapa anggota bersenjata ringan segera bergerak. Helikopter tanpa suara berangkat dari atap bangunan, meluncur ke arah laut dengan lampu redup. Jesica dan Grayson tak menyadari apa pun. Mereka sedang duduk di ruang bawah tanah villa mewah milik Grayson — tempat persembunyian yang mereka anggap aman. Di meja, laptop terbuka, menampilkan daftar nama dan beberapa file transaksi. Jesica bersandar di kursi, meneguk wine dengan ekspresi puas. “Ben mungkin sudah kabur,” kata Grayson santai. “Tapi dia takkan sempat jauh. Kita punya koneksi di setiap pelabuhan.” Jesica te

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 110 — Bayangan Lama

    Pagi itu, aroma kopi memenuhi ruang tamu apartemen. Cahaya matahari menembus jendela besar, memantulkan cahaya lembut di dinding. Tapi suasana di dalam ruangan tetap berat.Ben duduk di sofa, mengenakan kemeja bersih pinjaman Vellery. Wajahnya sudah bercukur, namun masih tampak lelah. Di meja, Kapten Renz menatap layar tabletnya — menelusuri data yang tampak rumit. Vennesa meletakkan secangkir kopi di depan Ben, lalu duduk di sampingnya. “Kau tidur sedikit saja,” katanya lembut. “Aku tak bisa,” jawab Ben. “Masih terlalu banyak yang harus kupahami.” Kapten Renz akhirnya menutup tabletnya, lalu menatap keduanya. “Memang banyak hal yang belum kalian tahu. Terutama soal Jesica.” Ben menghela napas pelan. “Apa maksudmu?” Renz menyandarkan punggungnya ke kursi. “Jesica memang orang yang menyiapkan penyekapan itu. Tapi dia tidak bertindak sendiri. Ada seseorang di belakangnya — seseorang yang memberi izin, dana, dan akses.” Vennesa menatapnya bingung. “Siapa?” Renz menatap

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 109 – Dua Detak Dalam Satu Rindu

    Malam di Valmere terasa lebih lembut dari biasanya. Udara dingin yang biasanya menusuk kini seolah jinak, membelai pelan kaca jendela kamar dengan embun tipis. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan, seperti bintang-bintang kecil yang jatuh dan menetap di bumi, memantulkan cahaya ke dinding kamar yang kini kembali berisi dua jiwa yang pernah dipisahkan oleh waktu, jarak, dan ketakutan akan kehilangan.Ben berbaring di samping Vennesa, memeluknya dengan lengan yang terasa lebih kuat dari sebelumnya—seolah pelukan itu adalah sumpah bisu bahwa ia tak akan melepaskan wanita itu lagi. Hangat tubuh Vennesa, aroma kulitnya yang begitu dikenalnya, detak jantungnya yang stabil di bawah telinga Ben, semuanya membuat pria itu merasa benar-benar pulang. Bukan sekadar pulang ke kota atau kamar ini, melainkan pulang ke hidupnya sendiri.Vennesa masih terisak kecil di dadanya. Ia berusaha menahan tangis, menelan sesak di tenggorokan, tapi setiap kali Ben membelai rambutnya dengan lembut, air mata

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 108 — Luka yang Belum Sembuh

    Pelukan itu berlangsung lama. Vennesa memeluk Ben erat-erat, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar nyata di hadapannya. Air matanya menetes deras, membasahi bahu Ben. “Kenapa begitu lama, Ben…” suaranya serak. “Aku hampir gila menunggumu.” Ben mengusap pipinya lembut, bibirnya menempel di kening wanita itu. “Sst… aku sudah di sini, Ven. Aku pulang,” ucapnya pelan. “Jangan menangis lagi, sayang. Aku janji, aku tak akan pergi lagi.” Vennesa terisak. “Kau tahu betapa aku takut kehilanganmu…” Ben menatapnya dalam-dalam. “Aku tahu. Dan aku minta maaf… untuk segalanya.” Beberapa saat kemudian, mereka berpindah ke ruang tamu. Vellery membawa minuman hangat, meletakkannya di meja. Ia duduk di sisi lain, matanya masih sembab menahan haru. Kapten Renz mengambil tempat berseberangan, sikapnya tenang tapi wajahnya menyimpan sesuatu yang serius. “Baik,” ujar Kapten Renz membuka percakapan, suaranya mantap. “Sekarang saatnya kalian tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ben menunduk. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status