Beranda / Romansa / Jejak Cinta di Pulau Serenova / Bab 16 — Cahaya di Wajahmu

Share

Bab 16 — Cahaya di Wajahmu

Penulis: kim sujin
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-10 11:46:24

Pagi itu, cahaya matahari perlahan menembus masuk ke dalam kamar kabin kapal layar. Sinar keemasan menyusup melalui sela tirai yang terbuka sedikit, menimpa wajah Vennesa yang masih terlelap. Ia mengerjap pelan, meringis kecil karena silau. Udara laut yang lembap dan sejuk menyentuh kulitnya lembut, sementara suara riak air terdengar samar di luar sana.

Dengan mata yang mulai terbuka penuh, Vennesa menoleh ke sisi ranjang — dan pandangannya langsung terpaku. Di hadapannya kini, terbentang pemandangan yang membuat jantungnya berdetak pelan namun dalam.

Ben, pria yang semalam menemaninya melewati malam penuh kehangatan, sedang tertidur pulas di sampingnya. Wajahnya begitu tenang. Rahangnya tegas, hidungnya mancung, kulitnya bersih tanpa sehelai pun jambang atau kumis. Benar-benar tampan, seolah ukiran sempurna dari tangan Tuhan.

Vennesa menatapnya tanpa berkedip, seolah takut pemandangan itu akan lenyap jika ia berkedip. Jemarinya terangkat pelan, menyusuri wajah Ben dengan hati-hati
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 116 - Bryan & Brayden

    Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kamar VIP rumah sakit, menandai hari baru bagi keluarga kecil Ben dan Vennesa. Setelah beberapa hari perawatan, Vennesa mulai pulih. Bayi-bayi kembar mereka, Bryan dan Brayden, tidur pulas di sampingnya, masing-masing dibungkus selimut lembut. Ben duduk di kursi samping ranjang, menatap istrinya dan kedua buah hatinya dengan tatapan penuh kasih. Hatinya dipenuhi rasa syukur yang tak terukur. Perawat datang untuk melakukan pemeriksaan rutin dan memberi petunjuk terakhir sebelum mereka diperbolehkan pulang. Vennesa mengikuti semua instruksi dengan tenang, meski sesekali tersenyum lemah saat menatap bayi-bayi mereka. Ben membantu menyiapkan tas perlengkapan bayi, memastikan semua obat, popok, dan pakaian bayi lengkap. Ia bahkan menyeka sedikit air liur bayi yang menetes, tersenyum lebar melihat kedua putranya yang imut dan tampan. Ketika perawat mengatakan semuanya siap, Ben menuntun Vennesa ke kursi roda. Bayi kembar mereka ditempatkan

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 115 - wanita paling tangguh

    Matahari mulai meninggi, menembus jendela kamar VIP rumah sakit dengan sinar hangat yang menenangkan. Ben duduk di sisi ranjang, masih merasa takjub melihat Vennesa yang menyandar dengan lemah namun anggun, memeluk kedua malaikat kecil mereka. Meski wajahnya masih pucat akibat kelelahan melahirkan, kecantikan Vennesa tetap terpancar. Senyum lembutnya menebarkan aura keibuan yang hangat dan menenangkan. Ben tidak bisa menahan rasa kagumnya. Ia mengeluarkan ponsel dan mulai mengambil beberapa foto Vennesa bersama bayi-bayi mereka. Setiap jepretan terasa istimewa, menangkap momen kebahagiaan yang begitu murni. Vennesa menatap Ben dengan mata berbinar, senyumnya menenangkan hati Ben yang selama ini penuh gelisah. Tak lama kemudian, Vennesa dengan hati-hati memuat naik salah satu foto itu ke akun media sosialnya. Foto itu menampilkan Vennesa duduk dengan lembut di ranjang, kedua bayi laki-laki kembar yang menggemaskan di pangkuannya. Seperti biasa, unggahan itu langsung mendapat

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 114 - dua malaikat kecil

    Menjelang tengah malam, Vennesa mulai merasakan sakit kontraksi. Ben yang awalnya duduk di sebelahnya akhirnya tertidur nyenyak, lelah setelah seharian menemani istrinya. Pada mulanya, sakit itu terasa ringan, hanya seperti kram biasa, tapi seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu semakin kerap dan jauh lebih tajam. Napas Vennesa mulai memburu, dan tubuhnya menegang menahan nyeri yang datang bergelombang. “Ben… Ben… bangun!” teriaknya tiba-tiba, membuat Ben terjaga dengan panik. Ia membuka matanya yang masih setengah ngantuk, melihat Vennesa yang menahan sakit di sampingnya. Panik, Ben bangkit dan mulai mondar-mandir, tidak tahu harus berbuat apa. Tangan Ben gemetar, jantungnya berdetak kencang, dan wajahnya pucat. “Tenang, sayang… tarik napas dalam-dalam,” ucap Vennesa berusaha menenangkan. Ia menuntun Ben untuk mengambil tas perlengkapan bayi yang sebelumnya sudah ia siapkan di dekat pintu. Dengan suara yang sedikit tegang tapi tegas, Vennesa menginstruksikan Ben untuk se

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 113 — Senyum di Antara Ribuan Tatapan

    Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai apartemen, membangunkan Ben yang masih terbaring di sisi Venesa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membuka mata dengan tenang — tanpa rasa takut, tanpa mimpi buruk. Di sebelahnya, Venesa sudah duduk bersandar sambil mengusap perutnya yang besar dengan lembut. “Bangun, ayah dari dua calon malaikat kecil,” ujarnya manja. Ben tersenyum kecil, meraih tangannya lalu mengecupnya. “Sudah waktunya ke klinik, ya?” Venesa mengangguk. “Kita janji dengan dokter pukul sepuluh.” Beberapa jam kemudian, mereka sudah berada di ruang tunggu klinik bersalin terkenal di pusat kota Valmere. Ben mengenakan kemeja biru muda dan celana panjang hitam — sederhana, tapi cukup membuat beberapa orang di sekitar melirik. Sementara Venesa tampak anggun dengan gaun hamil berwarna pastel. Sambil menunggu nomor giliran, mereka duduk berdekatan. Ben tak berhenti menatap Venesa, seolah ingin mengabadikan setiap detik bersama wanita itu. Di

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 112 – Kebenaran yang Tersingkap

    Beberapa hari setelah operasi penangkapan besar-besaran yang dipimpin oleh Kapten Renz, media seluruh Valmere akhirnya menyiarkan berita yang menggemparkan. “Dua Suspek Sindiket Penipuan Hartanah Pulau Serenova Ditangkap – Kisah Ben Sanders Mengejutkan Negara.” Dalam siaran berita itu, terpampang jelas foto Jesica dan Grayson yang digiring keluar dari bangunan penyiasatan dengan tangan bergari. Lampu kamera berkelip-kelip, mikrofon diarahkan ke wajah mereka yang tertunduk tanpa sepatah kata. Para wartawan bersorak, menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Serenova. Laporan polis menyebutkan, kedua-duanya bukan hanya terlibat dalam penipuan hartanah bernilai jutaan dolar, tetapi juga dalam penyekapan terhadap Benjamin Addam, seorang warga awam yang turut membantu siasatan rahsia di pulau tersebut lima bulan lalu. Rakaman CCTV lama kini menjadi bukti utama: memperlihatkan Ben berlari menyeberangi dermaga malam itu, berusaha menyelamatkan fail penting sebel

  • Jejak Cinta di Pulau Serenova   Bab 111 — Operasi Senyap

    Malam itu kota Valmere tenang. Tapi di markas unit khusus di pinggir kota, Kapten Renz menatap layar besar dengan tatapan fokus. Di depan layar itu, peta digital terpampang — menandai titik merah di koordinat selatan, tepat di tepi kawasan gudang lama. “Target sudah berpindah ke lokasi cadangan,” ujar salah satu petugas. Kapten Renz berdiri, menarik napas perlahan. “Pastikan perimeter terkunci. Tak ada jalan keluar.” Beberapa anggota bersenjata ringan segera bergerak. Helikopter tanpa suara berangkat dari atap bangunan, meluncur ke arah laut dengan lampu redup. Jesica dan Grayson tak menyadari apa pun. Mereka sedang duduk di ruang bawah tanah villa mewah milik Grayson — tempat persembunyian yang mereka anggap aman. Di meja, laptop terbuka, menampilkan daftar nama dan beberapa file transaksi. Jesica bersandar di kursi, meneguk wine dengan ekspresi puas. “Ben mungkin sudah kabur,” kata Grayson santai. “Tapi dia takkan sempat jauh. Kita punya koneksi di setiap pelabuhan.” Jesica te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status