Share

Bab 4

Author: Nilamwangi
last update Last Updated: 2025-10-04 09:32:10

Dengan terburu-buru, Laras segera memakai pakaiannya sebelum Sofian kembali masuk kekamar dan melihat tubuhnya, meskipun mereka sudah sah menjadi suami istri tapi Laras merasa sangat malu, karena itu adalah pertama kali tubuhnya dilihat oleh laki-laki.

Tidak lama kemudian, Sofian kembali masuk kekamar tersebut dan menatap Laras dengan sorot mata tajam.

Didekatinya Laras yang masih memegang handuk ditangannya.

"Apa maksudmu berpenampilan seperti itu tadi, apa kamu sengaja ingin menggodaku?" tanya Sofian dengan nada tidak suka.

Laras pun menggelengkan kepalanya.

"Tidak Mas! Aku tidak bermaksud seperti itu! Bukannya Mas sendiri yang masuk kekamar ini tiba-tiba saat aku berada dikamar mandi! Jadi aku sama sekali tidak tau kalau Mas sudah berdiri didepan pintu kamar mandi saat aku keluar!" Laras membela diri.

Mendengar jawaban Laras, Sofian mengeraskan rahangnya.

"Jadi maksud kamu, kamu menuduhku masuk sembarangan dan ingin melihatmu yang belum berpakaian seperti tadi?" Kata Sofian dengan wajah masam.

"Kamu fikir, aku tergoda denganmu sehingga berniat melihat tubuh polosmu. Iya kan? Kamu jangan bermimpi!" ujarnya lagi dengan nada ketus.

"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menginginkan tubuhmu meskipun kamu bert*lanj*ng bulat dihadapanku! Yang ada, aku malah jijik melihat penampilanmu seperti tadi!" Sofian melanjutkan kata-katanya, laki-laki itu berniat melukai perasaan wanita cantik yang berada dihadapannya saat ini.

Dan perkataannya itu sukses membuat Laras tertunduk malu.

"Maaf Mas! Tapi aku benar-benar tidak bermaksud menggodamu!" ujar Laras, wanita cantik itu mencoba menahan air matanya yang hampir saja lolos.

Melihat hal itu, Sofian hanya menyunggingkan senyum sinis.

"Sekarang lebih baik kamu keluar dari kamar ini! Karena aku ingin mandi dan berganti pakaian! Aku tidak mau saat aku keluar dalam kondisiku yang tidak berpakaian, malah dilihat oleh orang lain! Apalagi orang itu adalah kamu, seorang wanita yang hanya bergelar istri diatas kertas!" Ucap Sofian.

Laras tersentak kaget mendengar ucapan dari laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.

Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, Laras segera keluar dari kamar itu dengan wajah masih tertunduk.

"Oh iya! Ada satu lagi yang ingin aku katakan padamu!" kata Sofian, membuat langkah Laras terhenti dan ia segera menoleh lalu menatap pada suaminya itu.

"Mulai hari ini! Ini adalah kamarku, dan kamu tidak boleh tidur dikamar ini! Kamu cari saja kamar yang lain untuk tempat tidurmu. Tapi ingat, kamu jangan pernah masuk kekamar ini tanpa seizinku! Dan untuk malam pertama kita, kamu tidak perlu berharap banyak untuk hal itu! Karena semua itu sama sekali tidak akan pernah terjadi." kata Sofian sambil menatap angkuh kearah istrinya.

Laras hanya kembali mengangguk tanpa menjawab sepatah katapun. Bibirnya mendadak kelu setelah mendengar permintaan dari laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya itu.

Ia keluar dengan langkah cepat menuju keruang tengah yang ada dirumah mewah tersebut.

Wanita itu mengelus dadanya yang terasa perih akibat perkataan laki-laki yang baru beberapa jam menjadi suaminya itu.

Ia tidak menyangka kalau pernikahannya akan seperti itu, ada rasa menyesal dihatinya  karena sudah memutuskan menikah dengan Sofian, laki-laki yang mungkin tidak akan menerima dirinya sampai kapanpun.

Namun walau bagaimanapun, semua itu sudah terlambat, ia tidak bisa mengulang waktu untuk menolak pernikahannya dengan laki-laki yang dijodohkan dengannya, karena semuanya sudah terlambat.

Kini, Laras harus menjalani hidup dengan suaminya dalam satu rumah, namun terlihat seperti orang asing yang tidak memiliki ikatan selayaknya pasangan suami istri.

Laras menghembuskan nafasnya lewat mulut, untuk meredakan rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya, dan tiba-tiba saja air matanya keluar tanpa dikomando.

Laras memikirkan nasibnya yang sangat buruk, ia tidak tau sampai kapan akan terus menjalani hubungan pernikahan yang seperti itu, tapi ia berusaha untuk menguatkan dirinya menghadapi apapun yang terjadi didalam rumah tangganya, rumah tangga yang didasari dengan pernikahan tanpa cinta diantara dirinya dan juga Sofian.

Wanita cantik itu menghapus air matanya dengan telapak tangan, kemudian ia melangkah masuk kekamar kosong yang berada disamping kamar yang dihuni oleh suaminya.

Setelah berada didalam kamar, Laras merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang empuk, tiba-tiba saja perasaannya diliputi oleh rasa sunyi yang mencekam.

Laras mencoba memejamkan matanya. Sejenak ia ingin melupakan masalah pelik yang harus ia hadapi kedepan, sehingga ia pun tertidur dengan sendirinya.

Sementara itu dikamarnya, Sofian yang baru saja selesai mandi segera mengenakan pakaian bersih, yang sudah tersedia didalam lemari yang ada dikamar itu.

Sejenak ia mematut dirinya didepan cermin seraya memandangi penampilannya, yang terlihat tampan dan juga gagah.

Laki-laki itu tersenyum masam saat mengingat dirinya harus menikah dengan wanita yang sama sekali tidak pernah ia sukai.

"Kenapa sih, Papa dan Mama memaksa aku menikah dengan wanita itu? Aku benar-benar muak dengan pernikahan ini!" gerutunya.

Karena rasa kesal yang tidak bisa ditahan, laki-laki itu melayangkan tinjunya pada cermin besar yang ada dihadapannya.

"Braaakk... "

Cermin itu pecah dan melukai tangannya, darah segar mengucur deras dari punggung tangannya yang terluka, namun Sofian sama sekali tidak memperdulikan hal itu, ia terus saja menatap cermin retak dihadapannya dengan perasaan marah.

Setelah itu, ia keluar dari kamarnya dengan mengacak rambutnya, laki-laki itu merasa frustasi karena merasa hidupnya diatur oleh orang tuanya sendiri.

Laras yang terbangun dari tidurnya karena terkejut dengan suara gaduh dari kamar suaminya, segera berlari keluar.

Wanita itu terpaku saat mendapati Sofian yang sedang berdiri diruang tengah, dengan kondisi tangan yang mengeluarkan darah.

"Mas! Tangan kamu kenapa?" tanya Laras pelan, seraya menatap suaminya dengan perasaan khawatir.

Sofian tidak menjawab pertanyaan Laras, ia hanya menatap Laras dengan sorot mata benci.

Laras yang menyadari hal itu hanya bisa meneguk ludah.

Sofian melangkah mendekat kearah Laras, membuat wanita cantik itu memundurkan dirinya kebelakang.

Tatapan lelaki yang berada dihadapannya sangatlah menusuk, seakan dirinya ingin menelan Laras bulat-bulat.

"M-mas! Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Laras, terus berjalan mundur kebelakang disebabkan Sofian yang terus berjalan mendekat kearahnya.

Sampai akhirnya, tubuh Laras mentok kedinding.

Laras semakin takut saat wajah Sofian mendekat pada wajahnya, ia tau bahwa laki-laki itu sedang menahan amarah, karena terlihat dari bola matanya yang memerah.

"Apa yang membuatmu mau menikah denganku?" tanya Sofian datar, menatap tajam bola mata milik istrinya.

"Aku hanya mengikuti kemauan Pak Somad, karena dia sudah aku anggap seperti ayahku sendiri!" jawab Laras pelan, ia memberanikan diri membalas tatapan laki-laki yang telah menjadi suaminya itu.

"Kamu mau mengorbankan masa depanmu hanya karena balas budi? Rasanya itu sangat mustahil!" ujar Sofian, sambil tersenyum sinis.

"Mereka sudah banyak menolong keluargaku! Aku hanya tidak ingin membuat mereka kecewa!" ujar Laras, berbicara apa adanya.

"Aku tidak percaya kalau kamu mau menikah denganku hanya karena hal itu! Pasti ada hal lain yang kamu inginkan dari keluargaku! Benar kan?" tuding Sofian.

Laras mengangkat wajahnya, lalu ia menatap wajah tampan yang menyeringai kearahnya itu, dengan perasaan bingung.

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 70

    Hilda membuka pintu mobil. Dengan pelan wanita itu turun dari mobilnya, sambil menatap heran kearah Laras dan laki-laki yang masih duduk didalam mobil, yang terparkir dipinggir jalan depan rumahnya tersebut.Wanita itu merasa penasaran. Siapa orang yang mengantar Laras, sehingga sahabatnya itu, memintanya untuk tidak perlu menjemput saat ia pulang?"Laras, kok kamu sudah pulang? Bukannya biasa jam segini kamu masih kerja?" tanya Hilda sambil menatap sahabatnya.Dan pertanyaan tersebut hanya ditanggapi senyum lembut dari Laras.Saat tatapan mata Hilda bertubrukan dengan Arga, wanita seksi itu terlihat terkejut. Kemudian ia tersenyum.Begitupun dengan Arga. Pria itu tertegun saat melihat Hilda, tapi kemudian ekpresi wajahnya kembali datar.Wanita berkulit kuning langsat itu kembali melihat kearah Laras. Dan kemudian ia bertanya."Dia siapa Laras? Pacar baru kamu?" ucap Hilda. Membuat Laras mendelik kearahnya."Kamu itu apa-apaan sih, Hilda? Pak Arga itu pemilik restaurant tempat aku bek

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 69

    Arga melajukan kendaraannya. Berbaur dengan kendaraan-kendaraan lain yang memadati jalanan.Sesekali ia menoleh dan menatap Laras. Namun Laras terlihat sama sekali tidak terusik.Wanita itu hanya diam saja, seolah-olah sedang memikirkan sesuatu yang sangat memberatkan fikirannya."Eheemm... "Arga berdehem untuk menarik perhatian Laras.Dan seperti yang ia inginkan. Wanita yang duduk disampingnya tersebut menoleh dan menatap kearahnya."Bapak kenapa? Sakit tenggorokan?" tanya Laras.Laki-laki itu meringis, karena mendengar pertanyaan Laras yang terkesan polos."Kamu itu dari tadi kenapa diam saja? Apa kamu tidak suka kalau aku yang mengantar kamu pulang?" tanya Arga sambil terus menatap jalanan.Pertanyaan dari Arga membuat Laras menjadi kikuk.Ia baru menyadari kalau sedari tadi dirinya mengacuhkan Arga, dan sama sekali tidak memperlihatkan wajah ramahnya, seperti biasa.Laras jadi merasa tidak enak terhadap bosnya itu."Mm... Maaf Pak! Bukan begitu! Tapi saya tidak tau mau ngobrol t

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 68

    Satu minggu kemudian. kehidupan Laras berjalan seperti biasanya. Seperti hari ini. Gadis itu sedang sibuk mengelap meja dan terlihat fokus dengan pekerjaannya bersama teman-temannya yang lain. Meskipun wajahnya masih terlihat murung. Kenangan terakhir yang diberikan oleh mantan suaminya, masih terus menari-nari didalam ingatan Laras. "Eh, Laras! Aku dengar-dengar, hari ini pemilik restaurant ini akan datang! Aku senang banget loh!" ujar salah satu temannya Laras. Sesama pelayan. Perkataan temannya itu, membuyarkan lamunannya terhadap Sofian. Laras menoleh pada temannya yang bernama Anita tersebut. Ia mengernyitkan keningnya, namun terus saja mengerjakan pekerjaannya. Hanya bola matanya saja yang menatap kearah Anita. Laras melihat temannya yang satu itu, terlihat sangat bersemangat. Berbeda dengan hari-hari biasanya. "Memangnya kenapa, Nit? Bukannya wajar ya, kalau pemilik restaurant itu datang dan mengunjungi restaurantnya sendiri?" jawab Laras. Seraya tersenyum kearah Anit

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 67

    Pagi ini, Laras kembali bersiap-siap untuk berangkat ke restaurant tempatnya bekerja.Saat ia sedang menatap wajahnya dicermin.Wanita itu teringat lagi dengan kejadian kemarin malam, dimana saat preman-preman yang dijumpainya dijalanan hampir saja menodainya.Laras sama sekali tidak bisa membayangkan kalau hal itu sampai terjadi padanya. Dan apa jadinya, kalau kelima preman itu berhasil merenggut kesuciannya waktu itu?Tidak ingin berlama-lama dikamarnya, Laras segera keluar dan berjalan kedapur.Sesampai disana, Laras melihat Hilda sedang membuatkan dua gelas susu untuknya dan juga dirinya sendiri.Saat pandangannya bertubrukan dengan Laras, Wanita itu tersenyum kecil.Hilda membawa susu tersebut ke meja makan. Dan tidak lupa pula ia menyiapkan Roti tawar didalam piring, untuk sarapan paginya bersama sahabatnya tersebut."Laras! Aku minta maaf, ya? Kemarin malam aku lupa mengecas ponselku. Jadi, saat kamu menghubungiku, aku sama sekali tidak tau! Lagipula aku juga ketiduran" ujar Hi

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 66

    Cantika menatap kearah kamar Sofian. Dan sekali lagi ia mendorong pintu tersebut sampai terbuka lebar.Ia menatap ponsel Sofian yang tergeletak diatas tempat tidur, dengan dering yang sama sekali belum berhenti. Karena suaminya masih melakukan panggilan.Perempuan itu segera meraih benda pipih tersebut dan membawanya keluar dari kamar."Pa, ponsel Sofian tertinggal dikamar! Mana mungkin kita bisa menghubunginya." ucap Cantika. Sambil memperlihatkan ponsel itu pada suaminya.Burhan tertegun dan segera memutuskan panggilan telfonnya."Bagaimana ini, Pa?" tanya Cantika dengan raut wajah cemas."Mama takut terjadi apa-apa dengan anak kita! Papa kan lihat tadi, foto Sofian jatuh dengan sendirinya." sambungnya lagi."Astaghfirullahal'azdim... Ma! Kenapa Mama bisa punya fikiran seperti itu? Bisa saja foto itu terjatuh karena pakunya sudah tidak menancap dengan kuat! Jadi, Mama jangan berfikir aneh-aneh seperti itu! Tidak baik Ma." ujar Burhan. Menenangkan istrinya.Padahal, fikirannya sendir

  • Jejak Lara Setelah Perceraian.   Bab 65

    Sofian yang saat ini jatuh terduduk ditanah. Hanya meraba bagian keningnya yang terasa sangat sakit.Tiba-tiba ia merasa kalau telapak tangannya basah, dan pandangannya buram.Laki-laki itu menggelengkan kepalanya berulang kali.Preman yang saat ini menatap kearahnya tertawa senang."Mampus lo! Makanya, jangan coba-coba ikut campur urusan kami, hahaha... "Ujar preman itu sambil tertawa."Siapa suruh lo jadi pahlawan kesiangan?" sambungnya lagi."Eh goblok, ini tengah malam bukan siang! Dasar tolol!" maki salah satu temannya yang berada dibelakang, kemudian temannya itu kembali mengaduh kesakitan."Nggak nyambung! Lo lebih goblok. Memangnya lo pernah dengar, ada yang namanya pahlawan kemalaman?" protes temannya satu lagi."Diam kalian semua! Berisik!" teriak kepala preman. Yang juga tergeletak diantara teman-temannya."Wooii... Lo hajar terus itu laki-laki sialan! Berani-beraninya dia membuat kita babak belur seperti ini! Kenapa lo masih diam aja? Takut lo...?" sambungnya lagi.Preman

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status