Compartilhar

Bab 2

Autor: Lolly
Selama beberapa hari berikutnya, Valeska tidak pernah pergi ke rumah sakit sekali pun. Meski tidak pergi, dia tetap tidak bisa menghindari kabar tentang Jovian.

Seperti biasa, Jerry memberikan laporan tepat waktu. "Pak Jovian sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa. Kondisi pemulihannya cukup baik."

Valeska duduk di balik meja kerja dengan pena di tangan, tetapi ujung pena itu tidak kunjung menyentuh kertas untuk waktu yang lama.

"Selain itu ...." Jerry berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Pak Jovian sudah menyewa sebuah tempat di kawasan pusat bisnis untuk kedai baru Bu Samara. Pembukaannya dijadwalkan Rabu depan."

"Dia juga sudah memasukkan adik Bu Samara ke sekolah asrama terbaik di kota ini dan membayar penuh biaya sekolahnya untuk tiga tahun."

Jerry ragu sejenak sebelum menambahkan, "Beberapa orang di bawah diam-diam membicarakan bahwa sikap Pak Jovian terhadap Bu Samara sekarang sudah berbeda."

"Dulu dia masih menjaga batas, tapi sekarang sepertinya ... dia sudah tidak memedulikan itu lagi."

Tangan Valeska akhirnya bergerak. Ujung penanya menggoreskan sebuah garis merah mencolok di atas laporan.

"Aku mengerti," katanya tenang. "Mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi melaporkan kegiatan Jovian padaku."

Jerry tertegun, tetapi tidak bertanya lebih jauh.

"Baik, Bu."

Setelah surat perjanjian cerai selesai disiapkan, Valeska beberapa kali mencoba menelepon Jovian. Teleponnya selalu ditolak atau tidak diangkat. Jelas sekali Jovian tidak mau bertemu dengannya.

Karena itu, pada hari pembukaan kedai baru Samara, Valeska datang ke sana.

Harga sewa tempat di kawasan pusat bisnis itu luar biasa mahal, tetapi kedai bakpao bernama "Rasa Samara" justru menempati salah satu lokasi terbaik. Karangan bunga memenuhi bagian depan kedai, sementara antrean pelanggan terus mengular tanpa henti.

Sekilas saja, Valeska langsung melihat Jovian. Dia berdiri di luar kedai, mengenakan kemeja dan celana panjang sederhana. Tubuhnya tampak sedikit lebih kurus dibandingkan sebelumnya.

Samara sedang tersenyum sambil menyerahkan bakpao kepada pelanggan. Butiran keringat halus terlihat di dahinya. Dengan gerakan yang begitu alami, Jovian menyodorkan selembar tisu kepadanya. Ekspresinya terlihat santai.

Valeska berjalan menghampiri mereka. Orang-orang di sekitarnya tanpa sadar menyingkir dan membuka jalan untuknya. Jovian mengangkat kepala dan melihatnya. Kelembutan di wajahnya seketika membeku.

"Untuk apa kamu datang?"

Valeska menatap kewaspadaan di mata Jovian, lalu tersenyum tipis. "Aku kebetulan lewat dan melihat kedainya sedang melakukan acara pembukaan, jadi aku mampir untuk ikut meramaikan. Memangnya aku nggak disambut ya?"

"Bu Valeska, terima kasih sudah datang." Saat itu, Samara melangkah maju dengan senyum di wajahnya dan bertanya, "Mau coba bakpaonya? Bakpao isi daging yang baru matang rasanya enak."

Tatapan Samara tidak merendah ataupun menunjukkan rasa takut. Bahkan, ada keteguhan yang terbentuk dari kerasnya perjuangan hidup selama bertahun-tahun.

Untuk pertama kalinya, Valeska benar-benar memperhatikannya.

Memang mirip. Terutama sepasang mata yang jernih dan lembut itu.

"Nggak perlu." Valeska mengeluarkan sebuah amplop dokumen dari tas tangannya dan menyodorkannya kepada Samara. "Hadiah pembukaan kedai. Anggap saja sebagai sedikit ganti rugi."

Samara tidak menerimanya. Dia malah menatap Jovian dengan bingung. Jovian menatap amplop dokumen itu dengan kening berkerut.

"Kamu mau melakukan apa lagi?"

"Dulu aku bertindak gegabah dan sudah banyak menyusahkan Bu Samara," ujar Valeska datar. "Di dalamnya ada surat pengalihan hak sebuah toko kue di jalan sebelah. Lokasinya bagus dan luasnya juga cukup."

"Anggap saja sebagai ganti rugi atas semua cara licik yang pernah kugunakan terhadap Bu Samara."

Dia menatap Jovian, lalu melanjutkan, "Kamu tinggal tanda tangani. Semua prosedurnya sudah kuurus."

Jovian mengamatinya dengan tatapan penuh curiga. "Valeska, sebenarnya permainan apa yang sedang kamu rencanakan?"

Pelanggan di dalam kedai semakin ramai. Suara percakapan bercampur menjadi riuh.

Samara menoleh ke dalam kedai, tampak sedikit khawatir mereka akan kewalahan melayani pelanggan.

Valeska kembali menyodorkan amplop itu sedikit lebih dekat. Ada kelelahan yang samar dalam suaranya, "Jovian, aku hanya nggak mau berutang kepada siapa pun. Tanda tangani saja. Setelah itu, kita impas."

Jovian menatapnya dalam diam selama beberapa detik. Akhirnya, dia mengambil amplop tersebut dan langsung membubuhkan tanda tangannya.

Dia menyerahkan kembali dokumen itu kepada Valeska. Suaranya sangat pelan, tetapi setiap katanya terdengar jelas, "Kalau hadiah ini benar-benar tulus, aku berterima kasih karena kamu akhirnya mau melepaskannya."

Valeska tidak mengatakan apa-apa. Dia menerima dokumen itu, lalu berbalik dan berjalan menuju mobil yang terparkir di tepi jalan.

Di belakangnya terdengar suara tawa dan obrolan para pelanggan, di tengah kepulan uap panas dari kedai bakpao. Dia juga mendengar Samara berkata lembut kepada Jovian, "Kamu istirahat saja sebentar. Biar aku yang urus di sini."

Valeska masuk ke dalam mobil, lalu mengeluarkan setumpuk dokumen yang baru saja ditandatangani Jovian.

Lembar terakhir adalah surat perjanjian cerai.

Tentu saja semuanya sungguhan.

Kalau Jovian begitu menginginkan kebebasan .... Valeska akan memberikannya. Termasuk mengembalikan tiga tahun pernikahan yang selama ini dia pertahankan secara paksa.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Jendela Senja dan Tahun-Tahun yang Berlalu   Bab 20

    Angin musim semi di tepi Sungai Seine tidak mampu mencairkan es yang membeku di dalam hati Jovian. Dia tetap tinggal di Paris selama tiga hari lagi, berkeliaran seperti arwah yang kehilangan arah di setiap tempat yang mungkin didatangi Valeska.Gerbang akademi seni yang tertutup rapat, jalan berbatu di luar galeri, hingga kafe kecil di seberang gedung apartemennya.Namun, dia tidak pernah berhasil melihat Valeska lagi.Kemunculan Daxton, serta kedekatan dan keselarasan yang mengalir begitu alami di antara mereka, bagaikan tembok tak kasatmata yang luar biasa kokoh. Semua itu memisahkan Jovian dari dunia Valeska sepenuhnya.Pada akhirnya, dia menaiki penerbangan untuk kembali ke negaranya.Di luar jendela pesawat terbentang lautan awan yang luas. Sinar matahari begitu menyilaukan, tetapi yang dia rasakan hanyalah hawa dingin.Kesalahan di masa lalu tidak bisa diperbaiki. Apa yang telah hilang tidak akan pernah kembali.Kesadaran itu menyiksanya dengan jauh lebih kejam daripada hukuman a

  • Jendela Senja dan Tahun-Tahun yang Berlalu   Bab 19

    Pada sore hari terakhir pameran, pengunjung di galeri sudah tidak terlalu ramai. Valeska sedang berbicara pelan dengan sepasang pengunjung ketika lonceng angin di pintu tiba-tiba berbunyi. Dia mengangkat kepala dan melihat Jovian berdiri di ambang pintu dengan cahaya dari belakang.Tubuhnya tampak lebih kurus dan wajahnya begitu kuyu. Mantelnya sedikit kusut, matanya dipenuhi semburat merah, sementara tatapannya terpaku erat pada Valeska. Tatapan itu dipenuhi luapan kegembiraan, penyesalan, dan keputusasaan.Valeska memandang wajah yang dahulu pernah membuatnya tergila-gila sekaligus memberinya rasa sakit yang begitu mendalam.Namun, tidak ada sedikit pun gejolak di dalam hatinya. Yang tersisa hanyalah ketenangan, seolah-olah dia sedang memandang orang asing.Sepasang pengunjung tadi diam-diam meninggalkan mereka."Valeska ...." Jovian berjalan mendekat dengan langkah terhuyung. Suaranya serak saat akhirnya berkata, "Akhirnya aku menemukanmu."Dia menatap Valeska seolah-olah tidak akan

  • Jendela Senja dan Tahun-Tahun yang Berlalu   Bab 18

    Tema "Kelahiran Kembali" adalah gagasan yang disampaikan Daxton dengan tenang setelah mengamati lukisan dan catatan Valeska selama hampir setengah tahun.Di studionya yang dipenuhi buku tetapi tetap tertata rapi, cahaya matahari musim dingin menyinari lantai. Valeska membentangkan sketsa-sketsa lukisannya yang menggambarkan retakan, jejak hujan, jaringan akar, dan bekas-bekas samar.Daxton mengamatinya cukup lama. Sesekali ujung jarinya menyentuh lembut tekstur permukaan lukisan."Varah." Akhirnya dia mengangkat kepala, sorot matanya memancarkan ketajaman seorang profesional."Ketika karya-karya ini ditempatkan bersama, terlihat jelas perjalanan batin yang utuh. Dari objek konkret yang membawa metafora, kemudian beralih ke citra alam yang abstrak, hingga teori 'transformasi visual' yang kamu bahas dalam catatanmu. Semua ini dengan sendirinya telah membentuk narasi 'kelahiran kembali' yang sangat personal, tetapi sekaligus bersifat universal."Dia berjalan menuju papan tulis dan mulai m

  • Jendela Senja dan Tahun-Tahun yang Berlalu   Bab 17

    Menjelang akhir musim gugur di Paris, gerimis tiba-tiba menyelimuti kawasan Marais tanpa peringatan.Valeska berdiri di depan jendela galeri "L'Éclat Discreet", tempat dia bekerja paruh waktu, memandangi air hujan yang mengalir di kaca dan membentuk jejak-jejak yang terus berubah setiap saat."'Jendela Hujan' ini justru memiliki pesona yang hanya ada pada momen sesaat."Suara lembut seseorang terdengar dari belakang.Valeska berbalik dan melihat seorang pria mengenakan kardigan kasmir abu-abu muda dan kacamata tanpa bingkai berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya tampan dan bersih, sementara pembawaannya memadukan kepekaan seorang seniman dengan keanggunan seorang akademisi."Jejak-jejak hujan ini tidak bisa dikendalikan, tetapi setiap detiknya menciptakan gambar yang tidak akan pernah terulang."Dia berjalan mendekat beberapa langkah. Tatapannya menyapu karya-karya terbaru Valeska yang tergantung di dinding.Permainan cahaya dan bayangan di Montmartre, kolong jembatan di Sungai Seine, se

  • Jendela Senja dan Tahun-Tahun yang Berlalu   Bab 16

    Musim gugur di Paris memiliki hawa sejuk yang sama sekali berbeda dari kampung halaman Valeska.Di sini, dia tidak lagi menggunakan nama Valeska yang dahulu melambangkan kebanggaan dan gemerlap dirinya. Di formulir pendaftaran sekolah bahasa maupun kontrak apartemen yang disewanya, dia hanya menuliskan nama "Varah".Ejaan dalam bahasa Prancis terasa sedikit canggung, dan setiap kali gurunya mengucapkannya, selalu terdengar dengan aksen Prancis yang lembut. Namun, Valeska justru menyukainya.Setelah melepas marga Raharja yang mewakili keluarga dan masa lalunya, Valeska seolah-olah ikut melepaskan sebagian dari zirah berat yang selama ini membebani dirinya. Kehidupannya kini terbagi menjadi rutinitas-rutinitas sederhana dan praktis.Pagi hari diisi dengan kelas bahasa Prancis yang intensif, mulai dari konjugasi kata kerja, gender maskulin dan feminin, hingga berbagai bentuk kala yang rumit dan memusingkan.Valeska belajar dengan tekun. Buku catatannya dipenuhi berbagai anotasi, sementara

  • Jendela Senja dan Tahun-Tahun yang Berlalu   Bab 15

    Dalam menangani Samara, Jovian menunjukkan efisiensi yang nyaris tanpa belas kasihan.Pertama, proses hukum. Laporan terperinci yang memuat bukti-bukti pemalsuan diserahkan kepada kepolisian dan kejaksaan. Tim pengacara papan atas yang dia sewa juga langsung menindaklanjutinya secara bersamaan, memastikan seluruh proses hukum dimulai secepat mungkin.Saat Samara masih "memulihkan diri" di rumah sakit, petugas kepolisian dan kejaksaan sudah datang silih berganti untuk menemuinya.Berikutnya adalah penyelesaian masalah keuangan.Kontrak sewa toko utama Samara terbukti memiliki cacat hukum yang serius. Pemilik tempat menerima surat dari pengacara yang menuntut agar properti itu segera ditarik kembali.Seluruh dana yang pernah mengalir kepada Samara dan rekening-rekening yang terafiliasi dengannya atas nama "investasi" ataupun "pemberian", dibekukan oleh pihak bank berdasarkan instruksi dan bukti terbaru, lalu proses penagihan kembali dana tersebut pun dimulai.Pembayaran untuk sekolah swa

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status