LOGINJenderal Bao keluar dari dinding belakang penjara bawah tanah dengan napas memburu dan dada membara akibat terkena gas beracun. Bahunya yang basah oleh darah menimbulkan rasa nyeri. Dengan tertatih, ia menuju titik kumpul tempat para prajuritnya menunggu.Namun, terjadi sesuatu di tempat itu. Beberapa prajurit terbaiknya tergeletak tak bernyawa dengan kondisi sangat mengenaskan, tubuh mereka robek dan wajah mereka membiru. Hanya lima prajurit yang masih bertahan hidup, duduk sambil mengobati luka masing-masing."Jenderal!" seru salah seorang prajurit yang selamat, bergegas memapah tubuh Jenderal Bao.Jenderal Bao menatap jasad anak buahnya dengan miris dan kasihan. "Siapa yang menyerang kalian dan bagaimana ini bisa terjadi?""Kami tidak tahu, Jenderal," jawab prajurit itu dengan suara gemetar. "Serangan itu sangat cepat dan sadis. Kami tidak sempat melihat wajah mereka dengan jelas, tapi bau tubuh mereka sangat menyengat, seperti campuran dedaunan, daging, dan mayat busuk."Dada Jend
Angin malam membawa bau amis darah yang menyengat ketika Lu Jianyu menginjakkan kakinya di depan kediaman Jenderal Bao. Telinganya yang tajam langsung menangkap suara pertarungan sengit dari arah dalam. Pintu gerbang utama itu telah terbuka lebar, bahkan sebelahnya miring karena dorongan orang yang menerobos masuk.Dengan waspada, Lu Jianyu melewati pintu depan. Pemandangan di hadapannya hanya ada bercak darah menodai di sepanjang dinding, mayat-mayat pengawal tergeletak di atas salju, serta suara jerit ketakutan dan tangisan para pelayan terdengar bersahut-sahutan dari arah dalam."Bagaimana mungkin kediaman seorang jenderal tidak ada pengawasannya seperti ini?" gumamnya ketika berjongkok dan memeriksa nadi seorang penjaga. Tidak ada harapan, penjaga itu tewas mengenaskan.Jianyu berdiri dan melangkah lebih jauh, sebuah sensasi melewati jubahnya dan mengenai tengkuknya. Udara di sekitarnya terasa lebih padat dari salju, diiringi getaran energi dingin yang cukup besar, tenaga dalam mu
Meihua mengerang seraya mengerjapkan mata dengan cepat. Namun, saat ingin menggerakkan tangannya untuk meraba kepala, tangannya tertahan. Ia tersentak dan bergerak sembarang arah untuk membuka ikatan itu. Kedua tangan dan kakinya telah terikat di tiang tempat tidur menggunakan tali yang tebal dan kuat."Nona, kau sudah sadar?" tanya Wuji dari pinggir kamar. Ia duduk di sana sedari tadi tanpa beranjak, menunggu Meihua sadarkan diri. Ada rasa bersalah dan cemas yang menyusup ke dalam hatinya.Meihua mendongak, matanya menatap Wuji dengan penuh kemarahan, sambil terus meronta. "Wuji, apa yang kau lakukan? Kenapa tubuhku diikat seperti ini?"Wuji bangkit dari duduknya, mendekati Meihua dan membungkukkan badannya agar mereka sejajar, "Mohon maafkan aku, Nona Meihua. Aku hanya menjalankan perintah dari Tuan.""Lepaskan aku!" bentak Meihua seraya mencoba menghentakkan tangannya, tetapi tali itu terikat sangat kencang. "Cepat lepaskan. Jenderal Bao pasti sudah pergi jauh ke penjara Duan Qiafe
Jenderal Bao dan sepuluh prajurit pilihannya berada di halaman paling belakang kediaman Bangsawan Duan Qiafeng. Mereka merayap tanpa suara di antara pepohonan yang tertutup salju tipis.Jenderal Bao menghentikan langkahnya, memberi isyarat agar seluruh pasukannya menghentikan pergerakan. Dari balik topeng kain hitamnya, matanya memindai dinding pembatas yang menjulang tinggi di hadapan mereka."Lihat ke depan," bisik Jenderal Bao sangat pelan, diiringi desau angin dingin yang berembus. "Penjagaannya sangat ketat. Dari jarak setiap sepuluh langkah, ada obor dan prajurit berkeliaran. Bahkan nyamuk pun akan kesulitan menembus tempat ini tanpa ketahuan."Salah seorang prajurit kepercayaan Jenderal Bao, Feng, merayap lebih dekat di sampingnya. "Jenderal, jika kita menerobos langsung, pasti akan memicu lonceng peringatan. Lalu apa rencana kita?""Kita tunggu mereka lengah."Ketika para penyusup itu memilih bersabar di tengah salju yang terus turun, dua orang penjaga keluar sambil menyeret s
Seorang pria berbaju serba putih, berjalan perlahan melewati salju yang terus turun, dan jalanan yang basah membuat sepatu tebalnya ternoda percikan air. Wajahnya yang tampan tersembunyi di balik kain dari topi lebar. Sorot matanya tajam dan penuh ketegasan. Lu Jianyu mencari di mana keberadaan Meihua.Setelah perjalanan panjang menempuh bahaya dan dingin yang menusuk sampai tulang raga, akhirnya ia menjejakkan kaki di ibu kota yang megah dan penuh intrik serta marabahaya. Ia pun terhenti di tengah pasar yang tertutup lapisan putih. Di sebuah dinding kayu besar yang biasa menjadi papan pengumuman dan penunjuk jalan, tertera daftar ukiran nama-nama pejabat tinggi serta lokasi kediaman para bangsawan di ibu kota.Pria itu terdiam beberapa saat. Telapak tangannya yang terbalut sarung kulit putih mengusap tumpukan salju yang menutupi bagian atas papan tersebut. Pandangan matanya tertuju pada barisan nama-nama itu. Hingga akhirnya, dari sekian banyak nama pejabat dan keluarga bangsawan ter
Malam harinya, Jenderal Bao memutuskan untuk tidak langsung mengambil tindakan karena situasi yang masih rawan mata-mata. Ia memilih beristirahat, walau saat pagi menyingsing, ia terbangun dengan pikiran yang bertumpuk penuh oleh intrik politik Permaisuri dan bahaya yang mengintai dirinya sekeluarga termasuk Meihua.Di saat yang sama, langkah kaki tergesa-gesa terdengar menuju kamarnya. Pintu kamar Jenderal Bao diketuk, dan saat dibuka sedikit, Meihua berdiri di luar dengan wajah cemas. Jenderal Bao segera menarik lengan Meihua masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintunya kembali."Ada apa sampai kau terburu-buru seperti ini?" tanya Jenderal Bao seraya menatap Meihua sangat dalam."Bagaimana? Apakah sudah ada kabar tentang kedua bibiku?" tanya Meihua tanpa memedulikan sikap santun. Matanya menatap dengan penuh harap.Jenderal Bao menghela napas pelan, dan berusaha menguasai diri. "Belum ada perkembangan baru. Aku sudah mengutus orang-orang paling ahli dan terlatih untuk menyusup







