مشاركة

90. Takdir Langit

مؤلف: Rosa Rasyidin
last update تاريخ النشر: 2026-09-20 16:02:09

Tubuh Meihua seketika membeku ketika mata tajam Jenderal Bao menatapnya begitu dalam dari jarak yang hanya menyisakan helaian baju di antara mereka. Belum sempat pikirannya mengendalikan gejolak di dada, Jenderal Bao sudah menundukkan kepala dan mendaratkan ciuman hangat nan dalam tepat di bibir Meihua.

Nona Yue membelalakkan matanya, menatap pemandangan indah di depannya dengan senyuman penuh kemenangan. Meihua yang awalnya mematung, tanpa sadar mulai hanyut dan menikmati sentuhan lembut serta
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   111. Dinding Tebing

    Kereta berdiri di atas jalan yang tertutup salju. Seekor kuda putih gemuk berdiri di depannya. Lu Jianyu berada di bagian kusir, jubah bulu putihnya bergoyang terkena terpaan angin salju.“Kereta ini cukup hangat untuk perjalanan jauh,” ucap Lu Jianyu seraya menyingkap tirai tebal dan membantu Lan Ruohan serta Lan Ruobing melangkah masuk.Meihua memandangi kereta kuda tersebut dengan kening berkerut. “Kakak, kau benar-benar membeli kereta ini beserta kudanya sekaligus?”Pria berambut putih itu hanya tersenyum tipis. “Sekte Bai Ya tidak pernah berutang pada siapa pun, begitu pula aku. Adik, ayo naik. Perjalanan kita menuju tebing memakan waktu cukup lama jika harus menembus badai salju seperti ini.”Gadis berwajah bulat itu akhirnya mengangguk, ia mengabaikan rasa penasaran yang mengganggu pikirannya. Ia masuk ke dalam kereta, duduk bersandar di dekat pintu sembari memastikan kedua bibinya merasa nyaman. Lu Jianyu telah menyiapkan selimut tebal di dalamnya.Kereta kuda mulai bergerak p

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   110. Titik Kuncian

    Meihua, Jianyu, dan kedua tetua Sekte Bai Ya turun di bangunan lama tak terpakai di tepi barat daya ibu kota. Bangunan itu berlubang di bagian atasnya hingga salju masuk dan dingin menjadi teman yang tidak baik.Meihua mencari ruangan yang atapnya masih tertutup rapat, ia menemukannya dan membawa kedua bibinya ke sana. Bersama Jianyu, Meihua membersihkan tempat itu sejenak untuk beristirahat selama sehari sebelum melanjutkan perjalanan.“Bibi Kedua, tidurlah dulu yang nyenyak, setelah itu kami akan membuka kuncian tenaga dalammu,” ucap Meihua ketika membantu bibinya duduk.“Meihua, bukankah kau jatuh ke dalam sungai? Bibi pikir kau sudah tiada. Bagaimana caranya kau menyelamatkan diri?” Bibi Kedua enggan melepaskan tangan Meihua, seakan tak percaya keponakannya masih hidup.“Takdir yang menuntunku kemari. Aku berjuang tetap hidup, karena memang begitu pesan ibuku.”“Selama ini kau tinggal di mana, Meihua?”“Di kediaman Jenderal Bao,” Jianyu yang menjawab.“Apa?” Bibi Kedua tampak tida

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   109. Garis Takdir

    Jenderal Bao mencabut anak panah itu dan membaca surat yang terlipat di sana. Ia membaca dengan saksama pesan di dalamnya.“Meihua kami tawan di tepi barat daya ibu kota. Jika kau ingin dia selamat datanglah seorang diri.”Jenderal Bao membaca surat itu dengan pelan. Tangannya terkepal dan langsung menghantam pilar penyangga kediaman, hingga retak halus sampai ke atas. Kemarahan benar-benar menutupi akal sehatnya.“Wuji!” teriaknya tegas. Satu panggilan yang membuat Gao Wuji terbang rendah dan cepat hingga sampai ke hadapannya.“Iya, Tuan.”“Jaga kediaman sebentar beserta prajurit lainnya. Ada beberapa hal yang harus aku urus terlebih dahulu.”Tanpa banyak bicara lagi, ia pun melangkah dengan lebar. Jubah biru tuanya tertiup angin dingin di antara salju yang turun. Kemarahan telah membuat tenaga dalam panasnya kian terpancar hingga menutupi dingin salju yang jatuh ke pundaknya.Melintasi atap-atap bangunan kota yang tertutup es, Jenderal Bao melesat bagaikan dewa yang melawan malam. P

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   108. Dipancing

    Jenderal Bao sampai di kediaman Putra Mahkota melalui jalan belakang. Ia diantar oleh kasim untuk menemui penguasa nomor dua di istana itu. Sesampainya di sana, Putra Mahkota telah menunggu. Jenderal Bao dipersilakan duduk di hadapannya. Tangan mereka berdua sama-sama bertumpu di pangkuan, dengan wajah tenang dan sorot mata tajam.Putra Mahkota kemudian bersandar agar suasana tidak terlalu kaku. Ia mendorong selembar gulungan kertas ke tengah meja ke arah Jenderal Bao."Ini bukan daftar nama orang yang harus kau panggil atau perintah," ucapnya pelan dan tegas. "Ini daftar catatan. Setiap pelanggaran, setiap pungutan liar, setiap kesepakatan gelap yang dilakukan para pejabat tinggi, semuanya tertulis lengkap. Bukti-buktinya sudah tersimpan aman. Nanti mereka semua ini bisa ditekan, jika menolak bukti-bukti ini bisa disebarkan sesuai kebutuhan. Bukan untuk keadilan semata, Jenderal. Tapi untuk memastikan mereka berpihak kepada kami."Jenderal Bao menatap barisan tulisan itu sekilas, lal

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   107. Bebas

    Lu Jianyu menarik tangan Meihua, membawanya turun dari tembok tinggi. Keduanya melayang anggun bak dewa-dewi yang turun dari kayangan. Spontan, ratusan senjata tajam para prajurit langsung mengarah ke tubuh mereka."Bunuh mereka!" ucap tegas pemimpin penjaga.Namun, sebelum teriakan sempat terlontar dari mulut para prajurit, Lu Jianyu menatap lurus ke sekelilingnya. Gelombang energi tenaga dalam yang amat besar meledak dari tubuhnya, langsung menembus dan menguasai isi kepala ratusan penjaga tersebut."Tidur sekarang!" perintah Jianyu dengan suara dingin yang menyeramkan. "Jangan bangun walau malam berganti pagi!"Saat itu juga, ratusan prajurit berdiri kaku. Senjata mereka terlepas dan jatuh di atas tanah yang dingin. Satu per satu dari mereka tumbang, memejamkan mata, dan tertidur lelap dalam pengaruh sihir pikiran yang tak terbendung.Meihua menatap pemandangan di hadapannya sambil menelan ludah berat. Bulu kuduknya merinding. Tidak ada lagi rasa kagum atau hormat yang tersisa di h

  • Jenderal Bao, Pelayan itu Masuk ke Kamarmu   106. Mengendalikan Pikiran

    Lu Jianyu mengusap telapak tangan Meihua. Pria bersahaja itu berusaha menenangkan pertanyaan penuh gejolak gadis tersebut. "Selama kau tetap berada di sisiku, semuanya akan baik-baik saja, Meihua. Serahkan sisanya padaku."Perasaan bersalah kembali menerpa hati Meihua. Kalimat yang diucapkan Jianyu dan Jenderal Bao sama-sama memiliki makna terdalam yang tidak bisa dianggap remeh. Secara tradisi Sekte Bai Ya, ia memang bertunangan dengan Lu Jianyu sejak lama. Namun, situasi rumit dan tekanan dari Jenderal Bao telah membuatnya mengambil keputusan hingga mengikat janji pernikahan dengan lelaki itu.Ditambah beberapa kali Jenderal Bao dan dirinya melakukan perjalanan bersama, secara tidak langsung ada ikatan di antara keduanya. Hal demikian tidak bisa diingkari dan dilupakan begitu saja. Tidak! Meihua masih memiliki hati! Sorot matanya memancarkan kebimbangan yang teramat sangat.Melihat keraguan yang tersirat di wajah Meihua, Lu Jianyu menggenggam jemari gadis itu lebih erat. "Tenang saj

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status