Home / Romansa / Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan / Bab 180. Membawa Mereka Keliling Pusat Kota

Share

Bab 180. Membawa Mereka Keliling Pusat Kota

Author: Zhang A Yu
last update publish date: 2026-02-16 10:55:18

Jenderal Shang sempat menggenggam kantong koin itu sebentar, lalu menyimpannya di balik jubah.

Tatapan pria itu lantas kembali pada Li Zhenyu.

“Bagaimana kalau malam ini kita berkeliling kota?” tawarnya tiba-tiba.

Li Zhenyu tidak langsung menjawab. Senyumnya memudar tipis. Jemarinya yang tadi terlipat di depan tubuh perlahan mengendur. Sepersekian detik—nyaris tak terlihat—dia melirik ke arah Lan Xueqin.

Wanita dari barat daya itu tetap berdiri tenang, wajahnya datar, hanya matanya yang ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 240. Kabar Kehamilan Shen Liu Zi Tidak Boleh Bocor

    Di dalam kamar Shen Liu Zi. Tirai tebal diturunkan setengah, membiarkan cahaya siang di musim dingin ini masuk redup. Aroma obat rebusan masih samar di udara, bercampur dengan bau kayu cendana dari tungku kecil di sudut ruangan. Tabib keluarga Shang baru saja menarik tangannya dari pergelangan Shen Liu Zi. Wajah lelaki tua itu tidak lagi setenang kemarin. Alisnya berkerut tipis, seolah ada sesuatu yang ingin dia katakan, tetapi harus ditahan. Dia lantas berdiri pelan. “Nyonya Shen jangan banyak pikiran,” katanya perlahan, “kesehatan anda sekarang sangat penting. Jika terus gelisah, tubuh anda tidak akan kuat menanggungnya.” Shen Liu Zi duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, tapi wajahnya pucat halus. Bibirnya membentuk senyum tipis, sopan seperti biasa. “Aku mengerti. Terima kasih, Tabib,” jawabnya tenang. Yu Li yang berdiri di samping ranjang jelas bisa membaca isi pikiran sang junjungan. Tatapannya iba, hatinya turut diselimuti kekhawatiran. Tabib menghela napas

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 239. Namanya Mampu Menciutkan Nyali Lawan

    Benturan pertama terjadi seperti petir jatuh ke tanah.Trang! Tang! Brakk!Golok besar pasukan Raja Changi turun bersamaan, berat dan brutal, tetapi lima prajurit Wan bergerak jauh lebih cepat.Salah satu prajurit Wan memutar kudanya setengah lingkaran, lalu menebas dari samping.Sret!Leher seorang musuh terbuka lebar, darah menyembur tinggi sebelum tubuhnya jatuh dari pelana.Prajurit lain menunduk menghindari golok besar, lantas menusukkan pedangnya ke bawah.Tuk!Bilah pedang menembus dada musuh sampai ke punggung.Seorang lagi melompat turun dari kuda tepat saat lawan hendak menebas, dan berputar rendah—Crak!Tangannya menebas lutut kuda musuh.Membuat kuda itu ringkik keras dan jatuh, menimpa penunggangnya sampai tulangnya patah.Pasukan Raja Changi sempat terkejut.Lima lawan lima puluh!Rasanya mustahil, tapi mereka tidak mundur sedikit pun. Justru setiap benturan membuat satu lagi dari pasukan musuh jatuh ke tanah.Ada yang kepalanya terpenggal, ada yang tangannya putus dan

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 238. Musuh Juga Datang

    Hujan semalam masih menyisakan jejak di tanah desa Beiling.Kabut tipis pagi menggantung rendah di antara atap-atap jerami, dan jalan tanah di tengah desa berubah lembek, penuh bekas roda serta jejak kaki.Penduduk desa sudah mulai beraktivitas sejak matahari belum tinggi.Di dapur terbuka di samping rumah-rumah kayu, beberapa wanita sedang meniup tungku. Asap tipis naik perlahan, bercampur dengan bau nasi yang baru dimasak.Di kandang kecil dekat pagar bambu, seorang pria tua sedang menuang pakan ke palung kuda.Di tepi sungai kecil, dua wanita muda mencuci pakaian sambil berbincang pelan.Di pasar kecil dekat gerbang desa, beberapa pedagang sudah membuka lapak sederhana.Keranjang sayur, ikan asin, dan gandum diletakkan di atas meja kayu pendek.Suasana pagi itu biasa saja; tenang, lambat, seperti hari-hari lain di desa kecil yang jauh dari pusat kota. Namun, tiba-tiba—Drap! Drap! Drap! Drap! Drap!Suara derap kuda terdengar dari arah jalur hutan di barat desa.Semua kepala langsun

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 237. Kecewa

    Di dalam kamar, Shen Liu Zi masih duduk di tepi ranjang.Punggungnya tegak, tapi tidak lagi santai seperti tadi. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan, jari-jarinya bergerak pelan, tanpa sadar, seperti menahan sesuatu di dalam hati.Lampu minyak di meja kecil masih menyala.Cahayanya hangat, tetapi wajah Shen Liu Zi tidak lagi berseri.Matanya beberapa kali melirik ke arah pintu. Masih juga tertutup, masih juga sunyi.Semakin lama, alisnya semakin berkerut tipis.Dia menunduk, tanpa sadar kembali menyentuh perutnya.“Akan terjadi perang besar,” gumamnya pelan, mengulang kata-kata Yu Li.Napasnya tertahan sebentar.Bayangan buruk melintas dalam benaknya begitu saja.Beberapa detik berlalu, guntur menggelegar diikuti kilatan petir. Suara hujan jatuh pun menyusul setelahnya.Shen Liu Zi mengangkat kepala. Sorot matanya bergerak ke arah jendela.Hujan turun mendadak, deras, seperti langit pecah tanpa peringatan.Dia menarik napas panjang. Harapan yang tadi masih tersisa di wajahny

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 236. Menunggu Jenderal tapi Tak Kunjung Datang

    Malam itu, gerbang utama kota Kekaisaran terbuka lebar. Obor-obor dinyalakan di sepanjang jalan utama, cahayanya berderet seperti garis api yang memanjang. Udara malam di musim dingin kian menggigit, tetapi suasana kota tidak sunyi, tidak ada yang tidur. Suara derap kuda terdengar dari kejauhan. Pelan lalu semakin jelas, semakin berat, semakin banyak. Dari ujung jalan, seratus pasukan Gagak Hitam muncul satu per satu. Mereka semua menunggang kuda perang. Zirah hitam menutup dada dan bahu, jubah gelap berkibar pelan tertiup angin malam. Di punggung mereka tergantung busur, di pinggang pedang, di pelana terikat tombak pendek. Wajah-wajah itu tidak muda lagi. Banyak di antara mereka memiliki bekas luka di pipi, di leher, di tangan. Menandakan pasukan ini bukan pasukan baru. Di barisan paling depan, komandan Miao Feng memimpin. Tubuhnya tegap di atas kuda hitam besar. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya tenang, tapi sorot matanya keras seperti batu. Begitu pasukan memasuki pusat

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 235. Dua Situasi Berbeda

    Di atas ranjang, Shen Liu Zi terbaring dengan tubuh lemas, tangannya terkulai di samping seperti tidak bertulang. Wajahnya pucat, napasnya pelan, alisnya sedikit berkerut seolah masih menahan rasa pusing yang belum hilang. Tabib keluarga Shang duduk di kursi kecil di sisi ranjang. Dua jarinya menekan pelan di pergelangan tangan Shen Liu Zi, matanya terpejam, wajahnya serius mendengarkan denyut nadi. Di belakangnya, kepala Xun dan Yu Li berdiri hampir berdampingan. Keduanya sama-sama menahan napas, wajah mereka tegang, tidak berani bersuara. Beberapa saat berlalu, tabib membuka mata. Anehnya, dia malah mengerutkan alis. Dia lantas menunduk lagi, memegang pergelangan tangan Shen Liu Zi lebih lama dari sebelumnya. Hening. Kepala Xun dan Yu Li secara naluriah saling melihat sepersekian detik. Lalu, tiba-tiba saja mata tabib itu melebar! Tangannya berhenti sejenak di udara, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia rasakan. Dia sampai kembali menempelkan jariny

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 9. Setidaknya Belum Terlambat

    Shen Liu Zi memegang tali kekang erat-erat, wajahnya memucat tapi matanya menatap ke depan. Tajam, berusaha menenangkan diri. “Kamu tenanglah sedikit! Tenang!” teriaknya pada si kuda hitam. Tentu saja binatang itu tidak peduli. Kepalanya meliuk-liuk, surainya beterbangan, dan tiap hentakan kaki

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 7. Yu Li Pelayan Bernyali

    Yu Li terlonjak panik. “Nyonya!” serunya nyaris parau. Tubuh Shen Liu Zi terasa dingin ketika dipeluk, napasnya terputus-putus, dan keringat dingin membasahi pelipisnya. “Tidak! Tidak boleh begini!” Yu Li mengguncang pelan bahu junjungannya itu, tetapi kelopak mata itu tetap tertutup rapat. Ang

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 25. Tuan Muda Meng Diberi Jabatan

    “APA?” Begitu Shen Liu Zi kembali ke kamarnya, serta menceritakan semuanya pada nenek Rong Yue .... Detik itu juga nenek Rong Yue ternganga! “Dia menolak penampilan indah seperti ini?” Nenek Rong Yue tampak tak percaya, malah benar-benar tidak percaya

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 15. Upacara Kedewasaan Putri Pejabat Hang

    Tuan muda Meng berhenti di depan Shen Liu Zi, lalu menundukkan tubuh sedikit sebagai bentuk salam. Di tangan kirinya masih tergenggam cangkir teh yang belum habis, sementara senyumnya menenangkan seperti semilir angin di pagi hari. Shen Liu Zi membalas dengan anggukan halus. Tatapannya lembut, ta

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status