LOGINBagus! Dia menyalahkan negara tepat di depan pemimpinnya. Segelintir pejabat saling bertukar pandang—cepat, samar, dan canggung. Bahasa mata yang biasanya rapi kini kacau. Ada yang menelan ludah dengan wajah pucat, membayangkan kepala mereka sendiri menggelinding jika Kaisar murka. Ada pula yang menunduk dalam-dalam, seolah ingin mengecilkan keberadaannya. Dan ada juga sepasang mata yang justru terpaku penuh kecemasan pada sosok di tengah aula itu Tuan muda Meng! Jemarinya yang tersembunyi di balik lengan jubah mengepal perlahan. Dia tahu betul, satu kalimat barusan bukan sekadar pembelaan, melainkan deklarasi perang tanpa senjata. Aula pertemuan pun kian tenggelam dalam keheningan yang menekan! Bahkan dua warga sipil yang tadi berteriak lantang kini membeku. Kening mereka masih menempel di lantai, tapi tubuh mereka gemetar. Mereka sadar, kata-kata Shen Liu Zi bisa menjadi sebilah pedang yang membunuh mereka saat ini juga. Mereka khawatir kemarahan Kaisar meledak, tet
Pacuan kuda lawan melemah. Deru tapak mereka tak lagi serempak; napas kuda-kuda itu mulai berat, sementara jarak yang mereka kejar justru terasa ganjil, seolah target mereka menghilang begitu saja dari jalur utama. Salah satu dari mereka menarik kendali mendadak. Kuda hitamnya meringkik rendah saat berhenti di dekat bekas tanah berlumpur yang tercabik tak beraturan. Pria itu turun, berlutut, lalu menyentuhkan jarinya pada bekas tapak yang dalam. Itu jejak kuda tergelincir! Matanya menyipit, dan sudut bibirnya terangkat tipis. “Jejaknya berhenti sampai sini,” gumamnya, “kuda itu kemungkinan besar sudah tak sanggup berjalan jauh.” Lainnya mendekat. Mereka saling bertukar pandang—senyum smirk perlahan merekah, penuh keyakinan. “Dia takkan bisa lari jauh,” ujar salah satu dengan nada puas. Sebuah tangan terangkat, memberi Isyarat singkat, tegas. Kelompok segera terbagi dua. Separuh menyisir sekitar, separuh lagi bersiap menyusuri jalur alternatif. Namun, sebelum satu pun dari me
Tubuh kuda terhuyung keras. Tapak depannya tergelincir di tanah basah, dan dalam sekejap, keseimbangan lenyap. “Ah—!” Shen Liu Zi dan Yu Li terlempar dari punggung kuda. Punggung mereka menghantam tanah berlumpur, lalu tubuh keduanya berguling tak terkendali. Sekali, dua kali hingga akhirnya terhenti di antara rerumputan liar bertanah basah. Napas Shen Liu Zi terhempas keluar dari dadanya. Dunia berputar. Telinganya berdengung, seolah seluruh suara tersedot menjauh. Rasa nyeri menjalar dari bahu hingga tulang belakang, membuatnya nyaris memejamkan mata terlalu lama. Namun, naluri tidak memberinya waktu. Shen Liu Zi berbalik, menjatuhkan satu lutut ke tanah. Tangannya refleks menekan lumpur, lantas tanpa ragu menempelkan telinganya ke permukaan tanah itu. Ada gelombang getaran samar, tapi nyata. Jumlahnya bukan hanya satu. Dia tidak bisa menghitung pasti, tetapi yakin merekalah yang mengincar dokumen miliknya. “Yu Li,” bisiknya tajam, rendah, “bangun. Sekarang!” Yu Li terisa
Langkah jenderal Shang terayun. Kekhawatiran yang sempat mengosongkan pikirannya, kini bak menguap ditiup angin. Shen Liu Zi baik-baik saja. Itu sudah cukup. Di mata Shen Liu Zi, pria itu tetap sama—tegap, tenang, dingin. Tidak ada retak pada rautnya, tidak ada gelombang emosi yang lolos ke permukaan. Sorot mata itu tetap jernih dan berjaga, seolah dia datang ke sini hanya untuk menyaksikannya bermandikan lumpur. Kemudian, ketika jenderal Shang mulai mengambil langkah, naluri Shen Liu Zi bergerak lebih cepat dari pikirannya. Tubuh wanita itu bergeser setengah langkah. Gerakannya halus, nyaris seperti menyesuaikan posisi berdiri, tapi tangan kirinya secara alami menarik kantong kain yang menggembung di sisi tubuhnya—menyembunyikannya ke balik lipatan jubah yang sudah kotor. Dia yakin gerakan itu bersih. Tidak mencolok. Tidak meninggalkan jejak. Namun .... Ketajaman mata jenderal Shang tidak bisa ditipu! Sekilas saja pria itu menyadari apa yang Shen Liu Zi lakukan, tetap
Bug! Tumpukan buku bersampul tebal diletakkan di hadapan Shen Liu Zi, disusul suara Shen Liu Bei yang terdengar tertahan—bukan sedih, melainkan jengkel. “Mereka saksi bisnis keluarga Shen.” Shen Liu Zi tidak menjawab. Jarinya langsung membuka lembar demi lembar buku itu. Angka, cap merah, serta nama-nama pihak luar berjejer rapi. Ekspresinya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan orang terkasih. Sesekali kepalanya mengangguk kecil, seolah setiap baris yang dibaca menguatkan sesuatu di dalam benaknya. Shen Liu Bei berdiri di samping meja, bertumpu pada tongkat. Dadanya naik turun, menahan amarah yang sejak lama dipendam. “Lihat ini,” lanjutnya dengan suara menurun, tapi tajam, “saat bisnis berjalan lancar, mereka berlomba-lomba menyebut diri sebagai mitra keluarga Shen. Anggur terbaik mereka minum, daging terbaik mereka santap, keuntungan dibagi tanpa pernah terlambat.” Tangannya mengepal. “Begitu longsor terjadi, begitu keluarga kita tersudut, mereka s
Blub! Shen Liu Zi memasukkan kepalanya ke permukaan air. Bukan suara gemericik yang menyambut, tetapi umpatan demi umpatan tentang keluarganya. 'Keluarga Shen harus dihukum!' 'Mereka bertanggung jawab atas bencana ini!' 'Menantunya_Jenderal Shang juga harus tanggung jawab!' 'Tuntut Jenderal Shang!' Byar! Kemudian Shen Liu Zi menarik diri. Air membasahi seluruh wajah, bahkan hampir ke leher. Napasnya terengah-engah, bukan karena baru saja ditahan, tetapi karena emosi dalam dadanya belum meredam. Di sisi lain, Yu Li sesekali menoleh ke arah Shen Liu Zi, sambil memberi minum kuda. Kemudian gadis itu lanjut mengisi botol persediaan minum mereka dengan aliran sungai yang jernih. Masih di tempat yang sama, Shen Liu Zi menengadah untuk menghitung waktu. Menurutnya, sore akan segera datang. Dia tidak boleh terjebak malam di pertengahan jalan, jadi lekas beranjak seraya bersiul. Pluit! Kuda putih berponi miliknya mendengkur, seolah menyahut, sebelum setengah berlari m







