Home / Romansa / Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan / Bab 7. Yu Li Pelayan Bernyali

Share

Bab 7. Yu Li Pelayan Bernyali

Author: Zhang A Yu
last update publish date: 2025-11-06 08:12:13

Yu Li terlonjak panik.

“Nyonya!” serunya nyaris parau.

Tubuh Shen Liu Zi terasa dingin ketika dipeluk, napasnya terputus-putus, dan keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Tidak! Tidak boleh begini!” Yu Li mengguncang pelan bahu junjungannya itu, tetapi kelopak mata itu tetap tertutup rapat.

Angin malam menyusup lewat celah pintu, membawa hawa lembab bekas hujan yang menusuk tulang.

Yu Li menatap ke luar sebentar, lalu menggigit bibir kuat-kuat. Tanpa pikir panjang, dia mengangkat tubuh She
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 307. Akhir.

    Dua tahun kemudian .... Musim semi telah datang dan pergi. Musim panas berganti dengan gugur. Lalu, musim dingin kembali menyelimuti ibu kota. Namun, di dalam kamar yang tenang itu, waktu seakan berhenti. Aroma obat-obatan memenuhi udara, tirai tipis bergoyang perlahan diterpa angin yang menyelinap dari sela jendela. Di atas ranjang, Shen Liu Zi berbaring tanpa banyak bergerak. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna. Tangannya yang selama ini selalu hangat kini terasa begitu dingin. Di sisi ranjang, Jenderal Shang duduk tanpa pernah beranjak. Kedua tangannya menggenggam erat tangan Shen Liu Zi, seolah sedikit saja dia melepaskan genggaman itu, wanita di hadapannya akan benar-benar menghilang. Sorot mata sang jenderal tak lagi setegas dahulu! Di dalamnya hanya tersisa kelelahan, kecemasan, dan ketakutan yang selama ini terus dipendam. Seorang tabib tua perlahan menarik kembali jarinya dari pergelangan tangan Shen Liu Zi. Ruangan menjadi sunyi. Tidak seorang pun berani meme

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 306. Berselimut Kehangatan

    Pada akhir musim gugur. Langit tampak kelabu. Angin dingin berembus perlahan melewati halaman kediaman Jenderal Shang, membawa dedaunan kuning yang berguguran dari pepohonan. Empat bulan sudah Shen Liu Zi tertidur. Empat bulan pula usia putranya, yang disusui Permaisuri Chun. Kini, kamar wanita itu terasa sunyi. Sinar matahari musim gugur yang redup masuk melalui jendela, menerpa wajah pucatnya. Keheningan menyelimuti ruangan. Suasananya begitu tenang seperti jauh dari hiruk pikuk duniawi. Seiring berjalannya waktu .... Jari telunjuk Shen Liu Zi bergerak kecil. Kemudian berhenti, tak meninggalkan perubahan berarti. Tak berselang lama .... Ujung jemarinya kembali bergetar. Dan kelopak matanya yang selama berbulan-bulan tidak pernah bergerak mulai berkedut samar. Sekali, dua kali. Lalu, kembali tenang. Di luar kamar, Chu Qiao duduk di pagar batu dekat pintu. Satu kakinya menjuntai santai, tangannya memegang sekantung kacang panggang. Meski terlihat malas-malasan

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 305. Kesetiaan Jenderal Shang

    Jenderal Shang tidak rela Shen Liu Zi mati! Tabib yang menangani Shen Liu Zi melahirkan melakukan berbagai cara untuk menyadarkannya, bahkan tabib tabib lain juga didatangkan hanya demi membangunkan wanita itu. Di tengah suara tangisan bayi tak kunjung mereda, para tabib sibuk melakukan berbagai cara menyadarkan Shen Liu Zi. Hingga hari berikutnya, kabar ini pun sampai ke telinga Kaisar. Hatinya diliputi kecemasan, jadi dia mendatangi kediaman Jenderal Shang ditemani Permaisuri Chun. Kedatangan Kaisar membuat semua orang di sana membungkuk hormat tanpa melakukan satu pun pekerjaan, walau itu tabib dan Jenderal Shang sendiri. Ketika suara bayi memecah .... Permaisuri Chun berinisiatif membawanya ke ruangan lain untuk menyusuinya. Sementara di kamar Shen Liu Zi .... “Jangan mengorbankan siapapun,” suara Kaisar lirih tapi tegas. Jenderal Shang tertunduk. “Selain Jenderal Shang, silahkan tinggalkan kamar ini!” perintah Kaisar dingin tapi lantang. Semua orang yang ada di kamar—

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 304. Di Hari Melahirkan

    Kota Kekaisaran menyambut kepulangan Jenderal Shang dan pasukannya.Beberapa bulan berlalu, hari Shen Liu Zi melahirkan pun tiba. Malam itu, langit ibu kota diselimuti awan tipis.Di kediaman Jenderal Shang, lampu-lampu lentera menyala terang sejak sore. Pelayan keluar masuk tanpa henti. Suasananya begitu tegang.Dari dalam kamar utama, suara Shen Liu Zi yang menahan sakit terdengar beberapa kali.Di luar pintu, jenderal Shang berdiri membeku. Kedua tangannya terkepal di belakang punggung. Matanya terpejam. Namun, siapa pun bisa melihat ketegangan yang menyelimuti seluruh tubuh pria itu.Di medan perang, menghadapi puluhan ribu musuh sekalipun, Jenderal Shang tak pernah menunjukkan wajah seperti sekarang, tetapi malam ini jelas berbeda.Di balik pintu .... "Tarik napas lagi, Nyonya Shen!” suara Chu Qiao terdengar dari dalam."Bagus! Sekali lagi!" sambung tabib.Tak lama kemudian terdengar erangan kesakitan Shen Liu Zi.Jantung Jenderal Shang langsung terasa diremas, tangannya mengep

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 303. Mereka Juga Pulang

    Satu bulan berlalu dalam sekejap.Karena belum menerima titah pemanggilan kembali dari Kaisar, Jenderal Shang beserta pasukannya tetap menetap di markas kota Xudu. Perang bisa disebut telah berakhir sepenuhnya, tetapi wilayah Xudu merupakan yang paling menerima banyak kerugian. Ekonomi belum stabil, kelaparan masih merajalela. Anak-anak terserang penyakit, orang tua mati satu persatu.Jenderal Shang beserta pasukannya berusaha memulihkan wilayah itu.Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang luas.Puluhan prajurit Kekaisaran menggulung lengan baju mereka. Sebagian ada yang membajak tanah, sebagian lagi memperbaiki saluran air, ada pula yang membantu memanggul karung bibit.Pemandangan itu membuat para penduduk beberapa kali tersenyum tak percaya.Di tengah ladang, Jenderal Shang sendiri sedang berdiri tanpa baju zirah.Pria itu hanya mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap dengan lengan digulung hingga siku. Sepasang tangannya memegang cangkul. Ayunan ca

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 302. Mengintip

    Di balik tumpukan jerami besar tak jauh dari area belakang perkemahan, Shen Liu Zi dan Jenderal Shang berjongkok seperti pencuri ayam. Api kecil menyala redup di depan mereka. Potongan burung pegar panggang yang tadi susah payah dimasak Jenderal Shang kini justru sedang mereka makan diam-diam sambil mengintip ke arah lain. Shen Liu Zi menggigit daging burung panggang di tangannya sebelum berbisik pelan, “Cepat lihat, cepat lihat, Ruo He mulai bicara.” Di sebelahnya, Jenderal Shang masih memegang tusukan kayu berisi potongan daging. Tatapan pria itu lurus ke depan tanpa berkedip sedikit pun. Beberapa langkah dari sana, Ruo He berdiri kaku seperti tiang kayu. Di hadapannya berdiri seorang gadis cantik, masih muda, berpakaian tipis berwarna pucat. Wajahnya terlihat polos dengan mata bulat jernih yang tampak terlalu lugu untuk berada di lingkungan militer seperti ini. Usianya mungkin baru enam belas tahun lebih sedikit. Angin malam meniup lembut rambut panjang gadis itu.

  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 175. Pelukan Kerinduan Shen Liu Zi

    Di luar gerbang. Jenderal Shang sudah berdiri di sisi kuda hitamnya. Seragam dinasnya terpasang rapi, baju zirah menutup dada serta bahunya, memantulkan kilau redup di bawah cahaya matahari yang belum sepenuhnya naik. Rambut panjangnya diikat asal di belakang kepala, beberapa helai terlepas, men

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 165. Terlalu Lemah

    Pintu tenda tersibak kasar. Angin dingin dari luar ikut menerobos masuk bersama langkah jenderal Shang yang tergesa, napasnya masih tersisa sisa kekhawatiran dari laporan Yu Li barusan. Dari dalam tenda, Shen Liu Zi yang sedang berdiri membelakangi pintu menoleh pelan. Tangannya tengah mengaitk

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 169. Makan Siang Jenderal Shang

    Pada saat bersamaan, jenderal Shang berseru ke arah barisan prajurit yang tengah antre. “Semuanya! Ada makan enak dari Nona Hui!” Seolah hanya menunggu aba-aba, para prajurit yang tadinya berdiri tertib langsung saling menoleh dengan mata berbinar. “Dari Nona Hui?” “Benarkah ada makanan enak lag

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Jenderal! Istrimu Bukan Pajangan   Bab 166. Bongkahan Es Dilelehkan

    Kereta-kereta kuda beserta puluhan prajurit berbaris rapi bak kawanan semut membelah jalur bersalju. Dan di tengah perjalanan, yang masih jauh dari kata dekat, hujan disertai badai turun tanpa berkompromi. Pemimpin jalan—jenderal Shang, mengangkat tangan mengisyaratkan pemberhentian. “Berhenti!”

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status