LOGINMerzia adalah seorang Kaisar Semu tingkat tiga. Dia tahu teknik terbaik yang melibatkan Lima Elemen yang nantinya bisa membentuk jurus baru yang sangat kuat. Oleh karena itu, dia sangat gembira dan bersyukur setelah mendapatkan Pembalik Lima Elemen dari Chandra. Dia tidak pernah menyangka kalau Chandra akan memberikannya teknik luar biasa seperti ini. Banyu menghampiri Merzia lalu berkata sambil tersenyum, “Merzia, selamat atas apa yang kamu dapatkan. Apa yang dianugerahkan oleh Senior Chandra bukanlah suatu hal biasa. Itu adalah sebuah harta karun yang sangat berharga bagi hidupmu.”“Benar,” jawab Merzia sambil mengangguk.Benar apa yang dikatakan oleh Banyu. Teknik ini adalah harta karun yang sangat berharga bagi hidup Merzia. Dia pastinya akan menjadi sosok yang tak terkalahkan dan hanya berada satu tingkat di bawah Aturan Langit jika dia berhasil menguasai Pembalik Lima Elemen. Dengan begitu, tidak akan ada lagi makhluk kuat mana pun yang bisa menandinginya. Karena dia hanya mampu
Dia bersujud sebanyak sembilan kali seraya berkata, “Merzia sebagai murid bersumpah tidak akan mengkhianati dan akan selalu mengikuti perintah Master.”Peristiwa ini membuat Chandra cukup gelisah. Dia tidak pernah berpikir untuk memiliki murid. Dia hanya pernah menganggap satu orang sebagai muridnya ketika dirinya berada di Dunia Qiza. Namun sebenarnya, orang itu bukan benar-benar muridnya, hanya saja orang itu mengikuti arahannya dan terus memanggilnya sebagai Master. Bisa dibilang, orang itu juga bukan muridnya. Sekarang, Merzia menyatakan diri sebagai muridnya. Hal ini tentu saja, membuat Chandra bingung. Karena biasanya, seorang Master atau Guru akan memberikan suatu barang kepada muridnya. Namun, Merzia adalah seorang prajurit dengan tingkat kekuatan Kaisar Semu. Barang pemberian Chandra pastinya akan dipandang sebelah mata oleh Merzia. Chandra menggaruk kepalanya sambil berpikir lalu berkata, “Kultivasi apa yang sekarang sedang kamu tempuh?”Merzia berkata dengan hormat sambil
Banyu tahu, dia sudah tidak memiliki harapan sama sekali. Lupakan saja, dia pun tidak ingin berangan-angan lagi.“Ya sudah kalau begitu. Aku akan kembali ke Sekte Jagat untuk ambil kembali maharku.”Mahar yang dibawa Banyu sangat berharga. Sekarang pernikahannya dengan Merzia batal. Tentu saja, dia harus mengambil kembali maharnya. Meskipun Pavilion Pil kaya dan berkuasa, barang-barang berharga itu juga tidak akan diberikan begitu saja kepada orang lain.“Kebetulan aku juga mau kembali ke Sekte Jagat dan laporkan masalah ini pada sekte,” kata Merzia.Chandra mengangguk, “Ayo, kita kembali ke Sekte Jagat.”Chandra telah mendapatkan banyak hal dari perjalanan ke Gunung Seratus Gua ini. Dia telah mendapatkan Selingian yang dibutuhkan Kaisar Ceptra, juga menaklukkan seorang prajurit kuat super. Dengan adanya prajurit kuat super ini, kelak perjalanannya akan jauh lebih mudah.“Bos, bagaimana kalau aku mengasingkan diri dulu? Tunggu pembuluh darahku sudah berevolusi, aku baru pergi cari kamu
Namun, dilihat dari ekspresi mereka, tampaknya keduanya telah mendapatkan banyak barang bagus. Terutama Banyu. Datang-datang, pria itu memperlihatkan senyum lebarnya.“Senior Chandra, habis ini kamu mau pergi ke mana? Perekrutan murid baru Pavilion Pil nggak lama lagi. Bagaimana kalau kita langsung pergi ke Pavilion Pil?”Banyu mengundang Chandra ke Pavilion Pil lagi. Chandra adalah seorang prajurit kuat yang luar biasa. Jika dia bisa mengundang Chandra untuk menjadi juri, itu adalah hal yang sangat baik untuk Pavilion Pil.“Tapi ….” Banyu melirik Merzia dan berkata, “Sebelum pergi ke Pavilion Pil, aku harus pergi sebentar ke Sekte Jagat untuk menikahi Merzia.”Ekspresi Merzia seketika berubah. Dia tidak ingin menikah dengan Banyu. Sekalipun Banyu adalah tuan muda Pavilion Pil, Merzia tetap tidak ingin menikah dengannya. Namun, apa yang bisa dia lakukan? Sektenya telah menyetujui pernikahan itu. Jadi bagaimana mungkin Merzia menolak?Setelah berpikir sejenak, sebuah ide tiba-tiba terli
Marwan seketika panik ketika dengar kata “bunuh”. Dia langsung menatap Chandra dan memohon, “Jangan, jangan bunuh aku. Tolong biarkan aku hidup. Aku mungkin masih berguna. Bukannya kamu ingin tahu tentang Istana Hitam? Aku akan menyusup ke sana dan bantu kamu selidiki Istana Hitam.”Tidak ada yang tidak takut mati. Marwan adalah seorang prajurit kuat Alam Kekaisaran. Dia telah berlatih selama berabad-abad sebelum akhirnya mencapai Alam Kekaisaran. Dia tidak ingin mati begitu saja. Meskipun dia tidak takut mati, dia tetap tidak ingin mati.Chandra juga menatap Marwan sambil termenung. Sesaat kemudian, dia baru berkata, “Lepaskan saja.”“Lepaskan?” tanya Lembu Dewa bingung. “Bos, lepaskan begitu saja? Kamu benar-benar percaya padanya? Kalau dia kembali, kita nggak akan pernah bisa temukan dia lagi.”Marwan langsung berkata dengan bersungguh-sungguh, “Nggak, tentu saja nggak. Aku bersumpah demi Langit.”Usai berkata, Marwan segera mengucapkan sumpah, “Aku, Marwan, bersumpah atas nama Lang
Marwan menatap Chandra dan berkata dengan tenang, “Kalau mau bunuh, bunuh saja aku.”Chandra mengerutkan kening. Kemudian, dia mengaktifkan aksara hitam di dalam tubuhnya. Ribuan aksara hitam muncul, masing-masing aksara membawa kekuatan aneh.“Kamu seharusnya tahu apa ini.” Chandra juga berkata dengan tenang, “Kamu tahu betul betapa mengerikannya Jurus Kutukan. Aku akan beri kamu kesempatan satu kali lagi.”Setelah melihat Prasasti Kutukan, wajah Marwan seketika menjadi pucat pasi. “Nggak mungkin. Bagaimana mungkin? Kenapa kamu tahu Jurus Kutukan?”Prasasti Kutukan yang dikeluarkan Chandra adalah yang paling menakjubkan dan dalam. Marwan bergabung dengan Istana Hitam untuk mempelajari Jurus Kutukan. Namun sejauh ini, dia hanya mendapatkan satu Prasasti Kutukan. Meskipun hanya satu, prasasti itu sangat dalam. Marwan belum sepenuhnya memahami prasasti itu.Sedangkan Chandra bisa mengeluarkan ribuan Prasasti Kutukan sekaligus. Selain itu, setiap prasasti jauh lebih mendalam daripada pras
Ketiga orang di belakangnya langsung bergidik ketakutan ketika mendengar kata ‘Alam Ajaib’. Chandra menatap ke kejauhan. Di kejauhan, Wayan merasakan formasi yang sangat kuat dari atas kapal pesiar. Formasi itu sedikit memberikan tekanan di tubuhnya, tapi dia tidak terlalu menganggap serius tekanan
Makhluk ini masih belum tumbuh dewasa setelah waktu berlalu cukup lama. Bahkan dia masih tampak seperti baru lahir. Sasa berjalan mendekat lalu berkata sambil tersenyum, “Chandra, kamu jangan meremehkan dia karena keimutannya. Kekuatannya tidak kalah darimu ketika dia sudah berubah.”Chandra sediki
Chandra telah lama mendengar tentang Lingsi Agung dari Gunung Abadi. Pada saat Basita membawa Chandra ke Pustaka Agung di bumi, Basita juga memberitahu penjaga Pustaka Agung.Chandra menatap Basita dan bertanya, “Sebenarnya Gunung Abadi itu tempat seperti apa? Gurumu sangat kuat? Bisakah dia melawan
Luna tidak percaya dirinya bisa seberuntung itu. Namun, dia sudah sangat berterima kasih kepada Chandra. Karena berkat Chandra, Luna mampu sampai sejauh ini.Chandra menunggu pertarungan berikutnya dengan sabar. Karena Chandra hanya memiliki satu token di tangannya. Dia ada di peringkat terakhir. Ji







