Share

Penglihatan Jenderal

Author: Strawberry
last update Last Updated: 2026-02-07 07:59:00

Keesokan paginya, Li Lian berdiri di depan cermin kecil. Lebam keunguan tercetak jelas di rahangnya yang pucat—bekas cengkeraman tangan Wu Chen semalam yang masih terasa berdenyut.

Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia mengambil bedak putih dan sari bunga, menepuk-nepuknya dengan sangat hati-hati untuk menyamarkan luka itu. Ia tidak boleh terlihat lemah. Di istana ini, kelemahan adalah undangan bagi pemangsa untuk menyerang.

Saat ia memasuki ruang perawatan Chen Xu, suasana terasa berbe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Pengumuman Besar

    Aula Utama Istana Merak Emas telah dipadati oleh para pejabat tinggi dan menteri kekaisaran sejak lonceng pagi berdenting. Suasana di dalam ruangan berplafon tinggi itu terasa begitu berat, bukan oleh asap dupa gaharu yang membubung, melainkan oleh intrik yang mendidih di bawah permukaan. Ibu Suri duduk di singgasana megahnya, menatap dingin ke seluruh penjuru ruangan sebelum akhirnya mengangkat tangan, menuntut keheningan mutlak."Para menteri dan pejabat sekalian," suara Ibu Suri menggema berwibawa. "Aku mengumpulkan kalian pagi ini untuk mengumumkan langkah besar bagi masa depan kekaisaran. Mengingat kondisi kesehatan Kaisar yang kian merapuh, takhta tidak boleh dibiarkan tanpa kepastian. Hari ini, aku secara resmi mengakhiri masa pengasingan Putra Mahkota dan menetapkan pendamping yang akan menopang jalannya pemerintahan di Istana Timur."Ibu Suri menjeda sejenak, matanya menyapu wajah-wajah menteri yang mulai berbisik."Oleh karena itu," suara Ibu Suri meninggi, membelah kesu

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Api Cinta yang Berkobar

    "Aku merasa bersalah karena ikut andil di dalamnya," gumam Jenderal pelan, suaranya sarat akan penyesalan yang tulus.Li Lian sedikit memiringkan kepalanya, menatap pria itu dengan binar jahil di matanya. "Oooh... jadi Anda sekarang sangat mengkhawatirkan Putri Agung?"Mendengar godaan itu, Jenderal Chen Xu memberikan reaksi yang tidak terduga. Ia menarik pinggang Li Lian lebih erat, hingga tak ada lagi udara di antara mereka. Tatapannya kini berubah, tak lagi penuh amarah atau penyesalan, melainkan tatapan yang dalam dan penuh damba yang bisa meluluhkan hati wanita mana pun.Perlahan, ia menarik pergelangan tangan Li Lian yang berada di genggamannya. Tanpa melepaskan pandangannya dari mata Li Lian, ia mengecup pergelangan tangan itu dengan sangat lembut, menekan bibirnya di sana cukup lama seolah sedang memuja setiap inci keberadaan wanita itu di tengah dinginnya badai salju.Li Lian mendekatkan wajahnya, hingga hidung mereka bersentuhan. "Hamba menjadi selir hanya untuk memastika

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Panas di Musim Dingin

    Li lian mendongak, menatap Permaisuri dengan tatapan yang mendalam. "Hamba melakukan ini hanya untuk bertahan hidup. Di istana ini, jika hamba tetap menjadi air yang tenang, maka Ibu Suri akan meminum hamba sampai habis. Hamba harus menjadi racun agar mereka yang mencoba menelan hamba akan berpikir dua kali."Permaisuri Xiao terdiam, tangannya yang gemetar kini menggenggam pinggiran meja. Ia merasa terjebak antara rasa benci dan ketergantungan pada Li Lian."Kau menggunakan putriku sebagai tamengmu," desis Permaisuri pahit."Dan hamba menggunakan nyawa hamba sebagai jaminan bagi keselamatan putri Anda," balas Li Lian cepat. "Kita berdua sama-sama tidak memiliki pilihan, Yang Mulia. Sekarang, simpanlah kotak obat ini. Pastikan pelayan setia Anda yang membawanya. Jangan biarkan Kasim Zhang atau mata-mata Ibu Suri menyentuhnya sedikit pun."Li Lian berdiri, membungkuk hormat dengan sangat anggun—sebuah penghormatan yang kini terasa lebih seperti formalitas seorang pemenang daripada s

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Sekutu

    Tangan Li lian kini sibuk meramu beberapa obat-obatan dengan ketelatenan yang luar biasa.Aroma herbal yang tajam memenuhi ruangan, menutupi bau anyir darah yang tadi sempat mendominasi. Setelah mengemasnya dalam beberapa kantong kain, Li Lian menyusunnya dengan rapi ke dalam sebuah kotak kayu jati.“Permaisuri, obat-obatan ini tidak hanya berfungsi memulihkan Tuan Putri dari kondisi kritis akibat kehabisan darah, tetapi juga untuk menetralkan sisa-sisa racun di tubuhnya,” terang Li Lian tenang. Ia kemudian menggeser kotak lain yang lebih kecil ke arah Permaisuri. “Dan yang ini... adalah penguat kandungan.”Permaisuri Xiao menatap kotak-kotak itu dengan pandangan kosong, sebelum suaranya pecah oleh emosi yang telah ia tahan sejak tadi. “Putriku berada di kuil yang dijaga ketat... Bagaimana mungkin dia bisa keracunan?”Li Lian menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap lurus ke dalam mata Permaisuri. “Inilah yang membuat hamba penasaran. Jenis racun ini memiliki karakteristik yang

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Retaknya Sebuah Cermin

    Kepergian Ibu Suri meninggalkan kekosongan yang mengerikan di Aula Merak Emas, namun ketegangan di dalamnya justru memuncak hingga ke titik didih. Permaisuri Xiao bangkit dari sujudnya dengan gerakan yang kaku, sisa air mata masih mengalir di pipinya, namun sorot matanya telah berubah menjadi belati yang haus darah.Tanpa peringatan, tangan Permaisuri melayang cepat di udara.PLAK!Suara tamparan itu berdentum keras, lebih menyakitkan daripada tamparan Ibu Suri sebelumnya karena kali ini datang dari seseorang yang sempat Li Lian anggap sebagai sekutu. Kepala Li Lian tersentak ke samping, dan meninggalkan sedikit rasa pening. Rasa anyir darah kembali memenuhi mulutnya, dan pipinya yang sudah membiru kini terasa seolah terbakar api.Li Lian terdiam sejenak, membiarkan rambutnya terurai menutupi wajah. Perlahan, ia mengangkat tangan, memegangi pipinya yang berdenyut panas, lalu ia mendongak. Di bibirnya, terukir sebuah senyum tipis yang merayap perlahan—sebuah senyuman yang tenang, na

  • Jenderal, Nyonya Muda Menginginkanmu!   Membalik Papan Catur

    Lantai pualam Aula Merak Emas terasa semakin membeku seiring dengan keheningan yang mencekam setelah titah penghancuran janin itu diucapkan. Namun, Permaisuri Xiao, dengan sisa-sisa martabat yang hancur, tidak berhenti bersujud. Ia tahu bahwa Ibu Suri adalah tembok yang tidak bisa ditembus dengan air mata, maka ia mulai menyusun bidak caturnya sendiri."Hamba memohon, Yang Mulia... biarkan bayi ini tetap dilahirkan," suara Permaisuri Xiao bergetar, namun perlahan berubah menjadi nada yang dingin dan penuh perhitungan. "Tidak apa jika ia harus diasingkan jauh dari ibu kota, tidak apa jika ia tak dianggap oleh dinasti. Tapi—" Permaisuri menjeda, matanya melirik tajam ke arah Li Lian yang masih sibuk dengan jarum peraknya. "Li Lian harus menemaninya."Li Lian menghentikan gerakannya sejenak. Jemarinya membeku di atas pergelangan tangan Putri Agung. Di dalam hatinya, sebuah senyum getir mengembang. Politik memang tidak mengenal kawan sejati, batinnya. Permaisuri Xiao, yang beberapa wak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status