LOGINHalo, pembaca-pembaca tersayang!
Seneng dan ga sabar banget nyapa kalian di sini Makasih banyak ya udah nemenin Ratri dan Wira sampai bab 16. Jujur, 16 bab pertama ini emang aku bikin lumayan berat—dari perjodohan paksa, pernikahan yang dingin, sampai akhirnya kebongkar rahasia soal Kakang Arya yang sempet bikin aku sendiri mewek pas nulisnya. Makasih yang udah sabar nungguin ceritanya pelan-pelan dibuka. Aku tau beberapa bab terakhir ini beratnya lumayan nampol ya—terutama pas Ratri akhirnya tau kenyataan soal malam Arya ditangkep. Aku pengen banget itu terasa nyata, bukan cuma drama picisan doang. Rasa marah dan bingungnya Ratri itu valid banget, dan aku harap kalian juga ikut ngerasain dilema itu bareng dia. Tapi tenang aja, ini bukan cerita yang bakal terus-terusan berat kayak gini. Wira udah mulai nunjukin sisi lain dari dirinya kok—yang nggak cuma jenderal dingin, tapi juga orang yang diam-diam rapuh dan penuh penyesalan. Ke depannya, hubungan mereka bakal berkembang pelan-pelan, dan aku janji bakal ada momen-momen yang lebih ringan dan manis buat nyeimbangin semua drama beratnya. Buat yang penasaran soal siapa yang bener-bener bertanggung jawab atas kematian Arya, sabar ya. Aku janji ini nggak bakal digantung selamanya, tapi aku juga pengen kalian nikmatin proses Ratri sama Wira saling membuka diri sedikit demi sedikit, bukan langsung dikasih semua jawaban di awal. Makasih juga buat yang udah komen dan kasih masukan soal pace cerita. Aku baca semuanya, dan itu bener-bener bantu aku mikirin arah cerita ke depan. Sampai ketemu di bab-bab selanjutnya. Siap-siap peluk boneka atau bantal, soalnya beberapa bab ke depan masih akan menguras perasaan dikit sebelum akhirnya lebih hangat lagi 🤍 — HeldaBeberapa minggu berlalu sejak selapanan Bintang, dan meski laporan-laporan dari Ki Bramantyo masih terus berdatangan tentang aktivitas mencurigakan di sekitar Sendang Rejo, kehidupan di kediaman berusaha mempertahankan ritme normalnya."Kau pikir kita harus mengunjungi Wilatikta lebih sering sekarang?" Ratri bertanya suatu malam, menggendong Bintang yang mulai bisa tersenyum, sebuah pencapaian kecil yang membuat seluruh keluarga bahagia."Aku pikir itu ide bagus," Wira mengangguk, mengamati Arya yang sedang mengajari Bintang menggenggam jarinya, meski bayi itu belum sepenuhnya mengerti. "Kita bisa merencanakan kunjungan bulan depan.""Aku akan menulis surat memberi tahu Ayah," Ratri berkata, senyum lembut menghiasi wajahnya membayangkan pertemuan berikutnya dengan keluarganya di Wilatikta.Malam itu, seluruh keluarga berkumpul di ruang keluarga, momen sederhana yang selalu Ratri hargai—Arya yang bercerita tentang harinya dengan penuh semangat, Bintang yang mulai menunjukkan kepribadia
Tiga puluh lima hari setelah kelahiran Bintang, tradisi selapanan kembali dirayakan, kali ini dengan suasana yang sedikit berbeda—penuh kebahagiaan yang sama, tapi juga kewaspadaan yang lebih tinggi menyusul laporan-laporan terbaru dari Ki Bramantyo."Kau yakin ini waktu yang tepat untuk mengadakan perayaan?" Ratri bertanya ke Wira, sedikit khawatir mengingat situasi yang masih belum jelas."Kita tidak bisa membiarkan ketakutan menghentikan kita merayakan kebahagiaan," Wira menjawab mantap. "Kita hanya perlu memastikan pengamanan ekstra selama acara berlangsung."Perayaan selapanan Bintang berlangsung di halaman kediaman, dihiasi bunga-bunga segar dan lampion kecil, meski kali ini penjaga tambahan tersebar tidak kentara di berbagai sudut untuk memastikan keamanan.Ayah Ratri, yang datang jauh-jauh dari Wilatikta bersama Dyah, langsung menghampiri cucunya yang baru dengan mata berbinar bahagia."Cucuku yang kedua!" ayahnya berseru gembira, menggendong Bintang dengan hati-hati. "Dia mir
Beberapa minggu setelah kelahiran Bintang, di tengah kebahagiaan yang masih menyelimuti kediaman, Ki Bramantyo datang dengan laporan yang lebih serius dari biasanya."Jenderal," Ki Bramantyo memulai, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tidak biasa. "Informan kita di Sendang Rejo melaporkan peningkatan aktivitas mencurigakan dalam beberapa minggu terakhir."Wira, yang tengah menggendong Bintang, menyerahkan bayinya pelan-pelan ke Ratri sebelum fokus penuh pada laporan itu. "Aktivitas seperti apa?""Beberapa kelompok kecil terlihat berkumpul secara rutin, jauh dari pengawasan biasa," Ki Bramantyo menjelaskan. "Kami belum bisa memastikan tujuan mereka, tapi polanya mengingatkan pada persiapan sebelum tindakan besar.""Berapa banyak orang yang terlibat?" Wira bertanya, mencoba mengukur skala ancaman itu."Sekitar dua puluh hingga tiga puluh orang, tersebar di beberapa titik," Ki Bramantyo memperkirakan. "Tapi jumlah itu bisa bertambah kalau mereka berhasil merekrut lebih banyak simpati
Malam itu, tepat tiga bulan setelah pemeriksaan terakhir, Ratri terbangun karena rasa sakit yang familiar, menjalar dari perutnya ke seluruh tubuhnya."Wira," Ratri membisikkan, menggoyang pelan suaminya yang tertidur. "Sepertinya waktunya sudah tiba."Wira langsung terbangun, matanya melebar panik meski dia mencoba tetap tenang. "Kau yakin?""Aku yakin," Ratri mengangguk, meringis menahan rasa sakit yang mulai datang berirama.Kediaman segera dipenuhi kesibukan yang familiar—tabib dan Bi Rahayu bergegas datang, sementara Wira mendampingi Ratri dengan tangan yang tidak pernah lepas dari genggamannya."Kau bisa melewati ini," Wira membisikkan, mengusap keringat di dahi Ratri. "Kau sudah pernah melakukannya sebelumnya, dan kau begitu kuat.""Aku tahu," Ratri menjawab di sela napasnya yang memburu, "tapi tetap saja tidak mudah."Arya, yang terbangun karena keributan itu, dijaga oleh Dyah yang kebetulan menginap malam itu, keduanya menunggu dengan cemas di luar kamar."Ibu sakit?" Arya be
Suatu pagi, Dyah datang berkunjung dengan wajah yang berbinar penuh kegembiraan, hampir tidak sabar menunggu sampai dia duduk sebelum mengumumkan kabarnya."Kak Ratri!" Dyah berseru, langsung memeluk kakaknya erat. "Aku hamil!"Ratri, yang kaget sekaligus bahagia, langsung memeluk balik adiknya dengan mata berkaca-kaca. "Sungguh? Kapan kau tahu?""Baru kemarin," Dyah mengaku, masih tidak bisa menahan senyumnya. "Arka bahkan sampai menangis saking bahagianya.""Aku sangat senang untukmu, Dik," Ratri berkata tulus, mengelus perutnya sendiri yang sudah cukup besar. "Sekarang kita akan hamil berbarengan, meski beda beberapa bulan.""Aku tidak sabar!" Dyah berkata semangat. "Anak-anak kita akan tumbuh besar bersama, seperti sepupu sungguhan."Wira, yang mendengar kabar itu dari ruang kerja, ikut keluar dengan senyum lebar. "Selamat, Dyah. Aku senang sekali untuk kalian berdua.""Terima kasih, Kak Wira," Dyah berkata, memeluknya juga. "Ini semua berkat dukungan kalian juga, membantu kami me
Dengan perkiraan tiga bulan menuju kelahiran, Ratri dan Wira mulai mempersiapkan kamar bayi kedua, kali ini di sebelah kamar Arya, biar kakak-adik bisa saling dekat."Warna apa yang kau mau?" Wira nanya, natap dinding kosong yang siap dicat."Aku pikir hijau lembut," Ratri mengusulkan. "Netral, tapi tetap hangat.""Aku suka itu," Wira mengangguk setuju.Arya, yang ikut membantu meski lebih banyak mengganggu daripada membantu, sibuk memilih mainan-mainan lama miliknya yang ingin dia berikan ke adiknya."Ini buat adik," Arya berkata bangga, menunjukkan beberapa mainan kayu yang mulai using tapi masih dalam kondisi baik."Itu manis banget, Nak," Ratri berkata terharu, mengecup kepala anaknya. "Adikmu bakal senang banget."Selama beberapa minggu berikutnya, kamar itu perlahan terbentuk—dinding hijau lembut, ranjang bayi kedua yang lagi-lagi diukir sendiri oleh Wira, dan berbagai hiasan kecil yang disumbangkan oleh seluruh keluarga besar.Ratu Ibunda Suri, yang datang berkunjung suatu sore







