Masuk
Malam itu di luar kediaman angin kencang bertiup seakan hendak menumbangkan pepohonan yang ada di halaman. Di selatan cakrawala, kilatan petir sesekali akan terlihat menerangi malam yang pekat.
Li Yuan turun dari balik balok penyangga atap tanpa suara. Pedang pendeknya tersembunyi dengan baik di balik lengan baju hitamnya. Ia melangkah maju tanpa suara. Kemampuan meringankan tubuhnya termasuk yang terbaik di antara orang-orang di dalam organisasi. Organisasi mereka merupakan organisasi gelap yang terkenal di dunia bawah tanah karena memilki sekumpulan pembunuh bayaran terbaik di seluruh Dinasti Xin. Malam ini adalah pertama kalinya ia keluar dari benteng untuk melakukan misi pertamanya. Misinya yaitu untuk melenyapkan nyawa seorang pejabat tinggi pemerintah. Setelah dilatih oleh para ahli dalam organisasi selama bertahun-tahun, akhirnya ia memenuhi syarat untuk melakukan tugas pertamanya. Jika ini berhasil, ia akan secara resmi menjadi salah satu pembunuh bayaran yang akan dipekerjakan oleh organisasi. Ini menandai berakhirnya masa magangnya. Li Yuan hendak berbelok ke sudut ketika melihat sekelebat bayangan melintas sejauh beberapa ruangan darinya. Apakah organisasi telah mengirim pembunuh bayaran lainnya? Ia bertanya-tanya. Tak heran mengingat target kali ini adalah seorang pejabat tinggi yang untuk keselamatannya ia telah mempekerjakan banyak pengawal ahli tingkat tinggi. Menghilangkan keraguan sesaatnya, ia dengan mantap berbelok. Sebelumnya ia sudah mencari tahu lokasi kamar tidur sang pejabat. Karena telah meracuni minuman para pengawal dengan obat bius, ia yakin tidak akan ada gangguan yang berarti. Ia sudah mencapai pintu depan ruang tidur ketika tiba-tiba sekelompok pengawal yang seharusnya tidak sadarkan diri menerjang ke arahnya. Li Yuan bingung, sebelumnya ia telah memastikan para pengawal ini meminum anggur yang bercampur dengan obat bius yang disiapkan olehnya. Bagaimana mereka bisa terlihat baik-baik saja saat ini? Namun ia tidak diberi waktu untuk mencerna apa yang telah terjadi. Sudah tidak sempat lagi untuk bersembunyi, kelompok pengawal itu telah melihatnya. Karena sudah seperti ini, ia hanya bisa menggertakkan giginya berniat untuk bertempur melawan para ahli tingkat tinggi itu. Lolos tanpa cacat adalah sebuah keberuntungan. Mati tanpa tempat pemakaman merupakan sesuatu yang hanya bisa disesalkan. Bagaimanapun, orang-orang yang berkecimpung dalam pekerjaan ini seringnya tidak akan menemui akhir yang baik. Pandangannya menatap tajam ke depan. Kedua pedang pendeknya segera terhunus dari balik lengannya. Ketika para penyerang berada dalam jangkauan pedang pendeknya, segera tebasan demi tebasan ia layangkan. Darah berceceran memenuhi koridor. Tidak lama kemudian, dari penglihatan tepinya, sementara ia sedang menghadapi lima orang pengawal yang menyerangnya sekaligus, ia melihat sosok berpakaian hitam diam-diam telah tiba di depan pintu ruang tidur. Sebelum masuk ke dalam, orang itu sempat menoleh ke arahnya. Sebuah seringai tipis menghiasi wajah pemuda kurus yang terbungkus dalam pakaian serba hitam itu. Xu Chen?! Beraninya dia! Amarah segera bangkit dalam dirinya. Gangguan sesaat itu telah berhasil membuat celah hingga sebuah tusukan dari pedang panjang berhasil menembus dadanya, dan pikirannya segera menjadi jelas. Ia begitu bodoh hingga berpikir akan segera secara resmi dipekerjakan oleh organisasi. Kenyataannya, ia hanya dimanfaatkan oleh organisasi untuk menutupi celah dalam mencapai misi kali ini. Ia sangat yakin misi kali ini pastilah sangat penting hingga seorang anggota seperti dirinya harus dikorbankan demi keberhasilannya. Li Yuan dengan cepat kehilangan kekuatannya. Tubuhnya terjatuh begitu saja di atas lantai yang dingin. Beberapa serangan pedang lawan telah berhasil melukai tubuhnya, mengiris dagingnya menjadi sayatan-sayatan yang dalam maupun ringan. Meski begitu ia kini tidak bisa lagi merasakan luka kecil seperti itu. Seluruh tubuhnya hanya terasa amat sakit. Sakit yang tak tertahankan. Di akhir napasnya, ia tersenyum dingin. Sepertinya jalan jahat yang hendak diarunginya dalam kehidupan ini tidak ditakdirkan untuk dia jalani lebih lama lagi. Jika ada kehidupan berikutnya, ia tidak akan pernah mengampuni orang-orang yang berbalik melawannya. -------- Kediaman Bangsawan Shen. "Nyonya! Nyonya Muda! Seseorang tolong selamatkan Nyonya Muda!" Seorang pelayan wanita berteriak meminta tolong, namun entah bagaimana teriakannya terdengar semakin pelan sehingga bahkan orang-orang yang berada di dekat sana pun kemungkinan tidak akan bisa mendengar teriakan minta tolong itu. Karena 'merasa' tidak ada yang mendengarnya, ia pergi mencari bantuan ke tempat yang lebih jauh, meninggalkan sang Nyonya yang sedang berjuang di dalam kolam yang dingin. Beberapa pelayan muda yang kebetulan lewat di dekat sana segera menyadari seseorang sedang tenggelam di kolam. Salah seorang di antaranya yang tahu berenang segera masuk ke dalam air untuk menarik orang yang tenggelam itu. Mereka sangat terkejut ketika mendapati bahwa orang yang tenggelam itu adalah Nyonya Muda Pertama yang baru menikah ke dalam keluarga. Kemudian keadaan mulai sibuk saat sang Nyonya dibawa kembali ke halamannya. Tabib sudah dipanggil dan sedang memeriksa. Para pelayan di luar berbisik-bisik satu sama lain. "Mengapa Nyonya Muda Pertama bisa tenggelam di tempat terpencil seperti itu?" "Sebenarnya apa yang ingin dilakukan Nyonya pergi ke sana?" "Nyonya belum lama di kediaman ini, bagaimana mungkin ia tahu cara ke sana!" "Kalau begitu, apakah ada yang sengaja membawanya ke sana? Untuk apa?" Berbagai pertanyaan dan dugaan mulai bermunculan. Nyonya Muda ini baru saja menikah ke dalam keluarga namun sebelum menjalani malam pernikahannya, Tuan Muda Pertama segera menerima Dekrit Kekaisaran yang memerintahkannya untuk secepatnya berangkat ke Perbatasan Selatan. Sang Tuan Muda tanpa penundaan segera berangkat ke Perbatasan Selatan malam itu juga. Meninggalkan istri baru yang bahkan belum sempat dilihatnya. Tak sedikit yang mengasihani nasib sang Nyonya baru. Seorang pengasuh tua datang dari luar, segera masuk ke dalam untuk menanyakan keadaan sang Nyonya. Itu adalah Chen Mama, orang dari pihak Nyonya Besar. Sepertinya Nyonya Besar telah diberitahu mengenai kecelakaan Nyonya Muda Pertama dan segera mengirim orang kepercayaannya untuk datang melihat. "Tabib Mo, bagaimana keadaan Nyonya Muda?" Pria tua berkumis putih itu menggelengkan kepalanya, "Sulit untuk memastikan. Kita akan lihat lagi setelah Nyonya berhasil melewati malam ini." Setelah itu Tabib Mo segera menginstruksikan pemberian berkala ramuan obat yang diresepkannya. Merasa tidak ada lagi yang bisa dilakukan, pria tua itu mengundurkan diri. Chen Mama mengantarnya keluar. Selepas mengantar Tabib Mo, sang pengasuh pergi ke halaman Nyonya Besar tinggal. Begitu masuk ke dalam ruangan, ia membungkuk dengan hormat, segera mendekat, sedikit menunduk untuk berbicara dengan pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Kilatan senyum sinis terlihat di wajah Nyonya Besar. Wanita itu hanya putri seorang pedagang rendahan, siapa yang akan menuntut keluarga bangsawan mereka jika ia tiba-tiba meninggal? Nyawanya sama sekali bukan apa-apa. Kalau saja ayah mertuanya tidak begitu saja menjodohkan wanita itu dengan putra sulungnya, bagaimana mungkin ia akan mati semuda ini? Sang Nyonya melambaikan tangannya dan Chen Mama segera keluar dengan patuh. Berada di luar ia menginstruksikan seorang pelayan untuk terus memantau halaman tempat Nyonya Muda Pertama tinggal. Siapa yang akan mengira bahwa Nyonya Muda itu hanya bertahan hidup selama sebulan setelah tiba di kediaman ini. Takdirnya sungguh tragis.Begitu kakinya berpijak pada pelataran aula, mata Han Liu Lang segera tertuju pada pria yang datang bersama Li Yuan. Ia lalu melemparkan pandangan bertanya pada wanita di depannya.“Dia adalah rekan seperjalanan yang terpisah denganku sebelumnya.” ujar Li Yuan.Tuan Kedua Wu mengamati sekilas pria di hadapannya. Tatapannya kemudian turun pada kakinya yang dililit kain, menunjukkan dia terluka dengan cukup parah. Meski orang itu berpakaian sangat sederhana, namun wibawa alami darinya tidak bisa diabaikan.Kendati mereka telah menjadi rekan seperjalanan dalam waktu yang singkat, Li Yuan tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Jika diingat-ingat lagi, gadis itu bahkan jarang berbicara!Jadi Han Liu Lang hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan, kemudian tersenyum sambil mengangguk sopan kepada pria di depannya. Namun berbeda dengan sikap ramah yang ia tunjukkan barusan, pria itu hanya menatapnya sebentar lalu mengangguk samar.Merasakan sikapnya yang tidak bersahabat, Han Liu Lan
Li Yuan telah duduk bersandar di sofa. Kedua kakinya ditekuk ringan, sementara tatapannya terpaku ke luar jendela, seolah mencari sesuatu yang tertinggal di masa lalu.Entah mengapa ia tiba-tiba merindukan hari-hari yang ia lewati di gunung belakang Benteng Hitam, di mana kesunyian mengisi sebagian besar harinya yang sibuk. Sibuk untuk berburu dan bertahan hidup.Melihatnya begitu damai, Wu Zhaojun tidak tega mengganggu. Ia turun dari sofa, lalu berjalan ke meja panjang di dekat tempat tidur. Kemudian kembali dengan anglo dan peralatan minum teh di tangan.Meja di tengah sofa itu terlalu kecil untuk meletakkan anglo di atasnya. Maka ia hanya menempatkannya di lantai lalu menyalakan arang di dalam. Setelah itu mengambil ketel logam di meja dan merebus air.Matanya sesekali akan melihat ke bawah, memastikan pijar bara merah itu tidak meredup sementara tangannya membuka toples kecil berisi daun teh kering.Ia menggunakan sendok kayu kecil, m
Begitu dua orang itu masuk ke dalam kamar, sosok pria tinggi berkumis tebal muncul dari sudut bangunan. Tatapannya berkilat dingin menatap kamar dengan pintu yang terbuka lebar.Orang itu segera pergi ke aula depan, lalu meminta selembar kertas pada pelayan yang berjaga di balik meja tinggi.Ia mengeluarkan arang yang dipungutnya di dekat dapur dan menulis kalimat pendek di atas kertas itu. Sisa kertas kemudian di sobek dan dikembalikan pada pelayan. Setelahnya, sosok itu berjalan keluar dari penginapan. Tangan yang tersembunyi di balik lengan bajunya dengan cepat menggulung kertas kecil berisi tulisan. Di belakang sebuah kedai arak yang berada di ujung jalan, tak jauh dari sumur, berdiri sebuah pohon jujube. Buahnya yang sebagian besar telah berwarna coklat kemerahan menggantung bergerombol, menunggu untuk dipanen oleh pemilik rumah.Pria berkumis keluar dari kedai. Matanya bergerak-gerak mengawasi keadaan sekitar. Memastikan tidak ada
“Cepat, masuk ke dalam air.” Li Yuan memegangi lengannya, seakan jika tidak menahan pria yang lebih tinggi satu kepala darinya itu, ia akan tumbang kapan saja sebelum mencapai air. Meski merasa sedikit canggung, Wu Zhaojun membiarkan ia membantunya masuk ke dalam bak air yang telah siap sejak awal. Tentu saja ini disiapkan untuk pria yang hendak masuk sebelumnya.Begitu tubuhnya menyentuh air, perih itu meledak tajam. Wu Zhaojun mendesis tertahan, jari-jarinya di bawah air kembali mengepal menahan sengatan yang menjalar hingga ke tulang.Setelah bertahan beberapa saat, rasa panas di bahu dan punggungnya telah sedikit berkurang. Ia mulai mengatur napasnya, mencoba membuat dirinya lebih rileks.Sementara itu, Li Yuan keluar dari ruang mandi dan tak lama kemudian kembali dengan seember air yang dibawanya masuk tanpa tumpah.Ia berjongkok di bangku di tepi bak mandi, lalu dengan gayung bambu menyendok air dingin dari ember dan menyiramkannya dengan sangat hati-hati pada bahu pria itu.W
Setelah sarapan, Li Yuan memberitahu Tuan Kedua Wu bahwa ia ingin mengunjungi suatu tempat kemudian kembali ke penginapan di sore hari.Tuan Kedua Wu bisa melihat kata ‘jangan ikuti aku’ seakan tertulis di seluruh wajahnya saat wanita itu menatapnya dengan malas. Oleh karena itu ia hanya bisa mengangguk dan mengikuti keinginannya.Selesai berkata begitu, Li Yuan keluar dari kedai sarapan, meninggalkan Tuan Kedua Wu yang tampak masih ingin menikmati tehnya lebih lama. Ia lalu berbelok masuk ke toko kue di sebelah, bermaksud membeli sesuatu untuk dibawa ke biro.Toko kue itu lebarnya hanya satu petak kecil, tipikal toko kecil yang biasa menjual kudapan ringan. Di depan toko, sebuah meja kayu panjang rendah diletakkan dengan nampan-nampan bundar dari bambu disusun d
Li Yuan berjalan menyusuri koridor, sesekali melontarkan ringan kantong perak ke udara sebelum menangkapnya kembali.Dari ujung koridor yang jauh, sosok pria gemuk, diikuti dua orang pelayan di belakangnya, berjalan setengah berlari ke arahnya.Saat berikut sosok itu berpapasan dengannya, Li Yuan bisa melihat di bawah cahaya lentera minyak yang bersinar kuning, pria tua gemuk dengan tahi lalat mencolok di pipinya itu memiliki ekspresi yang teramat cemas, seakan dunia akan berakhir jika ia tidak lebih cepat menyeret tubuh gempalnya ke halaman sang istri.Sebelumnya, ketika ia melewati taman hendak pergi melapor ke halaman nyonya rumah, ia melihat pria tua itu di sana. Para pelayan memanggilnya dengan sebutan Tuan Besar. Saat itulah Li Yuan teringat kembali sosok yang ia temui







