Beranda / Zaman Kuno / Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita / Bab 2. Terbangun di Tubuh Nyonya Muda

Share

Bab 2. Terbangun di Tubuh Nyonya Muda

Penulis: Mylilcosmos
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-22 17:44:39

Saat langit belum terang, terlihat seorang pelayan buru-buru masuk ke dalam ruang tidur Nyonya Muda.

Belum sempat masuk ke ruang dalam, dari balik layar brokat semi transparan, sang pelayan terkejut ketika melihat sang majikan telah duduk di pinggiran tempat tidur dengan aura di sekelilingnya yang entah mengapa terasa mencekam.

Ia merasa agak merinding dengan keadaan yang tidak biasa ini sehingga hanya berdiri terpaku di depan layar penyekat ruangan, tidak berani melangkah masuk.

Li Yuan tertegun.

Pertama kali sadar, ia pikir secara ajaib nyawanya berhasil dipertahankan. Namun ketika melihat keadaan sekitarnya, ia segera menyadari desain ruangan tempatnya berbaring cukup ketinggalan zaman.

Tidak merasakan jejak rasa sakit yang seharusnya dirasakannya setelah tertusuk oleh bilah panjang, ia merasa semakin aneh.

Hanya dadanya yang terasa sedikit tidak nyaman.

Ia mengulurkan tangan untuk meraba bagian dada yang sebelumnya terasa amat sakit, namun tidak menemukan perban yang harusnya ada untuk membalut luka dan ajaibnya luka yang ada sebelumnya telah lenyap tanpa bekas.

Setelah keanehan itu, ia segera menemukan bahwa tangan yang digunakan untuk memeriksa luka tadi memiliki jari-jari yang begitu ramping dan halus dan pergelangannya sendiri setipis bambu muda.

Ini jelas bukan tangannya. Tangan yang telah digunakannya dalam berbagai latihan berat hingga menghasilkan tangan dengan otot-otot yang kencang.

Belum lagi bekas-bekas luka yang ia miliki sebelumnya yang merupakan cendera mata dari hasil pertarungan dengan sesama rekan anggota organisasi maupun dari saat ia bertugas sebagai rekan pendamping.

Kulit aslinya, meskipun putih namun jelas tidak secerah dan sehalus ini.

Jelas tangan ini tidak pernah digunakan untuk melakukan pekerjaan berat. Bahkan mungkin tidak pernah melakukan pekerjaan sama sekali.

Dia sudah lama kehilangan kulit yang seharusnya dimiliki seorang gadis muda seperti ini.

Li Yuan segera menyadari perubahan situasinya.

Ia bangun dari tempat tidur dan pergi mengambil cermin perunggu yang diletakkan di atas meja rias tak jauh dari ranjang.

Saat bercermin, benar saja pantulan itu bukanlah dirinya yang biasa.

Menoleh ke kiri dan ke kanan, di cermin segera terpantul bayangan seorang wanita muda berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun dengan wajah seputih giok yang memancarkan keanggunan yang halus.

Li Yuan perlahan menurunkan cermin itu ke sisinya. Ia termenung lama.

Ini..apakah jiwanya telah berpindah ke tubuh orang lain?

Kalau benar seperti itu, apakah ini adalah kesempatan hidup lain yang di berikan langit kepadanya?

Tiba-tiba sekelebat ingatan lain terbangun dalam dirinya. Penglihatan-penglihatan cepat itu seakan menceritakan secara singkat hal-hal yang telah dialami oleh wanita pemilik asli tubuh baru ini selama hidupnya.

Li Yuan segera menyadari sebuah kebenaran yang tidak sempat disadari oleh wanita pemilik tubuh ini.

Sebenarnya, orang-orang di kediaman ini telah lama merencanakan untuk membunuhnya.

Meskipun merasa nasib wanita ini sangat malang, namun ia tidak merasakan perasaan yang lebih dalam dari itu.

Bagaimanapun, mereka adalah dua orang yang sama sekali berbeda, tidak saling mengenal satu sama lain. Wajar saja hanya ada perasaan dangkal yang dirasakan.

Mungkin karena sang pemilik tubuh adalah seorang wanita yang benar-benar lugu dan polos, ia tidak merasakan kebencian yang tersisa dari tubuh ini. Dendam yang harusnya ada ketika mengetahui bahwa ia telah dicelakai hingga nyawanya terenggut.

Mengabaikan itu, ia telah menyadari sejak tadi bahwa seseorang telah masuk ke dalam ruangan tak lama setelah dirinya terbangun.

Menurut ingatan sang pemilik tubuh, ia memiliki seorang pelayan dekat di sisinya.

Li Yuan berpikir sejenak, lalu menginstruksikan dengan suara rendah, "Masuklah."

Mendengar perintah sang majikan, pelayan tadi yang sebelumnya hanya berdiri di balik layar brokat, dengan ragu-ragu masuk ke dalam.

Gadis itu segera membungkuk sebelum terus berjalan lebih dekat.

Li Yuan segera menyapukan pandangannya pada gadis pelayan yang berdiri tidak jauh maupun terlalu dekat darinya.

Ingatannya tidak mengenali gadis ini. Dia bukanlah pelayan yang biasa melayani sang Nyonya Muda.

Ia menatapnya dalam diam sesaat, setelah menyingkirkan keraguannya, bertanya, "Bisakah kau membawakan sesuatu untuk kumakan?"

Pelayan itu sempat terkejut sesaat sebelum buru-buru mengangguk dengan patuh: "Pelayan ini akan segera mengambilkan makanan untuk Nyonya Muda."

Ia membungkuk sebelum berjalan keluar dari ruangan.

Li Yuan mendesah pendek. Setidaknya cukup mudah mendapatkan makanan di sini.

Saat masih di Benteng Hitam, markas pusat organisasinya, setelah usia enam tahun mereka diharuskan menyelesaikan sebuah tugas sebelum bisa mendapat jatah makan di hari itu.

Tugas-tugas itu kemudian bertahap menjadi semakin sulit semakin usia mereka bertambah.

Untuk makan sungguh tidak mudah.

Kini, setelah situasi hidupnya berubah, ia mulai memikirkan untuk menikmati hal-hal yang dulu sulit didapatkannya.

-----

"Bagaimana?"

Chen Mama sedikit merendahkan suaranya saat bertanya pada pelayan muda tadi yang ditugaskan Li Yuan untuk mengambil makanan.

Pelayan itu menggeleng.

Ia belum juga mati?!

Wanita tua itu mendesah singkat sebelum meninggalkan pelayan kecil tadi untuk menemui majikannya.

"Apa! Dia masih hidup?!" Sang Nyonya Besar yang segera mendengar bahwa menantunya telah berhasil bangun cukup terkejut.

Chen Mama segera mengisyaratkan majikannya agar merendahkan suara.

Nyonya Besar bermarga Gu itu, segera merasa tidak puas.

"Gadis yang sangat beruntung, sudah tenggelam seperti itu pun masih bisa bangun tanpa cedera. Bahkan raja neraka pun menolak mengambil nyawanya!"

Chen Mama mendesah di dalam hatinya.

Sebenarnya ia merasa kalau tindakan mencelakai sang menantu baru ini tidaklah benar. Namun karena ia hanya pelayan yang bekerja di bawah seorang majikan, ia tentu tidak berani menyuarakan pikirannya.

Ia mengangkat kepala, bertanya, "Apa instruksi Nyonya?"

Gu Shi menurunkan matanya, memandangi cangkir teh di atas meja, lalu dengan gerakan anggun ia mengulurkan jarinya untuk menyapu pinggiran cangkir: "Biarkan dia sendiri untuk saat ini."

[Seorang wanita yang telah menikah biasanya akan disapa menggunakan marga keluarga kelahirannya dengan tambahan karakter 'Shi' ini di belakang marga gadisnya. Sehingga Nyonya Besar yang marga keluarga gadisnya Gu, terkadang akan disapa sebagai Gu Shi.]

Kepalanya kembali terangkat, pandangan matanya terlihat tenang di permukaan, "Kita akan menyusun rencana lagi di lain hari. Oh ya, Taman Krisan sedang kekurangan orang untuk membantu persiapan pernikahan Nona Muda Pertama, minta para pelayan untuk bergegas ke sana."

Merencanakan sesuatu yang buruk untuk menantu barunya dalam waktu dekat bukanlah tindakan yang bijaksana.

Itu hanya akan memancing kecurigaan orang-orang, sehingga akan membuat nama Kediaman Bangsawan Shen mereka buruk di mata publik.

Orang itu juga pasti akan mengerti hal ini.

Saat dia datang nanti dia akan memberitahunya kesulitan ini.

Saat pergi ke Taman Anggrek yang merupakan halaman tempat tinggal Nyonya Muda Pertama, Chen Mama segera memerintahkan pelayan yang berada di sana untuk pergi membantu ke Taman Krisan dan hanya menyisakan satu orang pelayan untuk melayani sang Nyonya Muda.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 119. Riak Kecil

    Begitu kakinya berpijak pada pelataran aula, mata Han Liu Lang segera tertuju pada pria yang datang bersama Li Yuan. Ia lalu melemparkan pandangan bertanya pada wanita di depannya.“Dia adalah rekan seperjalanan yang terpisah denganku sebelumnya.” ujar Li Yuan.Tuan Kedua Wu mengamati sekilas pria di hadapannya. Tatapannya kemudian turun pada kakinya yang dililit kain, menunjukkan dia terluka dengan cukup parah. Meski orang itu berpakaian sangat sederhana, namun wibawa alami darinya tidak bisa diabaikan.Kendati mereka telah menjadi rekan seperjalanan dalam waktu yang singkat, Li Yuan tidak pernah bercerita apapun tentang dirinya. Jika diingat-ingat lagi, gadis itu bahkan jarang berbicara!Jadi Han Liu Lang hanya mengangguk kecil sebagai tanggapan, kemudian tersenyum sambil mengangguk sopan kepada pria di depannya. Namun berbeda dengan sikap ramah yang ia tunjukkan barusan, pria itu hanya menatapnya sebentar lalu mengangguk samar.Merasakan sikapnya yang tidak bersahabat, Han Liu Lan

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 118. Sebuah Perintah

    Li Yuan telah duduk bersandar di sofa. Kedua kakinya ditekuk ringan, sementara tatapannya terpaku ke luar jendela, seolah mencari sesuatu yang tertinggal di masa lalu.Entah mengapa ia tiba-tiba merindukan hari-hari yang ia lewati di gunung belakang Benteng Hitam, di mana kesunyian mengisi sebagian besar harinya yang sibuk. Sibuk untuk berburu dan bertahan hidup.Melihatnya begitu damai, Wu Zhaojun tidak tega mengganggu. Ia turun dari sofa, lalu berjalan ke meja panjang di dekat tempat tidur. Kemudian kembali dengan anglo dan peralatan minum teh di tangan.Meja di tengah sofa itu terlalu kecil untuk meletakkan anglo di atasnya. Maka ia hanya menempatkannya di lantai lalu menyalakan arang di dalam. Setelah itu mengambil ketel logam di meja dan merebus air.Matanya sesekali akan melihat ke bawah, memastikan pijar bara merah itu tidak meredup sementara tangannya membuka toples kecil berisi daun teh kering.Ia menggunakan sendok kayu kecil, m

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 117. Pohon Kamelia

    Begitu dua orang itu masuk ke dalam kamar, sosok pria tinggi berkumis tebal muncul dari sudut bangunan. Tatapannya berkilat dingin menatap kamar dengan pintu yang terbuka lebar.Orang itu segera pergi ke aula depan, lalu meminta selembar kertas pada pelayan yang berjaga di balik meja tinggi.Ia mengeluarkan arang yang dipungutnya di dekat dapur dan menulis kalimat pendek di atas kertas itu. Sisa kertas kemudian di sobek dan dikembalikan pada pelayan. Setelahnya, sosok itu berjalan keluar dari penginapan. Tangan yang tersembunyi di balik lengan bajunya dengan cepat menggulung kertas kecil berisi tulisan. Di belakang sebuah kedai arak yang berada di ujung jalan, tak jauh dari sumur, berdiri sebuah pohon jujube. Buahnya yang sebagian besar telah berwarna coklat kemerahan menggantung bergerombol, menunggu untuk dipanen oleh pemilik rumah.Pria berkumis keluar dari kedai. Matanya bergerak-gerak mengawasi keadaan sekitar. Memastikan tidak ada

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 116. Ruang Mandi

    “Cepat, masuk ke dalam air.” Li Yuan memegangi lengannya, seakan jika tidak menahan pria yang lebih tinggi satu kepala darinya itu, ia akan tumbang kapan saja sebelum mencapai air. Meski merasa sedikit canggung, Wu Zhaojun membiarkan ia membantunya masuk ke dalam bak air yang telah siap sejak awal. Tentu saja ini disiapkan untuk pria yang hendak masuk sebelumnya.Begitu tubuhnya menyentuh air, perih itu meledak tajam. Wu Zhaojun mendesis tertahan, jari-jarinya di bawah air kembali mengepal menahan sengatan yang menjalar hingga ke tulang.Setelah bertahan beberapa saat, rasa panas di bahu dan punggungnya telah sedikit berkurang. Ia mulai mengatur napasnya, mencoba membuat dirinya lebih rileks.Sementara itu, Li Yuan keluar dari ruang mandi dan tak lama kemudian kembali dengan seember air yang dibawanya masuk tanpa tumpah.Ia berjongkok di bangku di tepi bak mandi, lalu dengan gayung bambu menyendok air dingin dari ember dan menyiramkannya dengan sangat hati-hati pada bahu pria itu.W

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 115. Pasang Badan

    Setelah sarapan, Li Yuan memberitahu Tuan Kedua Wu bahwa ia ingin mengunjungi suatu tempat kemudian kembali ke penginapan di sore hari.Tuan Kedua Wu bisa melihat kata ‘jangan ikuti aku’ seakan tertulis di seluruh wajahnya saat wanita itu menatapnya dengan malas. Oleh karena itu ia hanya bisa mengangguk dan mengikuti keinginannya.Selesai berkata begitu, Li Yuan keluar dari kedai sarapan, meninggalkan Tuan Kedua Wu yang tampak masih ingin menikmati tehnya lebih lama. Ia lalu berbelok masuk ke toko kue di sebelah, bermaksud membeli sesuatu untuk dibawa ke biro.Toko kue itu lebarnya hanya satu petak kecil, tipikal toko kecil yang biasa menjual kudapan ringan. Di depan toko, sebuah meja kayu panjang rendah diletakkan dengan nampan-nampan bundar dari bambu disusun d

  • Jenderal dan Pembunuh Bayaran Wanita   Bab 114. Obrolan di Kedai Sarapan

    Li Yuan berjalan menyusuri koridor, sesekali melontarkan ringan kantong perak ke udara sebelum menangkapnya kembali.Dari ujung koridor yang jauh, sosok pria gemuk, diikuti dua orang pelayan di belakangnya, berjalan setengah berlari ke arahnya.Saat berikut sosok itu berpapasan dengannya, Li Yuan bisa melihat di bawah cahaya lentera minyak yang bersinar kuning, pria tua gemuk dengan tahi lalat mencolok di pipinya itu memiliki ekspresi yang teramat cemas, seakan dunia akan berakhir jika ia tidak lebih cepat menyeret tubuh gempalnya ke halaman sang istri.Sebelumnya, ketika ia melewati taman hendak pergi melapor ke halaman nyonya rumah, ia melihat pria tua itu di sana. Para pelayan memanggilnya dengan sebutan Tuan Besar. Saat itulah Li Yuan teringat kembali sosok yang ia temui

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status