LOGINDamon berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak tegas dan dingin. Kedua bola matanya bergerak melihat ke sekeliling kamar, lalu berakhir di putrinya yang tampak kacau karena emosi yang meledak-ledak.
"Masih belum sadar juga dengan kesalahanmu?" Damon berjalan masuk, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana. "Damon, aku mohon jangan hentikan pendidikan—" "Kalau seperti ini terus, mungkin Ayah akan membuangmu ke jalanan." "Damon!" pekik Miranda. Mia tampak tidak peduli, ia kembali menunjuk ke luar kamar. "Keluar kalian berdua!" "Anak kurang ajar!" desis Damon sebelum akhirnya menarik Miranda keluar kamar. Mia berjalan cepat menutup dan mengunci pintu, tubuhnya ia sandarkan di sana. Ia kembali terisak, hanya beberapa saat sebelum akhirnya berjalan ke arah laci meja disamping ranjang. Tangannya bergerak cepat membuka dan mencari-cari sesuatu di dalamnya. Sebuah foto USG dan surat keterangan dokter yang menyatakan dirinya hamil beberapa minggu yang lalu. "Kau harus bertanggung jawab ... Killian. Harus," gumam Mia, "karena semua kehancuran yang aku dapatkan ini karenamu." Mia segera meraih ponsel guna menghubungi Killian, setelah beberapa saat menunggu akhirnya suara pria itu terdengar. "Halo?" jawab seseorang diseberang sana. "Lian aku ingin—" Mia seketika bergeming, kedua matanya mebelalak ketika mendengar suara desahan seorang perempuan diseberang sana. Nancy, itu pasti suara adik tirinya. "Lian ... kau—" "Sayang, siapa yang menelepon ... ayo teruskan ... jangan berhenti." ucap Nancy di seberang sana dengan suara terengah-engah. Dan setelahnya desahan-desahan itu kembali terdengar. Dan kali ini bukan hanya Nancy, suara laki-laki—yang Mia yakini adalah suara Killian juga ikut mendesah. Mia masih bergeming, bibirnya terasa kaku untuk sekedar bergerak dan mengucapkan kata-kata. Air matanya mulai menetes, ia menangis tanpa suara. Perlahan tangannya terangkat menyentuh dada kirinya. Sakit. Perih. Sesak. Hanya tiga kata itu yang bisa menggambarkan kondisi hatinya sekarang. Telapak tangan yang awalnya hanya menempel itu kini mulai bergerak meremas kuat dada kirinya yang berdenyut. Luka-luka hati yang sebelumnya saja masih basah dan belum kering itu, malah kini Killian beri lagi luka yang baru. Pegangan tangan pada ponselnya perlahan melemah hingga membuat benda canggih itu jatuh ke lantai, tetesan air matanya tampak mendarat sempurna di lembaran kertas serta foto USG kehamilannya. "Hah ...." Napasnya mulai tak beraturan, dadanya benar-benar terasa sesak mendengar dan membayangkan apa yang tengah dilakukan kekasihnya bersama adik tirinya di sana. "KILLIAN!" teriak Mia keras, ia menangis dan meraung. "KAU KETERLALUAN!" *** Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah basement hotel, Killian duduk tenang di dalam mobil. Sampai akhirnya pintu disampingnya terbuka, memperlihatkan sosok yang sangat mirip dengannya. “Ponselmu tertinggal,” ujarnya sembari menyodorkan ponsel milik Killian. Lalu setelahnya ia masuk ke dalam mobil. “Ada yang menelepon tadi,” katanya lagi. Killian terdiam cukup lama menatap layar ponselnya yang menampilkan nama ‘Mia Ruby’ di log panggilan ponselnya. “Siapa Mia Ruby?” Killian menyimpan ponselnya. “Kapan kau mengangkat teleponnya?” Killian balik bertanya. “Saat aku bercinta dengan Nancy.” Killian menyeringai. “Apa yang dia katakan?” “Tidak sempat karena tiba-tiba panggilannya terputus, tapi sepertinya dia bilang dia ingin bicara denganmu.” “Bagus, keberuntungan selalu berpihak padaku,” gumam Killian. “Terima kasih, Julian. Kau menjalankan tugas dariku dengan baik.” Julian Ludovic, saudara kembar dari Killian itu tampak tersenyum puas. “Tidak masalah, yang kulakukan barusan tidak sebanding dengan pengorbananmu untukku.” Raut wajahnya berubah menjadi penuh rasa bersalah. “Maaf karena aku tidak memiliki nyali sebesar dirimu, aku terlalu pengecut.” Killian menggeleng, ia menepuk bahu Julian. Bibirnya tersenyum samar. “Selagi aku bisa, akan kulakukan. Sudah seharusnya kakak melindungi adik, ‘kan?” ujarnya. “Hector bukan masalah besar untukku, kau tenang saja. Aku hanya meminta satu hal padamu, turuti semua perintahku. Karena … selama kau mengikutiku, aku pastikan kau akan aman.” Julian mengangguk. “Kenapa dulu Ayah harus memisahkan kita? Kau tahu? Aku selalu merasa kesepian di sana.” “Sudahlah.” Killian berpaling, ia menatap lurus ke depan. “Lupakan semua itu, sekarang kau sudah di sini ‘kan? Bersamaku.” Julian tersenyum, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil. “Ah, apa wanita itu mencurigaimu?” tanya Killian, ia menoleh pada Julian. “Tentu saja tidak, kita ini kembar identik,” jawab Julian, lalu menunjuk lengan kirinya yang dipenuhi tato. “Bahkan sampai semua tato menyebalkan ini.” Lalu mendengus kesal. Killian terkekeh, ia menyalakan mesin mobil. “Itu hanya tato temporer, tidak akan abadi di lenganmu. Lagi pula itu salah satu syarat untuk rencanaku agar berhasil, kalau tidak begitu mungkin wanita jalang itu akan curiga.” “Ya baiklah … Kakak.” Lalu keduanya tertawa bersama, seiring mobil yang melaju meninggalkan area basement. *** Hari-hari Mia setelahnya terasa begitu hampa dan suram. Gadis itu sering mengurung diri di kamar, tanpa kegiatan—atau apa pun itu. Hanya berbaring meringkuk di ranjang atau duduk di depan kaca jendela. Tatapannya selalu kosong, namun kepalanya selalu berisik dan ramai oleh semua permasalahan diantara dirinya dan Killian. Miranda yang menyadari perubahan sikap putrinya tentu khawatir, ia selalu berusaha menghibur putrinya—meski itu semua sia-sia. Namun, Miranda tak meyerah. Ia tetap tersenyum dan terus-terusan bicara banyak hal untuk sekedar menarik perhatian Mia dari keterdiamannya. "Mia sayang, Ibu rasa kau merindukan suasana luar." Miranda yang baru saja menaruh alat makan Mia berujar, meski putrinya itu terus duduk diam di ranjang sembari memeluk kedua lututnya dan menatap kosong ke depan. Miranda mendudukkan dirinya disamping Mia, mengusap lembut kepalanya. "Ibu sudah meminta izin ayahmu untuk membawamu ke luar. Kalau kau mau ke suatu tempat, Ibu akan temani." Mia tetap diam, namun Miranda masih tetap tersenyum dan mencoba berusaha kembali. "Kau ingin apa pun akan Ibu penuhi," bujuknya. Melihat tidak ada reaksi yang diharapkan, Miranda akhirnya berdiri dan mulai membawa kembali alat makan bekas putrinya. Tapi sebelum itu, suara Mia menghentikan langkahnya. "Ibu ...," panggil Mia. Kepalanya mendongak menatap wajah teduh ibunya itu. Miranda tentu senang, akhirnya setelah beberapa hari Mia tidak bicara apa pun, kini ia kembali mendengar suara lembut putrinya itu. Dengan cepat Miranda kembali duduk di sampingnya. "Iya, Sayang? Kau ingin sesuatu?" tanyanya dengan senang. "Aku ingin ke luar, ke mana saja." Miranda tersenyum hangat, ia memeluk putrinya dan berkali-kali mencium kepalanya. *** "Kau benar-benar tidak keberatan jika kita ke sini dulu?” tanya Miranda pada Mia. “Ada yang harus Ibu bereskan di butik.” Keduanya kini baru saja sampai di butik milik Miranda. "Hmm." Mia hanya bergumam saat tangannya digandeng masuk ke dalam butik ibunya. "Ibu tidak akan lama, kau bisa menunggu di sana." Miranda menunjuk sofa dekat jendela dalam ruangannya. Mia mengangguk, tanpa banyak kata ia melangkah ke sana. Sementara Miranda berjalan ke arah meja kerjanya. Mia duduk diam sembari menatap ke luar jendela, di sana jalanan terlihat ramai oleh orang-orang dan kerdaraan yang berlalu-lalang. Tidak ada yang menarik, hingga akhirnya ia menangkap sosok Killian yang baru saja keluar dari sebuah hotel tepat di seberang butik milik ibunya ini. Kedua tangannya seketika mengepal kuat, netranya menukik tajam. Tanpa berpikir lagi, Mia beranjak dari duduknya lalu berlari ke luar. "Mia!" seru Miranda yang terkejut, cepat-cepat ia mengejar putrinya itu.Untuk sesaat Mia terdiam kaku. Permintaan Killian terasa seperti pria itu menginginkan nyawanya saat ini juga. Anak? Bagaimana bisa Mia sanggupi? Itu sama saja seperti Mia mengoyak luka lamanya. “Bagaimana?” Mia tersentak dari lamunannya. Ia beralih pada Killian yang tersenyum sangat tipis padanya. “A-aku …,” ucapnya gagap. “Apa … tidak ada pilihan—” “Hanya dua pilihan yang aku berikan, Mia. Pilih salah satunya.” Satu tetes air mata Mia meluncur begitu saja. Bibirnya bergetar karena rasa takut. “Aku tidak bisa,” ucapnya lirih. “Tidak bisa apa?” tanya Killian. Nada suaranya teramat rendah namun tegas. “Menyanggupi pilihan kedua yang kau tawarkan.” Killian tersenyum remeh. Ia menarik kembali tubuhnya untuk duduk. “Kalau begitu kau menyanggupi pilihan pertama? Baiklah, aku tunggu dalam waktu—” Mia ikut mendudukan dirinya kembali. “Killian,” potong Mia lelah. “Tolong jangan mempersulitku—” Killian tertawa kecil. “Memperulitmu? Apakah tidak terbalik?” “Aku tahu,
Mia yang benar-benar tidak memiliki uang, memilih berjalan kaki. Langkahnya begitu cepat dan tegas, seolah menggambarkan keyakinan penuh atas tindakannya itu. Beberapa saat kemudian … Wanita itu mulai kelelahan. Teriknya matahari terasa menyengat tubuhnya. Ia juga mulai merasa lapar dan haus. Seharian ini, Mia memang belum makan. Ia hanya minum air beberapa gelas tadi pagi. Kaki Mia mulai pegal dan sedikit gemetar karena menggunakan heels yang cukup tinggi, hingga membuat tumit dan telapak kakinya lecet dan terasa perih. Sebenarnya sejak tadi Mia ingin sekali melepasnya, namun karena tidak ada alas kaki lain dan juga jalanan yang terasa panas, ia terpaksa tetap memakai heels yang menyakitkan itu. Tak terasa, ia sudah berjalan sangat jauh dari rumahnya dan memakan waktu tiga jam lebih. Napas Mia mulai tak beraturan, dadanya kembang kempis. Keringat sudah membanjiri kening, pelipis, dan tubuh di balik pakaiannya. “Sedikit lagi … hanya beberapa menit lagi untuk sampai,” gumamny
“Cukup sampai di sini pembicaraannya, Julian,” desis Killian tajam. “Sekarang, pergi ke kamarmu dan tidur. Besok, aku sendiri yang akan mengantarmu.”Julian bangkit berdiri, wajahnya terlihat kesal. “Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri—”“Aku tidak membutuhkan persetujuan apa pun darimu,” potong Killian cepat. Nada suaranya terdengar rendah namun tegas. “Suka tidak suka, mau tidak mau, kau tidak diizinkan untuk menentang keputusanku.”Kedua tangan Julian mengepal. “Kau benar-benar semakin terlihat seperti Kakek,” ujarnya. Kemudian, ia berjalan cepat masuk ke dalam vila, meninggalkan Killian sendirian di teras belakang. Killian memejamkan matanya sejenak. Pria itu kembali duduk dan menyandarkan punggungnya. Tangannya merogoh saku bagian dalam mantel, mengeluarkan cigar case kulit yang hanya berisi satu batang cerutu, lalu mengambil pemantik dari saku lainnya.Dengan gerakan tenang dan terkendali, Killian mulai menyalakan cerutu itu. Ia Menarik asap perlahan dan mengembuskannya ke udar
“Sepertinya kau membatalkan rencanamu, Hector.” Pria bernama Hector itu menoleh, sudut bibirnya tertarik sedikit. “Ya,” jawabnya. “Tapi setidaknya ada kemungkinan kalau wanita itu bisa aku gunakan sebagai alat untuk menghancurkan Killian.” Mobil mulai melaju. Pria yang mengendarai kendaraan itu kembali bertanya, “Kenapa kau bisa berpikir ke sana?” Hector menatap lurus ke depan. Tatapannya begitu tenang. “Karena ada kebencian dalam diri wanita itu pada Killian.” Lalu tatapannya beralih pada pria di sampingnya itu. “Kau berpikir hal yang sama denganku ‘kan, Riven?” Pria bernama Riven itu mengangguk pelan. “Ya, aku mengerti maksudmu.” “Kita hanya perlu menunggu, dan saat hari itu tiba, aku yang akan menghabiskan Killian dengan tanganku sendiri,” ujar Hector. Wajahnya tiba-tiba mengeras, dan matanya menggelap. Riven sendiri menyadarinya. Ia juga merasakan hawa di dalam mobil terasa dingin dan mencekam. *** Killian melangkah cepat memasuki vila mewah pribadi miliknya yang b
Pria misterius itu berbalik, lalu tersenyum tipis. “Baiklah, mari,” ucapnya mempersilakan Mia untuk berjalan lebih dulu. Namun Mia tetap diam, dalam hati ia mempertanyakan kembali keputusannya apakah benar atau tidak. Karena pria itu masih menjadi tanda tanya baginya. Dia baik, atau jahat? Apakah dirinya akan aman atau justru sebaliknya? Bagaimana kalau tiba-tiba di pertengahan jalan, pria itu menyerangnya? Melihat keterdiaman Mia, pria itu berucap, “Kalau bagimu aku ini ancaman, kau bisa berjalan di belakangku. Dengan begitu kau tidak perlu cemas kalau seandainya aku tiba-tiba menikammu dari belakang.” Lalu kakinya mulai melangkah. Mia akhirnya ikut melangkah mengikuti. *** “Apa saja informasi yang sudah kau dapat tentang wanitaku sekarang?” tanya Killian pada salah satu anak buahnya. Kini, pria itu sedang berada di rumah pribadi miliknya. Duduk tenang dengan segelas minuman berwarna amber gelap kesukaannya. Pria di hadapannya membuka sebuah map tipis yang seja
Mia masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih penasaran dengan sosok misterius yang semakin dekat. “Killian, kaukah itu?” batin Mia. Sedetik kemudian, matanya terbelalak. “Apa ini? Kenapa aku mengharapkannya?”Pria itu akhirnya berhenti, tepat di bawah sinar lampu yang sedikit redup. Meski begitu, Mia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tampan, muda, tinggi, dan berpakaian rapi. Dia terlihat seperti pemuda pada umumnya.Begitulah penilaian Mia pada sosok pria misterius itu. “Hei, siapa kau?” tanya salah satu pria yang memegangi Mia. Bukannya menjawab, pria misterius itu justru malah berjongkok untuk mengambil salah satu minuman kaleng miliknya. “Hah … untunglah, masih bisa diminum.” Tanpa menghiraukan dua orang pria yang jengkel padanya, pria itu dengan santai membuka dan meminum minuman kalengnya. “Hei! Aku bicara padamu!” Pria itu tak langsung menyahut. Ia meremas kaleng minumannya yang sudah kosong, lalu melemparnya asal. “Kau yang melempar itu? Berani sekali kau!







