Share

Bab 3

Author: Cheryl Cherie
last update publish date: 2026-06-25 21:02:18

Damon berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak tegas dan dingin. Kedua bola matanya bergerak melihat ke sekeliling kamar, lalu berakhir di putrinya yang tampak kacau karena emosi yang meledak-ledak.

"Masih belum sadar juga dengan kesalahanmu?" Damon berjalan masuk, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana.

"Damon, aku mohon jangan hentikan pendidikan—"

"Kalau seperti ini terus, mungkin Ayah akan membuangmu ke jalanan."

"Damon!" pekik Miranda.

Mia tampak tidak peduli, ia kembali menunjuk ke luar kamar. "Keluar kalian berdua!"

"Anak kurang ajar!" desis Damon sebelum akhirnya menarik Miranda keluar kamar.

Mia berjalan cepat menutup dan mengunci pintu, tubuhnya ia sandarkan di sana. Ia kembali terisak, hanya beberapa saat sebelum akhirnya berjalan ke arah laci meja disamping ranjang.

Tangannya bergerak cepat membuka dan mencari-cari sesuatu di dalamnya.

Sebuah foto USG dan surat keterangan dokter yang menyatakan dirinya hamil beberapa minggu yang lalu.

"Kau harus bertanggung jawab ... Killian. Harus," gumam Mia, "karena semua kehancuran yang aku dapatkan ini karenamu."

Mia segera meraih ponsel guna menghubungi Killian, setelah beberapa saat menunggu akhirnya suara pria itu terdengar.

"Halo?" jawab seseorang diseberang sana.

"Lian aku ingin—"

Mia seketika bergeming, kedua matanya mebelalak ketika mendengar suara desahan seorang perempuan diseberang sana.

Nancy, itu pasti suara adik tirinya.

"Lian ... kau—"

"Sayang, siapa yang menelepon ... ayo teruskan ... jangan berhenti." ucap Nancy diseberang sana dengan suara terengah-engah.

Dan setelahnya desahan-desahan itu kembali terdengar. Dan kali ini bukan hanya Nancy, suara laki-laki—yang Mia yakini adalah suara Killian juga ikut mendesah.

Mia masih bergeming, bibirnya terasa kaku untuk sekedar bergerak dan mengucapkan kata-kata. Air matanya mulai menetes,ia menangis tanpa suara.

Perlahan tangannya terangkat menyentuh dada kirinya.

Sakit.

Perih.

Sesak.

Hanya tiga kata itu yang bisa menggambarkan kondisi hatinya sekarang. Telapak tangan yang awalnya hanya menempel itu kini mulai bergerak meremas kuat dada kirinya yang berdenyut.

Luka-luka hati yang sebelumnya saja masih basah dan belum kering itu, malah kini Killian beri lagi luka yang baru.

Pegangan tangan pada ponselnya perlahan melemah hingga membuat benda canggih itu jatuh ke lantai, tetesan air matanya tampak mendarat sempurna di lembaran kertas serta foto USG kehamilannya.

"Hah ...." Napas Mia mulai tak beraturan, dadanya benar-benar terasa sesak mendengar dan mebayangkan apa yang tengah dilakukan kekasihnya bersama adik tirinya di sana.

"KILLIAN!" teriak Mia keras, ia menangis dan meraung.

"KAU KETERLALUAN!"

***

Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah basement hotel, Killian duduk tenang di dalam mobil. Sampai akhirnya pintu disampingnya terbuka, memperlihatkan sosok yang sangat mirip dengannya.

“Ponselmu tertinggal,” ujarnya sembari menyodorkan ponsel milik Killian. Lalu setelahnya ia masuk ke dalam mobil.

“Ada yang menelepon tadi,” katanya lagi.

Killian terdiam cukup lama menatap layar ponselnya yang menampilkan nama ‘Mia Ruby’ di log panggilan ponselnya.

“Siapa Mia Ruby?”

Killian menyimpan ponselnya. “Kapan kau mengangkat teleponnya?” Killian balik bertanya.

“Saat aku bercinta dengan Nancy.”

Killian menyeringai. “Apa yang dia katakan?”

“Tidak sempat karena tiba-tiba panggilannya terputus, tapi sepertinya dia bilang dia ingin bicara denganmu.”

“Bagus, keberuntungan selalu berpihak padaku,” gumam Killian. “Terima kasih, Julian. Kau menjalankan tugas dariku dengan baik.”

Julian Ludovic, saudara kembar dari Killian itu tampak tersenyum puas. “Tidak masalah, yang kulakukan barusan tidak sebanding dengan pengorbananmu untukku.” Raut wajahnya berubah menjadi penuh rasa bersalah. “Maaf karena aku tidak memiliki nyali sebesar dirimu, aku terlalu pengecut.”

Killian menggeleng, ia menepuk bahu Julian. Bibirnya tersenyum samar. “Selagi aku bisa, akan kulakukan. Sudah seharusnya kakak melindungi adik, ‘kan?” ujarnya. “Hector bukan masalah besar untukku, kau tenang saja. Aku hanya meminta satu hal padamu, turuti semua perintahku. Karena … selama kau mengikutiku, aku pastikan kau akan aman.”

Julian mengangguk. “Kenapa dulu Ayah harus memisahkan kita? Kau tahu? Aku selalu merasa kesepian di sana.”

“Sudahlah.” Killian berpaling, ia menatap lurus ke depan. “Lupakan semua itu, sekarang kau sudah di sini ‘kan? Bersamaku.”

Julian tersenyum, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil.

“Ah, apa wanita itu mencurigaimu?” tanya Killian, ia menoleh pada Julian.

“Tentu saja tidak, kita ini kembar identik,” jawab Julian, lalu menunjuk lengan kirinya yang dipenuhi tato. “Bahkan sampai semua tato menyebalkan ini.” Lalu mendengus kesal.

Killian terkekeh, ia menyalakan mesin mobil. “Itu hanya tato temporer, tidak akan abadi di lenganmu. Lagi pula itu salah satu syarat untuk rencanaku agar berhasil, kalau tidak begitu mungkin wanita jalang itu akan curiga.”

“Ya baiklah … Kakak.”

Lalu keduanya tertawa bersama, seiring mobil yang melaju meninggalkan area basement.

***

Hari-hari Mia setelahnya terasa begitu hampa dan suram. Gadis itu sering mengurung diri di kamar, tanpa kegiatan—atau apa pun itu. Hanya berbaring meringkuk di ranjang atau duduk di depan kaca jendela. Tatapannya selalu kosong, namun kepalanya selalu berisik dan ramai oleh semua permasalahan diantara dirinya dan Killian.

Miranda yang menyadari perubahan sikap putrinya tentu khawatir, ia selalu berusaha menghibur putrinya—meski itu semua sia-sia.

Namun, Miranda tak meyerah. Ia tetap tersenyum dan terus-terusan bicara banyak hal untuk sekedar menarik perhatian Mia dari keterdiamannya.

"Mia sayang, Ibu rasa kau merindukan suasana luar." Miranda yang baru saja menaruh alat makan Mia berujar, meski putrinya itu terus duduk diam di ranjang sembari memeluk kedua lututnya dan menatap kosong ke depan.

Miranda mendudukkan dirinya disamping Mia, mengusap lembut kepalanya. "Ibu sudah meminta izin ayahmu untuk membawamu ke luar. Kalau kau mau ke suatu tempat, Ibu akan temani."

Mia tetap diam, namun Miranda masih tetap tersenyum dan mencoba berusaha kembali.

"Kau ingin apa pun akan Ibu penuhi," bujuknya.

Melihat tidak ada reaksi yang diharapkan, Miranda akhirnya berdiri dan mulai membawa kembali alat makan bekas putrinya. Tapi sebelum itu, suara Mia menghentikan langkahnya.

"Ibu ...," panggil Mia. Kepalanya mendongak menatap wajah teduh ibunya itu.

Miranda tentu senang, akhirnya setelah beberapa hari Mia tidak bicara apa pun, kini ia kembali mendengar suara lembut putrinya itu.

Dengan cepat Miranda kembali duduk di sampingnya. "Iya, Sayang? Kau ingin sesuatu?" tanyanya dengan senang.

"Aku ingin ke luar, ke mana saja."

Miranda tersenyum hangat, ia memeluk putrinya dan berkali-kali mencium kepalanya.

***

"Kau benar-benar tidak keberatan jika kita ke sini dulu?” tanya Miranda pada Mia.

“Ada yang harus Ibu bereskan di butik.”

Keduanya kini baru saja sampai di butik milik Miranda.

"Hmm." Mia hanya bergumam saat tangannya digandeng masuk ke dalam butik ibunya.

"Ibu tidak akan lama, kau bisa menunggu di sana." Miranda menunjuk sofa dekat jendela dalam ruangannya.

Mia mengangguk, tanpa banyak kata ia melangkah ke sana.

Sementara Miranda berjalan ke arah meja kerjanya.

Mia duduk diam sembari menatap ke luar jendela, di sana jalanan terlihat ramai oleh orang-orang dan kerdaraan yang berlalu-lalang. Tidak ada yang menarik, hingga akhirnya ia menangkap sosok Killian yang baru saja keluar dari sebuah hotel tepat di seberang butik milik ibunya ini.

Kedua tangannya seketika mengepal kuat, netranya menukik tajam.

Tanpa berpikir lagi, Mia beranjak dari duduknya lalu berlari ke luar.

"Mia!" seru Miranda yang terkejut, cepat-cepat ia mengejar putrinya itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 6

    Mia menoleh ke dalam rumah, di sana sosok gadis muda terdiam setelah berlari sembari membawa kain berwarna hitam yang ia yakini itu adalah pakaian milik Killian. Sedangakan Killian sama sekali tidak menoleh ke belakang, kedua matanya menatap dalam pada sosok Mia. Mia menelan ludahnya ketika menyadari apa yang sudah terjadi di rumah ini sebelum kedatangannya. Di sana, wanita muda itu tersenyum canggung dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terlapisi lingerie. Sama seperti Kllian, penampilannya berantakkan, rambut hitamnya tidak beraturan, dan ada beberapa tanda merah di bagian leher dan tulang selangkanya. Dalam sekejap Mia bisa menyimpulkan semuanya, tentang apa yang baru saja mereka lakukan di rumah ini. Ia menundukkan pandangannya. Wanita muda itu melangkah mendekati Killian dan tersenyum canggung, ia memegang lengan kekarnya. "Pakai dulu bajumu," ujarnya menarik pelan Killian untuk mundur. "Kau pasti Mia?" Mia mendongak dan tersenyum tipis menatap wanita muda

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 5

    Mia menatap kosong ke depan, di mana mobil Killian sudah melaju kencang meninggalkannya seorang diri di tengah-tengah jalanan. Hatinya benar-benar hancur sekarang. “Sialan …,” gumamnya lalu terkekeh. “Jadi … meski aku meminta dan memohon padamu, kau tetap tidak memberi apa yang aku mau.” Mia mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata, ia bangkit dan berdiri. Kedua netranya menukik tajam pada mobil Killian yang perlahan mengecil dari pandangan, kedua tangannya terkepal erat. “KILLIAN! AKU PASTIKAN KAU AKAN MENYESAL! KAU AKAN MENYESALI SETIAP PERKATAAN DAN PERLAKUANMU PADAKU!” teriak Mia sekencang mungkin. Tatapan tajam itu perlahan melunak, aiir matanya kembali meluncurkan bebas ke bawah. “Aku akan menunggunya, tidak peduli berapa lama hari itu datang, aku akan menunggu. Aku akan berdoa setiap hari pada Tuhan untuk melihatmu menyesal dan berlutut dihadapanku.” Setelah puas, Mia berbalik menuju mobil taksi yang ia tumpangi sebelumnya. Ponselnya berdering, ia meliri

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 4

    "Mia! Kau mau ke mana Sayang?!" Mia tak memedulikan panggilan ibunya di belakang sana, ia terus berlari ke luar bangunan itu. Miranda akhirnya berhasil menahan lengan Mia. "Lepas!" Mia dengan kasar menghempaskan tangan ibunya. Miranda tanpa sengaja melihat Killian diseberang, pria itu tampak memasuki mobilnya. "Tidak, Mia. Ibu tidak akan mengizinkanmu menemuinya, Ibu tidak ingin ayahmu berbuat lebih jauh lagi dalam mengatur kehidupanmu Sayang." "Aku tidak peduli!" sentak Mia. "Tapi Ibu peduli, Mia Ruby!" balas Miranda tak kalah keras suaranya. "Kalau Ibu peduli padaku, biarkan aku bersama Killian! Aku akan menjelaskan semuanya sekarang padanya. Dan jika kesalahpahaman diantara kami selesai, Ibu ataupun Ayah jangan melarang hubungan kami lagi!" Miranda tampak lelah menghadapi putrinya yang keras kepala. "Mia kenapa kau tidak mengerti juga? Kalau begini ayahmu tidak akan ragu untuk membuangmu seperti perkataannya waktu itu, Ibu tidak mau itu terjadi Sayang." "Aku tidak masalah

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 3

    Damon berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak tegas dan dingin. Kedua bola matanya bergerak melihat ke sekeliling kamar, lalu berakhir di putrinya yang tampak kacau karena emosi yang meledak-ledak. "Masih belum sadar juga dengan kesalahanmu?" Damon berjalan masuk, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana. "Damon, aku mohon jangan hentikan pendidikan—" "Kalau seperti ini terus, mungkin Ayah akan membuangmu ke jalanan." "Damon!" pekik Miranda. Mia tampak tidak peduli, ia kembali menunjuk ke luar kamar. "Keluar kalian berdua!" "Anak kurang ajar!" desis Damon sebelum akhirnya menarik Miranda keluar kamar. Mia berjalan cepat menutup dan mengunci pintu, tubuhnya ia sandarkan di sana. Ia kembali terisak, hanya beberapa saat sebelum akhirnya berjalan ke arah laci meja disamping ranjang. Tangannya bergerak cepat membuka dan mencari-cari sesuatu di dalamnya. Sebuah foto USG dan surat keterangan dokter yang menyatakan dirinya hamil beberapa minggu yang lalu. "Kau har

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 2

    Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mia, membuat wajahnya berpaling ke samping. Miranda yang melihat itu memekik dan segera mendekati putrinya, memeriksa pipinya yang kini berwarna merah akibat dari tamparan keras suaminya. "Apa yang kau lakukan?! Kau tega memukul putri kandungmu sendiri demi anak dari wanita jalang itu?!" "Dia pantas mendapatkannya, berani sekali mengatakan hal buruk yang belum tentu benar tentang orang lain." "Meski begitu, kau tidak harus menamparnya! Anak kandungmu itu Mia! Ingat itu!" "Dan aku merasa sial karenanya!" Mia mencelos, ia menatap tak percaya pada Ayahnya. Begitu pun Miranda. "Apa katamu? Sial? Justru kamilah yang merasa sial memiliki suami dan ayah sepertimu, ingat saat usia Mia lima tahun? Kau menceraikanku dan meninggalkan kami demi menikahi wanita jalang itu, dimana hati nuranimu saat itu, hah?! Kau bahkan mengabaikan Mia yang merangkak sambil menangis di kakimu agar kau tidak meninggalkan kami saat itu." Damon mengusap kasar

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 1

    "Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa?!" Hari itu, Mia Ruby berteriak penuh amarah pada sosok pria yang dicintainya. Satu fakta yang berhasil membuatnya kehilangan kendali atas segala perasaannya. Marah, kecewa, sakit hati, sedih, cemburu, dan benci. Dan penyebabnya adalah perselingkuhan kekasihnya—Killian Ludovic dengan adik tirinya yang bernama Nancy. Mia mencengkeram kerah kemeja Killian. "Kau berselingkuh dengannya," kata Mia sembari menunjuk Nancy. "Padahal kau jelas tahu kalau aku membencinya!" "Kenapa Killian? Kenapa?!" Mia mengguncang tubuh tegap kekasihnya. Mia Ruby, gadis itu menangis dan meraung sembari memukili dada kekasihnya—Killian Ludovic—yang tampak terlalu tenang untuk menghadapi amukan kekasihnya. Sedangkan di dalam mobil milik Killian, sosok Nancy—adik tiri Mia Ruby itu tersenyum penuh kemenangan. Killian mencengkeram erat kedua lengan Mia, menghentikan aksinya itu. "Karena aku mau," jawabnya. Mia tercengang, hatinya mencelos. "Kau ... kau serius

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status