Share

Bab 30

Author: Cheryl Cherie
last update publish date: 2026-09-03 23:15:31
Untuk sesaat Mia terdiam kaku. Permintaan Killian terasa seperti pria itu menginginkan nyawanya saat ini juga.

Anak?

Bagaimana bisa Mia sanggupi? Itu sama saja seperti Mia mengoyak luka lamanya.

“Bagaimana?”

Mia tersentak dari lamunannya. Ia beralih pada Killian yang tersenyum sangat tipis padanya. “A-aku …,” ucapnya gagap. “Apa … tidak ada pilihan—”

“Hanya dua pilihan yang aku berikan, Mia. Pilih salah satunya.”

Satu tetes air mata Mia meluncur begitu saja. Bibirnya bergetar karen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 31

    Mia bergeming setelah mendengar perkataan Killian yang begitu tegas dan penuh keyakinan. Tanpa sadar ia menelan ludahnya sendiri. “Killian, kau tidak bisa—”“Kenapa tidak?” Mia menggigit bibir bawahnya. “Karena kau sudah berjanji bahwa ibuku akan selalu berada dalam kondisi yang baik,” jawab Mia sedikit gemetar. Senyum tipis tersungging di bibir Killian. “Ya, tentu saja.”“Lalu kenapa kau berkata seperti itu barusan?”“Sayang, kau tak mengerti perkataanku?”“Killian, jangan membuatku bingung.”Killian terkekeh pelan. Tangannya terangkat untuk menyeka keringat dingin di pelipis Mia. “Aku tidak terlalu mempermasalahkan jika kau membuatku marah nantinya, selama itu masih dalam batas yang wajar.”Pria itu menjeda kalimatnya selama beberapa detik. Tatapannya menelisik wajah cantik Mia yang dipenuhi kebingungan dan rasa cemas.“Tapi, ada satu hal yang tidak akan kumaafkan.” Killian kembali terdiam sejenak. “Berbuat curang atau mengkhianatiku dalam kesepakatan yang kita buat.”Mia menelan

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 30

    Untuk sesaat Mia terdiam kaku. Permintaan Killian terasa seperti pria itu menginginkan nyawanya saat ini juga. Anak? Bagaimana bisa Mia sanggupi? Itu sama saja seperti Mia mengoyak luka lamanya. “Bagaimana?” Mia tersentak dari lamunannya. Ia beralih pada Killian yang tersenyum sangat tipis padanya. “A-aku …,” ucapnya gagap. “Apa … tidak ada pilihan—” “Hanya dua pilihan yang aku berikan, Mia. Pilih salah satunya.” Satu tetes air mata Mia meluncur begitu saja. Bibirnya bergetar karena rasa takut. “Aku tidak bisa,” ucapnya lirih. “Tidak bisa apa?” tanya Killian. Nada suaranya teramat rendah namun tegas. “Menyanggupi pilihan kedua yang kau tawarkan.” Killian tersenyum remeh. Ia menarik kembali tubuhnya untuk duduk. “Kalau begitu kau menyanggupi pilihan pertama? Baiklah, aku tunggu dalam waktu—” Mia ikut mendudukan dirinya kembali. “Killian,” potong Mia lelah. “Tolong jangan mempersulitku—” Killian tertawa kecil. “Memperulitmu? Apakah tidak terbalik?” “Aku tahu,

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 29

    Mia yang benar-benar tidak memiliki uang, memilih berjalan kaki. Langkahnya begitu cepat dan tegas, seolah menggambarkan keyakinan penuh atas tindakannya itu. Beberapa saat kemudian … Wanita itu mulai kelelahan. Teriknya matahari terasa menyengat tubuhnya. Ia juga mulai merasa lapar dan haus. Seharian ini, Mia memang belum makan. Ia hanya minum air beberapa gelas tadi pagi. Kaki Mia mulai pegal dan sedikit gemetar karena menggunakan heels yang cukup tinggi, hingga membuat tumit dan telapak kakinya lecet dan terasa perih. Sebenarnya sejak tadi Mia ingin sekali melepasnya, namun karena tidak ada alas kaki lain dan juga jalanan yang terasa panas, ia terpaksa tetap memakai heels yang menyakitkan itu. Tak terasa, ia sudah berjalan sangat jauh dari rumahnya dan memakan waktu tiga jam lebih. Napas Mia mulai tak beraturan, dadanya kembang kempis. Keringat sudah membanjiri kening, pelipis, dan tubuh di balik pakaiannya. “Sedikit lagi … hanya beberapa menit lagi untuk sampai,” gumamny

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 28

    “Cukup sampai di sini pembicaraannya, Julian,” desis Killian tajam. “Sekarang, pergi ke kamarmu dan tidur. Besok, aku sendiri yang akan mengantarmu.”Julian bangkit berdiri, wajahnya terlihat kesal. “Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri—”“Aku tidak membutuhkan persetujuan apa pun darimu,” potong Killian cepat. Nada suaranya terdengar rendah namun tegas. “Suka tidak suka, mau tidak mau, kau tidak diizinkan untuk menentang keputusanku.”Kedua tangan Julian mengepal. “Kau benar-benar semakin terlihat seperti Kakek,” ujarnya. Kemudian, ia berjalan cepat masuk ke dalam vila, meninggalkan Killian sendirian di teras belakang. Killian memejamkan matanya sejenak. Pria itu kembali duduk dan menyandarkan punggungnya. Tangannya merogoh saku bagian dalam mantel, mengeluarkan cigar case kulit yang hanya berisi satu batang cerutu, lalu mengambil pemantik dari saku lainnya.Dengan gerakan tenang dan terkendali, Killian mulai menyalakan cerutu itu. Ia Menarik asap perlahan dan mengembuskannya ke udar

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 27

    “Sepertinya kau membatalkan rencanamu, Hector.” Pria bernama Hector itu menoleh, sudut bibirnya tertarik sedikit. “Ya,” jawabnya. “Tapi setidaknya ada kemungkinan kalau wanita itu bisa aku gunakan sebagai alat untuk menghancurkan Killian.” Mobil mulai melaju. Pria yang mengendarai kendaraan itu kembali bertanya, “Kenapa kau bisa berpikir ke sana?” Hector menatap lurus ke depan. Tatapannya begitu tenang. “Karena ada kebencian dalam diri wanita itu pada Killian.” Lalu tatapannya beralih pada pria di sampingnya itu. “Kau berpikir hal yang sama denganku ‘kan, Riven?” Pria bernama Riven itu mengangguk pelan. “Ya, aku mengerti maksudmu.” “Kita hanya perlu menunggu, dan saat hari itu tiba, aku yang akan menghabisi Killian dengan tanganku sendiri,” ujar Hector. Wajahnya tiba-tiba mengeras, dan matanya menggelap. Riven sendiri menyadarinya. Ia juga merasakan hawa di dalam mobil terasa dingin dan mencekam. *** Killian melangkah cepat memasuki vila mewah pribadi miliknya yang ber

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 26

    Pria misterius itu berbalik, lalu tersenyum tipis. “Baiklah, mari,” ucapnya mempersilakan Mia untuk berjalan lebih dulu. Namun Mia tetap diam, dalam hati ia mempertanyakan kembali keputusannya apakah benar atau tidak. Karena pria itu masih menjadi tanda tanya baginya. Dia baik, atau jahat? Apakah dirinya akan aman atau justru sebaliknya? Bagaimana kalau tiba-tiba di pertengahan jalan, pria itu menyerangnya? Melihat keterdiaman Mia, pria itu berucap, “Kalau bagimu aku ini ancaman, kau bisa berjalan di belakangku. Dengan begitu kau tidak perlu cemas kalau seandainya aku tiba-tiba menikammu dari belakang.” Lalu kakinya mulai melangkah. Mia akhirnya ikut melangkah mengikuti. *** “Apa saja informasi yang sudah kau dapat tentang wanitaku sekarang?” tanya Killian pada salah satu anak buahnya. Kini, pria itu sedang berada di rumah pribadi miliknya. Duduk tenang dengan segelas minuman berwarna amber gelap kesukaannya. Pria di hadapannya membuka sebuah map tipis yang seja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status