LOGIN"Mia! Kau mau ke mana Sayang?!"
Mia tak memedulikan panggilan ibunya di belakang sana, ia terus berlari ke luar bangunan itu. Miranda akhirnya berhasil menahan lengan Mia. "Lepas!" Mia dengan kasar menghempaskan tangan ibunya. Miranda tanpa sengaja melihat Killian diseberang, pria itu tampak memasuki mobilnya. "Tidak, Mia. Ibu tidak akan mengizinkanmu menemuinya, Ibu tidak ingin ayahmu berbuat lebih jauh lagi dalam mengatur kehidupanmu Sayang." "Aku tidak peduli!" sentak Mia. "Tapi Ibu peduli, Mia Ruby!" balas Miranda tak kalah keras suaranya. "Kalau Ibu peduli padaku, biarkan aku bersama Killian! Aku akan menjelaskan semuanya sekarang padanya. Dan jika kesalahpahaman diantara kami selesai, Ibu ataupun Ayah jangan melarang hubungan kami lagi!" Miranda tampak lelah menghadapi putrinya yang keras kepala. "Mia kenapa kau tidak mengerti juga? Kalau begini ayahmu tidak akan ragu untuk membuangmu seperti perkataannya waktu itu, Ibu tidak mau itu terjadi Sayang." "Aku tidak masalah dengan itu selama Killian bersamaku." "Astaga ... Mia, kenapa kau ...." Miranda menggeleng-gelengkan kepalanya. Mia menoleh ke seberang, dan melihat Killian yang sudah masuk ke dalam mobil dan melaju pergi. Tanpa membuang waktu lagi, ia kembali berlari namun kembali ditahan sang ibu. "Tidak, kau tidak boleh pergi!" ucap Miranda tegas. Mia tak menghiraukan dan malah mendorong kasar ibunya itu hingga tersungkur, kemudian berlari menyeberang jalan. Mia menengok ke sekelilingnya mencari cara untuk menyusul pria itu. Hingga saat sebuah mobil taksi tampak melaju ke arahnya, segera saja ia hadang. "Astaga, Mia!" Miranda menutup mulut saat melihat aksi berbahaya putrinya yang tiba-tiba menghadang sebuah mobil taksi. Mia membuka pintu kemudi, lali menarik kasar sopir didalamnya. "Nona—" "Keluar!" Sopir taksi itu jatuh tersungkur ke jalanan setelah Mia menyeretnya ke luar. "Mia berhenti!" Terlambat, putrinya sudah masuk dan melajukan mobil taksi itu dengan cepat mengejar Killian. "Astaga ...," gumam Miranda. Tak mau membuang waktu, segera ia berbalik menuju mobilnya untuk menyusul putrinya itu. *** Mia berhasil menghadang mobil Killian setelah cukup lama mengejarnya, ia keluar dari dalam mobil dan berjalan cepat menghampiri Killian yang sudah keluar dari dalam mobilnya. Mereka kini berada di sebuah jalanan yang cukup sepi, hanya ada mereka berdua di sana. "Kau!" Mia mencengkeram kerah jaket Killian, kedua matanya memerah dan berlinang. "Kau keterlaluan! Kenapa? Kenapa kau tega melakukan semua ini padaku, hah? Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan itu? Kau menyakitiku! Kau menghancurkanku!" Mia terus menghujani Killian dengan pertanyaan, emosinya meluap seketika, gadis itu menangis dan berteriak tepat di depan wajah Killian. Sedangkan Killian tampak tenang, ia tak terganggu atau merasa iba pada kekasihnya yang sedang kacau itu. "Kau mempertanyakan hal yang sudah jelas kau tahu alasannya," ujar Killian akhirnya. Mia terdiam, isakannya terhenti. "Kau masih menganggap semua tuduhanmu itu benar? Kau benar-benar menganggapku berkhianat?" Killian hanya diam dan melepas paksa kedua tangan Mia dari kerah jaketnya, lalu mendorongnya kasar untuk menjauh. "Lian, aku bisa jelaskan. Semua itu tidak benar, tuduhanmu tentangku dan sepupuku—" "Cukup! Aku tidak perlu penjelasan apa pun darimu." Killian menyela, kedua matanya berkilat tajam. "Aku bukan orang bodoh, Mia. Semua yang aku simpulkan selalu tepat dan benar. Jadi ... semua omong kosong yang ingin kau katakan padaku itu tidak akan mengubah pemikiranku terhadapmu." "Tapi Lian, kau harus mendengarkanku dulu ...." Mia masih terus berusaha, ia harus memperbaiki semua kesalahpahaman ini. Killian mendengus kasar, tangannya dengan cepat mencekik Mia hingga membuat gadis itu terkejut dan kesakitan. "Ekh!" pekik Mia saat lehernya dicekik. "Kenapa aku harus mendengarmu?" Mia jelas tidak bisa menjawab karena dirinya tengah berusaha melepas tangan kekar Killian di lehernya. Ia mulai kesulitan bernapas, air matanya semakin deras karena rasa sakit akibat cekikan Killian. "Kil ... li ... an—akh!" Melihat wajah Mia yang mulai memucat, tanpa belas kasihan—Killian mendorong kekasihnya itu hingga tersungkur ke jalanan. Mia memegangi lehernya yang terasa sakit, dengan rakus ia menghirup udara. Sedangkan Killian yang melihat itu tak peduli, ia berbalik hendak masuk kembali ke dalam mobil—namun kakinya tertahan sesuatu. Ia menoleh dan mendapati Mia yang kini sudah merangkak dan memeluk kakinya. Benar-benar terlihat menyedihkan. Dengan wajah basah oleh air mata, Mia terus memohon pada Killian untuk tetap bersamanya dan mendengarkan semua penjelasannya. "Lian aku mohon, tolong jangan pergi ... jangan tinggalkan aku," mohon Mia. "Dengarkan dulu penjelasanku." "Kau memang keras kepala," desis Killian. "Baiklah jika kau bersikeras dan yakin dengan pemikiranmu tentang aku yang berkhianat padamu," ujar Mia akhirnya, ia benar-benar lelah jika terus-terusan berusaha membuat Killian mau mendengar penjelasan dan pembelaannya. Tidak ada pilihan lain selain membiarkan Killian merasa menang dengan membenarkan segala tuduhan tidak benar itu tentangnya. Karena itu, Mia harus mengalah. "Iya, aku selingkuh." Killian tertegun. Tatapannya goyah sesaat, rahangnya mengeras, namun itu hanya dalam hitungan detik sebelum akhirnya wajahnya kembali datar. Mia menelan ludahnya, tenggorokannya terasa sakit saat mengucapkan sebuah pengakuan atas kesalahan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan. "Maaf ... karena sudah megkhianatimu." "Tapi ... aku mohon jangan tinggalkan aku, tetap bersamaku ... ya?" pintanya. "Kita bisa memulai kembali semuanya, aku berjanji tidak akan ... mengkhianatimu lagi." Meski merasa sakit sendiri saat mengucapkan semua itu, Mia berusaha tersenyum sebaik mungkin untuk Killian. Senyum penuh ketulusan untuk permohonannya yang tidak mau ditinggalkan, dan senyum penuh kepalsuan untuk memulai kembali hubungan mereka. Karena memang seharusnya tidak ada 'pengulangan' dalam hubungan mereka yang tidak pernah ia kotori dengan perbuatan menjijikan itu. Killian terdiam. Ia tatap lama kekasihnya yang tampak sangat menyedihkan—sebelum akhirnya ia tendang tubuh rapuh itu hingga terlepas dari kakinya. Pelan ia melangkah mendekati Mia yang tersungkur kembali, kali ini lebih parah dari sebelumnya. Keningnya yang menghantam aspal jalanan itu mengeluarkan darah segar, membuatnya meringis kesakitan. Killian berjongkok dan menjambak rambut Mia hingga membuat gadis itu mendongak menatap Killian. "Akh!" pekik Mia. Air matanya kembali mengalir deras, rasa sakitnya bukan lagi di kepala, kening, atau bagian tubuhnya yang lain. Tapi juga di hati. Hatinya benar-benar terasa remuk dengan perubahan drastis pria yang dicintainya. Kasar dan tidak berperasaan. Meski begitu, Mia tetap memohon. "Aku mohon, jangan tinggalkan aku...." "Diam jalang! Aku muak mendegar ocehanmu!" Hening. Air mata penuh kesakitan itu terhenti. Mia terdiam kaku, ia menatap tak percaya pada pria yang dicintainya. "Lian ...," kata Mia gemetar, "kau ... kau mengataiku? Apa kau sadar?" "Sangat sadar, kenapa? Kau tersinggung?" Killian tersenyum miring, ia semakin mendekatkan wajahnya. "Kau memang ... jalang." Sudut bibir Killian terangkat tipis. "Jadi, Mia Ruby ... selamat tinggal."Untuk sesaat Mia terdiam kaku. Permintaan Killian terasa seperti pria itu menginginkan nyawanya saat ini juga. Anak? Bagaimana bisa Mia sanggupi? Itu sama saja seperti Mia mengoyak luka lamanya. “Bagaimana?” Mia tersentak dari lamunannya. Ia beralih pada Killian yang tersenyum sangat tipis padanya. “A-aku …,” ucapnya gagap. “Apa … tidak ada pilihan—” “Hanya dua pilihan yang aku berikan, Mia. Pilih salah satunya.” Satu tetes air mata Mia meluncur begitu saja. Bibirnya bergetar karena rasa takut. “Aku tidak bisa,” ucapnya lirih. “Tidak bisa apa?” tanya Killian. Nada suaranya teramat rendah namun tegas. “Menyanggupi pilihan kedua yang kau tawarkan.” Killian tersenyum remeh. Ia menarik kembali tubuhnya untuk duduk. “Kalau begitu kau menyanggupi pilihan pertama? Baiklah, aku tunggu dalam waktu—” Mia ikut mendudukan dirinya kembali. “Killian,” potong Mia lelah. “Tolong jangan mempersulitku—” Killian tertawa kecil. “Memperulitmu? Apakah tidak terbalik?” “Aku tahu,
Mia yang benar-benar tidak memiliki uang, memilih berjalan kaki. Langkahnya begitu cepat dan tegas, seolah menggambarkan keyakinan penuh atas tindakannya itu. Beberapa saat kemudian … Wanita itu mulai kelelahan. Teriknya matahari terasa menyengat tubuhnya. Ia juga mulai merasa lapar dan haus. Seharian ini, Mia memang belum makan. Ia hanya minum air beberapa gelas tadi pagi. Kaki Mia mulai pegal dan sedikit gemetar karena menggunakan heels yang cukup tinggi, hingga membuat tumit dan telapak kakinya lecet dan terasa perih. Sebenarnya sejak tadi Mia ingin sekali melepasnya, namun karena tidak ada alas kaki lain dan juga jalanan yang terasa panas, ia terpaksa tetap memakai heels yang menyakitkan itu. Tak terasa, ia sudah berjalan sangat jauh dari rumahnya dan memakan waktu tiga jam lebih. Napas Mia mulai tak beraturan, dadanya kembang kempis. Keringat sudah membanjiri kening, pelipis, dan tubuh di balik pakaiannya. “Sedikit lagi … hanya beberapa menit lagi untuk sampai,” gumamny
“Cukup sampai di sini pembicaraannya, Julian,” desis Killian tajam. “Sekarang, pergi ke kamarmu dan tidur. Besok, aku sendiri yang akan mengantarmu.”Julian bangkit berdiri, wajahnya terlihat kesal. “Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri—”“Aku tidak membutuhkan persetujuan apa pun darimu,” potong Killian cepat. Nada suaranya terdengar rendah namun tegas. “Suka tidak suka, mau tidak mau, kau tidak diizinkan untuk menentang keputusanku.”Kedua tangan Julian mengepal. “Kau benar-benar semakin terlihat seperti Kakek,” ujarnya. Kemudian, ia berjalan cepat masuk ke dalam vila, meninggalkan Killian sendirian di teras belakang. Killian memejamkan matanya sejenak. Pria itu kembali duduk dan menyandarkan punggungnya. Tangannya merogoh saku bagian dalam mantel, mengeluarkan cigar case kulit yang hanya berisi satu batang cerutu, lalu mengambil pemantik dari saku lainnya.Dengan gerakan tenang dan terkendali, Killian mulai menyalakan cerutu itu. Ia Menarik asap perlahan dan mengembuskannya ke udar
“Sepertinya kau membatalkan rencanamu, Hector.” Pria bernama Hector itu menoleh, sudut bibirnya tertarik sedikit. “Ya,” jawabnya. “Tapi setidaknya ada kemungkinan kalau wanita itu bisa aku gunakan sebagai alat untuk menghancurkan Killian.” Mobil mulai melaju. Pria yang mengendarai kendaraan itu kembali bertanya, “Kenapa kau bisa berpikir ke sana?” Hector menatap lurus ke depan. Tatapannya begitu tenang. “Karena ada kebencian dalam diri wanita itu pada Killian.” Lalu tatapannya beralih pada pria di sampingnya itu. “Kau berpikir hal yang sama denganku ‘kan, Riven?” Pria bernama Riven itu mengangguk pelan. “Ya, aku mengerti maksudmu.” “Kita hanya perlu menunggu, dan saat hari itu tiba, aku yang akan menghabiskan Killian dengan tanganku sendiri,” ujar Hector. Wajahnya tiba-tiba mengeras, dan matanya menggelap. Riven sendiri menyadarinya. Ia juga merasakan hawa di dalam mobil terasa dingin dan mencekam. *** Killian melangkah cepat memasuki vila mewah pribadi miliknya yang b
Pria misterius itu berbalik, lalu tersenyum tipis. “Baiklah, mari,” ucapnya mempersilakan Mia untuk berjalan lebih dulu. Namun Mia tetap diam, dalam hati ia mempertanyakan kembali keputusannya apakah benar atau tidak. Karena pria itu masih menjadi tanda tanya baginya. Dia baik, atau jahat? Apakah dirinya akan aman atau justru sebaliknya? Bagaimana kalau tiba-tiba di pertengahan jalan, pria itu menyerangnya? Melihat keterdiaman Mia, pria itu berucap, “Kalau bagimu aku ini ancaman, kau bisa berjalan di belakangku. Dengan begitu kau tidak perlu cemas kalau seandainya aku tiba-tiba menikammu dari belakang.” Lalu kakinya mulai melangkah. Mia akhirnya ikut melangkah mengikuti. *** “Apa saja informasi yang sudah kau dapat tentang wanitaku sekarang?” tanya Killian pada salah satu anak buahnya. Kini, pria itu sedang berada di rumah pribadi miliknya. Duduk tenang dengan segelas minuman berwarna amber gelap kesukaannya. Pria di hadapannya membuka sebuah map tipis yang seja
Mia masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih penasaran dengan sosok misterius yang semakin dekat. “Killian, kaukah itu?” batin Mia. Sedetik kemudian, matanya terbelalak. “Apa ini? Kenapa aku mengharapkannya?”Pria itu akhirnya berhenti, tepat di bawah sinar lampu yang sedikit redup. Meski begitu, Mia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tampan, muda, tinggi, dan berpakaian rapi. Dia terlihat seperti pemuda pada umumnya.Begitulah penilaian Mia pada sosok pria misterius itu. “Hei, siapa kau?” tanya salah satu pria yang memegangi Mia. Bukannya menjawab, pria misterius itu justru malah berjongkok untuk mengambil salah satu minuman kaleng miliknya. “Hah … untunglah, masih bisa diminum.” Tanpa menghiraukan dua orang pria yang jengkel padanya, pria itu dengan santai membuka dan meminum minuman kalengnya. “Hei! Aku bicara padamu!” Pria itu tak langsung menyahut. Ia meremas kaleng minumannya yang sudah kosong, lalu melemparnya asal. “Kau yang melempar itu? Berani sekali kau!







