LOGINSebuah tamparan keras mendarat di pipi Mia, membuat wajahnya berpaling ke samping.
Miranda yang melihat itu memekik dan segera mendekati putrinya, memeriksa pipinya yang kini berwarna merah akibat dari tamparan keras suaminya. "Apa yang kau lakukan?! Kau tega memukul putri kandungmu sendiri demi anak dari wanita jalang itu?!" "Dia pantas mendapatkannya, berani sekali mengatakan hal buruk yang belum tentu benar tentang orang lain." "Meski begitu, kau tidak harus menamparnya! Anak kandungmu itu Mia! Ingat itu!" "Dan aku merasa sial karenanya!" Mia mencelos, ia menatap tak percaya pada Ayahnya. Begitu pun Miranda. "Apa katamu? Sial? Justru kamilah yang merasa sial memiliki suami dan ayah sepertimu, ingat saat usia Mia lima tahun? Kau menceraikanku dan meninggalkan kami demi menikahi wanita jalang itu, dimana hati nuranimu saat itu, hah?! Kau bahkan mengabaikan Mia yang merangkak sambil menangis di kakimu agar kau tidak meninggalkan kami saat itu." Damon mengusap kasar wajahnya, istrinya kembali mengungkit masa lalu. Ini akan memperpanjang perdebatan, dan ia malas untuk itu. "Tapi pada akhirnya aku kembali lagi pada kalian—" "Ya! Tapi kau masih saja membawa rasa kepedulianmu pada mereka, seperti sekarang. Tidakkah kau memahami jika itu membuat kami terluka?" "Kau—" "Berhenti!" teriak Mia, ia menatap bergantian kedua orang tuanya. "Aku sudah terlalu muak mendengar perdebatan kalian, jadi sekarang bisakah tunda dulu perdebatan kalian itu dan dengarkan aku bicara?" Melihat kedua orang tuanya yang terdiam, Mia kembali membuka suara. "Kenapa? Kenapa harus dengan cara seperti itu untuk memisahkanku dengan Killian? Kenapa?!" Damon hanya diam, enggan menjawab pertanyaan Mia. Baginya itu sebuah pertanyaan yang tak perlu ditanyakan, karena jawabannya sudah ada—sejak dulu. Mia beralih pada ibunya. "Dan Ibu? Kenapa Ibu membiarkan semua ini terjadi? Ibu tahu aku sangat mencintai Killian." Miranda menggeleng pelan, kedua matanya berlinang. "Maaf Sayang, Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Dan dia bukan bagian dari yang terbaik itu, dia berbahaya—" "Berbahaya apanya?!" pekik Mia. "Kalian belum mengenalnya tapi sudah menyimpulkannya sebagai orang buruk." "Cinta benar-benar membuatmu tidak waras," ujar Damon. "Ayah yang tidak waras!" "MIA!" "DAMON!" Miranda dengan cepat menahan tangan suaminya yang hendak menampar Mia kembali, ia benar-benar tidak rela jika putrinya disakiti, terlebih oleh ayah kandungnya sendiri. Sedangkan Mia hanya menatap ayahnya nyalang. "Aku akan memberiatahu semua ini pada Killian," ujarnya lalu berbalik melangkah pergi. "Berhenti di situ!" Langkah Mia terhenti di depan pintu, namun tidak berbalik menghadap kedua orang tuanya. "Mulai sekarang kau dilarang keluar rumah tanpa izin Ayah, sekarang cepat masuk ke kamarmu dan tidur!" "Kenapa aku harus mengikuti perintah Ayah?" "Karena terakhir kali kau membangkang demi bajingan itu, kau mengalami keguguran dua minggu yang lalu," jawab Damon. "Hamil di luar pernikahan, benar-benar memalukan." Mia bergeming, ia menatap perutnya yang datar. Dadanya terasa bergemuruh mengingat kejadian dua minggu yang lalu, saat dia datang ke rumah Killian untuk memberitahu tentang kehamilannya dan meminta pertanggungjawabannya. Namun, ketika melihat kekasihnya itu tengah bercinta dengan Nancy, hatinya hancur seketika. Ia lalu pergi diam-diam dengan membawa luka dan rasa sakit dihatinya. Diperjalanan pulangnya dengan berjalan kaki, tatapan Mia terlihat kosong. Akibatnya, ia yang tidak fokus karena sibuk dengan luka hatinya, tak menyadari sebuah mobil yang melaju tak beraturan meghampiri dan menabraknya. Saat itulah semuanya terasa gelap, terakhir yang ia lihat adalah langit yang mendung dan perlahan meneteskan air hujan. "Aakkhh!" Mia memekik kencang kala rambutnya terasa akan tercabut dari kepalanya, ia menoleh dan mendapati Damon tengah menjambak rambutnya. Menariknya kencang hingga terpaksa membuat Mia berjalan mundur menjauh dari pintu rumah. "Damon!" seru Mia. "Diam! Putrimu memang keras kepala, sama sepertimu!" "Ayah! Sakit!" "Ayah bilang masuk ke kamar dan tidur!" Damon mendorong Mia tepat pada Miranda, dan ungtungnya istrinya itu menangkap putrinya dengan cepat sebelum tersungkur ke lantai. "Ayah sudah putuskan, mulai sekarang kau tidak akan melanjutkan pendidikanmu, kau hanya akan diam di dalam rumah untuk merenungkan kesalahanmu itu!" Mia menggeleng keras. Tidak, pendidikannya tidak boleh berhenti, dia sudah berjuang keras demi bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang dokter, semuanya hampir selesai. "Tidak ...," ucap Mia lirih, "Ayah tidak bisa melakukan ini padaku! Ayah tahu bahwa itu sangat berarti untukku, aku sudah berusaha keras agar bisa menjadi dokter, itu cita-citaku!" "Iya Damon, menurutku dengan mencabut semua fasilitas Mia itu sudah lebih dari cukup untuk sekedar membuat Mia merenung, tolong jangan putus pendidikannya." Miranda meyahut. Meski memiliki sumber penghasilan sendiri dan mungkin mampu membiayai pendidikan putrinya, tetap saja semua itu tidak akan bisa sebanding dengan apa yang dimiliki suaminya. "Keputusanku sudah bulat, kau akan berhenti. Dan kubur saja cita-cita tak bergunamu itu." "Ayah ...." "Ini peringatan terakhir, masuk ke kamarmu dan tidur!" Mia menggeleng pelan sebelum akhirnya berbalik pergi menuju kamar. *** BRAK! Mia membanting pintu kamarnya, dadanya kembang kempis, air matanya terus-menerus mengalir. Ia berjalan cepat menuju ranjangnya lalu membanting tubuhnya sendiri ke permukaan empuk ranjang itu dengan posisi tengkurap. "Aaaa! Aku benci Ayah!" teriaknya sembari memukuli bantal. Puas dengan itu, Mia bangkit dan berjalan menuju meja riasnya, menatap pantulan dirinya di sana. Lalu tatapannya tertuju pada alat pengering rambut, tanpa ragu ia melemparnya ke cermin itu hingga retak. "Aakkhh!" Mia kembali berteriak, ia menyapu semua barang-barang yang ada di meja hingga berserakan dilantai—beberapa yang terbuat dari kaca hancur berkeping-keping. Merasa belum puas, ia kemudian melempar lampu tidur yang berada tepat disampingnya ke lantai. Mia kembali berjalan ke sisi kamarnya yang lain—dimana sebuah vas bunga terpajang di atas laci meja. Ceklek! Mia menoleh ke pintu kamarnya yang dibuka tiba-tiba oleh sang ibu, wajahnya tampak cemas. "Mia, Sayang ... apa yang—" Miranda melirik sekeliling kamar putrinya yang berantakkan, lalu perlahan melangkah mendekat. "KELUAR!" teriak Mia, tangannya menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Miranda tercengang mendapat bentakkan dari putrinya sendiri. "Sayang ... Ibu—" "Aku bilang ... keluar! Aku sedang tidak ingin diganggu!" Sebagai seorang ibu, Miranda tentu sakit hati saat dibentak kasar oleh putri kandungnya sendiri. Namun, saat ingat hal apa yang membuat putrinya itu bersikap demikian, Miranda memilih mengesampingkan perasaannya. "Ibu ... Ibu akan membujuk ayahmu agar dia mengurungkan niatnya untuk menghentikan pendidikanmu—” Brakkk! Prang! Miranda memekik saat Mia mengambil dan membanting vas bunga yang berada di atas laci meja, pecahannya berserakan dan sebagian mengenai kakinya. "Mia ...." "KELUAR!" "Ada apa ini?!"Untuk sesaat Mia terdiam kaku. Permintaan Killian terasa seperti pria itu menginginkan nyawanya saat ini juga. Anak? Bagaimana bisa Mia sanggupi? Itu sama saja seperti Mia mengoyak luka lamanya. “Bagaimana?” Mia tersentak dari lamunannya. Ia beralih pada Killian yang tersenyum sangat tipis padanya. “A-aku …,” ucapnya gagap. “Apa … tidak ada pilihan—” “Hanya dua pilihan yang aku berikan, Mia. Pilih salah satunya.” Satu tetes air mata Mia meluncur begitu saja. Bibirnya bergetar karena rasa takut. “Aku tidak bisa,” ucapnya lirih. “Tidak bisa apa?” tanya Killian. Nada suaranya teramat rendah namun tegas. “Menyanggupi pilihan kedua yang kau tawarkan.” Killian tersenyum remeh. Ia menarik kembali tubuhnya untuk duduk. “Kalau begitu kau menyanggupi pilihan pertama? Baiklah, aku tunggu dalam waktu—” Mia ikut mendudukan dirinya kembali. “Killian,” potong Mia lelah. “Tolong jangan mempersulitku—” Killian tertawa kecil. “Memperulitmu? Apakah tidak terbalik?” “Aku tahu,
Mia yang benar-benar tidak memiliki uang, memilih berjalan kaki. Langkahnya begitu cepat dan tegas, seolah menggambarkan keyakinan penuh atas tindakannya itu. Beberapa saat kemudian … Wanita itu mulai kelelahan. Teriknya matahari terasa menyengat tubuhnya. Ia juga mulai merasa lapar dan haus. Seharian ini, Mia memang belum makan. Ia hanya minum air beberapa gelas tadi pagi. Kaki Mia mulai pegal dan sedikit gemetar karena menggunakan heels yang cukup tinggi, hingga membuat tumit dan telapak kakinya lecet dan terasa perih. Sebenarnya sejak tadi Mia ingin sekali melepasnya, namun karena tidak ada alas kaki lain dan juga jalanan yang terasa panas, ia terpaksa tetap memakai heels yang menyakitkan itu. Tak terasa, ia sudah berjalan sangat jauh dari rumahnya dan memakan waktu tiga jam lebih. Napas Mia mulai tak beraturan, dadanya kembang kempis. Keringat sudah membanjiri kening, pelipis, dan tubuh di balik pakaiannya. “Sedikit lagi … hanya beberapa menit lagi untuk sampai,” gumamny
“Cukup sampai di sini pembicaraannya, Julian,” desis Killian tajam. “Sekarang, pergi ke kamarmu dan tidur. Besok, aku sendiri yang akan mengantarmu.”Julian bangkit berdiri, wajahnya terlihat kesal. “Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri—”“Aku tidak membutuhkan persetujuan apa pun darimu,” potong Killian cepat. Nada suaranya terdengar rendah namun tegas. “Suka tidak suka, mau tidak mau, kau tidak diizinkan untuk menentang keputusanku.”Kedua tangan Julian mengepal. “Kau benar-benar semakin terlihat seperti Kakek,” ujarnya. Kemudian, ia berjalan cepat masuk ke dalam vila, meninggalkan Killian sendirian di teras belakang. Killian memejamkan matanya sejenak. Pria itu kembali duduk dan menyandarkan punggungnya. Tangannya merogoh saku bagian dalam mantel, mengeluarkan cigar case kulit yang hanya berisi satu batang cerutu, lalu mengambil pemantik dari saku lainnya.Dengan gerakan tenang dan terkendali, Killian mulai menyalakan cerutu itu. Ia Menarik asap perlahan dan mengembuskannya ke udar
“Sepertinya kau membatalkan rencanamu, Hector.” Pria bernama Hector itu menoleh, sudut bibirnya tertarik sedikit. “Ya,” jawabnya. “Tapi setidaknya ada kemungkinan kalau wanita itu bisa aku gunakan sebagai alat untuk menghancurkan Killian.” Mobil mulai melaju. Pria yang mengendarai kendaraan itu kembali bertanya, “Kenapa kau bisa berpikir ke sana?” Hector menatap lurus ke depan. Tatapannya begitu tenang. “Karena ada kebencian dalam diri wanita itu pada Killian.” Lalu tatapannya beralih pada pria di sampingnya itu. “Kau berpikir hal yang sama denganku ‘kan, Riven?” Pria bernama Riven itu mengangguk pelan. “Ya, aku mengerti maksudmu.” “Kita hanya perlu menunggu, dan saat hari itu tiba, aku yang akan menghabiskan Killian dengan tanganku sendiri,” ujar Hector. Wajahnya tiba-tiba mengeras, dan matanya menggelap. Riven sendiri menyadarinya. Ia juga merasakan hawa di dalam mobil terasa dingin dan mencekam. *** Killian melangkah cepat memasuki vila mewah pribadi miliknya yang b
Pria misterius itu berbalik, lalu tersenyum tipis. “Baiklah, mari,” ucapnya mempersilakan Mia untuk berjalan lebih dulu. Namun Mia tetap diam, dalam hati ia mempertanyakan kembali keputusannya apakah benar atau tidak. Karena pria itu masih menjadi tanda tanya baginya. Dia baik, atau jahat? Apakah dirinya akan aman atau justru sebaliknya? Bagaimana kalau tiba-tiba di pertengahan jalan, pria itu menyerangnya? Melihat keterdiaman Mia, pria itu berucap, “Kalau bagimu aku ini ancaman, kau bisa berjalan di belakangku. Dengan begitu kau tidak perlu cemas kalau seandainya aku tiba-tiba menikammu dari belakang.” Lalu kakinya mulai melangkah. Mia akhirnya ikut melangkah mengikuti. *** “Apa saja informasi yang sudah kau dapat tentang wanitaku sekarang?” tanya Killian pada salah satu anak buahnya. Kini, pria itu sedang berada di rumah pribadi miliknya. Duduk tenang dengan segelas minuman berwarna amber gelap kesukaannya. Pria di hadapannya membuka sebuah map tipis yang seja
Mia masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih penasaran dengan sosok misterius yang semakin dekat. “Killian, kaukah itu?” batin Mia. Sedetik kemudian, matanya terbelalak. “Apa ini? Kenapa aku mengharapkannya?”Pria itu akhirnya berhenti, tepat di bawah sinar lampu yang sedikit redup. Meski begitu, Mia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tampan, muda, tinggi, dan berpakaian rapi. Dia terlihat seperti pemuda pada umumnya.Begitulah penilaian Mia pada sosok pria misterius itu. “Hei, siapa kau?” tanya salah satu pria yang memegangi Mia. Bukannya menjawab, pria misterius itu justru malah berjongkok untuk mengambil salah satu minuman kaleng miliknya. “Hah … untunglah, masih bisa diminum.” Tanpa menghiraukan dua orang pria yang jengkel padanya, pria itu dengan santai membuka dan meminum minuman kalengnya. “Hei! Aku bicara padamu!” Pria itu tak langsung menyahut. Ia meremas kaleng minumannya yang sudah kosong, lalu melemparnya asal. “Kau yang melempar itu? Berani sekali kau!







