LOGINSatu tahun kemudian …
Mia Ruby, gadis itu berdiri di depan sebuah rumah dan toko bunga pinggir jalan. Kedua tangannya menggenggam erat beberapa paper bag berisi barang-barang bermerek miliknya—yang sebentar lagi akan dijual. Ya, karena Mia tidak bekerja dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan di zaman sekarang ini, ia tak punya pilihan lain selain menjual beberapa aset dan barang-barang mewah miliknya. Memang tidak seberapa, tapi itu semua cukup untuk membayar perawatan sang ibu setiap minggunya. Mia tidak pernah menyangka bahwa kecelakaan yang menimpa ibunya satu tahun yang lalu, akan mengakibatkan ibunya itu koma hingga sekarang. Mia paling menyesali momen terakhir kebersamaan mereka yang dipenuhi amarah hari itu, hanya karena seorang Killian. Pria itulah yang menjadi awal kehancuran hidupnya setelah pertengkaran hebat mereka satu tahun yang lalu. Dan sekarang kondisinya benar-benar menyedihkan. Harta yang perlahan habis, ibu yang terbaring di rumah sakit, pendidikannya yang terhenti di tengah jalan, dan ayah yang memilih kembali untuk tinggal bersama ibu dan adik tiri yang dibencinya. Mengingat semua itu membuat Mia memejamkan kedua matanya sejenak, seolah tengah mengusir jauh-jauh ingatan-ingatan menyakitkan itu. Kedua tangannya menggenggam erat tali paper bag yang dijinjingnya. "Ibu, maaf," gumamnya. Seandainya waktu itu ia memilih diam bersama ibunya dan tidak mengejar Killian untuk menuntut penjelasan, mungkin hidupnya tidak akan berantakan seperti sekarang ini, terlebih lagi ibunya masih bersamanya dalam keadaan sehat. Namun, semuanya hanya ada di angan-angannya saja. Waktu tidak akan berjalan mundur sampai kapanpun. Mia sempat pernah menemui ayahnya untuk meminta belas kasihannya karena ia yang cukup frustasi memikirkan kondisi ibunya. Namun apa yang ia dapat? Ayahnya secara terang-terangan mengusirnya tanpa memberi apa pun, dan lebih menyakitkannya lagi ibu dan adik tirinya melihat dan memberinya senyuman mengejek. Bukan hanya senyum mengejek nasib malang Mia, tapi juga senyum kepuasan karena dua wanita itu berhasil mengambil alih satu-satunya usaha milik ibunya. Ya, butik milik Miranda sudah menjadi milik istri baru ayahnya itu. Dan tentu saja ayahnya sendiri yang melakukan semua itu. Mia menghela napasnya, ia sedikit tersenyum tipis guna menyembunyikan kondisinya yang menyedihkan. Ia tidak mau terlihat menyedihkan di depan orang yang menjadi pembeli barang-barangnya. Tangannya terangkat untuk menekan bel rumah, menunggu beberapa saat sampai akhirnya pintu terbuka. Baru saja hendak berucap untuk menyapa, tiba-tiba saja Mia terdiam kaku, senyumannya lenyap begitu saja saat mendapati sosok pria yang tak asing dalam hidupnya muncul di balik pintu. Killian Ludovic. Pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta sekaligus terluka, pria yang cukup memiliki andil paling besar dalam membuat hatinya hancur berkeping-keping. Napas Mia seakan berhenti. Jantungnya berdegup kencang, kedua matanya sedikit berlinang, genggamannya pada tali paper bag di tangannya pun mengerat. Perasaannya bergejolak. Rindu, kecewa, benci, marah, semuanya menjadi satu dalam waktu bersamaan. Meski membenci Killian, tapi jauh di lubuk hatinya, Mia sangat merindukan pria yang dicintainya itu. Namun karena kekecewaan dan amarah yang juga dirasakannya sejak satu tahun yang lalu, Mia berusaha mengubur dalam-dalam perasaan cinta dan rindunya. Sudah satu tahun berlalu sejak Killian mencampakkannya waktu itu, sekarang takdir mempertemukannya kembali. Dan yang membuatnya kembali merasa sesak adalah, kenyataan jika Killian tampak baik-baik saja tanpa dirinya sampai detik ini. Tidak seperti dirinya yang setiap saatnya merasa sakit mengingat semua luka dan deritanya setelah dibuang begitu saja olehnya satu tahun yang lalu, tanpa alasan yang jelas. Lihat saja penampilannya sekarang ini, dia hanya mengenakan celana hitam panjang tanpa atasan, yang memperlihatkan tato-tato di beberapa bagian tubuhnya, terutama tato bergambar bibir seorang wanita berwarna merah tepat di dada kirinya. Itu ... miliknya, gambar bibir merah itu miliknya. Seketika Mia tertegun, ingatannya kembali ke masa lalu. Di mana saat itu ia yang sering cemburu pada Killian karena banyak disukai dan didekati wanita lain. Dan untuk menghiburnya, Killian membuat tato yang dijiplak langsung dari bibir miliknya. Mia memejamkan matanya sejenak, menghalau pikirannya tentang hal itu. Namun ia tak langsung mengalihkan pandangan, tapi justru semakin memindai penampilan Killian dari kepala sampai kaki. Rambutnya berantakan, aroma alkohol menguar menusuk penciumannya, dan Mia bisa tahu pasti jika pria ini baru saja bangun dari tidurnya. Lalu kedua matanya tak sengaja menatap beberapa tanda merah di bagian leher dan dada bidangnya. Dadanya tiba-tiba berdenyut nyeri kala menyadari tanda apa itu, ia bukan gadis polos yang belum mengerti apa-apa tentang hal yang berbau dewasa. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita tepat dari arah belakang Killian. "Killian! Pakai baju—"Untuk sesaat Mia terdiam kaku. Permintaan Killian terasa seperti pria itu menginginkan nyawanya saat ini juga. Anak? Bagaimana bisa Mia sanggupi? Itu sama saja seperti Mia mengoyak luka lamanya. “Bagaimana?” Mia tersentak dari lamunannya. Ia beralih pada Killian yang tersenyum sangat tipis padanya. “A-aku …,” ucapnya gagap. “Apa … tidak ada pilihan—” “Hanya dua pilihan yang aku berikan, Mia. Pilih salah satunya.” Satu tetes air mata Mia meluncur begitu saja. Bibirnya bergetar karena rasa takut. “Aku tidak bisa,” ucapnya lirih. “Tidak bisa apa?” tanya Killian. Nada suaranya teramat rendah namun tegas. “Menyanggupi pilihan kedua yang kau tawarkan.” Killian tersenyum remeh. Ia menarik kembali tubuhnya untuk duduk. “Kalau begitu kau menyanggupi pilihan pertama? Baiklah, aku tunggu dalam waktu—” Mia ikut mendudukan dirinya kembali. “Killian,” potong Mia lelah. “Tolong jangan mempersulitku—” Killian tertawa kecil. “Memperulitmu? Apakah tidak terbalik?” “Aku tahu,
Mia yang benar-benar tidak memiliki uang, memilih berjalan kaki. Langkahnya begitu cepat dan tegas, seolah menggambarkan keyakinan penuh atas tindakannya itu. Beberapa saat kemudian … Wanita itu mulai kelelahan. Teriknya matahari terasa menyengat tubuhnya. Ia juga mulai merasa lapar dan haus. Seharian ini, Mia memang belum makan. Ia hanya minum air beberapa gelas tadi pagi. Kaki Mia mulai pegal dan sedikit gemetar karena menggunakan heels yang cukup tinggi, hingga membuat tumit dan telapak kakinya lecet dan terasa perih. Sebenarnya sejak tadi Mia ingin sekali melepasnya, namun karena tidak ada alas kaki lain dan juga jalanan yang terasa panas, ia terpaksa tetap memakai heels yang menyakitkan itu. Tak terasa, ia sudah berjalan sangat jauh dari rumahnya dan memakan waktu tiga jam lebih. Napas Mia mulai tak beraturan, dadanya kembang kempis. Keringat sudah membanjiri kening, pelipis, dan tubuh di balik pakaiannya. “Sedikit lagi … hanya beberapa menit lagi untuk sampai,” gumamny
“Cukup sampai di sini pembicaraannya, Julian,” desis Killian tajam. “Sekarang, pergi ke kamarmu dan tidur. Besok, aku sendiri yang akan mengantarmu.”Julian bangkit berdiri, wajahnya terlihat kesal. “Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri—”“Aku tidak membutuhkan persetujuan apa pun darimu,” potong Killian cepat. Nada suaranya terdengar rendah namun tegas. “Suka tidak suka, mau tidak mau, kau tidak diizinkan untuk menentang keputusanku.”Kedua tangan Julian mengepal. “Kau benar-benar semakin terlihat seperti Kakek,” ujarnya. Kemudian, ia berjalan cepat masuk ke dalam vila, meninggalkan Killian sendirian di teras belakang. Killian memejamkan matanya sejenak. Pria itu kembali duduk dan menyandarkan punggungnya. Tangannya merogoh saku bagian dalam mantel, mengeluarkan cigar case kulit yang hanya berisi satu batang cerutu, lalu mengambil pemantik dari saku lainnya.Dengan gerakan tenang dan terkendali, Killian mulai menyalakan cerutu itu. Ia Menarik asap perlahan dan mengembuskannya ke udar
“Sepertinya kau membatalkan rencanamu, Hector.” Pria bernama Hector itu menoleh, sudut bibirnya tertarik sedikit. “Ya,” jawabnya. “Tapi setidaknya ada kemungkinan kalau wanita itu bisa aku gunakan sebagai alat untuk menghancurkan Killian.” Mobil mulai melaju. Pria yang mengendarai kendaraan itu kembali bertanya, “Kenapa kau bisa berpikir ke sana?” Hector menatap lurus ke depan. Tatapannya begitu tenang. “Karena ada kebencian dalam diri wanita itu pada Killian.” Lalu tatapannya beralih pada pria di sampingnya itu. “Kau berpikir hal yang sama denganku ‘kan, Riven?” Pria bernama Riven itu mengangguk pelan. “Ya, aku mengerti maksudmu.” “Kita hanya perlu menunggu, dan saat hari itu tiba, aku yang akan menghabiskan Killian dengan tanganku sendiri,” ujar Hector. Wajahnya tiba-tiba mengeras, dan matanya menggelap. Riven sendiri menyadarinya. Ia juga merasakan hawa di dalam mobil terasa dingin dan mencekam. *** Killian melangkah cepat memasuki vila mewah pribadi miliknya yang b
Pria misterius itu berbalik, lalu tersenyum tipis. “Baiklah, mari,” ucapnya mempersilakan Mia untuk berjalan lebih dulu. Namun Mia tetap diam, dalam hati ia mempertanyakan kembali keputusannya apakah benar atau tidak. Karena pria itu masih menjadi tanda tanya baginya. Dia baik, atau jahat? Apakah dirinya akan aman atau justru sebaliknya? Bagaimana kalau tiba-tiba di pertengahan jalan, pria itu menyerangnya? Melihat keterdiaman Mia, pria itu berucap, “Kalau bagimu aku ini ancaman, kau bisa berjalan di belakangku. Dengan begitu kau tidak perlu cemas kalau seandainya aku tiba-tiba menikammu dari belakang.” Lalu kakinya mulai melangkah. Mia akhirnya ikut melangkah mengikuti. *** “Apa saja informasi yang sudah kau dapat tentang wanitaku sekarang?” tanya Killian pada salah satu anak buahnya. Kini, pria itu sedang berada di rumah pribadi miliknya. Duduk tenang dengan segelas minuman berwarna amber gelap kesukaannya. Pria di hadapannya membuka sebuah map tipis yang seja
Mia masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih penasaran dengan sosok misterius yang semakin dekat. “Killian, kaukah itu?” batin Mia. Sedetik kemudian, matanya terbelalak. “Apa ini? Kenapa aku mengharapkannya?”Pria itu akhirnya berhenti, tepat di bawah sinar lampu yang sedikit redup. Meski begitu, Mia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tampan, muda, tinggi, dan berpakaian rapi. Dia terlihat seperti pemuda pada umumnya.Begitulah penilaian Mia pada sosok pria misterius itu. “Hei, siapa kau?” tanya salah satu pria yang memegangi Mia. Bukannya menjawab, pria misterius itu justru malah berjongkok untuk mengambil salah satu minuman kaleng miliknya. “Hah … untunglah, masih bisa diminum.” Tanpa menghiraukan dua orang pria yang jengkel padanya, pria itu dengan santai membuka dan meminum minuman kalengnya. “Hei! Aku bicara padamu!” Pria itu tak langsung menyahut. Ia meremas kaleng minumannya yang sudah kosong, lalu melemparnya asal. “Kau yang melempar itu? Berani sekali kau!







