LOGINMia menatap kosong ke depan, di mana mobil Killian sudah melaju kencang meninggalkannya seorang diri di tengah-tengah jalanan.
Hatinya benar-benar hancur sekarang. “Sialan …,” gumamnya lalu terkekeh. “Jadi … meski aku meminta dan memohon padamu, kau tetap tidak memberi apa yang aku mau.” Mia mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata, ia bangkit dan berdiri. Kedua netranya menukik tajam pada mobil Killian yang perlahan mengecil dari pandangan, kedua tangannya terkepal erat. “KILLIAN! AKU PASTIKAN KAU AKAN MENYESAL! KAU AKAN MENYESALI SETIAP PERKATAAN DAN PERLAKUANMU PADAKU!” teriak Mia sekencang mungkin. Tatapan tajam itu perlahan melunak, aiir matanya kembali meluncurkan bebas ke bawah. “Aku akan menunggunya, tidak peduli berapa lama hari itu datang, aku akan menunggu. Aku akan berdoa setiap hari pada Tuhan untuk melihatmu menyesal dan berlutut dihadapanku.” Setelah puas, Mia berbalik menuju mobil taksi yang ia tumpangi sebelumnya. Ponselnya berdering, ia melirik nama yang tertera di layar. Ibu. Dengan lemah ia raih ponselnya lalu mengangkat panggilan. “Iya Ibu, aku akan kembali—” “Maaf, saya ingin memberitahukan bahwa pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan tunggal.” Deg! *** Killian mencengkeram erat setir mobilnya, napasnya memburu, matanya berkilat tajam ke depan. Bayangan ketika dirinya mencekik, menendang, dan memperlakukan Mia dengan kasar tadi terus terngiang. Di lubuk hatinya yang terdalam, Killian tentu merasa bersalah dan bajingan karena memperlakukan wanita yang dicintainya dengan kasar. Namun, bayangan ketika dia melihat Mia bersama pria lain keluar dari sebuah hotel sambil bergandengan dan tertawa bersama, kemudian saat foto-foto tidak pantas Mia bersama pria itu terus berkeliaran di benaknya, Killian membuang hati nuraninya saat itu juga untuk Mia. Dia diselingkuhi, dikhianati. Semua itu benar-benar membuat harga dirinya terasa diinjak-injak. Killian benci itu. “Sialan kau Mia Ruby, berani sekali kau mempermainkanku.” Killian menambah kecepatan mobilnya, ia benar-benar butuh pelampiasan untuk meredakan amarah yang meledak-ledak dalam dirinya. “Ayah dan anak sama saja,” desisnya. Ingatannya kembali terlempar pada sosok Damon yang datang menemuinya beberapa waktu yang lalu. Beberapa waktu yang lalu … Killian berdiri di belakang teras vila pribadi miliknya yang langsung menghadap laut lepas, suara ombak terdengar kencang bagai lantunan musik malam itu, angin yang bergerak pelan membelai wajahnya yang keras, dan langit yang berwarna gelap seakan menyelimutinya dari dunia luar. Tangan kirinya sengaja ia masukkan ke saku, sedangkan tangan kanannya menggenggam gelas rendah berisi minuman kesukaannya. Pelan, ia menyesap cairan berwarna amber gelap itu dengan tatapan yang tidak lepas dari laut. Langkah kaki terdengar di belakangnya, langkahnya terdengar tenang untuk ukuran orang yang bukan dari bagiannya. Killian tersenyum samar, tanpa berbalik ia berucap, “Kau datang jauh-jauh ke sini, apa itu tidak membuang waktumu, Damon Valemont?” Damon Valemont, ayah dari Mia Ruby itu menghentikan langkahnya tepat di samping Killian. Keduanya tidak menoleh satu sama lain, dan lebih memilih menatap luasnya laut di depan sana, yang meski terlihat gelap sekalipun. Gelap, namun menyimpan banyak hal. Sama seperti isi kepala dua pria berbeda usia itu. Damon memasukkan kedua lengannya ke saku celana setelan jas formal mewahnya, wajahnya terlihat tenang. “Jika bukan menyangkut putriku, mungkin iya.” “Baiklah, aku akan langsung ke intinya saja.” Kali ini suara Damon terdengar lebih tegas. “Kau tahu aku tidak akan pernah menerimamu, tapi putriku yang keras kepala itu berhasil meruntuhkan sedikit egoku.” “Jadi?” “Aku mengizinkan Mia untuk berhubungan denganmu.” Killian menyunggingkan senyum remeh. Jika di situasi normal, Damon seharusnya memberikan izin itu padanya, tapi malah sebaliknya. Memberi izin putrinya untuk berhubungan dengannya. Tentu saja, karena Damon sadar jika orang seperti Killian tidak memerlukan izin dari siapa pun untuk mendapat apa yang diinginkannya. “Tapi ingat beberapa hal kecil tentang Mia, Killian.” Wajah Killian berubah keras dan datar, ia tidak menggunakan mata, namun menajamkan telinga untuk menanggapi Damon. “Sejak kecil Mia suka menginginkan sesuatu seperti mainan atau benda yang dia sukai dengan berlebihan, dan aku tentu selalu memenuhinya.” Damon tersenyum kecil, mengingat sosok putri kecilnya kala itu. “Tapi seiring berjalannya waktu, dia mulai menyadari jika yang sudah dimilikinya terasa mulai membosankan. Dia selalu mengabaikan atau bahkan membuang mainan yang sudah bosan ia mainkan. Jadi … jika kau memberi barang mewah atau apa pun padanya, pastikan itu bukan hal yang akan membuatnya bosan nantinya.” Killian masih diam, sesekali ia menyesap minumannya dengan gerakan tenang dan terkendali. Damon yang belum puas dan merasa jika Killian masih memberinya waktu berbicara, kembali berujar, “Dan ini yang paling membuatku gemas padanya waktu kecil.” Damon menjeda kalimatnya. Dan untuk sesaat terasa hening, keduanya seakan sengaja membiarkan suara ombak laut ikut masuk ke pembicaraan sebagai jeda. “Dia suka menyembunyikan permen yang sudah aku larang untuk dimakan. Padahal dia jelas tahu jika itu akan membuat giginya sakit, tapi karena dia keras kepala dan selalu memiliki keinginan besar, ia mencari segala cara agar permen itu tetap bersamanya.” Damon kembali diam, ia menanti reaksi Killian. Namun nihil, kekasih putrinya itu seakan tidak tertarik dengan pembicaraan mereka. Meski begitu, Damon tetap melanjutkan dengan senyuman hangat seperti seorang ayah penyayang ketika mengingat putrinya itu. “Saat itu aku memergokinya tengah menyembunyikan permen di bawah bantal tidurnya, dan demi agar aku tidak mengambil permen itu dia dengan lihai mengatakan bahwa permen itu bukan miliknya, tapi milik teman sekolahnya.” Damon terkekeh kecil. “Saat aku bertanya kenapa temannya menitipkan permennya, dia menjawab bahwa temannya itu takut dimarahi orang tuanya karena memiliki permen yang sudah dilarang orang tuanya. Dan dari situ Mia memiliki alasan agar aku tidak bisa memarahinya karena menyimpan permen yang sudah aku larang.” “Dan tidak lama kemudian aku mengetahui bahwa putri kecilku itu berbohong. Permen itu bukan milik temannya, melainkan miliknya sendiri, yang ia beli diam-diam saat itu. Dan pada akhirnya dia sakit gigi.” Dan Lagi-lagi Damon tertawa, seolah menertawakan kenakalan putri kecilnya di masa lalu. Damon menghela napasnya sejenak, ia mendongak menatap langit malam. “Putriku memang mirip denganku waktu kecil …,” ucapnya lagi sembari melirik Killian dengan ekor matanya, “dia benar-benar sepertiku.” Tatapan Killian berubah datar dan dingin, bukan lagi tatapan tenang yang masih bisa membuatnya sedikit tersenyum, meski senyum remeh sekalipun. “Jadi, Killian … jangan berikan putriku permen atau makanan manis yang berlebihan.” Damon kembali berujar, kali ini ia menghadap Killian. “Dan jangan sampai putriku menyembunyikan permen atau memakannya diam-diam darimu, sebenarnya tidak masalah karena dia akan menerima akibat dari memakan permen itu, biarkan saja dia menangis karena giginya sakit.” Damon tampak diam memperhatikan raut wajah Killian yang tidak berubah, namun ia merasa sudah cukup dengan semua yang ia katakan. “Itu saja yang ingin aku sampaikan, meski aku bukan ayah yang seperti diharapkan Mia, bagaimanapun juga aku ini tetap ayahnya, aku harus memastikan dia benar-benar tidak salah memilih pasangan. Dan aku harap kau juga bisa memahami putriku, sekalipun dari kebiasaan kecil seperti ini.” *** Beberapa hari kemudian, Killian yang merasa setiap perkataan Damon menyimpan sesuatu, membuatnya harus mencari tahu sendiri maksud dan arti perkataan ayah dari kekasihnya itu. Hari itu, ia mendapat sebuah kiriman dari orang tidak dikenal. Sebuah paket berisi foto-foto Mia bersama pria lain, dan posisinya benar-benar intim. Bukan hanya itu, di sana tertera alamat dan nama sebuah hotel. Saat itu juga Killian mulai mencari tahu. Dan tepat ketika dia tiba di hotel yang disebutkan, dia melihat Mia baru keluar dari sana bersama pria lain, mereka tampak sangat dekat. Dan dari situ Killian menyimpulkan semuanya, Mia Ruby berselingkuh. Puncaknya adalah ketika ia diminta Mia untuk datang menemuinya—yang beralasan ingin mengenalkan sepupunya. Saat itu ia baru tiba dan melihat dari kejauhan, kekasihnya itu tampak sedang bercanda dan sangat dekat dengan pria yang ia lihat ketika di foto dan hotel waktu itu. “Sepupu?” Killian tertawa kecil, tawa penuh rasa sakit dan kecewa karena dikhianati oleh kekasihnya. Tatapan mata Killian menggelap, rahangnya mengeras. “Ayah dan anak sama saja. Seharusnya sejak awal aku tidak membiarkan orang baru masuk terlalu jauh ke dalam hidupku.”Untuk sesaat Mia terdiam kaku. Permintaan Killian terasa seperti pria itu menginginkan nyawanya saat ini juga. Anak? Bagaimana bisa Mia sanggupi? Itu sama saja seperti Mia mengoyak luka lamanya. “Bagaimana?” Mia tersentak dari lamunannya. Ia beralih pada Killian yang tersenyum sangat tipis padanya. “A-aku …,” ucapnya gagap. “Apa … tidak ada pilihan—” “Hanya dua pilihan yang aku berikan, Mia. Pilih salah satunya.” Satu tetes air mata Mia meluncur begitu saja. Bibirnya bergetar karena rasa takut. “Aku tidak bisa,” ucapnya lirih. “Tidak bisa apa?” tanya Killian. Nada suaranya teramat rendah namun tegas. “Menyanggupi pilihan kedua yang kau tawarkan.” Killian tersenyum remeh. Ia menarik kembali tubuhnya untuk duduk. “Kalau begitu kau menyanggupi pilihan pertama? Baiklah, aku tunggu dalam waktu—” Mia ikut mendudukan dirinya kembali. “Killian,” potong Mia lelah. “Tolong jangan mempersulitku—” Killian tertawa kecil. “Memperulitmu? Apakah tidak terbalik?” “Aku tahu,
Mia yang benar-benar tidak memiliki uang, memilih berjalan kaki. Langkahnya begitu cepat dan tegas, seolah menggambarkan keyakinan penuh atas tindakannya itu. Beberapa saat kemudian … Wanita itu mulai kelelahan. Teriknya matahari terasa menyengat tubuhnya. Ia juga mulai merasa lapar dan haus. Seharian ini, Mia memang belum makan. Ia hanya minum air beberapa gelas tadi pagi. Kaki Mia mulai pegal dan sedikit gemetar karena menggunakan heels yang cukup tinggi, hingga membuat tumit dan telapak kakinya lecet dan terasa perih. Sebenarnya sejak tadi Mia ingin sekali melepasnya, namun karena tidak ada alas kaki lain dan juga jalanan yang terasa panas, ia terpaksa tetap memakai heels yang menyakitkan itu. Tak terasa, ia sudah berjalan sangat jauh dari rumahnya dan memakan waktu tiga jam lebih. Napas Mia mulai tak beraturan, dadanya kembang kempis. Keringat sudah membanjiri kening, pelipis, dan tubuh di balik pakaiannya. “Sedikit lagi … hanya beberapa menit lagi untuk sampai,” gumamny
“Cukup sampai di sini pembicaraannya, Julian,” desis Killian tajam. “Sekarang, pergi ke kamarmu dan tidur. Besok, aku sendiri yang akan mengantarmu.”Julian bangkit berdiri, wajahnya terlihat kesal. “Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri—”“Aku tidak membutuhkan persetujuan apa pun darimu,” potong Killian cepat. Nada suaranya terdengar rendah namun tegas. “Suka tidak suka, mau tidak mau, kau tidak diizinkan untuk menentang keputusanku.”Kedua tangan Julian mengepal. “Kau benar-benar semakin terlihat seperti Kakek,” ujarnya. Kemudian, ia berjalan cepat masuk ke dalam vila, meninggalkan Killian sendirian di teras belakang. Killian memejamkan matanya sejenak. Pria itu kembali duduk dan menyandarkan punggungnya. Tangannya merogoh saku bagian dalam mantel, mengeluarkan cigar case kulit yang hanya berisi satu batang cerutu, lalu mengambil pemantik dari saku lainnya.Dengan gerakan tenang dan terkendali, Killian mulai menyalakan cerutu itu. Ia Menarik asap perlahan dan mengembuskannya ke udar
“Sepertinya kau membatalkan rencanamu, Hector.” Pria bernama Hector itu menoleh, sudut bibirnya tertarik sedikit. “Ya,” jawabnya. “Tapi setidaknya ada kemungkinan kalau wanita itu bisa aku gunakan sebagai alat untuk menghancurkan Killian.” Mobil mulai melaju. Pria yang mengendarai kendaraan itu kembali bertanya, “Kenapa kau bisa berpikir ke sana?” Hector menatap lurus ke depan. Tatapannya begitu tenang. “Karena ada kebencian dalam diri wanita itu pada Killian.” Lalu tatapannya beralih pada pria di sampingnya itu. “Kau berpikir hal yang sama denganku ‘kan, Riven?” Pria bernama Riven itu mengangguk pelan. “Ya, aku mengerti maksudmu.” “Kita hanya perlu menunggu, dan saat hari itu tiba, aku yang akan menghabiskan Killian dengan tanganku sendiri,” ujar Hector. Wajahnya tiba-tiba mengeras, dan matanya menggelap. Riven sendiri menyadarinya. Ia juga merasakan hawa di dalam mobil terasa dingin dan mencekam. *** Killian melangkah cepat memasuki vila mewah pribadi miliknya yang b
Pria misterius itu berbalik, lalu tersenyum tipis. “Baiklah, mari,” ucapnya mempersilakan Mia untuk berjalan lebih dulu. Namun Mia tetap diam, dalam hati ia mempertanyakan kembali keputusannya apakah benar atau tidak. Karena pria itu masih menjadi tanda tanya baginya. Dia baik, atau jahat? Apakah dirinya akan aman atau justru sebaliknya? Bagaimana kalau tiba-tiba di pertengahan jalan, pria itu menyerangnya? Melihat keterdiaman Mia, pria itu berucap, “Kalau bagimu aku ini ancaman, kau bisa berjalan di belakangku. Dengan begitu kau tidak perlu cemas kalau seandainya aku tiba-tiba menikammu dari belakang.” Lalu kakinya mulai melangkah. Mia akhirnya ikut melangkah mengikuti. *** “Apa saja informasi yang sudah kau dapat tentang wanitaku sekarang?” tanya Killian pada salah satu anak buahnya. Kini, pria itu sedang berada di rumah pribadi miliknya. Duduk tenang dengan segelas minuman berwarna amber gelap kesukaannya. Pria di hadapannya membuka sebuah map tipis yang seja
Mia masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih penasaran dengan sosok misterius yang semakin dekat. “Killian, kaukah itu?” batin Mia. Sedetik kemudian, matanya terbelalak. “Apa ini? Kenapa aku mengharapkannya?”Pria itu akhirnya berhenti, tepat di bawah sinar lampu yang sedikit redup. Meski begitu, Mia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tampan, muda, tinggi, dan berpakaian rapi. Dia terlihat seperti pemuda pada umumnya.Begitulah penilaian Mia pada sosok pria misterius itu. “Hei, siapa kau?” tanya salah satu pria yang memegangi Mia. Bukannya menjawab, pria misterius itu justru malah berjongkok untuk mengambil salah satu minuman kaleng miliknya. “Hah … untunglah, masih bisa diminum.” Tanpa menghiraukan dua orang pria yang jengkel padanya, pria itu dengan santai membuka dan meminum minuman kalengnya. “Hei! Aku bicara padamu!” Pria itu tak langsung menyahut. Ia meremas kaleng minumannya yang sudah kosong, lalu melemparnya asal. “Kau yang melempar itu? Berani sekali kau!







