LOGINMia menoleh ke dalam rumah, di sana sosok gadis muda terdiam setelah berlari sembari membawa kain berwarna hitam yang ia yakini itu adalah pakaian milik Killian.
Sedangakan Killian sama sekali tidak menoleh ke belakang, kedua matanya menatap dalam pada sosok Mia. Mia menelan ludahnya ketika menyadari apa yang sudah terjadi di rumah ini sebelum kedatangannya. Di sana, wanita muda itu tersenyum canggung dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terlapisi lingerie. Sama seperti Kllian, penampilannya berantakkan, rambut hitamnya tidak beraturan, dan ada beberapa tanda merah di bagian leher dan tulang selangkanya. Dalam sekejap Mia bisa menyimpulkan semuanya, tentang apa yang baru saja mereka lakukan di rumah ini. Ia menundukkan pandangannya. Wanita muda itu melangkah mendekati Killian dan tersenyum canggung, ia memegang lengan kekarnya. "Pakai dulu bajumu," ujarnya menarik pelan Killian untuk mundur. "Kau pasti Mia?" Mia mendongak dan tersenyum tipis menatap wanita muda itu, ia mengangguk pelan. "Iya, aku sudah membawa beberapa barang yang kau inginkan," ucapnya sembari mengangkat beberapa paper bag ditangannya. "Aku Julia," ucap wanita muda itu lagi, tangannya berusaha menutupi area lehernya yang terdapat tanda merah dengan rambutnya. "Boleh aku melihat dulu barangnya?" tanyanya. "Tentu." "Kalau begitu, ayo masuk." Mia hanya mengangguk dan mengikuti kedua pasangan itu, sembari berusaha mengalihkan pandangannya. "Maaf, tapi aku perlu membersihkan diri dulu, kau tidak keberatan menunggu?" Julia berbalik menatap Mia. "Tidak masalah." "Kalau begitu kau bisa duduk di sofa sana, anggap saja rumah sendiri." Mia melirik sekilas sofa putih di ruang tengah, lalu kembali menatap Julia yang tersenyum hangat padanya. "Terima kasih," ujar Mia seraya tersenyum samar. Julia melirik Killian di sampingnya yang sedari tadi terus memperhatikan Mia, tatapannya datar tanpa emosi dan sulit mengartikannya. Dan jelas ia tidak menyukainya. "Ayo," ajaknya. Killian menoleh dan menaikkan alisnya sebelah, seolah bertanya 'ke mana?'. "Kau juga harus membersihkan dirimu." Julia menarik lagi Killian menuju kamarnya, dan pria itu hanya menurut. Sedangkan Mia yang sedari tadi menunduk karena enggan melihat kemesraan keduanya, terutama tatapan Killian yang membuatnya tak nyaman, perlahan berjalan pelan menuju sofa. Ia meletakkan barang-barang bawaannya di meja, lalu setelahnya berjalan menuju jendela. Menatap ke arah taman di depan sana, dimana orang-orang berkeliaran dan anak-anak yang berlarian ke sana ke mari di taman itu. Melihat anak-anak itu membuat Mia merasa ingin kembali menjadi seusia mereka lagi, dimana yang ia pikirkan hanya makan, main, sekolah dan tidur siang setelahnya. Dimana di masa itu ia tidak akan memikirkan beban hidup seperti sekarang ini. Keluarga yang tidak harmonis, orang tua yang sering bertengkar, dan sekarang kondisi keuangan yang menurun drastis—sedangkan ia tidak bekerja sama sekali. Ditengah-tengah lamunannya itu, tiba-tiba sepasang tangan kekar yang berhias tato mengunci pergerakannya. Tubuh Mia terdorong ke depan dan setengah tubuhnya menekan meja kayu di depannya, ia menatap ke bawah dimana kedua tangan kekar itu bertumpu di meja. Mia menelan ludahnya, dadanya berdegup cepat. Hanya melihat bentuk tangan dan tato itu saja ia sudah bisa menebak siapa si pemilik lengan itu, belum sempat ia berucap dan menoleh kebelakang, suara berat seseorang menyapa telinga sebelah kirinya. "Jatuh miskin ya." Killian, pria itu menyeringai menatap ekspresi wajah tegang Mia dari samping. "Setelah dibuang olehku dulu, apa sekarang kau juga dibuang oleh ayahmu sendiri?" Dalam sekejap Mia merasa seperti kehilangan kendali atas raganya, tubuhnya melemas begitu saja dan hampir luruh ke lantai. Dan entah keberuntungan atau kesialan karena Killian dengan cekatan menahan tubuhnya, pria itu memeluk pinggang rampingnya. Perkataan menyakitkan Killian benar-benar membuatnya kehilangan rasa percaya diri, dia terang-terangan menghina dan menertawakan nasibnya yang semakin menyedihkan sekarang. "Tubuhmu jadi sedikit kurus ...," ucap Killian lagi, ia meraba pergelangan tangan Mia yang terlihat kecil dan sedikit menonjolkan tulangnya. "Kau kelaparan?" tanya Killian diiringi seringaiannya. Baiklah, sekarang Mia merasa kesulitan menghirup oksigen. Lehernya seperti tercekik sesuatu, dan itu adalah kalimat hinaan Killian. Sekuat tenaga Mia mencoba mengembalikan kendali atas dirinya sendiri. Kedua tangannya mengepal kuat, tatapannya berubah tajam, ia menegakkan kembali tubuhnya. "Lepas!" pinta Mia menatap pada kedua lengan kekar milik Killian yang masih memeluknya. Killian tersenyum, senyum yang tak bisa diartikan maksudnya. "Ingin dilepas? Boleh saja, dengan syarat memohon dengan sungguh-sungguh dulu ... seperti waktu itu." Dan bukannya melepaskan, Killian justru semakin erat memeluk Mia. Wajahnya kian dekat dengan sisi kiri wajah Mia, membuat wanita itu memalingkan wajahnya. "Killian, aku tidak ingin wanitamu salah paham karena melihat kita seperti ini." "Hm? Seperti apa?" Mia geram sendiri mendengar Killian yang terlalu tenang, berbanding terbalik dengan dirinya yang merasa gelisah sendiri. "Killian—" "Kau tahu sendiri aku tidak akan berhenti berbuat sesuatu sebelum mendapat yang aku inginkan," ujar Killian. Mia membuang napasnya kasar, ia paham maksud Killian sekarang. Pria itu menginginkan jawaban yang sudah dia ketahui pasti sendiri, tapi tetap ingin mendengar langsung darinya karena itu sangat membuatnya mendapat kepuasan hati dalam menghinanya. Namun Mia yang memiliki ego yang cukup tinggi enggan menjawab, ia memilih berusaha melepas sendiri lilitan lengan kekar itu dari tubuhnya. Namun nihil, tenaganya yang tak seberapa dibanding Killian membuatnya lelah dan kesal sendiri karena tidak mendapat hasil apa pun. "Berhenti memberontak dan turunkan egomu itu. Karena kau tahu sendiri Mia, dalam hal apa pun kau akan tetap kalah jika dihadapkan denganku. Kau tidak lupa dengan kejadian satu tahun yang lalu, bukan?" Mia terdiam, ia jelas ingat hal itu. Mustahil ia lupakan begitu saja. "Mau aku ingatkan kembali?" Mia masih diam, ia menatap kosong ke depan. Dan Killian yang menyadarinya merasa senang, ia seperti meraih banyak kemenangan dalam permainannya. "Waktu itu kau memohon—" "Berhenti!" Mia yang baru tersadar sontak memotong ucapan Killian. Jemarinya refleks mencengkeram tangan pria itu dengan kuat hingga kuku-kuku panjangnya menancap ke kulit, meninggalkan garis-garis merah yang perlahan mengeluarkan darah. Namun, Mia sama sekali tidak menyadarinya. Killian hanya menatap datar kedua lengannya yang mulai mengeluarkan darah, ia tidak meringis sedikit pun. Lalu tatapannya kembali pada wajah cantik Mia, dalam hati ia menghitung mundur. "Tiga ... dua ... satu." Lagi-lagi Killian tersenyum penuh kepuasan ketika melihat air mata Mia mulai berjatuhan membasahi kedua pipinya, dan ia juga bisa merasakan cengkeraman wanita itu di lengannya semakin terasa menusuk. Perlahan Killian semakain mendekatkan diri, bibirnya mengarah pada sebelah pipi Mia, lalu lidahnya terjulur dan menjilat buliran air mata itu. Mia tersentak, ia menoleh cepat dan membuat kedua hidung mancung mereka bersentuhan.Untuk sesaat Mia terdiam kaku. Permintaan Killian terasa seperti pria itu menginginkan nyawanya saat ini juga. Anak? Bagaimana bisa Mia sanggupi? Itu sama saja seperti Mia mengoyak luka lamanya. “Bagaimana?” Mia tersentak dari lamunannya. Ia beralih pada Killian yang tersenyum sangat tipis padanya. “A-aku …,” ucapnya gagap. “Apa … tidak ada pilihan—” “Hanya dua pilihan yang aku berikan, Mia. Pilih salah satunya.” Satu tetes air mata Mia meluncur begitu saja. Bibirnya bergetar karena rasa takut. “Aku tidak bisa,” ucapnya lirih. “Tidak bisa apa?” tanya Killian. Nada suaranya teramat rendah namun tegas. “Menyanggupi pilihan kedua yang kau tawarkan.” Killian tersenyum remeh. Ia menarik kembali tubuhnya untuk duduk. “Kalau begitu kau menyanggupi pilihan pertama? Baiklah, aku tunggu dalam waktu—” Mia ikut mendudukan dirinya kembali. “Killian,” potong Mia lelah. “Tolong jangan mempersulitku—” Killian tertawa kecil. “Memperulitmu? Apakah tidak terbalik?” “Aku tahu,
Mia yang benar-benar tidak memiliki uang, memilih berjalan kaki. Langkahnya begitu cepat dan tegas, seolah menggambarkan keyakinan penuh atas tindakannya itu. Beberapa saat kemudian … Wanita itu mulai kelelahan. Teriknya matahari terasa menyengat tubuhnya. Ia juga mulai merasa lapar dan haus. Seharian ini, Mia memang belum makan. Ia hanya minum air beberapa gelas tadi pagi. Kaki Mia mulai pegal dan sedikit gemetar karena menggunakan heels yang cukup tinggi, hingga membuat tumit dan telapak kakinya lecet dan terasa perih. Sebenarnya sejak tadi Mia ingin sekali melepasnya, namun karena tidak ada alas kaki lain dan juga jalanan yang terasa panas, ia terpaksa tetap memakai heels yang menyakitkan itu. Tak terasa, ia sudah berjalan sangat jauh dari rumahnya dan memakan waktu tiga jam lebih. Napas Mia mulai tak beraturan, dadanya kembang kempis. Keringat sudah membanjiri kening, pelipis, dan tubuh di balik pakaiannya. “Sedikit lagi … hanya beberapa menit lagi untuk sampai,” gumamny
“Cukup sampai di sini pembicaraannya, Julian,” desis Killian tajam. “Sekarang, pergi ke kamarmu dan tidur. Besok, aku sendiri yang akan mengantarmu.”Julian bangkit berdiri, wajahnya terlihat kesal. “Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri—”“Aku tidak membutuhkan persetujuan apa pun darimu,” potong Killian cepat. Nada suaranya terdengar rendah namun tegas. “Suka tidak suka, mau tidak mau, kau tidak diizinkan untuk menentang keputusanku.”Kedua tangan Julian mengepal. “Kau benar-benar semakin terlihat seperti Kakek,” ujarnya. Kemudian, ia berjalan cepat masuk ke dalam vila, meninggalkan Killian sendirian di teras belakang. Killian memejamkan matanya sejenak. Pria itu kembali duduk dan menyandarkan punggungnya. Tangannya merogoh saku bagian dalam mantel, mengeluarkan cigar case kulit yang hanya berisi satu batang cerutu, lalu mengambil pemantik dari saku lainnya.Dengan gerakan tenang dan terkendali, Killian mulai menyalakan cerutu itu. Ia Menarik asap perlahan dan mengembuskannya ke udar
“Sepertinya kau membatalkan rencanamu, Hector.” Pria bernama Hector itu menoleh, sudut bibirnya tertarik sedikit. “Ya,” jawabnya. “Tapi setidaknya ada kemungkinan kalau wanita itu bisa aku gunakan sebagai alat untuk menghancurkan Killian.” Mobil mulai melaju. Pria yang mengendarai kendaraan itu kembali bertanya, “Kenapa kau bisa berpikir ke sana?” Hector menatap lurus ke depan. Tatapannya begitu tenang. “Karena ada kebencian dalam diri wanita itu pada Killian.” Lalu tatapannya beralih pada pria di sampingnya itu. “Kau berpikir hal yang sama denganku ‘kan, Riven?” Pria bernama Riven itu mengangguk pelan. “Ya, aku mengerti maksudmu.” “Kita hanya perlu menunggu, dan saat hari itu tiba, aku yang akan menghabiskan Killian dengan tanganku sendiri,” ujar Hector. Wajahnya tiba-tiba mengeras, dan matanya menggelap. Riven sendiri menyadarinya. Ia juga merasakan hawa di dalam mobil terasa dingin dan mencekam. *** Killian melangkah cepat memasuki vila mewah pribadi miliknya yang b
Pria misterius itu berbalik, lalu tersenyum tipis. “Baiklah, mari,” ucapnya mempersilakan Mia untuk berjalan lebih dulu. Namun Mia tetap diam, dalam hati ia mempertanyakan kembali keputusannya apakah benar atau tidak. Karena pria itu masih menjadi tanda tanya baginya. Dia baik, atau jahat? Apakah dirinya akan aman atau justru sebaliknya? Bagaimana kalau tiba-tiba di pertengahan jalan, pria itu menyerangnya? Melihat keterdiaman Mia, pria itu berucap, “Kalau bagimu aku ini ancaman, kau bisa berjalan di belakangku. Dengan begitu kau tidak perlu cemas kalau seandainya aku tiba-tiba menikammu dari belakang.” Lalu kakinya mulai melangkah. Mia akhirnya ikut melangkah mengikuti. *** “Apa saja informasi yang sudah kau dapat tentang wanitaku sekarang?” tanya Killian pada salah satu anak buahnya. Kini, pria itu sedang berada di rumah pribadi miliknya. Duduk tenang dengan segelas minuman berwarna amber gelap kesukaannya. Pria di hadapannya membuka sebuah map tipis yang seja
Mia masih diam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih penasaran dengan sosok misterius yang semakin dekat. “Killian, kaukah itu?” batin Mia. Sedetik kemudian, matanya terbelalak. “Apa ini? Kenapa aku mengharapkannya?”Pria itu akhirnya berhenti, tepat di bawah sinar lampu yang sedikit redup. Meski begitu, Mia bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tampan, muda, tinggi, dan berpakaian rapi. Dia terlihat seperti pemuda pada umumnya.Begitulah penilaian Mia pada sosok pria misterius itu. “Hei, siapa kau?” tanya salah satu pria yang memegangi Mia. Bukannya menjawab, pria misterius itu justru malah berjongkok untuk mengambil salah satu minuman kaleng miliknya. “Hah … untunglah, masih bisa diminum.” Tanpa menghiraukan dua orang pria yang jengkel padanya, pria itu dengan santai membuka dan meminum minuman kalengnya. “Hei! Aku bicara padamu!” Pria itu tak langsung menyahut. Ia meremas kaleng minumannya yang sudah kosong, lalu melemparnya asal. “Kau yang melempar itu? Berani sekali kau!







