Mag-log inFahri mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah laki-laki sudah mencapai ubun-ubun. "Bagaimana aku bisa nggak percaya, Laras?! Selama ini kamu selalu bilang nggak punya duit, cicilan mobilku ditarik, rekeningku dibekukan, tapi kamu malah bisa jalan ke kafe mewah sama brondong?! Jelaskan padaku! Dari mana kamu dapet duit buat foya-foya kalau bukan dari duitku?!"Mendengar pertanyaan suaminya, Laras justru tertawa kecil—sebuah tawa ringan yang terdengar sangat merdu namun menusuk tajam ke dalam dada Fahri."Dari duit kamu, Mas?" Laras menaikkan sebelah alisnya dengan elegan. "Kamu lupa atau sengaja amnesia? Selama lima tahun pernikahan kita, duit kamu yang mana yang bisa aku selewengkan?""Jangankan buat melihara berondong. Melihara perut sendiri aja nggak becus!” papar Laras dengan nada sinis."Jangan ngeles kamu, Laras!" serobot Bu Monika ikut maju, membela anaknya dengan suara melengking. "Udah jelas-jelas kamu ketahuan belangnya! Jangan bunuh karakter anak
Laras menghela napas pendek. Ia tetap berdiri tegak, melipat kedua tangannya di dada dengan elegan. "Terus, kalo aku naik mobil mewah dan pake baju bagus, apa urusannya dengan kalian?""Urusannya besar, Laras!" teriak Rika histeris, air mata kemarahan meluap di pelupuk matanya. "Karena uang yang kamu pakai buat foya-foya itu adalah uang hasil kerja keras Mas Fahri! Kamu itu udah menyelewengkan uang suami kamu sendiri!"Fahri terperanjat dari tempatnya duduk. Laki-laki itu menatap Rika lalu beralih menatap Laras dengan napas tersengal. "Rika... jangan ngawur kamu! Laras aja nggak pernah keluar rumah. Aku berangkat dan pulang kerja, dia selalu di rumah." "Itu akal-akalan dia aja, Mas!" serobot Rika dengan suara melengking semakin menjadi-jadi, jarinya kembali menuding Laras tepat di depan hidung wanita itu. "Asal Mas tau ya, semua harta dan uang yang dikorupsi sama Laras dari gaji Mas itu nggak dipakai buat kebutuhan rumah tangga! Dia pakai buat membiayai brondong!"" Kalo Mas kerja, d
"Ibu... Ibu blokir nomorku, Ras!" Fahri tertunduk lesu. "Ibu bilang aku anak yang nggak berguna! Ibu malu sama tetangga karna mobilku ditarik!""Oalah…," sahut Laras lembut, senyum tipis yang dingin terukir di sudut bibirnya. "Jadi kalo kamu nggak punya duit, kamu dianggap nggak berguna sama Ibu?"Fahri tak sanggup menjawab. Melihat sang suami yang hanya terdiam, Laras hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala."Ya sudah, Mas," lanjut Laras seraya berjalan menuju meja kompor. "Biar aku masakin kangkung sama tempe goreng. Ini makanan murah yang dulu sering kamu sebut nggak bergizi, rumah siput, makanan hambar. Tapi sekarang cuma ini yang bisa kita makan malam ini.""Nggak ada yang lain dan jangan aneh-aneh rikuest. Kalo kamu mau ya silakan dimakan. Kalo nggak mau, ya selamat kelaparan," ucap Laras lagi sebelum ia benar-benar meninggalkan Fahri sendirian.'Entah kenapa, kali ini aku justru malah bersyukur karna aku masih belum punya anak..."***Pukul sepuluh pagi, terik matahari men
"Mbak Laras beneran yakin nggak mau bongkar semuanya sekarang?"Suara Maya memecah keheningan di dalam sedan hitam mewah yang terparkir rapi di pelataran basemen gedung pusat perbelanjaan. Di kursi belakang, Laras duduk anggun memandangi pantulan dirinya di kaca mobil, mengenakan gaun blazer kasmir berwarna krem yang terikat rapi di pinggang.Laras meminum air mineral dari botol kaca sebelum menjawab. "Kenapa harus buru-buru, Maya?""Aku gregetan, Mbak," cetus Maya sambil memutar posisinya dari kursi penumpang depan untuk menatap Laras. "Hari ini staf keuangan kita melacak bahwa Pak Fahri mencoba menghubungi beberapa bank swasta untuk mengajukan pinjaman tanpa agunan. Dia bahkan berani memakai nama Mbak." Laras mengulas senyum tipis, begitu tenang dan dingin. "Dia mulai kehabisan napas rupanya.""Bukan cuma kehabisan napas, Mbak," timpal Maya, menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan laporan analisis audit internal. "Pak Fahri sekarang
[Pengacara Ardi, S.H.: Mbak Laras, berkas gugatan perceraian serta draf pembagian aset dan pemisahan hak legal sudah selesai kami finalisasi sesuai arahan. Apakah draf ini perlu kami kirimkan ke alamat rumah sekarang atau ditahan dulu sampai batas waktu evaluasi subjek selesai?]Laras menatap surel tersebut sejenak. Jari lentiknya mengetikkan balasan dengan tenang di atas papan ketik nirkabel:[Laras: Tahan dulu dokumennya hingga pekan depan. Biarkan dia merasakan proses kejatuhan mentalnya secara utuh sampai batas toleransi terakhir tercapai. Saya ingin keputusannya nanti diambil saat dia benar-benar sadar siapa yang selama ini menopangnya.][Pengacara Ardi, S.H.: Baik, Mbak Laras. Perintah dilaksanakan.]Laras menutup surel tersebut, lalu mengalihkan tab layarnya ke sistem manajemen inventaris gudang pusat.Meski di luar rumah hidupnya tampak sangat sederhana—bahkan sering dicibir oleh tetangga dan keluarga mertua sebagai istri miskin yang tidak tahu diri—di dunia nyata yang i
"Pak... Saya mohon pengertiannya," mohon Fahri dengan suara memelas, menyatukan kedua telapak tangannya di atas meja. "Masalah ini sedang saya urus. Sistem banknya kemarin ada yang eror, makanya—""Eror apa?!" potong Pak Bambang tajam. "Surat dari mereka itu dokumen hukum resmi, Fahri! Bukan kesalahan sistem! Kamu punya tanggungan cicilan mobil, kartu kredit menumpuk, dan sekarang ancaman sita rumah. Perusahaan tidak bisa mentoleransi karyawan yang integritas keuangannya bermasalah sedemikian rupa!"“Oh, jangan lupa. Kamu juga ada dalam daftar list member judol. Iya, kan?!” tambah Pak Bambang.Fahri menelan ludah kasar, tenggorokannya terasa kering kerontang. "Lalu... lalu bagaimana dengan gaji saya bulan ini, Pak? Istri dan keluarga saya di rumah butuh makan..."Pak Bambang mendengus sinis. "Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum menggali lubang hutang di mana-mana. Sudah hutang, masih juga main judi online. Waras kamu, Fahri?”“A-anu, Pak—""Sesuai instruksi direksi, bonus kamu dibe







