Share

Bab 31

Author: Mami ice bear
last update publish date: 2026-10-31 09:38:40

"Mbak Laras beneran yakin nggak mau bongkar semuanya sekarang?"

Suara Maya memecah keheningan di dalam sedan hitam mewah yang terparkir rapi di pelataran basemen gedung pusat perbelanjaan. Di kursi belakang, Laras duduk anggun memandangi pantulan dirinya di kaca mobil, mengenakan gaun blazer kasmir berwarna krem yang terikat rapi di pinggang.

Laras meminum air mineral dari botol kaca sebelum menjawab. "Kenapa harus buru-buru, Maya?"

"Aku gregetan, Mbak," cetus Maya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 31

    "Mbak Laras beneran yakin nggak mau bongkar semuanya sekarang?"Suara Maya memecah keheningan di dalam sedan hitam mewah yang terparkir rapi di pelataran basemen gedung pusat perbelanjaan. Di kursi belakang, Laras duduk anggun memandangi pantulan dirinya di kaca mobil, mengenakan gaun blazer kasmir berwarna krem yang terikat rapi di pinggang.Laras meminum air mineral dari botol kaca sebelum menjawab. "Kenapa harus buru-buru, Maya?""Aku gregetan, Mbak," cetus Maya sambil memutar posisinya dari kursi penumpang depan untuk menatap Laras. "Hari ini staf keuangan kita melacak bahwa Pak Fahri mencoba menghubungi beberapa bank swasta untuk mengajukan pinjaman tanpa agunan. Dia bahkan berani memakai nama Mbak." Laras mengulas senyum tipis, begitu tenang dan dingin. "Dia mulai kehabisan napas rupanya.""Bukan cuma kehabisan napas, Mbak," timpal Maya, menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan laporan analisis audit internal. "Pak Fahri sekarang

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 30

    ​[Pengacara Ardi, S.H.: Mbak Laras, berkas gugatan perceraian serta draf pembagian aset dan pemisahan hak legal sudah selesai kami finalisasi sesuai arahan. Apakah draf ini perlu kami kirimkan ke alamat rumah sekarang atau ditahan dulu sampai batas waktu evaluasi subjek selesai?]​Laras menatap surel tersebut sejenak. Jari lentiknya mengetikkan balasan dengan tenang di atas papan ketik nirkabel:​[Laras: Tahan dulu dokumennya hingga pekan depan. Biarkan dia merasakan proses kejatuhan mentalnya secara utuh sampai batas toleransi terakhir tercapai. Saya ingin keputusannya nanti diambil saat dia benar-benar sadar siapa yang selama ini menopangnya.]​[Pengacara Ardi, S.H.: Baik, Mbak Laras. Perintah dilaksanakan.]​Laras menutup surel tersebut, lalu mengalihkan tab layarnya ke sistem manajemen inventaris gudang pusat.​Meski di luar rumah hidupnya tampak sangat sederhana—bahkan sering dicibir oleh tetangga dan keluarga mertua sebagai istri miskin yang tidak tahu diri—di dunia nyata yang i

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 29

    "Pak... Saya mohon pengertiannya," mohon Fahri dengan suara memelas, menyatukan kedua telapak tangannya di atas meja. "Masalah ini sedang saya urus. Sistem banknya kemarin ada yang eror, makanya—""Eror apa?!" potong Pak Bambang tajam. "Surat dari mereka itu dokumen hukum resmi, Fahri! Bukan kesalahan sistem! Kamu punya tanggungan cicilan mobil, kartu kredit menumpuk, dan sekarang ancaman sita rumah. Perusahaan tidak bisa mentoleransi karyawan yang integritas keuangannya bermasalah sedemikian rupa!"“Oh, jangan lupa. Kamu juga ada dalam daftar list member judol. Iya, kan?!” tambah Pak Bambang.Fahri menelan ludah kasar, tenggorokannya terasa kering kerontang. "Lalu... lalu bagaimana dengan gaji saya bulan ini, Pak? Istri dan keluarga saya di rumah butuh makan..."Pak Bambang mendengus sinis. "Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum menggali lubang hutang di mana-mana. Sudah hutang, masih juga main judi online. Waras kamu, Fahri?”“A-anu, Pak—""Sesuai instruksi direksi, bonus kamu dibe

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 28

    "Di-dibekukan, Pak?"Suara Fahri tercekat di tenggorokan. Telepon genggam yang ia pegang hampir meluncur jatuh dari genggamannya yang basah oleh keringat dingin."Iya! Dibekukan!" bentak Pak Bambang dari seberang sambungan dengan nada penuh amarah. "Pihak keuangan perusahaan menerima surat perintah penahanan dana dari bank mitra atas kredit macet dan ancaman sita aset atas nama kamu! Nama baik divisi kita tercemar, Fahri! Cepat datang ke kantor sekarang juga sebelum surat peringatan pemecatan keluar dari meja HRD!"Sambungan telepon diputus sepihak.Fahri berdiri mematung di tengah dapur, matanya menatap kosong ke lantai ubin yang dingin. Wajahnya yang semula merah karena marah kini berubah putih pias, menyerupai mayat hidup. Seluruh pilar keyakinan yang ia bangun selama bertahun-tahun—bahwa ia adalah karyawan teladan, pencari nafkah sukses, dan pria terpandang—runtuh berkeping-keping dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."Ada apa, Mas?" tanya Laras dengan suara yang amat lemb

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 27

    [Notifikasi Polis Asuransi Kesehatan No. 9012-FK: Polis Anda atas nama Fahri Kurniawan resmi DIBEKUKAN / LAPSE per tanggal 25 Oktober 2026 akibat kegagalan pembayaran premi bulanan selama 2 periode (Total tunggakan: Rp1.200.000). Seluruh klaim medis tidak dapat diproses.]​Fahri terperanjat. "Pembayaran premi asuransi gagal?! Lapse?!"​Ia langsung mendongak menatap Laras dengan mata membelalak. "Laras! Ini maksudnya apa?! Kenapa premi asuransiku bisa mati?!"​Laras menyapu meja dapur dengan lap kain. "Kan pembayaran premi asuransi Mas terhubung sama fitur autodebet rekening bank yang keblokir kemarin."​"Tapi biasanya ada dana darurat yang bakal kepotong otomatis dari rekening, tapi kenapa ini…," bentak Fahri, kepalanya mendadak pusing hebat. "Kenapa bulan ini nggak ada pembayaran sama sekali?!"“Kamu sendiri yang nggak pernah cek mutasi bahkan saldo, kok. Ya kali aja pas habis kamu nggak tau,” ucap Laras enteng."Nggak mungkin, Laras! Biasanya ada dana cadangan yang ditransfer deket-

  • Jerat Beban Suami Pelit: Selamat Tinggal!    Bab 26

    Monika menutupi mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak horor. “Di-disita? Rumahmu mau disita, Fahri?! Seriusan rumah ini mau disita bank?!"​"Gila... Mas Fahri beneran bangkrut, Mas?!" bisik Rika dengan wajah pucat, melangkah mundur mendekati ibunya.​"Ini cuma gertakan bank, Bu!" teriak Fahri dengan nada tinggi yang sengau, berusaha menutupi rasa ketakutan dan malunya yang teramat sangat. "Sistem mereka eror! Besok pagi Fahri coba kelarin semuanya di kantor!"​"Kelarin pake apa, Fahri?!" bentak Bu Monika, suaranya melengking hampir menangis. "Rekeningmu keblokir, mobil ditarik, uang lima juta aja kamu nggak punya! Mau ditaruh mana muka Ibu di depan teman-teman arisan kalo rumah anak Ibu dipasangi papan penyitaan?!"​Fahri tak sanggup menjawab. Ia mengepalkan tangan, menatap Laras dengan pandangan liar penuh amarah yang putus asa.​"Ibu sama Rika pulang dulu!" ujar wanita paruh baya tersebut dengan tergesa-gesa, menyambar tas mewahnya tanpa memandang Fahri lagi. "Ibu nggak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status