LOGIN"Hadeeehhh… lagi-lagi ngedongeng! Jangan halu deh kamu Mbak! NGIMPI!" Teriakan Rika melengking tinggi, membelah udara ruang tamu yang mendadak panas. Wajah gadis itu memerah padam, mencak-mencak tidak karuan demi menutupi kepanikan ekstrem yang sempat merayap di dadanya beberapa detik lalu saat melihat kartu hitam eksklusif di atas meja.Rika melangkah maju, menyambar kartu korporat tersebut dengan gerakan kasar, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai seolah benda itu adalah sampah beracun."Kalian percaya sama omongan kosong dia?!" Rika menoleh panik ke arah ibu dan kakaknya dengan tatapan mata menyala-nyala. "Zaman sekarang bikin kartu palsu mirip black card itu gampang banget, Mas! Di toko online banyak jasa cetak kartu akrilik custom! Mbak Laras ini cuma mau ngibul kita biar kita ciut dan kelihatan bodoh!"Fahri yang masih terduduk di lantai bersimpuh lemah, menatap kartu hitam yang tergeletak di lantai, lalu beralih menatap Laras dengan mata sayu penuh kebingungan. "Ri-R
“Kamu inget kan, siapa nama asli aku, Mas?" ucap Laras sambil menatap lurus ke arah sang suami."Halah! Jangan bikin cerita dongeng demi buat nutupin kebusukanmu, Laras!"Teriakan Rika meledak, memecah keheningan mencekam di ruang tamu. Senyum cemooh mengembang di bibirnya, meski wajahnya sempat pucat sesaat lalu. Ia maju satu langkah, menunjuk Laras yang baru saja memegang gagang pintu depan."Kalian percaya sama rekaman rekayasa begini?!" Rika menoleh pada ibunya dan Fahri dengan nada penuh nada kompor. "Zaman sekarang AI dan pengedit suara itu gampang banget dibuat! Mbak Laras ini cuma akting biar kita percaya kalau dia wanita karir sukses!"Fahri yang masih bersimpuh di lantai mendongak, matanya yang sembap menatap Rika, lalu beralih pada Laras. "Ri-Rika... tapi rekaman tadi menyebut nama Larasati...""Ya justru itu, Mas!" potong Rika gemas, menyilangkan tangan di dada dengan gaya menantang. "Pikir pakai logika! Nama pemilik PT Nusantara Digital Brand itu kan Ibu Larasati Saputri.
Fahri mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah laki-laki sudah mencapai ubun-ubun. "Bagaimana aku bisa nggak percaya, Laras?! Selama ini kamu selalu bilang nggak punya duit, cicilan mobilku ditarik, rekeningku dibekukan, tapi kamu malah bisa jalan ke kafe mewah sama brondong?! Jelaskan padaku! Dari mana kamu dapet duit buat foya-foya kalau bukan dari duitku?!"Mendengar pertanyaan suaminya, Laras justru tertawa kecil—sebuah tawa ringan yang terdengar sangat merdu namun menusuk tajam ke dalam dada Fahri."Dari duit kamu, Mas?" Laras menaikkan sebelah alisnya dengan elegan. "Kamu lupa atau sengaja amnesia? Selama lima tahun pernikahan kita, duit kamu yang mana yang bisa aku selewengkan?""Jangankan buat melihara berondong. Melihara perut sendiri aja nggak becus!” papar Laras dengan nada sinis."Jangan ngeles kamu, Laras!" serobot Bu Monika ikut maju, membela anaknya dengan suara melengking. "Udah jelas-jelas kamu ketahuan belangnya! Jangan bunuh karakter anak
Laras menghela napas pendek. Ia tetap berdiri tegak, melipat kedua tangannya di dada dengan elegan. "Terus, kalo aku naik mobil mewah dan pake baju bagus, apa urusannya dengan kalian?""Urusannya besar, Laras!" teriak Rika histeris, air mata kemarahan meluap di pelupuk matanya. "Karena uang yang kamu pakai buat foya-foya itu adalah uang hasil kerja keras Mas Fahri! Kamu itu udah menyelewengkan uang suami kamu sendiri!"Fahri terperanjat dari tempatnya duduk. Laki-laki itu menatap Rika lalu beralih menatap Laras dengan napas tersengal. "Rika... jangan ngawur kamu! Laras aja nggak pernah keluar rumah. Aku berangkat dan pulang kerja, dia selalu di rumah." "Itu akal-akalan dia aja, Mas!" serobot Rika dengan suara melengking semakin menjadi-jadi, jarinya kembali menuding Laras tepat di depan hidung wanita itu. "Asal Mas tau ya, semua harta dan uang yang dikorupsi sama Laras dari gaji Mas itu nggak dipakai buat kebutuhan rumah tangga! Dia pakai buat membiayai brondong!"" Kalo Mas kerja, d
"Ibu... Ibu blokir nomorku, Ras!" Fahri tertunduk lesu. "Ibu bilang aku anak yang nggak berguna! Ibu malu sama tetangga karna mobilku ditarik!""Oalah…," sahut Laras lembut, senyum tipis yang dingin terukir di sudut bibirnya. "Jadi kalo kamu nggak punya duit, kamu dianggap nggak berguna sama Ibu?"Fahri tak sanggup menjawab. Melihat sang suami yang hanya terdiam, Laras hanya tersenyum sembari menggelengkan kepala."Ya sudah, Mas," lanjut Laras seraya berjalan menuju meja kompor. "Biar aku masakin kangkung sama tempe goreng. Ini makanan murah yang dulu sering kamu sebut nggak bergizi, rumah siput, makanan hambar. Tapi sekarang cuma ini yang bisa kita makan malam ini.""Nggak ada yang lain dan jangan aneh-aneh rikuest. Kalo kamu mau ya silakan dimakan. Kalo nggak mau, ya selamat kelaparan," ucap Laras lagi sebelum ia benar-benar meninggalkan Fahri sendirian.'Entah kenapa, kali ini aku justru malah bersyukur karna aku masih belum punya anak..."***Pukul sepuluh pagi, terik matahari men
"Mbak Laras beneran yakin nggak mau bongkar semuanya sekarang?"Suara Maya memecah keheningan di dalam sedan hitam mewah yang terparkir rapi di pelataran basemen gedung pusat perbelanjaan. Di kursi belakang, Laras duduk anggun memandangi pantulan dirinya di kaca mobil, mengenakan gaun blazer kasmir berwarna krem yang terikat rapi di pinggang.Laras meminum air mineral dari botol kaca sebelum menjawab. "Kenapa harus buru-buru, Maya?""Aku gregetan, Mbak," cetus Maya sambil memutar posisinya dari kursi penumpang depan untuk menatap Laras. "Hari ini staf keuangan kita melacak bahwa Pak Fahri mencoba menghubungi beberapa bank swasta untuk mengajukan pinjaman tanpa agunan. Dia bahkan berani memakai nama Mbak." Laras mengulas senyum tipis, begitu tenang dan dingin. "Dia mulai kehabisan napas rupanya.""Bukan cuma kehabisan napas, Mbak," timpal Maya, menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan laporan analisis audit internal. "Pak Fahri sekarang







