Masuk"Nggak usah mengalihkan pembicaraan, Ras! Sate Bar-bar itu harganya berapa kamu tau. Jadi—"
"Harganya cuma lima puluh ribu lho, Mas," jawab Laras polos. Memotong ucapan sang suami. "Nah! Itu kamu tau harganya lima puluh ribu, kan!" Fahri melangkah mendekat, menunjuk wajah Laras dengan ujung jarinya. "Lima puluh ribu itu buat beli sate cuma dapet sepuluh tusuk! Uang sebesar itu kalo dibeliin daging sapi di pasar kaget, bisa buat kita makan tiga hari!" "Tapi masalahnya Mas, kamu mampu beliin tiga porsi buat Ibu sama Rika," sela Laras pelan, tanpa menaikkan intonasi suaranya sedikit pun. "Tapi kenapa rasanya kamu berat banget beliin buat aku?" "Itu beda! Aku udah bilang kan tadi!" bentak Fahri, matanya mendelik. "Ibu itu orang tua aku! Rika itu adik kandung aku! Mereka jarang-jarang minta belikan makanan viral. Sebagai anak dan seorang kakak, sudah kewajiban aku membahagiakan mereka!" "Lalu aku? Siapa aku bagimu, Mas?! Aku cuma tanya itu, kamu malah nuduh aku mengalihkan pembicaraan!" "Kamu itu orang luar yang aku bawa dan kujadikan istri!" pangkas Fahri cepat, suaranya memenuhi ruang tamu yang sempit. "Tugas kamu di rumah itu prihatin! Bantu suami menghemat uang, bukan malah ikut-ikutan latah pengen jajan makanan mahal nggak jelas begitu! Kamu ini nggak punya rasa empati sama sekali, ya? Kamu tau kan posisi keuangan kita lagi meringis?!" Laras memandangi suaminya. Tidak ada amarah yang meledak di matanya, hanya keheningan yang kian tebal. "Kamu di rumah tinggal terima bersih," lanjut Fahri dengan ceramah rutinnya, membenarkan posisi tas kerjanya dengan kasar. "Masak apa yang ada, makan apa yang tersedia. Jangan biasakan diri punya keinginan yang aneh-aneh kalo nggak punya penghasilan sendiri. Belajar tau diri, Laras! Cari duit itu susah asal kamu tau aja!" "Iya, Mas," sahut Laras lirih. Fahri mendengus keras, merasa sudah memberikan pelajaran moral yang cukup untuk istrinya pagi ini. Tanpa mengucap salam, ia membuka pintu dan melangkah keluar menuju sepeda motornya. Laras berdiri di ambang pintu, menyaksikan sepeda motor satpam kantor suaminya menderu menjauh. Ia berjalan kembali ke dalam rumah, mengunci pintu depan, lalu melangkah santai menuju dapur. Usai membereskan meja makan, Laras berjalan menuju kamar tidur utama. Ia mengunci pintu dari dalam, lalu melangkah menuju lemari pakaian kayu di sudut ruangan. Di bagian paling bawah, tertutup tumpukan sprei tebal yang jarang dipakai, terdapat sebuah brankas kecil berwarna hitam matte dengan kunci kombinasi digital. Laras menekan tombol angka dengan terampil. Bunyi klik halus terdengar ketika pintu baja ringan itu terbuka. Di dalamnya tidak ada perhiasan imitasi atau surat-surat tagihan yang biasa diperdebatkan Fahri. Yang ada hanya dua buah laptop kerja seri bisnis terbaru, tiga unit telepon genggam khusus operasional, dan beberapa token bank komersial. Laras menyalakan salah satu laptop. Layar resolusi tinggi itu membias di wajahnya yang tenang. Dalam hitungan detik, dasbor analitik toko daring milik usahanya menyala penuh warna—menampilkan angka-angka grafik penjualan produk perawatan kulit dan pakaian wanita yang terus bergerak naik. Notifikasi transaksi masuk meramaikan sudut kanan bawah layarnya tanpa henti. [Transaksi Berhasil: Rp1.450.000 - Pembayaran Lunas] [Transaksi Berhasil: Rp3.200.000 - Pembayaran Lunas] [Transaksi Berhasil: Rp890.000 - Pembayaran Lunas] Laras membuka tab perbankan korporatnya. Saldo berjalan pagi ini menunjukkan angka delapan ratus sembilan puluh juta rupiah di rekening operasional utama, belum termasuk deposito berjangka atas nama perusahaan perorangan yang didirikannya secara terpisah dua tahun lalu. Jarinya menari di atas keyboard, memeriksa laporan pengiriman barang harian dari tim logistik yang bermarkas di kawasan pergudangan luar kota—tempat yang tidak pernah sekalipun diketahui oleh Fahri maupun keluarga besarnya. Tiba-tiba, telepon genggam khususnya bergetar di atas meja. Nama staf keuangannya—Rian, muncul di layar. Laras menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga. "Ya, Rian?" "Pagi, Mbak Laras." Suara Rian terdengar jernih dari seberang. "Invoice pengadaan bahan baku dari supplier utama sudah keluar. Totalnya empat puluh lima juta rupiah. Mau ditransfer hari ini dari rekening mana, Mbak?" "Gunakan rekening operasional dua," jawab Laras tenang, nadanya berbanding terbalik 180 derajat dari suaranya saat berbicara dengan Fahri beberapa saat yang lalu. "Langsung lunasi hari ini agar kita dapat potongan diskon pembayaran awal." "Baik, Mbak. Oh ya, laporan dividen bersih bulan lalu juga sudah saya rampungkan. Bagian Mbak Laras sebesar seratus dua puluh juta rupiah sudah siap dialokasikan. Mau dimasukkan ke rekening investasi atau rekening penampung biasa?" Laras diam sejenak, matanya menatap pantulan dirinya sendiri di layar monitor yang gelap. "Masukkan enam puluh persen ke investasi, sisanya biarkan tetap di rekening penampung biasa." "Siap, Mbak. Segera saya proses." Sambungan telepon terputus. Laras menutup laptopnya. Kemudian… dari dalam brankas hitamnya, kini Laras mengambil ponsel bisnis khusus milik perusahaannya. Layar ponsel itu menampilkan laporan arus kas masuk harian. Pukul sembilan pagi ini saja, keuntungan bersih dari penjualan restock produk kosmetik miliknya sudah menyentuh angka tiga puluh delapan juta rupiah. Laras mengetikkan pesan singkat kepada asisten pribadinya. [Laras: Kirimkan saya set porsi lengkap steak wagyu, sate kambing bar-bar dan hidangan penutup dari restoran ber bintang lima untuk makan siang hari ini. Antarkan langsung ke alamat biasa.] [Asisten: Baik, Mbak Laras. Segera diproses dan dikirimkan jam 12.00 WIB.] Laras mematikan layar ponselnya. Ia memandangi tempat tiga lembar uang sepuluh ribuan yang diletakkan di atas meja makan yang ditinggalkan Fahri. Lima puluh ribu rupiah untuk seporsi sate dituduh sebagai bentuk tidak tahu diri, sementara ratusan juta rupiah mengalir setiap hari di bawah bendera usahanya tanpa pernah disadari oleh pria yang mengaku sebagai tulang punggung keluarga itu. “Entah aku yang harusnya bersyukur bersuamikan kamu, atau malah sebaliknya, Mas…”"Belum, Rika. Uang dari Mas Fahri cuma tiga puluh ribu. Cuma cukup buat beli setengah butir kelapa dan satu ikat kacang panjang. Bahan yang lain tidak cukup uangnya." Ibu mertua yang baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa langsung mendelik tajam. "Tiga puluh ribu? Kamu jangan bohong ya, Laras! Fahri tadi pagi telepon Ibu, katanya dia udah kasih kamu duit buat belanja bahan urap arisan!" "Mas Fahri emang kasih duit, Bu. Tapi ya jatah harian buat kita, nggak kasih duit tambahan buat arisan Ibu," sahut Laras lembut, matanya menatap lurus sang ibu mertua. "Kalau Ibu nggak percaya, Ibu bisa cek dompet di atas lemari es. Uangnya masih utuh, tuh!" "Halah! Kamu ini emang pinter banget cari alasan!" cibir Ibu mertua seraya meletakkan tas tangannya dengan kasar ke atas meja. "Fahri itu anak berbakti, mana mungkin dia boong sama ibunya sendiri! Kamu aja yang nggak mau repot bantu acara arisan keluar
"Kamu masih tanya kenapa harus kamu? Seriusan kamu tanya begini, Ras?" cecar Fahri dengan mulut penuh makanan. "Ya iyalah, Mas. Aku serius!" tutur Laras sembari menatap lurus ke arah sang suami. "Kan Ibu juga bisa masak urap. Terus ada Rika yang bisa bantuin Ibu. Tapi kenapa harus repot-repot ke sini dan suruh aku masak? Kan malah jadi buang waktu." "Lagian, masak apa tadi, urap?" tanya Laras. "Bahan-bahannya emang udah ada? Kok, Ibu pake nyuruh aku segala." "Ya kamu beli di pasar kaget, lah! Pake duit belanja harian!" jawab Fahri santai. "Kelapa parut, sayur-sayuran, sama bumbu dapur kan murah. Jangan bikin malu aku di depan Ibu. Kayak seolah aku nggak pernah kasih kamu duit." "Duit belanja dari kamu hari ini kan cuma tiga puluh ribu, sama seperti hari biasanya," ujar Laras pelan. "Itu ya cuma cukup buat makan kita nanti malam, Mas. Kalo sama buat bikin urap, ya jelas nggak cukup, lah!" Fahri meletakkan sendoknya hingga berdentang keras di atas piring. "Laras! Kamu bisa ngga
Sinar matahari pagi yang menerobos celah ventilasi udara menyapu wajah Fahri yang tampak lusuh. Pria itu keluar dari kamar tidur dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Sepanjang malam, Fahri hampir tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali dering peringatan bayangan terngiang di kepalanya, dadanya berdegup kencang karena membayangkan mobil kesayangannya didatangi tim penagih dan akan ditarik. Lalu bagaimana jika leasing mendatangi kantornya? Mau ditaruh mana muka laki-laki itu? Di sisi lain, Laras sudah berdiri di dekat kompor, menata dua piring nasi goreng tanpa telur—hanya berbumbu garam, bawang putih, dan irisan cabai rawit. "Kamu mau kopi, Mas?" tanya Laras tenang, suaranya halus seolah percekcokan hebat semalam tidak pernah terjadi. Fahri tak menjawab. Ia langsung menyambar ponsel yang tergeletak di meja dapur, lalu menekan tombol daya dengan jemari gemetar. Begitu layar menyala, rentetan notifikasi langsung memenuhi panel atas. Panggilan tak terjawab dari leasing, ti
Ponsel di tangan Fahri terus bergetar dengan dering yang kian nyaring, memantulkan nama agen penagih di layarnya. Jemari Fahri gemetar. Dengan gerakan panik dan kikuk, ia menekan tombol daya hingga layar itu mendadak mati total, memutuskan sambungan secara paksa. "Kenapa dimatiin, Mas?" tanya Laras pelan. "Bukannya makin bahaya kalo telepon dari pihak leasing nggak diangkat?" "Kamu tahu apa soal beginian, Ras?!" pangkas Fahri dengan napas memburu. Ia menarik kursi kayu dan mendaratkan tubuhnya dengan kasar. "Kalo diangkat malam-malam begini, mereka itu mau neror aku! Dan sekarang, aku butuh waktu untuk berpikir!" Laras tidak menjawab. Ia menuangkan air hangat ke dalam gelas, lalu meletakkannya tepat di hadapan Fahri. Fahri menyambar gelas itu, menenggaknya hingga tersisa separuh. Keringat dingin nampak membasahi pelipis dan dahi pria itu, memudarkan sisa-sisa wibawa yang sejak pagi ia pamerkan. "Pasti ada yang salah sama sistem bank," gumam Fahri pada dirinya sendiri,
"Kamu nampar aku, Mas?" Laras memandangi wajah suaminya yang tampak tanpa beban. "A-anu, Ras. Aku—" "Aku cuma tanya, uangnya dari mana, kalo kamu mau beliin Rika sepatu. Bukannya Mas bilang simpanan di rekening tinggal sedikit?" Fahri terdiam. Tapi bukannya karena tersentuh oleh ucapan sang istri melainkan karena telapak tangannya yang terasa panas. "Kalo nanti mobilmu perlu ke bengkel lagi, gimana?" lanjut Laras. ”Alaaahh… bisa diatur itu!" potong Fahri cepat dengan nada tidak sabar. "Mungkin jatah belanja kamu minggu depan dikurangi sedikit. Biar kamu makin pintar putar otak pas belanja di pasar kaget. Tiga puluh ribu sehari aja masih bisa makan tempe dan sayur bayam, kan?" Laras tidak menjawab. Ia hanya mengangguk tipis, memberikan reaksi pasif yang selalu membuat Fahri merasa menang dan memegang kendali penuh atas rumah tangga mereka. Fahri kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, berniat mengecek media sosial atau grup obrolan kantor sebelum tidur
Pukul delapan malam, suara deru sepeda motor Fahri terdengar berhenti di halaman. Laras membukakan pintu. Suaminya melangkah masuk membawa dua kantong plastik berlogo Sate Bar-bar Viral yang aromanya menyeruak gurih memenuhi seluruh ruangan. Fahri meletakkan kantong plastik itu di atas meja makan dengan wajah berbinar. "Untung antriannya nggak terlalu panjang. Ibu sama Rika pasti seneng banget." Laras mengamati isi kantong tersebut. Ada empat kotak sate di dalamnya. "Mas beli empat porsi?" tanya Laras. Fahri melirik Laras sekilas, lalu mengambil dua kotak pertama dan memasukkannya kembali ke kantong plastik terpisah. "Nggak. Ini tiga porsi buat Ibu, Rika, sama Mas. Mas mau makan di rumah Ibu sekalian ngobrol." Laras menatap kotak keempat yang tersisa di atas meja. "Yang satu lagi?" "Oh, ini porsi ekstra punya Rika, katanya mau dibawa buat teman kuliahnya besok," jawab Fahri santai, tanpa sedikit pun merasa canggung. Ia merapikan kantong plastik yang akan dibawany







