Share

Cinta Itu Buta

Author: Widia
last update publish date: 2025-12-30 20:09:53

Beberapa detik kemudian, Erlan menepukkan kedua lengannya spontan. “Ah! Dia itu Pak Aksa. Guru seni adikku. Iya! Elsa pernah nunjukin foto guru baru yang jadi pujaan para siswi di sekolahnya. Penampilannya sangat berbeda dari yang di foto, aku hampir aja gak mengenalinya”

“Dia guru?” tanya Caca, nada suaranya bercampur antara kaget dan kagum.

“Iya, dia memang guru” jawabku ikut-ikutan. Berbekal pengenalan singkat dari Bude Maryati saat memperkenalkan pria itu padaku beberapa waktu lalu.

“Kok kamu bisa kenalan sama guru yang ganteng begitu sih, Ras? Gimana ceritanya?” Tiwi masih saja penasaran, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.

“Kamu nggak usah banyak nanya, Wi,” sela Erlan cepat. “Doain aja dia semoga pernikahannya sama Pak Aksa awet. Soalnya pasti bakal banyak banget ulet bulu yang nempel sama Pak Aksa dan pastinya bikin Laras cemburu.”

“Kayaknya aku bakal jadi salah satu ulet bulu itu deh, Lan,” sahut Caca genit sambil mengerjap-ngerjapkan mata.

Refleks Erlan mengusap wajah Caca sambil beristigfar, benar-benar lelah melihat tingkah sahabat kami yang satu itu.

Aku sendiri hanya tersenyum tipis, tanpa memberi reaksi berlebihan. Entah harus bagaimana. Aku tak tahu apakah seharusnya aku ikut memuji pria yang mereka sebut-sebut dengan panggilan Pak Aksa itu, atau justru membencinya karena ia menerima begitu saja peran sebagai pengganti dari mempelai pria yang tak bertanggung jawab.

Perasaanku bercampur, tak karuan, tak satu pun terasa tepat, dan rupanya, obrolan kami menarik perhatian pria bernama Arjun Aksana itu.

Setelah menyelesaikan sapa-sapa dengan beberapa tamu penting yang menyalaminya, ia melangkah mendekat ke arah kami. Senyumnya ramah, nyaris hangat, seolah ia benar-benar nyaman berada di tengah keramaian ini. Di tengah peran yang kini melekat sepenuhnya padanya.

“Kalian pasti teman-temannya Laras, ya?” tanyanya ringan, suaranya tenang, matanya menyapu wajah ketiga sahabatku sebelum berhenti sejenak padaku.

“Iya, Pak ganteng... eh, maksud Caca, Pak Aksa,” sahut Caca genit, meski ia jelas tahu pria itu baru saja mengucapkan ijab kabul denganku. Namun aku paham, candaan itu sama sekali tak serius, hanya caranya mencairkan suasana.

“Lho, kamu sudah tahu namaku?” tanyanya heran.

“Itu dari Erlan,” jawab Caca sambil menoleh ke arah Erlan.

“Adikku sempat nunjukin foto Pak Aksa belum lama ini,” jelas Erlan menanggapi tatapan pria itu. “Jadi tadi aku sempat kasih tahu ke mereka.”

“Begitu rupanya,” katanya singkat, lalu tersenyum kecil. “Baik-baik. Terima kasih ya kalian sudah menyempatkan datang ke acara pernikahan kami.”

Bersamaan dengan kalimat itu, tangannya meraih jemariku. Genggamannya hangat dan mantap, seolah kami benar-benar sepasang kekasih yang telah lama saling mengenal, saling percaya, dan saling mencintai. Dadaku kembali terasa sesak.

“Pastinya dong,” sahut Tiwi dengan senyum lebar, “Kami kan sahabatnya Laras. Jadi kami pasti bakal ada di hari bahagianya.”

“Kalau begitu, silakan kalian lanjutkan obrolannya. Laras pasti akan lebih senang kalau sahabat-sahabatnya bisa menemani di saat seperti ini,” katanya tenang, seraya melepaskan genggaman jemariku.

Ia kemudian menepuk punggung Erlan singkat, sebelum melangkah mundur meninggalkan kami. Tak jauh dari tempat kami berdiri, ia kembali mengambil perannya, menyambut jabat tangan para tamu yang silih berganti naik ke pelaminan hanya untuk mengucapkan selamat. Aku memperhatikannya dari kejauhan.

“Kamu yakin dia itu cuma guru, Lan?” Tiwi berbisik, matanya menyipit curiga. “Kok kenalannya banyak banget, mana orang penting semua lagi”

“Adikku sih cuma bilang begitu,” jawab Erlan pelan. “Tapi kayaknya dia emang bukan sekadar guru seni biasa. Mungkin punya kerjaan lain yang jelas, Laras beruntung dapetin pria kayak Pak Aksa.”

“Aku juga mau jadi Laras. Apalagi dapet mahar sebanyak itu dari guru tampan kayak Pak Aksa. Pembawaannya juga dewasa banget, ya. Berwibawa.”

“Iyalah,” Erlan mengangguk. “Namanya juga guru, pasti public speaking-nya bagus. Lagian dia emang udah cukup berumur kok. Usianya hampir menyentuh empat puluh tahun.”

“Apa? Empat puluh tahun?”

Aku, Caca, dan Tiwi terkejut bersamaan. Angka itu terasa menohok, mengingat usiaku yang baru dua puluh empat tahun. Hampir lima belas tahun jarak di antara kami. Namun wajah pria itu sama sekali tak memantulkan usia tersebut. Tak ada kerutan di wajahnya, tak ada tanda-tanda kelelahan yang biasanya melekat pada pria seusianya. Tubuhnya tetap tegap, tanpa tonjolan lemak di perutnya.

“Yang bener, Lan?” Tiwi mengerjap tak percaya. “Masa empat puluh tahun masih kelihatan muda begitu?”

“Iya,” Erlan mengangkat bahu, “Kalau nggak percaya, tanya aja sama Laras. Dia pasti tahu umur suaminya.”

“Apaan? Dia aja ikut kaget barusan,” sela Caca sambil menoleh padaku dengan tatapan curiga.

“Si Laras pasti buta karena cinta dan nggak peduli apa-apa selain nikah sama Pak Aksa. Sampai-sampai umur suaminya aja nggak tahu.” cibir Tiwi.

Aku tersenyum kaku, lalu berusaha menguasai diri. “A… aku tahu kok. Dia pernah bilang ke aku,” jawabku cepat, menutupi kegugupanku sendiri. “Cuma aku kira dia becanda waktu bilang umurnya hampir empat puluh tahun. Ternyata beneran, ya.”

“Emang kamu nggak pernah lihat kartu identitasnya?” tanya Tiwi masih menyimpan rasa curiga.

“Ah, berharap apa sih sama orang yang lagi jatuh cinta, Wi!” Erlan langsung menimpali sambil terkekeh, “Cinta itu buta. Laras tuh nggak bisa lihat apa-apa karena lagi mabuk cinta. Masa kamu nggak paham?”

Ucapan Erlan membuatku mengembuskan napas lega. Setidaknya, aku tak perlu lagi memutar otak untuk mencari alasan lain agar mereka berhenti bertanya dan tak semakin curiga. Mereka memilih percaya pada logika yang paling sederhana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Kedatangan Caca

    “Tentang Tiwi apa yang mau kamu sampein sama aku tadi, Ca?” tanyaku, berpura-pura tidak mengetahui apa pun yang sebenarnya telah terjadi.Sungguh, di dalam hati aku merasa sangat berdosa mengatakan hal itu pada Caca. Aku seolah telah melakukan pengkhianatan besar bukan hanya padanya, tetapi juga pada semua sahabatku. Perasaanku semakin tercekik saat kulihat mata Caca mulai berkaca-kaca, lalu perlahan menitikkan air mata. Caca pasti sudah kelimpungan mencari Tiwi selama beberapa hari terakhir ini, sementara aku justru berdiam diri di rumah ini, hidup berdampingan dengan orang yang telah merenggut nyawa sahabat kami, tanpa mampu mengetahui di mana Mas Aksa menyembunyikan jenazah Tiwi.“Tiwi meninggal, Ras,” ucap Caca tersendat di sela tangisnya.“Meninggal, Ca?” tanyaku dengan nada terkejut.Aku memang terkejut, meskipun aku telah lebih dulu mengetahui bahwa Tiwi telah meninggal. Namun, keterkejutanku bukan semata karena kabar itu, melainkan karena kenyataan bahwa Caca mengetahuinya. S

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Ciuman Pertama Suamiku

    “Ini obat yang Airin resepin buat kamu. Diminum sekarang, ya,” ujar Mas Aksa sambil menyerahkan sebuah kantong plastik berisi beberapa bungkus obat. Ia bahkan membantuku membuka satu per satu obat tersebut, memastikan aku siap meminumnya.“Dokter itu mantan pacar kamu, Mas?” tanyaku akhirnya.Mas Aksa yang tengah membuka obat terakhir seketika menghentikan gerakannya dan menatapku.“Perempuan ternyata gampang cerita, ya? Aku gak nyangka kalian bakal curhat di pertemuan pertama kalian,” balasnya.“Makanya kamu langsung semangat manggil dokter begitu tahu aku sakit?” lanjutku.Mas Aksa tersenyum kecil. “Kamu ngomong apa sih? Kamu cemburu sama dia?”“Bukan cemburu. Aku cuma sedikit tersinggung aja karena kamu gak bilang kalau bakal manggil mantan kamu ke rumah ini.”Mas Aksa terkekeh pelan mendengar ucapanku. Barangkali ia mengira semua itu lahir semata-mata dari kecemburuanku. Padahal, perasaanku lebih menyerupai rasa tersinggung atas ketidakjujurannya padaku sejak awal.“Iya udah, aku

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Mantan Kekasih Suamiku

    Ia kembali melangkah keluar dari kamar. Aku mengikuti kepergiannya dengan pandangan mata hingga sosoknya menghilang di balik pintu. Aku tak pernah menyangka bahwa ia bisa sedemikian perhatian dalam merawatku, dengan tangan-tangan dinginnya itu.Dirawat oleh seseorang psikopat seperti dirinya menghadirkan sensasi yang bertolak belakang antara nyaman sekaligus mengerikan. Membayangkan bagaimana tangan yang sama mampu menyentuhku dengan lembut, namun juga begitu ringan mengusap darah yang menyiprat di wajahnya setiap kali ia selesai melakukan pembunuhan, membuatku terperangkap di antara rasa aman yang menipu dalam ketakutan yang tak pernah benar-benar pergi.Beberapa menit kemudian, Mas Aksa kembali memasuki kamar bersama seorang dokter. Dokter itu adalah seorang perempuan berpenampilan anggun dengan wajah yang cantik. Ia tersenyum ramah begitu pandangannya bertemu denganku.“Laras, kenalin ini Dokter Airin,” kata Mas Aksa memperkenalkannya kepadaku. Lalu ia beralih menatap dokter itu

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Dia Merayuku

    Hampir setengah jam berlalu sebelum Mas Aksa kembali masuk ke kamar dan membangunkanku. Aroma makanan hangat segera menguar, berasal dari semangkuk bubur yang ia bawa masuk bersamanya.“Laras, bangun ya. Kamu harus sarapan dulu,” katanya sambil mengusap lenganku, mengira aku benar-benar tertidur sejak memejamkan mata tadi.“Aku gak lapar, Mas,” jawabku menolak.“Sedikit aja, Ras. Ini aku buat sendiri, loh, buburnya. Kamu kemarin juga suka masakan buatanku. Dicoba dulu ya, sedikit aja. Perut kamu gak boleh kosong.”Mas Aksa meletakkan mangkuk bubur itu di atas ranjang, lalu mendekat ke arahku. “Ayo duduk dulu,” ucapnya sembari membantu menyandarkan tubuhku pada sandaran ranjang.Setelah aku berada dalam posisi yang lebih nyaman, ia kembali meraih mangkuk tersebut dan duduk di sampingku, bersiap menyuapiku.“Kenapa sih, Mas, kamu gak taruh aja meja di kamar ini? Kan lebih gampang kalau naruh sesuatu di atas meja.”“Mungkin biar aku lebih nyaman dan gak terganggu di jam istirahatku.”“M

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Tatapannya Padaku

    Aku tak menyadari entah sejak kapan akhirnya benar-benar terlelap, hingga tanpa sadar membiarkan malam berlalu begitu saja. Padahal, sebelumnya aku telah berjanji pada diri sendiri untuk tetap terjaga demi mencegah Mas Aksa kembali melakukan perbuatan keji itu. Barangkali demam yang kembali meninggi membuat tubuhku tak lagi mampu melawan kantuk sepanjang malam.Hingga akhirnya pagi ini, aku terbangun dengan tubuh berada dalam dekapan Mas Aksa, sementara sebuah handuk kompres terletak di keningku.Mas Aksa sendiri masih tertidur pulas. Aku mengetahuinya dari hembusan napasnya yang teratur di atas pucuk kepalaku. Wajahnya tampak tenang, seolah masih tenggelam dalam mimpi yang damai. Ia memang memiliki kharisma yang khas. Namun alih-alih terlarut memikirkan keteduhan wajah itu, pikiranku justru diliputi kegelisahan oleh hal lain. Bagaimana dengan dirinya semalam? Apakah ia benar-benar tidak melakukan sesuatu yang dapat membahayakan keluargaku?Aku harus memastikan hal itu. Perlahan, aku

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Pengalih Perhatian

    Malam semakin larut ketika pesta itu akhirnya usai. Seluruh tamu undangan telah meninggalkan tempat acara, sementara para pelayan sibuk membereskan sisa-sisa perayaan. Ayah, ibu, dan Bude Maryati pun bersiap untuk pulang. Mas Aksa tampak melangkah mendekati mereka, dan aku segera mengikuti dari belakang untuk mencegah kemungkinan yang tidak kuinginkan.“Kami pulang dulu ya, Nak Aksa,” ujar ayah sambil menjabat tangan Mas Aksa. “Ayah titip Laras padamu. Kalau terjadi sesuatu, kamu bisa segera mengabari ayah atau ibu.”“Baik, Ayah. Terima kasih sudah menyempatkan datang malam ini,” jawab Mas Aksa sopan.“Iya, Nak. Ayah juga senang bisa berkenalan dengan orang-orang penting berkat kamu,” balas ayah dengan senyum hangat.“Doa terbaik dari kami untukmu, ya, Nak Aksa,” sambung ibu lembut.“Iya, Aksa,” sela Bude Maryati tanpa ragu, “Bude juga ikut mendoakan semoga kamu makin sukses dengan semua bisnis yang kamu bangun. Tapi jangan lupa itu loh, Laras, dibelikan ponsel baru daripada nunggu di

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Pengantin Pengganti

    "Gimana ini, Ras. Kok Arjun belum juga datang?" Tanya Ibu panik. "Iya, Ras. Coba di telepon lagi, tanyakan rombongan keluarga mereka sudah sampai mana" ucap Ayah ikut menimpali. "Nomornya gak aktif, Yah. Kita tunggu sebentar lagi ya. Mungkin sebentar lagi dia datang" jawabku, berusaha terdengar t

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Pakaian Baruku

    Aku sempat mengira, begitu pintu itu kubuka, aku akan langsung berada di dalam kamar mandi atau setidaknya berdiri tepat di depan wastafel. Namun, dugaanku keliru. Meski Mas Aksa sempat mengangguk, ketika ku tanya, apakah pintu tersebut menuju kamar mandi. Nyatanya pintu ini tidak langsung mengarah

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Malam Pertama

    Setelah hingar bingar pesta usai, pria bernama Arjun Aksana itu meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk langsung membawaku tinggal di rumahnya, bahkan tanpa perlu menunggu hari esok.Malam itu juga, kami angkat kaki dari rumah orang tuaku tanpa membawa banyak hal. Hanya sebuah koper kecil beris

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Tamu Istimewa

    Aku menatap pria bernama Aksa itu dengan wajah terkejut setengah mati. Jantungku berdegup tak karuan. Sementara pria itu justru tampak datar, nyaris tanpa reaksi. Wajahnya tetap tenang, sikapnya terkendali, seolah keputusan sebesar itu sama sekali tidak mengguncangnya. Sangat berbanding terbalik de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status