Share

Malam Pertama

Author: Widia
last update Last Updated: 2025-12-30 20:10:34

Setelah hingar bingar pesta usai, pria bernama Arjun Aksana itu meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk langsung membawaku tinggal di rumahnya, bahkan tanpa perlu menunggu hari esok.

Malam itu juga, kami angkat kaki dari rumah orang tuaku tanpa membawa banyak hal. Hanya sebuah koper kecil berisi beberapa potong pakaianku, sebab aku memang tak pernah menyiapkan apa pun sebelumnya.

Bersama Arjun dulu, aku dan dia sepakat untuk tinggal bersama kedua orang tuaku setelah menikah, setidaknya sampai kami mampu membeli rumah sendiri, hingga aku tak perlu berkemas sama sekali. Namun, bersama Aksa semuanya jadi berbeda. Ia seolah telah menyiapkan segalanya jauh sebelum hari ini tiba. 

Setiap langkah hidup yang ia ambil tampak terukur, matang, dan nyaris tanpa celah, bahkan tiba-tiba, ia membawaku seolah telah siap melakukan peran rumah tangga sepenuhnya, hingga akhirnya aku terpaksa mengemas beberapa potong pakaian untuk kubawa bersamanya.

Mobil yang kutumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah rumah dua lantai dengan gerbang hitam menjulang tinggi, nyaris menutup seluruh area rumah dari pandangan luar. Tingginya terasa berlebihan, seolah rumah itu sengaja dirancang untuk memisahkan diri dari dunia.

Di sisi kanan dan kiri dinding yang membatasi rumah itu, hanya terdapat halaman kosong dengan rumput yang juga telah tinggi.

Tanpa berkata apa pun kepadaku, pria itu turun dari mobil dan membuka gerbang besi tersebut. Engselnya mengeluarkan suara berat, memperlihatkan bagian dalam yang membuat dadaku semakin mengeras.

Begitu gerbang terbuka tampilah sebuah rumah bergaya modern dengan garis-garis tegas dan warna dominan abu gelap.

Tak ada ornamen ramah, tak ada sentuhan hangat. Jendela-jendelanya besar, namun tertutup tirai tebal dari dalam, membuatnya lebih mirip mata yang mengawasi ketimbang sumber cahaya. 

Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang yang jatuh tak beraturan di atas lantai granit.

Pintu utama berdiri kokoh dengan warna hitam pekat. Di beberapa sudut area rumah, kamera pengawas terpasang, menghadap ke segala arah, seolah tak memberi ruang bagi apa pun untuk luput dari pengamatan.

Dia kembali masuk ke dalam mobil, lalu mengemudikannya perlahan melewati gerbang. 

Setelah kendaraan itu terparkir sempurna, ia turun sekali lagi, menutup gerbang besi tersebut, dan menguncinya rapat-rapat.

Aku sendiri belum beranjak sedikit pun, masih duduk di dalam mobil, terjebak dalam keraguan yang menyesakkan. 

Haruskah aku melangkah masuk ke rumah itu? Atau justru berbalik dan kembali ke rumah orang tuaku?

Dia itu adalah pria asing yang baru kukenal, yang tiba-tiba telah menjadi suamiku. Aku sama sekali tak mengenal sifatnya, tak tahu bagaimana tabiatnya sehari-hari. Lalu, mengapa aku tak berusaha menolak saat dia meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk membawaku pergi tadi?

Suara tarikan pintu mobil di sampingku mendadak memutus lamunanku. Aku menoleh seketika ke kiri dan mendapati pria itu telah membukakan pintu untukku. Dia tak mengatakan apa pun. Tak ada isyarat selain pintu yang terbuka.

Setelah itu, dia berbalik dan melangkah menuju rumah dengan langkah tenang, seolah tahu bahwa aku sudah pasti akan mengikutinya.

Tanpa banyak bicara, aku keluar dari mobil dan melangkah menuju bagasi, berniat mengambil koper berisi pakaian yang kubawa dari rumah sebelum aku benar-benar mengikutinya. Namun, suara beratnya lebih dulu menyela gerakanku.

“Tinggalkan saja koper itu di sana. Ada banyak pakaian untukmu di dalam,” ucapnya akhirnya, setelah beberapa waktu kami benar-benar saling diam. 

Saat berkata seperti itu, ia sama sekali tak menoleh padaku, tubuhnya tetap tegap menghadap pintu dengan posisi membelakangiku.

Aku tak banyak bertanya. Memutuskan untuk mempercayai ucapannya. Aku pikir, aku bisa mengambil koper itu kapan saja. Lagipula, koper itu aman di dalam bagasi mobil. Jadi aku memilih melangkah ke arah pintu, tepat di mana pria itu berdiri. Namun, begitu aku mendekat, ia justru bergerak, seolah menghindariku. 

Ia berjalan kembali ke sisi mobil dan aku mengikutinya dengan pandangan, berpikir ia akan pergi meninggalkanku, tapi rupanya aku salah. 

Ia sama sekali tak membuka pintu mobil, malah berjongkok di sisi mobil itu. Tangannya terjulur ke kolong mobil berusaha menangkap sesuatu.

Miaaww

Binatang lucu itu bersuara pelan saat pria itu, suamiku, maksudku. Menarik tengkuk kucing tersebut dengan tangan kirinya. Sementara, tangan kanannya bergerak ke saku tuxedo hitam yang ia kenakan, meraih sesuatu dengan gerakan cepat.

Aku hanya sempat menangkap kilatan benda di tangannya sebelum pandanganku dipenuhi cipratan berwarna merah pekat yang tiba-tiba mengotori lantai garasi rumah itu. 

Setelah itu, ia bangkit perlahan dan berbalik ke arahku, dengan punggung tangan, ia mengusap noda darah yang terciprat di wajahnya, lalu melepas kacamata yang ia kenakan untuk membersihkan sisa darah yang menempel. Seluruh gerakannya berlangsung tenang, nyaris tanpa ekspresi. 

Di genggamannya, sebuah pulpen tertangkap jelas oleh pandanganku. Pulpen hitam yang juga bernoda darah.

Ketika ia kembali melangkah ke arahku, kakiku melemas, karena di dekat mobil yang tadi aku tumpangi, tubuh kucing itu telah terbaring tak bergerak.

“Aku akan membereskan sisanya besok,” ucapnya tenang, sambil kembali memasukkan pulpen itu ke dalam saku tuxedonya, lalu membuka pintu rumah.

Kakiku yang masih lemas kucoba paksakan untuk melangkah masuk. Jantungku berdetak tak karuan, takut akan nasibku yang mungkin berakhir sama dengan kucing malang itu.

Kakiku terseok mengikuti langkahnya naik ke lantai dua, meski ia tidak memintaku. Tapi entah kenapa, aku merasa setiap tindakannya harus aku ikuti, tanpa bertanya, seakan aku harus memahami keinginannya melalui telepati.

Pria itu lantas membuka pintu salah satu kamar yang tampak luas, dengan sebuah tempat tidur besar berseprai satin hitam menempati tengah ruangannya. Tak ada lemari, nakas, meja, atau sofa. Benar-benar hanya ada tempat tidur saja di ruangan tersebut. 

Ia melangkah masuk, dan aku terus berusaha mengikuti dengan langkah gontai.

“Panggil aku, Mas!” ucapnya tiba-tiba, sambil melepas tuxedo yang ia kenakan, lalu membuka kancing tangan kemejanya yang bernoda darah.

“Hah?” Aku terkejut, refleks tercengang.

“Panggil aku Mas Aksa, karena aku telah menjadi suamimu sekarang. Aku lihat kamu banyak bicara dengan sahabat-sahabatmu tadi, tapi selama bersamaku, kamu sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Kamu mungkin bingung harus memanggilku apa hingga akhirnya diam saja,” katanya, sambil melonggarkan dasinya. Namun ia tak menoleh sama sekali padaku, tubuhnya tetap tegap menghadap ke arah lain.

Aku menunjuk sebuah pintu di dalam kamar ini juga secara tiba-tiba seperti ucapannya barusan. 

“Apa itu pintu kamar mandinya?”

Tubuhku masih lemas, pikiranku seolah membeku. Otakku tak mampu memproses apa pun, apalagi harus merespon ucapannya. 

Saat ini aku hanya ingin mencuci muka, berharap semua yang kulihat tadi hanyalah mimpi, bahkan mimpi burukku selama ini tak pernah semengerikan adegan impulsif yang tadi muncul di hadapanku seperti itu dan semuanya terjadi di malam pertama pernikahanku dengan orang asing itu.

Pria yang ia ingin aku menyebutnya dengan sebutan, Mas Aksa.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Erlan, tolong aku!

    Aku masuk tergesa-gesa ke dalam sebuah kafe tempatku biasa bekerja. Bukan karena aku terlambat masuk kerja, melainkan karena aku belum membayar taksi yang kutumpangi. Aku berniat meminjam uang kepada pemilik kafe itu untuk melunasi ongkosnya.Loh, kok bisa?Sebentar, aku akan menceritakannya setelah aku benar-benar menyelesaikan urusan ini.“Pinjami aku uang dulu, cepat!” pintaku sambil menadahkan tangan ke arah Erlan.Erlan tampak sedikit bingung, tetapi tetap menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah muda tanpa banyak bertanya.Begitu uang itu kuterima, aku segera keluar dari kafe dan membayar taksi yang masih menungguku di depannya.“Jadi, berapa totalnya, Pak?” tanyaku kepada sopir taksi itu.“Tujuh puluh tiga ribu, Kak,” jawabnya.“Kembaliannya untuk Bapak aja. Terima kasih, ya, Pak,” ucapku sambil menyodorkan selembar uang yang baru saja kuterima dari Erlan.“Terima kasih, Kak.”Setelah urusan pembayaran selesai, aku kembali melangkah masuk ke dalam kafe itu. Oh ya, tadi a

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Penampilan Berbeda

    Pagi itu aku membuka mata dan menggeliat perlahan. Butuh beberapa detik sebelum kesadaranku pulih sepenuhnya dan seketika itu juga aku terkesiap. Tempat di sampingku kosong dan sosok pria itu tak ada. Mungkinkah semalam aku benar-benar sedang bermimpi?“Haii, akhirnya kamu bangun juga” Suara riang Mas Aksa terdengar tepat di belakang telingaku. Ternyata, dia benar-benar nyata dan bukan hanya sosok yang ada di dalam mimpi saja.Aku menoleh spontan dan mendapati ia telah berdiri di sana. Sejak kapan? Apakah ia sudah lama mengamatiku yang masih terlelap, atau memang berniat membangunkanku sebelumnya?Entahlah, yang jelas, penampilannya pagi ini sudah kembali rapi dan terasa sangat berbeda.Jika semalam rambutnya tersisir ke belakang dengan minyak rambut yang mengilap, menegaskan kesan berwibawa dengan kacamata yang membingkai matanya. Kini, rambut itu justru dibiarkan tergerai seadanya, jatuh lurus menutupi seluruh dahinya. Tanpa kacamata, wajahnya juga terlihat jauh lebih muda, bahkan,

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Peran Suami Sesungguhnya

    Aku refleks hendak meraih tali itu, berniat menyimpulkannya kembali sebelum situasi berkembang lebih jauh. Namun, refleks Mas Aksa jauh lebih cepat. Tangannya lebih dulu menangkap tali tersebut, lalu menariknya dengan satu hentakan singkat, hingga terputus.Mendapat perlakuan seperti itu dari Mas Aksa, aku tak tinggal diam. Dengan cepat kutarik kedua ujung robe itu, berusaha menutupinya kembali bagian depan tubuhku yang terbuka. Namun, Mas Aksa bergerak lebih sigap. Hanya dengan satu tangannya, ia mencekal kedua pergelangan tanganku sekaligus, menahannya di tempat seolah tenagaku tak berarti apa-apa dibanding ketenangannya.Genggamannya tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk membuatku sadar bahwa perlawanan spontan itu sia-sia. Aku mendongak, menatap wajahnya yang jauh lebih tinggi di atasku dengan jarak yang begitu dekat. Dari balik kacamata itu, pandangan Mas Aksa turun menatapku. Dalam, tajam, dan penuh kendali, membuat jantungku berdegup tak karuan."Tidak usah ditutup-tutupi. Untu

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Pakaian Baruku

    Aku sempat mengira, begitu pintu itu kubuka, aku akan langsung berada di dalam kamar mandi atau setidaknya berdiri tepat di depan wastafel. Namun, dugaanku keliru. Meski Mas Aksa sempat mengangguk, ketika ku tanya, apakah pintu tersebut menuju kamar mandi. Nyatanya pintu ini tidak langsung mengarah ke sana.Hal yang pertama menyambutku justru sebuah ruang ganti yang terbentang sangat luas. Ruangan itu lebih menyerupai galeri pribadi, seolah menyimpan seluruh koleksi milik Mas Aksa dengan ketertiban nyaris obsesif. Deretan jas, kemeja, dan mantel tergantung rapi di kedua sisi, tersusun simetris mengikuti garis dinding, seakan setiap helai kain memiliki tempat yang tak boleh tertukar.Rak-rak sepatu berjajar rendah di sepanjang dinding, menampilkan koleksi yang tampak lebih seperti pameran daripada barang yang benar-benar dipakai. Di atasnya, tas-tas dan kotak penyimpanan perhiasan tersusun sejajar, masing-masing ditempatkan dengan jarak presisi.Di tengah ruangan, sebuah ottoman berla

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Malam Pertama

    Setelah hingar bingar pesta usai, pria bernama Arjun Aksana itu meminta izin kepada kedua orang tuaku untuk langsung membawaku tinggal di rumahnya, bahkan tanpa perlu menunggu hari esok.Malam itu juga, kami angkat kaki dari rumah orang tuaku tanpa membawa banyak hal. Hanya sebuah koper kecil berisi beberapa potong pakaianku, sebab aku memang tak pernah menyiapkan apa pun sebelumnya.Bersama Arjun dulu, aku dan dia sepakat untuk tinggal bersama kedua orang tuaku setelah menikah, setidaknya sampai kami mampu membeli rumah sendiri, hingga aku tak perlu berkemas sama sekali. Namun, bersama Aksa semuanya jadi berbeda. Ia seolah telah menyiapkan segalanya jauh sebelum hari ini tiba. Setiap langkah hidup yang ia ambil tampak terukur, matang, dan nyaris tanpa celah, bahkan tiba-tiba, ia membawaku seolah telah siap melakukan peran rumah tangga sepenuhnya, hingga akhirnya aku terpaksa mengemas beberapa potong pakaian untuk kubawa bersamanya.Mobil yang kutumpangi akhirnya berhenti di depan se

  • Jerat Berbahaya Suami Posesifku   Cinta Itu Buta

    Beberapa detik kemudian, Erlan menepukkan kedua lengannya spontan. “Ah! Dia itu Pak Aksa. Guru seni adikku. Iya! Elsa pernah nunjukin foto guru baru yang jadi pujaan para siswi di sekolahnya. Penampilannya sangat berbeda dari yang di foto, aku hampir aja gak mengenalinya”“Dia guru?” tanya Caca, nada suaranya bercampur antara kaget dan kagum.“Iya, dia memang guru” jawabku ikut-ikutan. Berbekal pengenalan singkat dari Bude Maryati saat memperkenalkan pria itu padaku beberapa waktu lalu.“Kok kamu bisa kenalan sama guru yang ganteng begitu sih, Ras? Gimana ceritanya?” Tiwi masih saja penasaran, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.“Kamu nggak usah banyak nanya, Wi,” sela Erlan cepat. “Doain aja dia semoga pernikahannya sama Pak Aksa awet. Soalnya pasti bakal banyak banget ulet bulu yang nempel sama Pak Aksa dan pastinya bikin Laras cemburu.”“Kayaknya aku bakal jadi salah satu ulet bulu itu deh, Lan,” sahut Caca genit sambil mengerjap-ngerjapkan mata.Refleks Erlan mengusap wajah Ca

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status