LOGIN“Apa? Maksud Anda, saya impoten begitu?” hardik Satya, telapak tangannya menghantam meja konsultasi hingga dokter di depannya terkejut. Wajahnya tegang, rahang mengeras, sorot matanya menusuk.
Dokter itu menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. “Bukan begitu, Pak. Organ reproduksi Anda baik-baik saja. Tidak ada kerusakan. Hanya saja… ada hal yang tidak beres pada otak Anda.”
“Otak saya?” Satya mengulang, kening berkerut.
“Benar. Jika boleh saya tahu, terakhir kali Anda berhubungan, kapan dan dengan siapa?” tanya dokter hati-hati.
Satya mendengus, melirik asistennya malas. “Haruskah saya menjelaskan hal itu juga? Bukankah dokter yang seharusnya tahu kondisi pasiennya?”
“Saya manusia biasa, sama seperti Anda. Kalau Anda tidak bercerita, bagaimana saya bisa mendiagnosis dengan baik?” jawab dokter sabar.
“Tapi barusan Anda memeriksa saya. Bukankah itu sudah cukup?” Satya keukeuh, menahan malu.
Dokter menggeleng. “Kalau begitu, cari dokter lain. Saya tidak bisa memberi diagnosa sembarangan.”
Satya mengepalkan tangan, urat-urat leher menonjol. Akhirnya ia bersandar, menarik napas dalam. Butuh keberanian ekstra untuk mengaku. “Terakhir saya berhubungan tiga hari yang lalu. Dengan seorang gadis… yang masih perawan. Itu pertama kali bagi saya, sebelumnya saya tidak pernah menyentuh perempuan yang benar-benar tersegel. Sejak kejadian itu, bagian intim saya bermasalah.”
Dokter mengangguk paham. “Di pagi hari, apakah masih ereksi?”
“Normal. Bahkan kalau saya mengingat dia… langsung bereaksi. Tapi anehnya, bersama wanita lain? Tidak berjalan. Tidak ada respon sama sekali,” jelas Satya, wajahnya memerah.
“Baik, berarti jelas. Anda tidak impoten. Tubuh Anda sehat. Hormon testosteron berfungsi baik. Tapi tubuh manusia bukan hanya organ. Ada kendali psikologis. Bisa jadi saat bersama gadis itu, tubuh Anda bereaksi berlebihan, sehingga otak mengikatkan respon emosional yang mendalam. Trauma, memori, semuanya menempel.”
Satya mengusap pelipis, gusar. “Maksud dokter, saya gila?”
“Tidak. Kondisi Anda disebut selective erectile response. Organ Anda hanya merespons pasangan yang memenuhi kriteria khusus di otak. Dalam kasus Anda, gadis itu telah memberi jejak psikologis sangat kuat. Itu sebabnya tubuh Anda menolak yang lain,” jelas dokter rinci.
Sunyi sejenak. Satya menatap tajam. “Jadi saya tidak impoten?”
“Tidak. Anda normal. Hanya saja otak Anda seperti pintu gerbang. Tidak sembarang wanita bisa masuk lagi.”
Satya mengepal tangan, dadanya membara. Bagaimana mungkin seorang gadis biasa bisa membolak-balik hidupnya hanya dalam satu malam?
“Solusi?” desisnya.
“Obat ada, terapi juga bisa. Tapi kalau otak Anda menolak, semua percuma.”
Satya berdiri mendadak. “Terima kasih. Saya akan kembali setelah menyelesaikan urusan dengan seseorang.” Ia melangkah keluar, wajahnya tertutup kacamata hitam. Asistennya mengekor.
“Cari Rudi. Bawa gadis itu kembali,” perintahnya dingin.
“Baik, Tuan.”
Masih di rumah sakit, ruang lain. Dara terbaring di ranjang pasien, jarum infus menusuk punggung tangannya. Wajah pucat itu menoleh lemah pada dokter perempuan yang sedang mencatat hasil pemeriksaan.
“Kondisi Anda cukup lemah, Nona. Ada robekan jaringan halus dan tanda kelelahan ekstrem. Untung Anda segera ditolong,” ucap dokter lembut.
Dara menunduk, menggigit bibir. Ingatan malam itu menghantam kembali. Tubuhnya gemetar.
“Anda butuh perawatan beberapa hari. Obat pereda nyeri ini harus diminum rutin. Kalau tidak, luka bisa semakin parah.”
“Berapa… biayanya, Dok?” suara Dara bergetar.
Dokter menatap iba. “Tenang, nanti bagian administrasi akan membantu.”
Tapi Dara tahu, selembar pun ia tak punya.
Beberapa jam kemudian, Dara dipapah keluar dari ruang dokter dengan surat keterangan medis dan kantong obat. Dia tidak sanggup membayar penuh, hanya memohon belas kasihan agar biaya dicicil. Tubuhnya lemah, tangannya masih terhubung dengan infus portabel.
Langkahnya terseok di koridor rumah sakit. Air mata jatuh tanpa sadar. Dara menahan isak, takut semua orang menatapnya.
Di ujung koridor, suara langkah sepatu bergema. Dara mendongak—dan jantungnya mencelos.
Satya.
Pria itu berjalan dengan rahang mengeras, kacamata hitam menutupi sorot matanya. Tapi aura marahnya menyebar, membuat udara serasa membeku.
Untuk sesaat, waktu berhenti. Dara terpaku, tubuh gemetar hebat.
Satya menghentikan langkah, menatap lurus padanya. Perlahan ia melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata tajam yang seperti pisau.
“Kau—” suaranya rendah, penuh amarah.
Tubuh Dara goyah, infus di tangannya berayun. Pandangan berkunang.
Berita tentang Satya menguap begitu saja, handle sosial mediapun mereda tanpa sisa, meninggalkan jejak tanya pada beberapa yang secara terang-terangan melontarkan kata benci yang begitu nyata. Kini, Satya terlihat duduk dengan tenang, menatap layar tab yang menyala terang."Berita itu ditarik kurang dari 1x24 jam, Bos," beritahu Randy dengan wajah tenang, dia menarik kembali tab yang Satya berikan."Sudah saya katakan, Permana akan takut dengan ancaman yang saya berikan." Satya tersenyum miring, dia merasa puas dengan apa yang baru saja dia lakukan. Tatapan tajam itu beralih, pada flashdisk kecil berwarna hitam yang dia simpan dengan rapi, dia memutar benda kecil itu dan menyerahkan pada Randy."Buat penyerangan dengan benda itu. Saya mau, keluarga Permana hancur," desis Satya dingin.Randy dengan sigap menerima benda kecil itu, dia begitu hati-hati ketika benda berharga itu jatuh ke atas tangannya. Dengan cepat dia memasukkan flashdisk ke dalam kantong jas nya."Lakukan dengan bersi
Langkah itu terlihat tegas, dengan sorot mata dingin yang terlihat menatap sekitarnya. Satya terus berjalan tanpa mengindahkan tatapan beberapa orang yang terang-terangan memperhatikan dirinya.Di belakangnya Randy terlihat kewalahan mengejar langkah atasannya itu, mereka berada di salah satu perusahaan yang cukup ternama. Perusahaan milik keluarga Andin, dalang di balik berita yang sedang hangat di media sosial.Brak! Dentum suara pintu terdengar nyaring, bersamaan dengan kemunculan Satya, tatapan tajam itu menyorot pada sosok yang sedang duduk di kursi kebesarannya. Satya tidak gentar, dia melangkah ke arah sofa, dan mulai duduk dengan tatapan tenang."Kau datang juga ternyata," ucap suara itu, terdengar sinis, dengan sorot dingin menatap Satya.Satya tidak menjawab, dia mengeluarkan satu bungkus rokok, dan mulai menyalakan benda itu. Asap menguar memenuhi ruangan, Randy yang berada tepat di belakang pria itu hanya mampu menarik napas, dan mengibaskan tangannya berulang."Saya data
"Terima kasih, untuk sarapannya," ujar Dara pelan, dia menunduk dengan tatapan yang fokus pada piring, yang sudah kosong. Dara meraih serbet di atas meja dan mengusap pelan bibirnya. Semua hal kecil itu tidak luput dari pandangan Satya, dia merasa gemas dengan semua hal yang Dara lakukan. Hubungan yang semula hanya sebatas kontrak, kini terjalin dengan serius."Saya pulang sedikit terlambat, nanti. Kamu bisa tidur lebih dulu, jangan menunggu," ucap Satya memecahkan keheningan.Dara mendongak, dia mengangguk pelan sebagai jawaban. Jemari lentik itu meraih gelas air putih dan meneguknya sampai habis tidak tersisa."Kenapa pulang malam?" tanya Dara pada akhirnya. Dia begitu penasaran dengan alasan yang akan Satya ucapkan."Ada beberapa rapat penting. Dan lagi, saya harus mengurus pemutusan kerja sama dengan keluarga Andin," jelas Satya dengan serius. Dia menaruh kedua tangan di atas meja, mengetuk pelan meja makan itu dengan kukunya.Dara tidak lagi menimpali ucapan Satya, dia bungkam d
Satu hal yang tidak pernah terbesit dalam benak Dara, orang yang selama ini dia manfaatkan untuk kepentingannya. Malah berbuat hal baik padanya, Satya terlihat jauh lebih menerima kehadiran Dara di setiap langkah pria itu.Satya yang selalu bangun lebih awal, selalu menyiapkan sarapan untuk Dara, membuat wanita itu nyaman dan juga aman berada di sisinya. Dia benar-benar membuat Dara merasa bak ratu yang di sanjung oleh rajanya.Contohnya pagi ini, langit masih terlihat gelap, udara dingin berhembus melewati celah jendela yang tertutup gorden putih yang tipis. Satya sudah terlihat bangun dari tidurnya, dia menatap istrinya dengan pandangan dalam.Senyum manis perlahan terpatri di wajah tampan yang selalu terlihat dingin itu, dia mengulurkan tangan dan mengelus pelan beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Senyum Satya kembali melebar, ketika melihat Dara menggeliat dalam tidurnya.Kelopak indah itu mulai terbuka perlahan, orang yang pertama Dara lihat adalah Satya, ya
Bukan rumah di kompleks seperti sebelumnya, tetapi apartemen mewah yang kini berada di depan Dara. Wanita itu terlihat takjub dengan apa yang Satya berikan, dia terharu sekaligus bahagia.Bagaimana bisa, Satya membelikan dirinya apartemen mewah seperti ini? Berada di lantai paling atas gedung dengan pemandangan yang begitu menakjubkan baginya. Mata indah itu bergetar pelan, dia merasa bahagia dengan apa yang Satya berikan.Tubuh Dara berbalik, dia memeluk Satya dengan erat. "Terima kasih, Tuan," lirih Dara, dia mengeratkan pelukannya dan membuat Satya tersenyum samar."Tidak masalah, selama kamu bahagia." Satya mengelus pelan rambut hitam Dara, lantas mengecupnya pelan dengan penuh kelembutan.Dara melepaskan pelukan eratnya, dia mendongak dan menatap Satya dengan tatapan penuh haru. Dia tersenyum dan berjinjit untuk mengecup bibir suaminya, namun tubuh tinggi Satya menjadi penghalang."Tsk. Kenapa Tuan tinggi sekali," keluh Dara jengkel, bibirnya mengerucut dengan bola mata mendelik
Sesuai apa yang Dara inginkan, Rudi terkena pasal pelecehan serta mengonsumsi obat-obatan terlarang. Dia di jerat pasal berlapis dan akan membusuk di penjara, kini Dara bisa bernapas lega, karena satu dendamnya sudah terbayarkan.Satu minggu setelah kejadian yang menimpa Dara, Satya memutuskan untuk pindah dari rumah itu, meninggalkan segalanya karena niat Dara sudah usai. Dara terlihat sudah berkemas, dengan beberapa koper yang berjejer rapih di depan rumah.Mereka terlihat sibuk mengemas barang-barang, yang sekiranya memang perlu di bawa. Terlihat mbok Narsih juga berada disana, membantu sebisanya dengan tatapan sendu miliknya.Dara mengusap pelan bahu mbok Narsih, wanita yang selama ini menemani dirinya di rumah ini. Tangan Dara terulur, memeluk erat tubuh mbok Narsih dengan hangat, menyalurkan rasa sedih yang sejak tadi dia tahan."Saya pamit yah, Mbok. Jaga baik-baik rumah ini," pamit Dara, dia tersenyum manis dan kembali memeluk mbok Narsih."Iya, nyonya ... Nyonya juga hati-hat







