FAZER LOGINAku menatapnya bingung. Selama ini aku mengira semua kemungkinan buruk sudah terjadi.Namun cara Kang Epen mengucapkan kalimat itu membuatku takut pada apa yang akan keluar berikutnya."Kenapa?" tanyaku lirih.Kang Epen terdiam cukup lama. Tatapannya jatuh ke lantai sesaat seolah sedang memilih kata-kata yang paling tidak menyakitkan.Namun pada akhirnya tidak ada cara yang lembut untuk menyampaikan kenyataan seperti ini."Tami bekerja di klub milik Bara."Dunia rasanya berhenti berputar."Apa?"Refleks aku langsung berdiri."Nggak mungkin!"Suaraku meninggi tanpa sadar."Itu nggak mungkin, Kang!"Bayangan Tami yang kukenal langsung bermunculan satu per satu.Tami yang selalu bangun paling pagi saat Ramadan. Tami yang rajin mengaji. Tami yang paling penurut. Tami yang selalu membantu Emak tanpa disuruh. Kalau ada pengajian kampung, dia yang paling semangat datang. Kalau Emak sakit, dia yang paling dulu mengambil air hangat dan menyiapkan obat.Aku memang marah saat dia kabur dari ruma
Tanganku gemetar sepanjang perjalanan. Entah berapa kali aku hampir menjatuhkan ponsel karena terlalu panik. Video itu terus terputar di kepalaku. Tangisan Tami. Wajahnya yang pucat. Cara dia memanggil namaku dengan suara yang nyaris putus asa. Dadaku terasa sesak. Aku bahkan tidak sempat pulang ke rumah.Begitu keluar dari kampus, aku langsung berkendara lima menit ke kantor GLand. Aku harus bertemu Kang Epen. Sekarang juga! Begitu sampai, aku bahkan tidak sempat menyapa resepsionis. Aku langsung berlari menuju lift. Beberapa karyawan menoleh heran. Namun aku tidak peduli. Pikiranku hanya dipenuhi satu hal. Tami dan tentu saja Dara.Ketika pintu ruang kerja Kang Epen terbuka, aku nyaris tersandung kakiku sendiri. Lelaki itu sedang berdiri di dekat jendela sambil membaca beberapa dokumen.Dia langsung menoleh. Wajahnya berubah begitu melihat kondisiku."Dina? Ada apa?"Aku membuka mulut. Tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokanku terasa tercekat. Aku hanya mampu menyerahkan pon
Hari-hari setelah kepulangan dari Singapura terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Awalnya semua orang masih bergerak dengan harapan. Aku, Kang Epen, Syafira, dan Marni. Kami berpencar ke berbagai tempat di Disneyland. Membagikan foto Dara. Mendatangi kantor polisi. Menghubungi orang-orang yang mungkin pernah melihatnya. Setiap telepon yang masuk membuat jantungku berdegup kencang. Setiap kali ada kabar baru, aku berlari lebih dulu berharap itu tentang Dara. Tapi tidak pernah ada. Tidak satu pun. Seolah bocah itu benar-benar menghilang ditelan bumi. Hari pertama berubah menjadi hari ketiga. Hari ketiga berubah menjadi seminggu. Lalu dua minggu. Dan kami tetap tidak menemukan apa-apa. Pada akhirnya kehidupan memaksa kami tetap berjalan. Nana dan Febri harus kembali sekolah. Syafira harus bekerja. Aku harus masuk kuliah. Restoran tetap harus dikelola. Tagihan tetap harus dibayar. Dunia tetap berputar meski salah satu bagian penting dari hidup kami hilang. Dan itu te
Langit Jakarta masih gelap ketika kami berangkat menuju bandara. Seminggu persiapan rasanya begitu lama bila berhadapan dengan anak-anak yang tak sabaran. Jam di dashboard mobil bahkan belum menunjukkan pukul lima pagi. Jalanan yang biasanya padat masih terlihat lengang. Lampu-lampu kota menyala redup di tengah udara subuh yang dingin. Aku duduk di kursi tengah bersama Dara yang sejak tadi tak bisa diam menanggapi Nana dan Febri yang pertama kali naik pesawat. Sayang Haikal tak bisa ikut, karena sebagai anak kelas 6 SD, adik bungsuku itu harus mengikuti persiapan ujian nasional. "Nanti pesawatnya gede nggak, Dar?" tanya Nana dari kursi belakang sembari melongokan kepalanya. "Gede," jawab Dara antusias. "Lebih gede dari bus?" Aku tertawa kecil mendengar celoteh bocah yang hanya berbeda beberapa tahun itu. "Jauh." "Masa?" "Kalau nggak percaya lihat sendiri nanti." Dara langsung menoleh ke jendela dengan mata berbinar. Di belakang kami, Nana dan Febri juga tak kalah bersema
Malam sudah semakin larut ketika kami sampai di rumah. Meski lelah dan penat dirasakan, tapi aku justru tidak langsung masuk ke kamar. Langkahku berhenti di depan pintu kamar Dara. Tanganku menggantung di gagang pintu beberapa detik. Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang terjadi. Kuliah. Restoran. Bara. Masa lalu Zahra. Pertengkaranku dengan Kang Epen. Dan tanpa kusadari, ada satu hal yang perlahan terlewat. Dara. Aku mendorong pintu perlahan. Lampu tidur berbentuk bulan menyala temaram di sudut ruangan. Dan ternyata Dara belum tidur, gadis itu tampak sedang tengkurap di atas kasur sambil menggambar sesuatu di buku gambarnya. Begitu melihatku masuk, wajahnya langsung berbinar. "Mama Dina!" Aku tersenyum. "Kenapa belum tidur, udah jam 9?" tanyaku. Dara menggeleng cepat. "Belum ngantuk, Ma. Nggak tahu kenapa." Aku naik ke atas kasur lalu berbaring menyamping di sampingnya. "Gambar apa emangnya?" Dara membalik bukunya dengan bangga. "Gambar Dara sendiri." Aku menatap gam
Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca mobil yang gelap. Jalanan masih ramai, tetapi kepalaku terasa penuh oleh percakapan singkat bersama Bara beberapa saat lalu. Aku masih bisa mengingat tatapan lelaki itu. Tenang. Percaya diri. Seolah semua hal di dunia bisa dibeli dengan angka. Termasuk anak, keluarga, bahkan perasaan. Tanganku tanpa sadar mengepal di atas paha. Kang Epen yang duduk di sampingku melirik sekilas. "Apa yang dia bilang?" tanyanya datar. Aku menghela napas panjang. "Tadi ceritamu belum lengkap." Kualihkan tubuh menghadapnya. "Dia minta saya bantu buat dapetin Dara." "Bajingan!" Rahang Kang Epen langsung mengeras. Sorot matanya berubah dingin. Aku melanjutkan dengan kesal. "Katanya dia cuma mau memperbaiki kesalahan masa lalu. Terus dia bilang kalau aku bantu, dia bakal kasih apa pun yang kumau." Aku tertawa hambar. "Seolah semua orang bisa dibeli." Keheningan memenuhi mobil. Beberapa detik kemudian Ka
Dara yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Simbok langsung berdiri begitu melihat aku dan Emak masuk ke dalam rumah. "Uti ...!" Bocah itu berlari kecil menghampiriku lalu memeluk pinggangku erat. Aku tersenyum sambil mengusap rambutnya. "Halo, Princess." Dara mendongak. Matanya bergerak
"Pindahkan barang-barang Dina ke kamar saya!" titah Kang Epen pada Mirna dan Marni begitu kami sampai di rumah. Tiba-tiba dia menarik tanganku saat hendak meletakkan barang-barang ke dalam kamar. Di ruang tamu, terlihat Dara yang tak ada lelahnya langsung berceloteh menemani Nana, Haikal dan Febr
Pesta pernikahan Fitri berjalan dengan lancar meski sempat diwarnai ketegangan antara keluarga Wa Eti dan keluargaku. Setelah apa yang terjadi tempo hari alih-alih semakin menjauh, sikap mereka justru melunak. Entah apa alasan yang mendasari, aku pun tak mengerti. Namun, yang pasti selama ngungsi
"Kamu itu sebenarnya cantik, cuma ...." Kang Epen membuka percakapan setelah sekian lama keheningan menyelimuti kami di gubuk derita ini. "Cuma apa?" Aku langsung menoleh dengan mata memicing. "Nggak menarik? Nggak semok? Nggak montok? Nggak tinggi? Nggak punya duit?!" desakku kemudian. "Kok







