MasukMalam sudah semakin larut ketika kami sampai di rumah. Meski lelah dan penat dirasakan, tapi aku justru tidak langsung masuk ke kamar. Langkahku berhenti di depan pintu kamar Dara. Tanganku menggantung di gagang pintu beberapa detik. Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang terjadi. Kuliah. Restoran. Bara. Masa lalu Zahra. Pertengkaranku dengan Kang Epen. Dan tanpa kusadari, ada satu hal yang perlahan terlewat. Dara. Aku mendorong pintu perlahan. Lampu tidur berbentuk bulan menyala temaram di sudut ruangan. Dan ternyata Dara belum tidur, gadis itu tampak sedang tengkurap di atas kasur sambil menggambar sesuatu di buku gambarnya. Begitu melihatku masuk, wajahnya langsung berbinar. "Mama Dina!" Aku tersenyum. "Kenapa belum tidur, udah jam 9?" tanyaku. Dara menggeleng cepat. "Belum ngantuk, Ma. Nggak tahu kenapa." Aku naik ke atas kasur lalu berbaring menyamping di sampingnya. "Gambar apa emangnya?" Dara membalik bukunya dengan bangga. "Gambar Dara sendiri." Aku menatap gam
Sepanjang perjalanan pulang, aku lebih banyak diam. Lampu-lampu kota berpendar di balik kaca mobil yang gelap. Jalanan masih ramai, tetapi kepalaku terasa penuh oleh percakapan singkat bersama Bara beberapa saat lalu. Aku masih bisa mengingat tatapan lelaki itu. Tenang. Percaya diri. Seolah semua hal di dunia bisa dibeli dengan angka. Termasuk anak, keluarga, bahkan perasaan. Tanganku tanpa sadar mengepal di atas paha. Kang Epen yang duduk di sampingku melirik sekilas. "Apa yang dia bilang?" tanyanya datar. Aku menghela napas panjang. "Tadi ceritamu belum lengkap." Kualihkan tubuh menghadapnya. "Dia minta saya bantu buat dapetin Dara." "Bajingan!" Rahang Kang Epen langsung mengeras. Sorot matanya berubah dingin. Aku melanjutkan dengan kesal. "Katanya dia cuma mau memperbaiki kesalahan masa lalu. Terus dia bilang kalau aku bantu, dia bakal kasih apa pun yang kumau." Aku tertawa hambar. "Seolah semua orang bisa dibeli." Keheningan memenuhi mobil. Beberapa detik kemudian Ka
Acara privat party akhirnya tiba. Aku menggandeng tangan Kang Epen ketika pintu ballroom raksasa itu terbuka.Sejenak aku sampai lupa berkedip.Lampu kristal menggantung megah di langit-langit. Musik orkestra mengalun lembut dari sudut ruangan. Deretan meja bundar tertata rapi dengan bunga segar dan lilin-lilin kecil yang berkilauan.Aku yang terbiasa makan di warteg, kantin, atau restoran keluarga sederhana mendadak merasa seperti nyasar ke dunia lain.Dunia yang selama ini cuma kulihat di televisi."Jangan tegang."Suara Kang Epen terdengar pelan di sampingku."Aku nggak tegang.""Terus kenapa dari tadi nyubitin tanganku"Refleks aku langsung melepaskan tangannya.Kang Epen mendengus pelan."Kalau ada yang nggak nyaman bilang."Aku mengangguk.Meski sebenarnya rasa tidak nyaman itu sudah muncul sejak turun dari mobil.Orang-orang di sini terlalu rapi. Terlalu elegan.Terlalu mahal.Bahkan parfum mereka mungkin lebih mahal daripada gajiku selama beberapa bulan saat masih bekerja di
Rumah sudah sepi ketika kami sampai. Hujan masih turun tipis di luar. Menyisakan suara gemerisik air yang sesekali menghantam kaca jendela kamar. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami sama-sama naik ke ranjang tanpa banyak bicara. Entah karena kelelahan atau karena terlalu banyak hal yang terjadi hari ini. Untuk beberapa saat kami hanya berbaring berdampingan. Tidak ada televisi. Tidak ada ponsel. Hanya aku dan Kang Epen. Anehnya, keheningan itu tidak terasa canggung. Justru hangat. Seperti dua orang yang akhirnya berhenti saling menjaga jarak. Aku memiringkan tubuh menghadapnya. Sementara Kang Epen masih telentang menatap langit-langit kamar. Cahaya lampu tidur memantulkan bayangan lembut di wajahnya. Untuk pertama kalinya aku menyadari betapa lelahnya lelaki ini. Tentu saja bukan lelah karena bekerja. Tapi lelah karena terlalu lama menanggung banyak hal sendirian. "Kang." "Hm?" sahutnya pelan tanpa menoleh. Aku memainkan ujung selimut di antara jari-
Malam sudah cukup larut ketika aku sampai di sana. Pemakaman itu nyaris kosong. Hanya ada deretan nisan yang berdiri bisu di bawah langit gelap tanpa bintang. Lampu-lampu taman yang redup memantulkan cahaya kekuningan di jalan setapak yang masih basah oleh hujan sore tadi. Angin malam berembus pelan. Dingin. Sepi. Dan entah kenapa terasa begitu menyedihkan. Langkahku melambat saat melihat sosok yang kucari. Dia ada di sana. Sendirian. Berlutut di depan pusara Zahra. Punggungnya tegak seperti biasa, tetapi entah kenapa malam itu terlihat jauh lebih rapuh. Bunga lili putih yang masih segar tergeletak rapi di atas makam. Mungkin baru saja diganti. Atau mungkin dia sudah duduk di sana sejak sore. Aku tidak tahu. Dan aku tidak berani bertanya. Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, Kang Epen terlihat seperti seseorang yang kehabisan tenaga untuk terus terlihat kuat. Aku tidak memanggilnya. Tidak menyapanya. Tidak bertanya sedang apa. Aku hanya berjalan mendekat lalu dudu
Suasana rumah mulai berubah. Sejak kejadian Bara dan terungkapnya fakta tentang Dara, rumah besar itu seperti kehilangan kehangatannya. Pagi itu aku terbangun dengan kepala berat. Sepanjang malam aku hampir tidak tidur. Begitu banyak tanda tanya, begitu banyak hal yang tak terduga. Dan aku... seolah belum siap dengan semua kenyataan yang ada. Begitu keluar kamar, pemandangan pertama yang kulihat adalah Dara yang duduk diam di meja makan ditemani Marni yang menyuapinya makan. Biasanya bocah itu paling ribut saat sarapan. Hari ini tidak. Dia hanya memainkan sendok di atas piringnya dan menolak Marni suapi. "Susah dari tadi, Teh," keluh Marni. "Nggak apa-apa. Bawa aja ke dapur." Marni mengangguk dan beranjak pergi membawa alas makan Dara yang masih utuh. Kini tersisa aku dan Dara di ruang makan. "Kenapa Dara nggak makan?" tanyaku pelan sambil duduk di sampingnya. Bocah itu menggeleng. "Nggak lapar." Suaranya kecil. Matanya masih sembap. Aku tahu dia sedang bingung. Terl
"Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur ata
"Yakin mau yang itu?" Aku menganggangguk mantap begitu Kang Epen meyakinkan bahwa pilihanku benar-benar telah jatuh pada motor matic dengan brand yang sama seperti si Blue malang yang telah dilindas Rubiconnya. Hanya saja varian terbarunya. "Iya, udah itu aja." Melihat tatapannya yang masih
Brak! "Nggak usah ikut campur tentang urusan saya sama klien!" Perintah itu diikuti dengan gebrakan meja yang membuatku terperanjat. "Ehem, bukannya Akang, eh Bapak yang bilang jangan bawa urusan rumah tangga ke tempat kerja?" Aku berusaha mengingatkan kontrak tak tertulis yang sempat dia lonta
Begitu banyak hal tak terduga dalam hidupku. Salah satunya adalah pertemuanku kembali dengan Zahra setelah hilang kontak bertahun-tahun lamanya. Bermula dari kejadian tak terduga lima tahun lalu yang memaksa kami untuk saling bertukar cerita hingga berakhir dengan meluapkan emosi bersama. Selama li







