Share

Hasutan & Retakan

Penulis: Dwrite
last update Tanggal publikasi: 2026-07-16 12:41:06

Hari ini aku memutuskan untuk pulang malam. Perasaanku masih kacau, kepala penuh dengan berbagai macam pikiran, badanku pun rasanya remuk redam.

Lagi dan lagi rumah terlihat sunyi. Mirna sudah masuk kamar. Simbok dan Mang Supri juga sudah beristirahat. Hanya suara jam dinding yang terdengar dari ruang keluarga.

Aku duduk sendirian cukup lama. Memandangi foto Dara yang masih terpajang di rak televisi.

Senyum gadis kecil itu tetap sama. Hangat dan ceria. Seolah tidak ada satu pun masalah di d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Pesan Zahra

    Kuempaskan tubuh ke atas ranjang, lalu membalikan badan yang semula telungkup menjadi terlentang menatap langit-langit kamar. Lamunanku terberai, membuka kembali memori kenangan yang tersimpan dalam kepala selama kurang lebih dia tahun kebersamaan dengan Dara dan Kang Epen.Sesuatu yang hangat mengalir dari sudut mata saat kubuka galeri di dalam ponsel. Momen kebersamaan kami abadi dalam bentuk digital, mulai dari momen wisuda Dara saat dia membacakan puisi Bahasa Inggris dengan tema 'Ibu', lalu liburan kami ke Disneyland Singapura setahun lalu, kemudian saat mereka ke Swiss beberapa minggu lalu, hingga momen puasa dan Lebaran pertama sebagai keluarga yang terasa begitu menggetarkan dada, disaat keluargku yang semula meremehkan kini balik menghormati. Bahkan kehadiran kami ditunggu-tunggu keluarga Wa Eti saat itu. Untuk apalagi kalau bukan untuk dimintai THR yang mereka harapkan paling besar.... aku mengenal seseorang yang tumbuh dengan luka. Kalian sama hanya saja hidup di dua

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Ragu

    Suasana di pelataran kampus sempat terasa seperti berhenti. Aku masih bisa merasakan telapak tangan Asep di pinggangku ketika akhirnya dia sadar siapa yang berdiri beberapa meter di depan kami. Wajahnya langsung berubah. Tangannya buru-buru terlepas, lalu dia mundur satu langkah dengan kikuk. Aku sendiri segera merapikan tas dan membenarkan posisi pakaian, sementara jantungku berdetak terlalu cepat karena tatapan Kang Epen yang sulit kubaca. Dara berdiri di samping ayahnya sambil memeluk kantong oleh-oleh. Marni yang baru turun dari mobil ikut memperhatikan kami dengan ekspresi serba salah. Untungnya, Kang Epen tidak membuat keributan. Dia hanya menatap Asep beberapa detik, kemudian mengalihkan pandangan kepadaku. "Sudah?" tanyanya singkat. Aku mengangguk cepat. "Sudah." Asep kemudian maju sedikit sambil menganggukkan kepala dengan sopan. "Pak Evan, kenalkan saya Asep dosennya Dina. Juga temannya dari kecil," jelasnya hati-hati. "Tadi kita cuma kebetulan papasan dan saya liat Di

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Cemburu?

    "Kita pergi selama lima hari, ya. Kamu jaga diri." Ah, lima hari. Awalnya kupikir lima hari bukan waktu yang lama. Toh selama ini Kang Epen juga sering pergi dinas berminggu-minggu. Namun entah kenapa, sejak mengetahui ada kehidupan kecil yang tumbuh di dalam rahimku, setiap perpisahan terasa berbeda. Ada rasa takut yang sulit dijelaskan. Aku ingin mereka tetap pergi menikmati liburan, tetapi di sisi lain aku juga ingin mereka selalu berada dalam jangkauanku. Pagi keberangkatan itu rumah kembali ramai. Dara berlari ke sana kemari sambil memeluk boneka kelincinya. Sesekali dia memamerkan paspor mungilnya kepada Marni, seolah benda itu adalah harta paling berharga yang pernah dimilikinya. Sementara Kang Epen berdiri di ruang keluarga memeriksa kembali tiket, koper, dan beberapa dokumen perjalanan. "Dara nggak sabar banget, Pa. Sayang Mama nggak bisa ikut." Dara mendongak ke arah Kang Epen sambil mengerucut bibir. "Mama kan lagi sibuk belajar sayang. Lagi kurang enak badan juga. Ka

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Bertahan, Terluka

    Tanganku masih menggenggam salah satu test pack itu ketika ingatanku melayang beberapa minggu ke belakang. Hari ketika semuanya bermula. Hari ketika aku mengira hidupku hanya sedang dipermainkan oleh rasa lelah. *** Waktu itu Vony baru saja dilarikan ke rumah sakit. Aku masih ingat bagaimana paniknya Kang Epen saat perempuan itu muntah darah di depan kami. Suara sirene ambulans, aroma obat-obatan, juga langkah para perawat yang berlarian masih jelas terpatri di kepalaku. Di tengah kepanikan itu, aku sama sekali tidak memperhatikan tubuhku sendiri. Aku hanya mengira rasa mual yang datang berkali-kali adalah akibat stres. Begitu pula ketika bercak darah yang mulai muncul beberapa hari kemudian. Kupikir itu hanya haid biasa. Karena kebetulan dua minggu sebelumnya siklus haidku memang tidak teratur. Begitu juga dengan haid yang tiba-tiba datang saat aku dan Kang Epen liburan ke Bali, waktu itu. Kupikir telat datang bulan itu hanya akibat tekanan batin yang datang bertubi-tubi. M

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Rahasia Dina

    Aku tak tahu sudah berapa lama menangis di balik pintu kamar. Suara riuh keluarga di lantai bawah perlahan berubah samar. Tawa yang beberapa menit lalu terasa hangat kini justru terdengar seperti gema yang semakin mengingatkanku pada satu hal yang berusaha mati-matian kulupakan. Kang Epen tidak pernah berubah. Sejak awal dia sudah mengatakan dengan tegas kalau tidak ingin memiliki anak. Makanya dia sendiri yang berkorban untuk vasektomi. Ternyata akulah yang berubah. Aku yang diam-diam mulai berharap lebih. Karena jauh di lubuk hati aku sangat ingin menjadi ibu, aku ingin menjadi wanita seutuhnya. Ketukan pelan di balik pintu membuyarkan lamunanku. Tok. Tok. "Andina!" Suara berat itu terdengar hati-hati. "Aku masuk, ya." Tanpa menunggu jawaban, pintu perlahan terbuka. Kang Epen masuk sambil menutup kembali pintu di belakangnya. Lengan kemeja putihnya digulung sampai siku. Tatapannya langsung mencariku yang sedang duduk di tepi ranjang. Dia menghampiri tanpa banyak bicara.

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   Keluarga yang Lengkap?

    Acara doa berlangsung khidmat. Setelah itu semua berkumpul di meja makan panjang yang nyaris penuh oleh berbagai hidangan.Tami kini jauh lebih banyak tersenyum. Sesekali dia membantu Emak mengambilkan lauk, lalu bercanda dengan Syafira dan keponakan- keponakannya. Melihat perubahan itu membuat dadaku terasa hangat. Meski jalan pulangnya penuh luka, setidaknya dia benar-benar kembali.Di sisi lain, Kang Epen tampak jauh lebih ringan. Dia sesekali menyuapi Dara, sesekali meladeni ocehan Haikal yang tak henti membanggakan nilai sekolahnya.Rumah benar-benar hidup. Aku hampir lupa bagaimana rasanya merasa utuh.Sampai akhirnya .... Pak Ferdy tiba-tiba berdeham pelan sambil meletakkan sendoknya."Ngomong-ngomong ...."Semua menoleh kepadanya."Dara udah balik."Beliau melirik ke arahku dan Kang Epen sambil tersenyum jahil."Berarti sekarang tinggal nunggu cucu berikutnya, kan?"Beberapa orang langsung tertawa kecil.Syafira bahkan menggoda, "Nah, itu dia yang ditunggu-tunggu."Emak hanya

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   15. Privat Jet

    Bunyi weeker terdengar nyaris di seluruh penjuru kamar. Dalam penerangan seadanya kugapai-gapai nakas, dan bergegas mematikan. Aku tak ingat sempat berapa jam terlelap, karena setelah pulang tengah malam, aku melanjutkan packing untuk keberangkatan ke Kalimantan hari ini. Sebab selain seenaknya m

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   7. Tipe Ideal

    "Aaargh!" Kang Epen terlonjak begitu melihatku berdiri di samping ranjang memerhatikannya. "Ngapain kamu di sini?" "Penasaran, pengen liat orang cakep kalau bangun tidur gimana? Ternyata bisa belekan sama ileran juga." Aku nyengir. Dia langsung menyeka sudut bibirnya dan beringsut menjauhi. "U

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   6. Kesepakatan Pernikahan

    "Jadi, kamu yang namanya Andi?" Kalimat itu pertama kali terlontar dari mulut Kang Epen setelah lama dia memerhatikan. Masih lekat dalam ingatan saat dia menarikku dari parkiran ke tempat sepi setelah aku menyelesaikan shift malam dan bersiap pulang. Padahal pasca kepergian istrinya, aku sempat ke

  • Jerat Candu Tuan Muda Kejam   5. Ide gila

    "Kang Epen masih belum pulang, Na?" tanyaku pada Mirna saat melihatnya pergi lagi, sesaat setelah mengantar aku dan Dara pulang. Sudah hampir jam sembilan sekarang, tapi dia masih belum kembali. Apa aku melakukan kesalahan? "Belum, Teh. Dari tadi saya sama Marni di sini. Paling ke dapur ata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status