Home / Young Adult / Jerat Cinta Dosen Killer / Andaikan Kamu Disini...

Share

Andaikan Kamu Disini...

Author: CitraAurora
last update Last Updated: 2025-11-17 19:51:36

Suara lirih Natasya membuat Aron tersentak. Ia buru-buru mengambil jarak, memberi waktu bagi keduanya untuk menguasai diri.

Ia menyerahkan buku itu pada Natasya, lalu duduk di salah satu meja yang kosong.

Di dalam perpus itu, hanya ada mereka berdua. Natasya tampak bersemangat sekali, kejadian beberapa saat yang lalu seolah tak pernah terjadi.

Namun, tiba-tiba wajahnya memucat saat membalik halaman buku. “Pak… untuk bab reproduksi apa harus dipraktekkan?”

Sontak Aron melotot. Jurusan kedokteran memang seringnya melakukan praktek, tapi siapa pula yang terpikir untuk mempraktekkan langsung soal materi reproduksi?

Apakah Natasya memang sepolos itu?

“Kamu mau praktek?” Aron malah bertanya balik.

Natasya menggeleng keras, “Tidak, Pak,” ujarnya sambil terkekeh canggung.

Di materi itu banyak sekali hal-hal yang membuat Natasya penasaran, terutama alat kelamin lawan jenis.

“Pak, saat dia membesar apa memang terasa sakit atau ngilu?” tanya Natasya dengan polosnya.

Wajah Aron memerah ketika mendengar pertanyaan Natasya. Tidak menyangka mahasiswanya ini bertanya seperti itu.

“Apanya yang membesar?” Aron pura-pura tidak paham.

Kini mereka justru saling melempar pertanyaan.

Natasya menelan ludah. “Eh… itu Pak, organ intim pria,” bisiknya tercekat. Seketika menyadari betapa aneh pertanyaannya itu.

“Memangnya kamu tidak pernah melihat organ intim pria yang mengeras?”

Meski pertanyaan Aron terdengar tidak senonoh, tapi wajahnya tampak datar. Seolah itu adalah hal biasa.

Natasya menggeleng pelan. Ia pernah berpacaran, tapi tidak pernah aneh-aneh. Ciuman saja dia tidak pernah melakukannya.

“Biar aku tunjukkan.” Aron lantas membuka ponselnya, ingin menunjukkan video tentang materi ini.

“Hah?! Nggak usah, Pak!” Natasya buru-buru mencegahnya. Bukankah akan sangat canggung apabila menonton video panas seperti itu dengan dosen sendiri?

“S-saya takut melihat video seperti itu,” ujarnya sambil memegang lengan Aron erat.

“Apa maksud kamu?” tanya Aron tidak mengerti. Pria itu menggulir ponsel dan mencari videonya. “Ini video materi tentang reproduksi,” katanya sambil menghadapkan layar ke Natasya, lalu menatap gadis itu lekat.

“O-oh….” Natasya menggaruk tengkuk yang tidak gatal, salah tingkah.

“Kamu pikir video apa?” tanya Aron. Ada nada geli di ujung kalimatnya.

Natasya merasa wajahnya sangat panas. Ia benar-benar malu. “Maaf, Pak,” ujarnya dengan kepala tertunduk.

Ia buru-buru mengambil ponsel pria itu dan memperhatikan video materi yang dimaksud.

Di sana, Natasya melihat bentuk organ intim yang masih mengecil tiba-tiba membesar dan ukurannya dua kali lipat.

“Seperti ini, dia akan mengembang kalau mendapatkan rangsangan,” jelas Aron santai.

Seketika, saat itu juga netra Natasya melihat ke bawah, ke milik Aron.

Aron tersenyum tipis. Mahasiswinya ini memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, tapi materi ini bisa bahaya jika terus-terusan dibahas.

“Pak, apa dekat dengan wanita juga membuat dia membesar?” tanya Natasya tiba-tiba.

Aron yang tengah minum seketika jadi tersedak.

Ada-ada saja pertanyaan Natasya.

Pria itu menguasai diri dengan cepat. “Cukup untuk materi reproduksi,” katanya kemudian. “Kamu cukup belajar saja, jangan bertanya yang tidak-tidak!”

Karena hari sudah sangat malam, Aron mengajak Natasya pulang.

“Maaf Pak, saya sudah merepotkan Anda,” ujar Natasya saat mereka berada di dalam mobil.

“Lain kali jangan merepotkan lagi,” sahut Aron datar.

Natasya mengangguk. Sebenarnya kalau Aron mengizinkannya remidi lebih cepat, semua akan menjadi lebih mudah.

“Bisakah remidinya dipercepat, Pak? Agar saya tidak merepotkan Anda terus-menerus.”

Ucapan Natasya kali ini tidak direspon Aron. Jawabannya sudah jelas, dia tidak pernah memberikan remidi. Oleh karenanya dia tidak akan memberikan soal mudah.

Tidak mendapatkan respon, Natasya mengangguk paham.

“Baik Pak, saya tidak akan bertanya lagi.”

Mulutnya kali ini benar-benar tertutup rapat.

Begitulah mereka akhir-akhir ini, meski merasa terganggu dengan urusan Natasya, tapi Aron tetap membimbing mahasiswinya itu.

Hingga suatu ketika hujan lebat datang, badai serta hujan es membuat Natasya dan Aron yang masih di kampus sedikit was-was.

“Bagaimana ini, Pak Aron?” tanya Natasya.

“Tunggu sampai reda,” jawab Aron ringan, tidak menyadari wajah Natasya yang begitu resah.

Hari semakin gelap, tapi hujan tak kunjung reda. Akhirnya Aron memutuskan nekat saja. Karena malam ini istrinya akan melakukan video call, jadi dia harus sampai rumah.

Aron mengambil mobil sementara Natasya diminta menunggu.

“Pak, Anda basah semua….” ujar Natasya saat dia masuk ke dalam mobil dan melihat Aron sudah basah kuyup.

“Tidak masalah,” sahut Aron sambil lalu.

Keesokan harinya, gara-gara kehujanan semalam, Aron absen karena sakit.

Mendengar kabar itu Natasya merasa bersalah, sehingga pulang dari kampus dia datang menjenguk.

Beberapa kali Natasya memencet bel tapi tak ada respon sama sekali.

“Apa Pak Aron tidur ya…”

Tak menyerah, dia terus memencet bel. Tapi sama saja, tak ada yang membukakan pintu.

Natasya mencoba menghubungi Aron, tapi panggilannya juga tidak dijawab.

“Jangan-jangan Pak Aron….”

Seketika panik menyergap. Natasya meraih handle pintu, dan benar saja pintu rumah Aron tidak terkunci.

Wanita itu masuk begitu saja, lalu naik ke lantai atas dan mencari Aron.

Di dalam kamar, dia melihat Aron berbaring di atas tempat tidur. Pria itu terus mengigau karena demam yang sangat tinggi.

Natasya segera mengompres Aron, “Pak Aron,” panggilnya pelan.

Netra Aron terbuka, tampak terkejut mendapati Natasya berada di dalam kamar pribadinya.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Suaranya terdengar serak dan lirih.

“Menjenguk Bapak,” jawab Natasya. “Apa yang bapak rasain?”

“Kamu pulang saja,” sahut Aron, tidak menjawab pertanyaan Natasya.

“Saya akan tetap di sini,” ujar Natasya sekenanya.

Aron tidak membantah. Ia menurut saja, toh dia juga tidak memiliki tenaga untuk mendebat.

“Pak, obat ini diminum setelah makan, bapak sudah makan?” tanya Natasya sambil menunjukkan obat yang dia bawa.

Gelengan pelan nyaris tak terlihat Aron tunjukkan, seharian ini perutnya belum terisi sama sekali.

Wanita itu pergi keluar, dia mencari sesuatu yang bisa dimasak.

Beberapa saat kemudian, dia kembali dengan semangkuk bubur dan sup ayam.

“Makan dulu, Pak,” pintanya.

Natasya tampak begitu telaten merawat Aron. Dia hanya ingin Aron cepat sembuh, agar bisa membimbingnya mengingat bulan depan semakin dekat.

“Aku makan sendiri.” Pria itu berusaha bangkit, tapi kepalanya masih sangat pusing.

“Biar saya suapin saja, Pak.”

Melihat perhatian Natasya, Aron merasakan sesuatu yang aneh menjalari dadanya.

Alih-alih istrinya, justru mahasiswinya lah yang merawatnya saat sakit.

‘Andaikan kamu tidak bekerja, Sayang, pasti bukan wanita lain yang merawatku.’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Viral

    Tidak sampai dua jam setelah kejadian di kelas, seluruh kampus sudah dipenuhi dengan gosip tentang Pak Aron dan Natasya. Mahasiswa berkumpul di kantin, di taman, di koridor, semua membicarakan hal yang sama."Aku tidak percaya Pak Aron memanggil Natasya dengan sebutan sayang!" seru seorang mahasiswi pada kelompok temannya."Aku ada di kelas itu! Aku dengar sendiri! Pak Aron benar-benar bilang 'sayang' dan Natasya memanggilnya 'Mas'!" tambah temannya yang memang ada di kelas saat kejadian itu."Tapi kan Pak Aron sudah menikah. Istrinya artis terkenal itu lho," ujar mahasiswa lain dengan bingung."Sudah bercerai lah! Aku dengar gosipnya sudah lama mereka bercerai," sahut yang lain lagi.Di kantin, Alex dan Mira duduk di meja pojok sambil mendengarkan semua gosip yang beredar. Mereka saling berpandangan dengan ekspresi khawatir."Ini sudah menyebar kemana-mana," bisik Mira sambil melirik ke sekitar."Aku tahu. Dan sepertinya akan semakin besar," balas Alex dengan nada cemas."Kita harus

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Beruntung

    Tidak ada yang berani bertanya lagi. Aron berjalan keluar kelas dengan langkah cepat, menggendong Natasya yang terus merintih kesakitan di pelukannya. Mira dan Alex langsung mengikuti dari belakang, mengambil tas Natasya dan tas Aron yang tertinggal."Pak Aron, kami ikut," ujar Mira sambil berlari kecil menyusul.Aron hanya mengangguk, terlalu panik untuk bicara banyak. Dia terus berjalan cepat menyusuri koridor kampus menuju parkiran. Beberapa mahasiswa dan dosen yang berpapasan menatap mereka dengan pandangan bingung dan khawatir."Bertahanlah sayang, kita akan segera sampai rumah sakit," bisik Aron pada Natasya sambil terus berjalan."Aku takut, Mas," bisik Natasya dengan suara bergetar. "Bayinya... bagaimana dengan bayinya?""Bayinya akan baik-baik saja. Kamu juga akan baik-baik saja," ujar Aron meski dia sendiri sangat ketakutan.Mereka sampai di parkiran dan Aron langsung membuka pintu belakang mobilnya, membaringkan Natasya dengan hati-hati di kursi belakang. Mira ikut masuk un

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Sakit Perut

    Siang itu matahari bersinar terik di atas kampus. Jam kuliah Aron dimulai tepat pukul satu siang, setelah mahasiswa selesai istirahat makan siang. Seperti biasa, Aron masuk ke kelas dengan wajah datar dan langkah mantap, membawa suasana tegang yang selalu menyertai kehadirannya."Selamat siang," sapa Aron dengan nada dingin khas dosen killer."Selamat siang, Pak!" jawab mahasiswa serempak.Aron meletakkan tasnya di meja dan mulai membuka laptop. "Hari ini kita akan membahas sistem pencernaan manusia. Tolong buka buku kalian halaman 234."Suara halaman buku yang dibuka memenuhi kelas. Mahasiswa-mahasiswa mulai fokus pada buku mereka masing-masing, tidak ada yang berani tidak memperhatikan saat Pak Aron mengajar.Natasya duduk di bangku tengah bersama Mira. Dia membuka bukunya dengan pelan, berusaha terlihat normal meski sejak tadi siang dia sudah merasakan perutnya sedikit tidak nyaman. Dia pikir itu hanya karena terlalu banyak makan siang tadi.Aron mulai menjelaskan materi dengan det

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Jangan Merasa Bersalah

    Natasya mengangguk pelan sambil menunduk. "Maafkan aku, Mas. Ini semua salahku. Karena aku hamil, Mas jadi tidak bisa menyentuhku dan harus melampiaskan sendiri.""Natasya, bukan begitu," Aron langsung berjalan mendekat dan berlutut di depan istrinya. "Ini bukan salahmu sama sekali.""Tapi Mas jadi harus menahan hasrat sendiri. Aku tahu Mas pasti sangat tersiksa," ucap Natasya sambil air matanya mulai jatuh.Aron mengusap air mata di pipi istrinya dengan lembut. "Dengar, aku tidak tersiksa. Aku melakukan itu karena aku tidak mau mengganggumu. Kamu sedang hamil, kondisimu masih rentan. Aku tidak mau egois memaksakan hasratku padamu.""Tapi Mas juga punya kebutuhan. Aku istrimu, seharusnya aku yang memenuhi kebutuhan itu," Natasya menatap mata suaminya dengan penuh penyesalan.Sebelum Aron bisa menjawab, Natasya tiba-tiba menarik leher suaminya dan mencium bibirnya dengan lembut. Aron terkejut tapi tidak menolak ciuman istrinya. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang penuh emosi.Natasy

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Menuntaskan Hasrat Sendiri

    Malam itu langit tampak gelap tanpa bintang. Hujan gerimis turun perlahan, menciptakan suara nyaman yang biasanya membuat orang mudah tertidur. Tapi malam ini berbeda untuk Natasya. Dia terbangun di tengah malam dengan tubuh yang terasa segar, tidak seperti biasanya yang selalu terasa lelah karena kehamilan. Natasya menggeliat pelan dan meraih ke samping, mencari kehangatan tubuh suaminya yang biasanya selalu ada di sana. Tapi yang dia rasakan hanya sprei dingin dan tempat tidur kosong. "Mas?" panggil Natasya dengan suara serak sambil membuka matanya perlahan. Tidak ada jawaban. Natasya duduk di tempat tidur sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Pandangannya menyapu seluruh kamar yang gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu tidur. Aron tidak ada di kamar. "Kemana dia?" gumam Natasya sambil turun dari tempat tidur. Mata Natasya tertuju pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Ada cahaya yang merembes keluar dari celah pintu tersebut. Natasya berjalan perlah

  • Jerat Cinta Dosen Killer   Beli Banyak Makanan untuk Ibu Hamil

    Dia keluar dari ruangannya dan berjalan cepat menuju basement. Beberapa mahasiswa dan dosen yang berpapasan dengannya menyapa dengan hormat, tapi Aron hanya mengangguk singkat tanpa berhenti melangkah.Di mobil, Aron mengendarai keluar kampus menuju area pedagang kaki lima yang biasanya ramai di pagi hari. Dia ingat ada beberapa penjual makanan di dekat pasar tradisional yang tidak jauh dari kampus.Sampai di sana, Aron langsung mencari penjual rujak. Matanya menyapu ke kiri dan kanan, mencari gerobak rujak yang biasanya mudah dikenali dari warna-warni buahnya."Ah, itu dia," gumam Aron sambil menunjuk gerobak rujak di pojok jalan.Dia memarkirkan mobilnya dan berjalan menghampiri penjual rujak tersebut. Seorang ibu paruh baya yang ramah langsung menyambut kedatangannya."Selamat pagi, Pak. Mau pesan rujak?" tanya ibu itu dengan senyum lebar."Ya, Bu. Saya mau pesan rujak buah. Yang lengkap ya, Bu. Campur semua buahnya," ujar Aron."Baik, Pak. Mau pedas atau tidak?" tanya ibu itu samb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status