LOGINNamanya Luna, gak pake Lucinta. Lebih tepatnya Aluna Meysha Jovita. Gadis pemalas, suka mengeluh, kekanak-kanakan, berotak lemot dan ceroboh. Bukankah kekurangan seorang Luna paket komplit? Disamping itu Luna punya sosok sahabat yang mau menerima dia apa adanya, dia Athala Petro Radeyo, panggil saja Opet. Seorang cowok pintar dan pandai melakukan banyak hal yang selalu bersedia menjadi tempat Luna bercerita, bersandar dan menumpahkan segala keluh kesahnya. Berbagai konflik menghiasi kisah persahabatan mereka, titiknya ada pada saat Luna mengenal arti kata jatuh cinta yang asing dalam kamus hidupnya untuk pertama kali. Sialnya Luna menyadari ia jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Akankah hubungan persahabatan mereka tetap berjalan baik-baik saja? Bahkan setelah keduanya terseret dalam lingkar perasaan asing dan rumit yang kelak mungkin akan merubah segalanya, termasuk status hubungan persahabatan mereka? Happy Reading NanaPoh
View MoreKenyataannya, Luna tidak benar-benar pingsan. Sebelumnya gadis itu hanya ingin beristirahat sejenak dengan membaringkan tubuhnya dipinggir lapangan setelah menyelesaikan hukuman. Namun hal itu justru menimbulkan prasangka bahwa dirinya tak sadarkan diri.Luna tak bisa berkutik saat banyak orang-orang mulai mengerumuni dan mengira dirinya pingsan. Tak ingin menanggung malu, maka Luna melanjutkan aksinya. Ia sedikit terkejut saat seseorang membopongnya pergi dari lapangan. Lantas tersenyum dalam diam saat tahu orang itu adalah Opet. Opet datang diwaktu yang tepat."Jadi lo gak pingsan?" tanya Opet, terperangah begitu melihat Luna tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sedikitpun diatas ranjang ruang kesehatan."Gak, gue cuma lemes." Luna mengelang singkat. "Jadi barusan itu apa?" Opet berkacak pinggang, menuntut pengakuan Luna."Orang lain ngira gue pingsan. Mana pipi gue udah digebuk-gebuk. Daripada nanggung malu gue lanjut pura-pura pingsan aja kan?"
Pagi selalu jadi waktu paling memuakkan bagi Luna. Selain kedua matanya yang terasa berat dan sulit untuk sepenuhnya terbuka, ia tidak suka dilibatkaan dalam setiap hal yang mendorongnya untuk banyak melakukan kegiatan. Sesederhana apapun hal yang ia lakukan, selalu saja ada keluhan yang terlontar. Luna sadar kelak sikapnya tersebut akan menjadi bumerang atas setiap ketertinggalannya dalam hal apapun, lantas membuatnya dituntut lebih keras untuk bergerak maju. Luna hanya merasa ia belum menemukan momentum yang tepat untuk berubah. Entah kapan, namun suatu saat Luna tahu ia harus berubah."Kemana si, perasaan gue taro disini. Gak mungkin kan kaos kaki gue bisa jalan-jalan sendiri buat ngumpet?"Gadis yang sepertinya lupa menyisir rambut itu duduk lesehan didepan rak sepatu. Matanya menyisir setiap rak, mencari sebelah kaos kakinya yang entah kemana.“Bang, kaos kaki gue yang sebelahnya lagi kemana?” Luna menghampiri Alvian didapur yang sibuk denga
"Aku minta putus.""Putus? Kenapa?""Kamu pikir aku gak tahu berapa banyak cewek simpanan kamu!""Harusnya tau si.""Aku kira aku bisa jadi cewek yang lebih spesial buat kamu. Jadi satu-satunya yang bisa tahan lama. Tapi ternyata bener kata meraka, kamu tuh berengsek.""Salah sendiri gak mau dengerin mereka.""Aku gak tahan lagi sama kamu, pokoknya aku minta putus.""Oke, kita putus.""Kamu berengsek, Alvi!"PlakkkAlvian melirik pipinya yang dihiasi ruam kemerahan yang tak begitu kentara lewat kaca spion motornya. Bersyukur wajah tampannya tidak dicakar gadis beberapa saat lalu yang menemuinya hanya untuk mengatakan kata putus diantara keduanya.Tadinya, jika tahu seperti ini Alvian tidak akan repot-repot pergi keluar untuk menemuinya. Bahkan tanpa kata putus sekalipun, hubungan mereka bisa berakhir begitu saja tanpa kata-kata. Betina memang merepotkan, batin Alvian.Mata elang laki-laki
"Opet liat gue, dong! Lo kenapa sih. Tadi istirahat juga gak ajak gue ke kantin. Gue belum makan tau, gue laper!" rengek Luna, mulai geram mendapati sikap Opet yang engan berbincang atau bahkan sekedar menatapnya lewat kaca spion. Beberapa kali laki-laki itu membuang mukanya seolah-oleh sengaja menghindari tatapan Luna.Gadis itu memukul bahu Opet cukup keres sebagai bentuk kekesalannya. Bagaimanapun Luna butuh penjelasan atas sikap Opet yang tiba-tiba seperti ini, setidaknya Opet mengatakan apa yang salah darinya. Bukan diam seribu bahasa dan membuat Luna dirundung ribuan pertanyaan tanpa jawaban dan merasa bersalah tanpa alasan."Gue lagi nyetir, Lun!" sahut Opet akhirnya meski dengan nada ketus.Luna mencebik kesal, menarik keatas kaca helmnya. Kepalanya menjulur lebih dekat agar Opet bisa mendengar suaranya dengan jelas. "Setidaknya ngomong apa kek. Jangan cuma hmm... doang. Bilang kalo gue punya salah sama lo!" cetusnya berapi-api kemudian setelahnya
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore